Mencari Masjid di Mal

Beberapa waktu yang lalu saya jalan-jalan ke Istana Plaza, sebuah mal di kawasan utara kota Bandung, untuk mencari kebutuhan untuk anak. Saya sangat jarang jalan-jalan ke mal, pasalnya saya tidak begitu suka suasana mal yang padat (crowded) penuh orang. Istana Plaza ternyata cukup luas juga, nyaman, dan banyak toko-toko yang menarik (eh, apa sih perbedaan mal dengan plaza?). Sebagai arena rekreasi keluarga boleh juga, berbagai macam jenis barang tersedia di sana, bahkan arena bermain anak pun ada. Terlihat banyak orang berdandanan necis mondar-mandir di mal ini. Tempat-tempat makanpun mulai padat dengan pengunung, maklum hari sudah beranjak siang.

Ketika jam sudah menunjukkan pukul 12.30, saya segera berniat untuk menunaikan shalat Dhuhur. Sebagai seorang muslim, tentu kewajiban agama seperti shalat lima waktu tidak boleh saya tinggalkan. Saya pun mulai mencari tahu di mana gerangan mushola atau tempat shalat di mal yang megah ini. Seorang Satpam menunjukkan mushola yang ternyata letaknya di lantai basement, di ujung tempat parkir mobil. Anda tahu kan ruang parkir di mal-mal biasanya di lantai bawah tanah. Cahaya di tempat parkir umumnya suram dan udaranya pengap karena bercampur dengan karbondioksida (keluaran knalpot). Selain itu juga agak bising oleh deru mesin mobil yang hendak masuk/keluar parkir serta suara mesin pendingin dan generator. Di lokasi seperti itulah teronggok sebuah mushola kecil. Di sanalah saya shalat Dhuhur.

Alhamdulillah, masih untung mal ini menyediakan sebuah tempat shalat. Meskipun demikian, ada perasaaan miris juga di dalam hati saya. Kenapa tempat yang suci itu ditempatkan di area yang tidak layak? Kebanyakan mal menyediakan mushola di basement/area parkir mobil. Mushola di BIP juga begitu. Saya belum pernah menemukan mushola di mal ditempatkan pada tempat yang pantas, nyaman, dan bersih. Hitung-hitungan komersil pembangunan mal/plaza menyebabkan mushola kalah penting dengan pertokoan. Mushola seakan-akan dipandang sebagai asesori tambahan yang dihadirkan dengan berat hati. Padahal, bagi seorang muslim, mushola sangat penting. Kewajiban menjalankan shalat lima waktu harus dapat dilakukan di mana saja ia beraktivitas. Hal ini berbeda dengan saudara kita dari kalangan kristiani atau agama lain. Mereka tidak membutuhkan rumah ibadahnya harus ada di setiap lokasi publik seperti mal, karena kewajiban beribadat bagi mereka tidak rutin setiap hari dan setiap waktu.

Sayangnya, pihak pengelola mal atau plaza kurang begitu memperhatikan masalah mushola ini. Padahal, mayoritas pengunjung mal tersebut adalah muslim. Meski tidak semua muslim itu menegakkan shalat lima waktu, tapi tentu cukup banyak orang yang sadar akan kewajiban shalat dan ingin menunaikan kewajiban shalat itu meski ia berada di mal yang megah sekalipun. Andaikan pengelola atau pemilik mal adalah seorang pengusaha muslim yang shaleh, tentulah ia akan berpikir untuk menempatkan Rumah Tuhan itu di tempat yang terhormat. Sayang, saya belum menemukan orang yang semacam itu. Saya masih mencari mal yang menyediakan mushola yang nyaman dan ditempatkan pemiliknya di tempat yang layak.

Tulisan ini dipublikasikan di Agama, Seputar Bandung. Tandai permalink.

6 Balasan ke Mencari Masjid di Mal

  1. Mohamad Azuz berkata:

    Poligami atas nama agama, membunuh juga atas nama agama. Terorisme atas nama agama. Kenapa menjadi begini?

    Waktu jaman Majapahit, orang Jawa (Gajah Mada, dll) membuat nusantara
    makmur dan jaya. Orang jawa berkebudayaan tinggi, kreatif dan toleran.
    Setelah Islam masuk di Jawa, negara kita hancur korban dari penajahan
    Belanda, Jepang, dsb. Korban dari korupsi, kekerasan/teror, malapetaka. Dan korban dari imperialisme Arab (Indonesia menjadi pemasok turis calon haji yang terbesar di dunia). Orang-orang Arab ini memang hebat telah berhasil menemukan cara untuk memasukkan devisa.

    Bagaimana caranya supaya orang Jawa kembali bisa memakmurkan negara kita yang tercinta ini?

  2. Andi Vicky berkata:

    Yang ada masjid tersendiri (bukan di area underground) itu ITC Cempaka Mas (Jakarta)

  3. Fitria berkata:

    untuk mushola dalam mal, RI kalah sama Malaysia. Disini surau dalam mal bagus-bagus. Rasanya walaupun ada tapi nggak banyak yang meletakkan surau di basement.

  4. Ari Sri Lestari berkata:

    Iya ikut prihatin juga, di beberapa mal yang super mega, Mushola kebanyakan diletakkan di basement..

    Bisa enggak yach kalau dalam ijin pembangunan Mal, disyaratkan ada fasilitas2 umum yang memadai, termasuk prayer room dan biaya pemeliharaan fasilitas2 umum tersebut dibebankan kepada semua penyewa..cukup fair bukan :-)

  5. Joko Tommy berkata:

    Di Plaza Kalibata (jakarta) ada masjid di dalam plaza tersebut yg ada di lantai 4. Tempat wudhu nya pun dibuat nyaman, dengan dibuat tempat duduk untuk setiap keran yg berjumlah cukup banyak (untuk laki2):)
    Masjidnya sendiri pun cukup luas (dengan kemungkinan bisa menampung 100 lebih jemaah), bersih, dan nyaman..

  6. Ping balik: Mushala di Mal BIP Sekarang Sudah “Rancak” | Catatanku

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s