Masih Ada Kapal Ke Padang

Entahlah, apakah masih ada kapal (penumpang) yang ke Padang? Sejak banyak pesawat murah yang lalu lalang di udara pertiwi, tidak ada lagi orang yang mau naik kapal laut dari dan ke Padang menuju Jakarta atau sebailiknya. Bus-bus ke Jawa pun banyak yang mati, jalan-jalan di Lintas Sumatera lengang, warung makanan pun gulung tikar. Dulu, entah berapa banyak kapal-kapal penumpang PT Pelni yang menyinggahi pelabuhan Teluk Bayur Padang, mulai dari KM Bogowonto, KM Kali Berantas, KM Batanghari, KM Tampomas I, Km Tampomas II (yang akhirnya tenggelam di kepulauan Masalembo menewaskan ratusan penumpang pada Tahun 80-an), sampai kapal-kapal yang lebih modern seperti KM Kerinci, KM Lawit, KM Rinjani, KM Lambelu, sebelum akhirnya mereka tidak singgah-singgah lagi.

km-kerinci.jpg

Kenangan saya masih terasa kuat ketika dulu masih naik kapal laut ke Jakarta dari pelabuhan Teluk Bayur. Pertama kali merantau ke tanah Jawa ini adalah ketika saya diterima di ITB. Ini adalah perjalanan terjauh yang saya tempuh meninggalkan kampung halaman. Masih terbayang linangan air mata ibu dan ayah (alm) melepas saya di pelabuhan ini, tatkala kapal penumpang KM Kerinci perlahan-lahan lepas jangkar menjauhi dermaga, diiringi lagu Ernie Johan yang juga berjudul “Teluk Bayur”. Hiks..hiks..hiks..

Selamat tinggal Teluk Bayur permai
aku pergi jauh ke negeri sebrang
ku kan mencari ilmu di negeri orang
bekal hidup kelak di hari tua

Lambaian tanganmu kurasakan ngilu di dada
kasih sayangku bertambah padamu
air mata berlinang tak terasakan olehku
nantikanlah aku di Teluk bayur

Teluk Bayur adalah pelabuhan alam yang eksotis. Berada di bibir Samudera Hindia, ia dipagari oleh rangkaian pegunungan Bukit Barisan. Lautnya tenang tetapi dalam. Saya suka berlama-lama kalau berada di pelabuhan Teluk Bayur, duduk melamun sambil memandang bentang alam yang diciptakan Tuhan dengan begitu indah, laksana lukisan saja nampaknya. Melihat laut yang terhampar luas di depan pelabuhan membuat pikiran jadi sejuk, hati jadi lapang. Nun jauh ke sana, ke seberang lautan, pikiran terbang menerawang, membayangkan rantau tempat berlabuh. Perubahan perjalanan hidup saya berawal dari pelabuhan ini. Ada semacam tautan yang tak bisa dihilangkan antara diri saya dengan pelabuhan ini.

teluk-bayur1.jpg

Dulu waktu saya masih sekolah di Padang, setiap minggu pagi saya olahraga lari pagi dari rumah, melewati sudut-sudut kota, lalu menyeberangi Sungai Batang Harau di daerah Muara, berjalan mendaki Bukit Padang dan melewati “makam” Siti Nurbaya. Di atas bukit ini saya istirahat sejenak. Nun di bawah sana terhampar laut yang jernih. Di kejauhan tampak Pulau Pisang dan Pulau Pandan. Saya jadi teringat pantun yang dibunyikan oleh Syamsul Bahri kepada Siti Nurbaya tatkala mereka berada di Bukit Padang (seperti ditulis di dalam novel Siti Nurbaya):

Pulau Pandan jauh di tengah
dibalik pulau Si Angsa Dua
hancur badan dikandung tanah
budi baik teringat jua.

Setelah usai istirahat, saya turun ke bawah hingga sampailah saya di Pantai Air Manis yang terkenal dengan legenda si Malin Kundang itu.

Pantai Air Manis Padang

Di pantai ini saya duduk-duduk di atas batu si Malin Kundang sambil memandang ke arah laut. Ombak tidak henti-hentinya menggulung ke pantai. Melihat ke arah kapal yang berlayar saya sering membayangkan suatu saat diri saya naik kapal itu menuju sebuah negeri yang jauh.

Batu Malinkundang

Dari Pantai Air Manis ini saya mendaki bukit lagi menaiki puluhan anak tangga, lalu dari atas bukit tampaklah pelabuhan Teluk Bayur dan laut lepas yang terhampar luas. Sungguh Maha Besar Allah menciptakan lanskap alam yang begitu indah.

Teluk Bayur memang bukan pelabuhan yang ramai. Kapal-kapal yang datang hanyalah kapal barang. Satu dua kapal penumpang dari Sibolga atau kapal pesiar yang membawa wisatawan asing bersandar di sana. Entah kapan saya bisa lagi naik kapal penumpang dari pelabuhan ini. Mungkin nanti ketika ongkos pesawat sudah mahal kembali sehingga orang pun beralih naik kapal laut lagi. Mungkin nanti suatu saat ketika saya pulang mengunjungi sejarah masa lalu. Masih ada kapal ke Padang, kelak….

Tulisan ini dipublikasikan di Cerita Ranah Minang. Tandai permalink.

26 Balasan ke Masih Ada Kapal Ke Padang

  1. Mungkin nanti suatu saat ketika saya pulang mengunjungi sejarah masa lalu. Masih ada kapal ke Padang, kelak….

    Aduh amboooooooooooooi marano hati langsuang dibuek e, nanar pandangan dua bola mato ko langsuang, badarai si aia mato, badabua dareh jantuang ko, kayak lagu Ombak Puruih

    Badabua2
    Ombak puruih badabua2

    Ambo raso kenangan jo taluak bayu kini indak properti memori kolektif urang minag se doh, lah jadi national heritage, lewaik lagu erni johan; Teluk bayur,

    Pokok e , sia nan mandanga lagu ko, asosiasi nyo perpisahan jo our beloved motherland and urang nan kito hold dearest di sanubari hati, iko bagi khalayak umum

    Tapi urang minang khusus e, talabiah nan pernah bacewek2, malala, manjangak, manggata (untuak nan mudo panuah nafsu dahulu) atau jalan2 ka taluak bayu, talabiah mamandang lawik lapeh diateh bukik yang menaungi pantai nirwana, mambaca carito apak ko, brings us into the infinite of human chronicle of this long and gray life, sad and the joy of world uproar

    Ciileeeh bahaso e, babayo yuang

    Mungkin nanti suatu saat ketika saya pulang mengunjungi sejarah masa lalu. Masih ada kapal ke Padang, kelak….

    Penutup narasi apak, mamikaik bana taraso de ambo, istileh sastra e, sang reader dilapeh di tapi pantai tak batapi (dalam kasus tulisan apak ko, bahwa lai ka adoh ko kapa ka padang, sebenarnya berbingakai historis siiiih; akan ketakjayaan infrastruktur transportasi maritim, tapi palapeh selah, opini ambo dalam hal ko adalah hal kenikmatan mengenana kampuang halaman)

    Oleh taluak bayua, o kampuang denai

    Lost in the long winding road, in occupied reminiscence of distancing motherland…………

    Dadaaaaaaah apak

    haris

  2. rinaldimunir berkata:

    @haris: Benar, Haris, kalau sudah berada di Teluk Bayur, saya jadi sentimentil sekali. Pelabuhan ini awal perpisahan saya dengan orangtua. Pelabuhan ini pula awal mula cerita kehidupan saya yang sekarang ini. Nun di sebelah bukit Padang, almarhum ayah saya dimakamkan di atas ketinggian, seolah nampak dari sana, terbayang-bayang di Bandung ini.

  3. Fadli berkata:

    Konfirmasi nih pak.
    Secara saya orang awam, Pulau Pandan yang termaktub dalam pantun itu berada dilepas pantai Pariaman, bukan pantai Padang.
    Alasannya : Didepan Pulau Pandan (versi Pariaman) ada dua buah pulau yaitu Angso Satu dan Angso Duo.
    Pada deretan utama pulau-pulau kecil perisai Pariaman, sambung menyambung Pulau Ujuang, Pulau Angso Satu, Pulau Angso Duo dan Pulau Kasiak dari selatan ke utara.
    Pada deretan kedua (kearah selat Mentawai) terdapat Pulau Kosong (tertutup Pulau Ujuang) dan Pulau Pandan.
    Bisa juga dicek di Google Earth untuk lebih jelas.

    Regards,

  4. rinaldimunir berkata:

    @Fadli: wah, saya kurang teliti, ya benar Pulau Pandan itu di lepas pantai Pariaman, sedangkan yang di lepas pantai Air Manis adalah Pulau Pisang. Semoga tidak salah lagi.

  5. alris berkata:

    assalamualaikum ww

    ambo baru mambaco tulisan pak rinaldi hari ko, salasa 14 agustus 2007. ambo dapek blognyo dari mangkilik kilik dari yahoo. ambo raso tulisannyo banyak manambah pengetahuan jo wawasan. bagi ambo tulisan apak sangek baharago, mangingekan ambo ka maso lalu. tulisan apak MASIH ADA KAPAL KE PADANG sungguh “enak dan perlu” (motto majalah tempo) ambo partamo kali ka kota padang dari kampuang dibawo dek mak etek bajalan-jalan ka taluak bayua. wakatu tu masih sempat maliek KM BOGOWONTO nan manurunkan panumpangnyo, kenangan yang abadi. lain kali ambo sambuang, pak.

  6. alris berkata:

    ambo minta alamat email apak rinaldi

  7. abrar haris berkata:

    Aha, makasih untuak apak yang alah menyediakan gambar view ka arah aia maniah banget,

    Bagi audiens apak munir, tarutamo fadil lupoan lah dulu google earth tu dulu, ko mbo agiah cuplikan dari bab Berjalan-jalan Ke Gunung Padang. Sia yang lah pernah naik ka ateh, mungkin bisa marasoan secaro panuah the verbal beauty of gunung padang panorama lwat buah tngan marah rusli ko; berikut, puta djjjjjjjjjjjjj:

    “Ah, tidak, Nur,” jawab Syamsul, “penglihatan disini sesungguhnya amat indah. Lihatlah pohon-pohon itu, hampir tak ada hingganya dan diantaranya. Lihatlah pula Bukit Barisan yang jauh menghijau samar-samar disebelah timur itu! Dan lihatlah tepi pantai negeri Pariaman, Tiku, dam Air Bangis yang menggaris terang sampai keutara”

    “Ya, sesungguhnya amat indah” jawab Nurbaya. “Hanya dilaut kurang pemandangan. Manakan pulau Pandan dan manakah pulau Angsa Dua”

    “Itulah, yang jauh itu, pulau Pandan, dan yang sebelak kemari, pulau Angsa Dua,” kata Syamsul pula, sambil menunjuk dua pulau yang berleret letaknya disebelah kemuka dan sebelah lagi disebelah belakang”

    Sebenarnya pantun itu pantun tua, yang demikian bunyinya:

    Pulau Pandan jauh ditengah
    Dibalik pulau Angsa Dua
    Hancur badan dikandung tanah
    Guna baik diingat jua

    “Kata Syamsul pula. “Tetapi oleh anak-anak muda sekarang ditukar menjadi:

    Pulau Pandan jauh ditengah
    Dibalik pulau Angsa Dua
    Hancur badanku dikandung tanah
    Cahaya matamu kuingat jua

    Siti tu kontan mamerah muko e langsuang, mandanga uda e mamantun mode itu dakek batang talingo e, tu nyo baleh;

    “Ya, tentu saja, begitupun boleh juga; bagaimanapun kehendak yang berpantun saja,” jawab Nurbaya

    Sesungguhnya ia berkata demikian, tetapi didalam hatinya buah pantun ini menimbulkan suatu pikiran: hanya tiada diperlihatkannya itu, dan dibuanglah mukanya menoleh kedarat serta bertanya, “Gunung yang tinggi itu, gunung apakah namanya?”

    “Gunung Merapi, sangkaku,” jawab Syamsul. “Gunung Merapi yang dekat Padang Panjang?” tanya Nurbaya. “Ya, antara Bukittinggi dan Padang Panjang,” jawab Syamsul. “Dan tahukah kau pula pantun yang berhubungan dengan kota Padang Panjang itu?” “Tidak,” jawab Nurbaya, dengan hati yang agak berdebar. “Begini,” kata Syamsul.

    Padang Panjang dilingkar bukit
    Bukit dilingkar kayu jati’
    Kasih sayang bukan sedikit
    Dari mulut sampai kehati

    Mendengar pantun Syamsul ini, berubahlah muka warna Nurbaya, menjadi kemerah-merahan, lalu tunduklah ia melihat ketanah, akan menyembunyikan perubahan wajah mukanya ini.

    2. Benar, Haris, kalau sudah berada di Teluk Bayur, saya jadi sentimentil sekali. Pelabuhan ini awal perpisahan saya dengan orangtua. Pelabuhan ini pula awal mula cerita kehidupan saya yang sekarang ini. Nun di sebelah bukit Padang, almarhum ayah saya dimakamkan di atas ketinggian, seolah nampak dari sana, terbayang-bayang di Bandung ini.

    Pak, ko kato Marah Rusli tentang our lah padam the celebrated Taluak bayua: enjoy Pak

    Tidak jauh dari kota Padang arah keselatan adalah sebuah pelabuhan yang dinamakan anak begeri Teluk Bayur. Pelabuhan ini masyhur namanya kenegeri lain-lain; pertama karena selalu disinggahi kapal-kapal besar yang pulang-pergi kebenua Eropa sebab letaknya dijalan antara Tanah Jawa, Hindustan, Arab dan Benua Eropa. Tambahan pula pelabuhan ini memang sangat baik bangunnya. Memanjang dari barat ke timur, kemudian memutar keutara, tersembunyilah dibalik suatu tanjung dan pulau pasir, sehingga terlindung dari gelombang besar-besar, yang terlebih-lebih pada musim barat yang sangat hebatnya. Oleh sebab itu lautan dalam teluk ini sangat tenang, tiada mendatangkan susah kepada kapal-kapal yang berlabuh disana. Dan oleh sebab pantai disana curam, karena bergunung-gunung, yang memagari pelabuhan ini dipihak utara, timur dan selatan air lautan disana dalam, sehingga dapat masuk kapal yang besar-besar, yang mudah dapat ketepi, pada beberapa pangkalan yang menganjur kelaut.

    Pak, Dimanyo tu pamandaman kuburan ayah apak, apokah dakek bukik lantiak tu pak.

    Iyo samo awak jo apak, awak yo lun pernah mamulai pai ka rantau lewat taluak bayua pak, habis pas t bayua masih jayo2 e, awak masih kanak2 pak (bujang kaciak), awak start pai ka rantau lah lewat bim pak, jo tiket asia sahargo 320000 (pinjam pulo jo kawan tu-hehheheheh).

    Bahkan marasoan naik kapa tabang lewat tabiang samaso masih aktif dahulu se awak alun juo pernah lai pak hehehehehh-maklum awak urang awak yang sansai nan marasai e pak, kalo ndak ado cheap airline iyo ndak ka pernah tabang awak doh pak-heheheh

    Awak urang sangaik suko jo laut pak
    Tah! badabua jo lapang se hati ko mandanga lawik-eeee kalo lah tibo dakek pantai weeeeeees-riang hati ambo langsuang Pak.

    People are drowning in the sea of human unreality.
    Looking for a reward but finding remorse.
    Looking for attention, getting into tension.

    People are drowning in the sea of human unreality.
    Some think they will find happiness in another,
    but what they find is disappointment.

    For fulfillment of real love, lasting happiness, and true freedom.

    Penutup

    Maliek foto yang apak posting, ko gubahan pena ambo:

    Mentari pertama jatuh mengguak kabut. Kehangatan menyiram bumi, juga menerpa kulitku. Kesegaran yang sejuk melanda tubuhku, kemudian juga hatiku yang riang. Langit sepenuhnya bewarna biru bening. Dikejauhan menyembul puncak-puncak gunung dalam kebiruan yang lebih biru bening. Gumpalan mega putih yang menari-nari diatasnya mengesankan kelembapan yang senantiasa bersemayam disana.

    Pulau Pandan jauh ditengah
    Dibalik pulau Angsa Dua
    Hancur badanku dikandung tanah
    Cahaya matamu kuingat jua

    Ps 3=salam untuak angku mudo alris, tarimo kasih untuak surek e, baa kini jang-heheheheh

    Ps 4=sori kepanjangan-subananyo harus buek blog surang ko mah, tapi samantaro ko bia selah awak jadi teh extended version of pak rinaldi blog
    Heheheh mode dvd bajakan 6000 di glodog se, ado extended versionnyo pulo

    sekian

  8. rinaldimunir berkata:

    @Abrar Haris: menarik membaca tulisan sanak, sepertinya Abrar punya banyak kenangan juga dengan Teluk bayur dan Air Manis.

    Ayah saya dimakamkan di bukit Seberang Padang, tidak jauh dari bukit Lantiak.

  9. Iwan Sulistyo berkata:

    Sebagai seorang teknokrat, ternyata anda juga kaya akan seni. Kata orang, manusia yang gemar seni itu adalah manusia yg lembut kepribadiannya.

    Sebagai urang rantau, suatu waktu, anda tentu lelah dgn aktivitas keseharian. Saya juga rasakan demikian, Pak.
    Sering, tentu Pak Rinaldi juga, saya di kamar sedang baca buku, bikin makalah/review kuliah, atau ngetik, saya teringat Kota Padang. Tapi saya tidak terlalu lirih, karena di laptop, tembang-tembang Minang cukup untuk menjawab dahaga kerinduan akan Padang. Ya sudah pasti saya mendengarnya dengan serius dan dengan hati…

    Kalo ke Padang, saya “mutlak” menyempatkan diri ke Toko Musik. Biasanya di Blok A atau di Permindo, di toko Mitraswara, dekat Rocky Plasa. Sejumlah kaset, VCD, atau bahkan MP3 Minang saya boyong ke kosan di Depok. Itu teman saya kalo sedang rindu Kota Padang… Kebanyakan saya suka Tiar Ramon..

    Salam

  10. andri berkata:

    salam kenal pak rinaldimunir

    mau minta izin boleh foto air manisnya saya posting di website saya. menarik sekali sekalian promo buat potensi sumbar bagi wisatawan asing.

    terima kasih atas izinnya dan mohon maaf kalau ada yang kurang pada tempatnya

    andri
    karawang

  11. Rinaldi Munir berkata:

    @andri: silakan andri, foto itu saya peroleh dari internet kok, kalau anda cari pakai google, pilih ‘Gambar’, lalu ketikkan “padang”, maka akan keluar salah satunya gambar di atas.

  12. Gunsmith berkata:

    Ada novel baru di Gramedia/Gunung Agung, judulnya “North Wing – Sorga di Kapal Tua”. Menarik, karena cerita roman ini mengambil setting di atas kapal laut yang berlayar dari Teluk Bayur ke Jakarta pada tahun 1960.
    Buat urang awak yang pernah mengalami naik kapal dari kampuang ke Jakarta tahun 1960-1970an, pasti novel ini akan membuka kembali kenangan lama.

  13. branca berkata:

    Saya sering berkunjung ke blog Anda. Dan ini adalah tulisan Anda yang paling saya senangi.
    Tulisan yang melukiskan alam membuat saya yang tidak (belum :) ) pernah berkunjung ke Padang seolah ikut hanyut dalam bagian perjalanan hidup Anda.

    Terima kasih

  14. rinaldimunir berkata:

    @branca: terima kasih mas Branca atas apresiasinya. Kalau ada kesempatan tugas ke Padang, sempatkalah mengunjungi pelabuhan ini. Paling bagus dilihat sepanjang jalan menuju Bungus atau Painan. Jalan raya ke Bungus/Painan melalui bukit, di sebelah kiri dinding bukit, di sebelah kanan lautan lepas (Samudera Hindia). Tampaklah dari sini pelabuhan Teluk Bayur yang permai itu.

  15. Jodhi Kurniawan berkata:

    Saya pernah berjalan kaki ke Air Manis, diteruskan ke gunung padang dan akhirnya turun di muara batang arau. Sesampai di puncak gunung padang saya sibuk mencari-cari dimanakah gerangan kuburan Siti Nurbaya yang katanya ada disitu? Entah kenapa waktu itu saya lupa kalau Siti Nurbaya hanya tokoh fiksi. Alhasil yang saya jumpai hanyalah pemakaman Tionghoa, yang makamnya besar-besar dan bagus-bagus.

    @abrar haris, sepertinya Marah Rusli tidak cukup teliti tentang detail geografis daerah padang, atau waktu itu beliau dikejar deadline penulisan Siti Nurbaya sehingga tidak sempat konfirmasi ulang.

  16. chris berkata:

    aslmkum. yupz masih ada kok kapal pelni k pdg pak. coz saya tgl 12 feb 09 kmaren brangkat pake km lawit dr tjg priok ke tluk bayur (14 feb 09). skg km lawit gi di perairan pontianak klo ga sala. walo kalah ma psawat. tp pengalaman ma suasana yg didapat naek kapal emang beda..taluak bayua ambo tibo hehe

  17. Doharma Tetty berkata:

    Tulisannya bagus sekali,begitu melekat kenangan dengan kota Padang, tapi kita hanya sementara di dunia ini, persiapkanlah kota masa depan anda di sorga mulia, dan jalan kesana hanya didalam TUHAN YESUS, Percayalah dan terimalah DIA sebagai TUHAN dan RAJA dalam hidupmu,amin.

  18. M.iqbal Assegaf berkata:

    jamgankan kapal kereta pun juga

  19. rio berkata:

    kapal perintis kan juga ada pak….

  20. Ihsan Prawoto berkata:

    melihat Km kerinci saya jadi teringat ketika pertama kali naik kapal laut besar dari jawa ke kalimantan dan sulawesi

    saya pikir ni kapal sangat besar ternyata ada yang lebih besar lagi yaitu kapal cruiser yaitu queen marry 2 dan freedom of the sea yg tinggin lebih tinggi dari patung liberty..

    sala kenal

  21. bunda afra berkata:

    Salam kenal pak.
    Tulisannya bagus sekali, jadi teringat masa2 sekolah dulu di padang.
    Setiap minggu pagi, jalan ke pantai aia manih melalui teluk bayur.
    Pemandangannya sangat indah

  22. ANDREYZAL PIKO berkata:

    12 SEPTEMBER 2005 ..
    WAK PAI JAUAH DARI RANG GAEK”..KOK HATI NDK MAMPU MANINGGAANNYO”…KOK DITANYO SIA NAN NDK
    TAPIKEK”….MANCALIAK TALUAK BAYUA SANANG RASONYO”
    DI TANAH PONTIANAK WAK TAKANA JO KAMPUANG,, TAKANA JO GAEK..MUDAH2AN SASUDAH KULIAH KO SALASAI CAPEKLAH BARANGKEK MANCALIAK SARUGO AMEH..
    PADANG-PONTIANAK.. BA’A KOK JAUAH BANA,
    tinggi – tinggi tabangnyo alang..
    pulangnyo kakubangan juo
    sajauah jauah denai marantau
    isuak lai untuang ka pulang juo
    (lirik Boy shandy 2002)

  23. guritno ristopo parnada berkata:

    km tampomas i ada tapi tampomas ii tak ada

  24. max berkata:

    tersentuh hati membaca tulisan diatas..teringat akan kampung,tempat dimana saya pernah membesar meskipun saya bukan lahir disana..tapi saya pernah mengecapi zaman persekolahan disana..Makassar..bandaraya nan indah,yang pernah mengenalkanku dengan berbagai rentak kehidupan..bandaraya tempat aku mengenal erti huruf di zaman persekolahan..alam remajaku sebahagian disana..kini kukembali ke Sabah..mengecapi alam dewasa dan dunia kerjaku..terkadang anganku merindui masa dimana aku masih remaja dan berada di bandaraya yg banyak memberi kenangan indah…….

  25. Ping balik: Menanti Kunjungan ke-1.000.000 | Catatanku

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s