Beberapa waktu yang lalu saya dan beserta istri dan anak-anak bermaksud mengunjungi saudara di Depok. Berhubung tidak ada kereta api yang langsung dari Bandung ke Depok, kami akhirnya memilih naik bus dari terminal Leuwipanjang. Sebenarnya sudah lama saya tidak naik bus kalau menuju ke Jakarta dan sekitarnya, sebab biasanya saya menggunakan kereta api. Tapi, pengalaman naik bus kali ini banyak yang menarik untuk saya ceritakan.
Tidak seperti kereta api yang selalu berangkat sesuai jadwal, meskipun penumpang hanya sedikit, maka bus tidak demikian. Supir hanya mau memberangkatkan bus jika bus sudah penuh dengan penumpang. Maka, sembari menunggu bus penuh, saya dan keluarga terpaksa menunggu dulu di atas bus.
Nah, seperti lazimnya di terminal bus, banyak pedagang yang keluar masuk bus menjajakan dagangannya. Mula-mula naik pedagang roti. Ia menawarkan aneka roti yang harganya cuma Rp 1000. Pedagang ini gigih juga menawarkan dagangannya, tetapi berhubung kami sudah makan, saya tidak membelinya. Selanjutnya naik pedagang majalah dan koran. Pedagang ini satu per satu mengeluarkan beberapa koran, tabloid, dan majalah. Tapi kami tidak berminat. Tahu saya membawa anak kecil, dia menyodorkan buku mewarnai. Lha, buat apa mewarnai di atas bus, kata saya dalam hati, pensil warnanya juga tidak ada. Dia tidak putus asa, majalah “kuning” pun dia keluarkan untuk menarik hati saya. Tetapi lagi-lagi saya tidak berminat. Memang gigih pedagang ini.
Sejurus kemudian naiklah pedagang salak. Dilihat dari bentuknya, itu salak Manonjaya dari Tasik. Mula-mula dia menawarkan 15 biji salak seharga Rp10.000. Saya tidak berminat. Tetapi dia tidak menyerah. Nah, bagaimana kalau 20 buah sepuluh ribu, kata pedagang itu. Lagi-lagi saya diam. Pedagang ini tetap tidak menyerah. Sekarang dia menyodorkan 25 salak, sepuluh ribu, katanya. Aha… saya tersenyum di dalam hati, dari 10 buah sekarang menjadi 25 buah per sepuluh ribunya. Tapi saya tetap tidak berminat. Akhirnya pedagang itu menyerah, lalu dia pergi menghampiri penumpang lain. Tidak lama kemudian dia kembali lagi, sekarang menyodorkan 30 biji salak seharga sepuluh ribu. Wah… benar-benar gigih ini orang. Pikir saya, kalau saya mau, bisa saja saya menawar sampai 40 biji salak seharga sepuluh ribu. Tetapi saya tidak mau, kasihan pedagang kecil ini, berapalah untungnya ya…?
Entah tidak terhitung pedagang makanan, souvenir, koran, majalah, sampai peniti yang naik turun bus menawarkan dagangannya. Tidak lupa pengemis dan pengamen pun meramaikan suasana siang yang terik saat itu. Semuanya hanya satu tujuan: mengais uang sereceh dua receh demi mencari sesuap nasi.
Bus mulai penuh dengan penumpang. Sudah jam 14.30, supirpun mulai menjalankan busnya. Di dekat gerbang tol naiklah seorang lelaki. Saya kira dia pengamen, eh ternyata bukan. Dia berdiri di bagian tengah bus, lalu mulai bersuara. Mula-mula dia meminta maaf karena mengganggu ketenangan penumpang. Selanjutnya dia mulai “berceramah”. Banyak hal yang dia singgung, mulai dari pejabat yang korupsi, masalah-masalah sosial, sampai masalah pendidikan pun dia kupas. Tahu banyak juga dia, meskipun apa yang dia katakan banyak yang nggak nyambung dan asal sekenanya saja. Penumpang bus terkantuk-kantuk, entah mendengar ceramahnya atau tidak. Kira-kira lima belas menit lelaki itu berceramah sebelum dia menyelesaikan khutbahnya. Nah, selanjutnya, dia mengedarkan kantong kertas pertanda meminta sereceh dua receh uang kepada penumpang. Aha… gaya baru mencari uang nih, kata saya dalam hati. Akhirnya, saya keluarkan secarik uang seribu lalu saya serahkan kepada lelaki gondrong tersebut.
Di dalam perjalanan saya merenung, begitu keras hidup ini sehingga banyak orang yang melakukan cara apa saja yang halal untuk mencari sesuap nasi. Mereka adalah masyarakat kecil, kelas pinggiran, yang mengais rezeki dari kita-kita yang punya (sedikit) kelebihan uang.
beda ya dengan tempat ku, bus berangkat sesuai jadwalnya walaupun penumpangnya cuma 1 klo udah waktunya berangkat ya berangkat, biasanya bus lewat setiap 15 menit. mungkin karena ga da kereta apa kali ya…