Formalin dan Baso Tikus

Ihh…jijik dan mau muntah. Begitulah pertamakali mendengar berita dari TV bahwa ada seorang penjual baso yang mencampurkan daging sapi dengan daging tikus untuk membuat adonan baso. Entah darimana kru TV itu melakukan investigasi sehingga berhasil meliput pembuatan baso cap tikus. Tapi itu tidak penting, yang lebih penting lagi adalah dampaknya bagi pedagang mie baso kaki lima atau yang suka berkeliling menjajakan basonya. Dagangan mereka jadi tidak laku karena orang takut baso yang dijual adalah baso cap tikus. Bahkan, seorang pedagang mie baso dekat kompleks rumah saya langsung tutup karena tidak ada yang mau membeli.?

Karena nila setitik rusak susu sebelanga. Peribahasa lama itu memang cocok untuk menggambarkan kondisi masyarakat kecil di akhir tahun 2005. Isu formalin dan pengawet pada bahan makanan seperti tahu, ikan asin, mie basah, dan baso membuat bangkrut pengusaha dan pedagang makanan tersebut. Pembeli lari karena takut setelah mengetahui dampak formalin jika dimakan dalam jangka waktu lama bisa mengakibatkan kanker. Masalah ini ditambah lagi dengan isu baso dari daging tikus yang ditayangkan sebuah saluran TV. Lengkap sudah kerusakan susu di dalam belanga. Padahal, tidak semua pembuat tahu dan mie basah serta jajanan lain (seperti pisang sale, kerupuk, dsb) yang mencampurkan formalin ke dalam bahan makanan, dan tidak semua pembuat baso yang mencampurkan daging tikus ke dalam adonan baso. Ini adalah ulah segelintir pedagang dan pengusaha (baik pengusaha kecil maupun pengusaha besar) yang ingin mengambil untung besar dengan ongkos yang murah. Bahan makanan yang dicampur formalin memang bisa tahan lama, tidak cepat jamuran atau bulukan, dan dapat dijual lagi meski tidak laku barang satu atau dua minggu. Pedagang nakal ini (lebih tepat disebut bajingan kali ya) tidak ambil pusing dengan dampaknya bagi konsumen, toh yang mengkonsumsi orang lain, bukan mereka, begitu kira-kira jalan pikiran pedagang nakal ini. Begitu juga pembuat baso cap tikus berharap dapat untung besar dengan biaya murah (harga formalin sangat murah, daging tikus pun gratis karena cukup dicari di sawah, di dalam got, di selokan, atau di loteng rumah).?

Ulah segelintir pedagang dan pengusaha nakal tersebut telah merugikan sektor informal yang menghidupi jutaan orang. Kepercayaan masyarakat jadi rusak kepada pedagang makanan yang tidak tahu menahu soal isu formalin dan daging tikus. Pedagang dan pengusaha semecam itu memang perlu ditindak secara hukum karena mereka telah merugikan banyak orang. Namun Pemerintah juga perlu disalahkan karena membiarkan bahan pengawet seperti formalin dijual secara bebas.

Yang menarik adalah bahwa isu formalin dan baso cap tikus ini tidak akan lama umurnya. Orang Indonesia sudah biasa dengan mudah melupakan suatu peristiwa. Kelak mereka sudah tidak ingat lagi dengan isu formalin dan baso tikus. Mereka akan kembali mengkonsumsi makanan tersebut karena memang masyarakat tidak bisa kompromi dengan urusan perut. Syukur-sukur kalau formalin sudah dilarang dan tidak dipakai lagi untuk pengawet. Namun siapa yang menjamin masih ada segelintir orang yang sembunyi-sembunyi untuk menggunakannya pada bahan makanan?

Moral dari cerita ini adalah kalau ingin memperoleh berkah dari rizki yang diperoleh, maka carilah rizki dengan jalan yang halal. Rizki yang diperoleh dengan cara-cara ilegal tidak akan mendatangkan berkah, bahkan suatu saat rizki tersebut menjadi mudarat pada kehidupan seseorang.?

Tulisan ini dipublikasikan di Seputar Bandung. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Formalin dan Baso Tikus

  1. Ping-balik: Dari Bakso Tikus Hingga Bakso Babi | Catatanku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s