Minggu lalu saya ke kota Manado, Sulawesi Utara. Ada pekerjaan membimbing Tugas Akhir mahasiswa Teknik Informatika sebuah PTS di sana. Selama ini bimbingannya melalui internet (e-mail, chatting, dan telpon genggam), namun di tengah semester saya diundang ke Manado untuk bertemu langsung dengan mahasiswanya.
Manado adalah kota yang majemuk. Di sana hidup berbagai suku dan agama. Suku yang dominan adalah Manado/Minahasa, Gorontalo, Sangir Talaud, dan Bolaang Mangondouw, disamping itu ada suku pendatang dari Jawa dan Bugis/Makassar. Ada dua agama besar yang dianut penduduk kota ini, yaitu Kristen (mayoritas) dan Islam. Kalau di Jawa kita biasa menemukan mesjid atau mushala di mana-mana, maka di Manado kita menemukan sebaliknya. Setiap 100 meter ada gereja. Penduduk kota ini sangat taat beragama. Minggu pagi kota Manado lengang, sebagian besar penduduk pergi ke gereja. Anda akan sulit mencari koran pada hari minggu, karena koran lokal tidak terbit pada hari tersebut. Masjid juga ada di sela-sela pemukiman penduduk, meskipun tidak sebanyak gereja. Ada sekira 20% penduduk kota ini beragama Islam.
Meskipun plural, namun suasana kehidupan yang saya tangkap di kota ini sangat harmonis, rukun, dan penuh toleransi. Waktu saya sampai ke kota ini malam hari (penerbangan dari Jakarta menempuh waktu 3 jam ke Manado), di lapangan Tikala – di pusat kota Manado – malam itu ada acara kebaktian yang dihadiri ribuan jemaat. Besoknya, di lapangan itu dilangsungkan pembukaan MTQ Tingkat Provinsi Sulawesi Utara. Seusai pembukaan, para peserta MTQ melakukan pawai taatuf (perkenalan) dengan berkeliling kota. Semua peritiwa keagamaan ini mengalir begitu saja, lumrah. Mungkin sudah biasa bagi warga kota ini hidup berdampingan dengan orang yang berbeda-beda. Sayapun tidak sulit melaksanakan shalat di sela-sela kegiatan saya di sana. Bahkan ketika makanpun, mereka tanya dulu saya mau makan apa, karena kita harus hati-hati makan di kota ini, karena cukup banyak yang tidak halal. Ketika di hotel saya menanyakan ke pramusaji apakah makanan di restoran ini halal bagi saya yang muslim, dengan tersenyum ramah pramusaji tadi mengataka iya, halal.
Seperti Manado, bangsa Indonesia, juga adalah bangsa yang majemuk. Beragam suku dan agama ada di sini. Pluralitas bangsa Indonesia adalah kenyataan yang tidak bisa kita bantah. Hal ini semua merupakan ketentuan Allah SWT yang dalam istilah Islam dinamakan: sunnatullah. Allah sendiri mengatakan di dalam sebuah ayat Alquran bahwa Dia menciptakan manusia ini bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling kenal mengenal. Indah sekali bunyi ayat ini, kita diciptakan berbeda-beda bukan untuk saling memusuhi. Begitupun dalam soal agama, kalau Allah menghendaki, semua manusia bisa dibuat-Nya beriman, namun itu tidak dilakukan-Nya. Tentu ada maksud-Nya, wallahu alam.
Pluralitas yang ada di sekeliling kita, disamping merupakan aset bisa juga potensi enimbulkan konflik. Banyak kerusuhan berlatar belakang etnik maupun agama sudah terjadi di Indonesia. Ini aneh, sebab pada zaman dulu tidak terjadi kasus-kasus semacam ini. Penyebabnya mungkin karena faktor gesekan. Dulu, interaksi antar etnik, budaya, dan agama tidak sebanyak sekarang. Sekarang, percampuran kultural sudah tidak terbendung lagi. Masalahnya, percampuran kultural ini tidak dibarengi dengan pendidikan untuk saling harga menghargai satu sama lain. Menurut saya, inilah faktor yang menyebabkan terjadinya perpecahan masyarakat. Seandainya setiap orang bisa bertenggang rasa untuk menjaga harmoni, tentu tidak akan muncul kerusuhan. Parahnya, masih ada orang yang meniup-niup perbedaan yang ada untuk menimbulkan kerusuhan. Kasus Poso misalnya, penyebabnya diduga ada calon bupati dari agama tertentu yang kalah dalam pilkada, lalu menghembuskan sentimen ras dan agama untuk menutupi kekalahannya. Masyarakat yang tidak tahu apa-apa jadi terpancing, selanjutnya terjadilah pembunuhan besar-besaran antar sesama warga yang berbeda agama.
Demikianlah, kita seharusnya menjaga pluralitas baik-baik. Jangan kita campurkan pluralitas menjadi satu, karena pencampuran tersebut dapat menimbulkan masalah baru. Di dalam surat Al Kaafirun, Allah mengatakan “Bagimu agamamu, bagiku agamaku”. Artinya, biarlah masing-masing kita meyakini keyakinan masing-masing, tidak perlu pula kita mempersoakannya. Yang harus kita pelihara adalah tenggang rasa dan hormat menghormati. Jika ini berhasil, maka kehidupan akan berjalan dengan sendirinya.
Aha
Barusan minggu katigo agustus 2007 patang ko ambo lapeh malala ka manado pulo Pak
Owaaaaaaaaai, sanang bana hati Pak, dek tau ka pai ka Indonesia timur, gembira nian
Sayang brangkek e malam, jadi ndak Nampak lawik jawa, , kalimatan jo Sulawesi doh Pak, mandaraik pas tangah malam, yo langsuang small and micro enterprise ka hotel jo supir yang alah disewa agak 5 hari
Awak tantu pengen yang murah2 se Pak, tapi dek pai jo apak2 konsultan nan gaya bohay bana, eee langsuang se inyo pengen nan bintang limo limo-dek ambo ajudan e ya udah, tu iyo se langsuang
Pas tajago pagi, langsuang mandangkang kaki lari mangaja bingkai jendela, salapeh solat tantu om-wak bukak jendela Pak, ambooooooooooooooooi dimuko mato, dibaliak ciek gedung ruko, nampaklah pesisir pantai manado jo iconic hill bunaken yang acok kito liek tu mah Pak-misal di situs atau brosur kek.
Ih indah bana, sayang hotel ko-saingek ambo di jalan piere tendean, tampek pertumbuhan baru kota, mengecewakan untuak ambo, karena dominasi visual urban e, gedung2 khas ruko mediterania tu pak, kyak di Jakarta se, hambar jadinyo
Siap makan langsuang cabut ka bitung, naaaaaaaaaaaah dari manado ka bitung tulah pak, langsuang terpapar de duo mato ko, esensi panormana sulut yang saiyonyo…. indah bana
Kesan ambo, langik Indonesia timur birunyo murni, lain dari daerah barat yang lah banyak titik pemukiman manusia, bayangan ajo region sulut, dima bana ado kota pemukiman manusia, subarang e langsuang samudera pasifik yang alun banyak tajamah
Subana segar aroma pagi e pak. Dari manado ka bitung tu kito saraso manampuah jalan kayak kebanyakan daerah indonesia Pak. Tapi untuk panorama iman, yo untuak misal ambo yang gadang di minang se, baru maliek bumbungan atok runciang menara gereja dima-dima. Rapek2 badakek-an kayak kuantitas surau di kampuang pak
Tah sanag se hati maliek e nyo, gereja batumpuak2 dengan latar bukik –bukik khas iNdonesia.
====kini dibikin dalam bahaso indensia se bia yang lain ngarati
Marindiang syahdu manengok e, mungkin perantau menado setelah lah lama berkubang dirantau pas pulang serasa diteguhkan akar dan iman serata kenangan masa kecilnya ya pak, melihat kembali alam kampung halaman nya— Persis perantau minang merasa didudukan hidup mereka kembali, menuruni kelok 44 danau maninjau dan menyapu onggokan surau-surau di di pundak- bukit maninjau
Aduh bahasanya indominang banget heheheh
Awak di bitung dari selasa pagi nyampe kamis sore Pak, bitung kota kecil kayak painan pak, tapi audaranyo lebih sejuk, karano pesisisr pantai langsung berbatasan dengan sekitar 2 gunung lumayan tinggi (2000 meteran) jadi iklim hangat sejuk pak.
Persi muslim melayu menutup dan membuka seremonial acara jo da qurani, kristiani menado selalu mewarnai acara mereka dan aktivitas mereka dengan doa biblikal mereka Pak
Jadi samo2 soleh dan berkhidmat, layaknya muslim ndonesia yang lain
Kalau makanan manado, padeh e paten Pak
Benar Haris, di Manado kita temukan suasana keagamaan seperti di Jawa atau di kampung kita di Sumatera sana, hanya beda agama saja. Jika di Jawa NU dan Muhammadiyah adalah ormas Islma yang besar, maka di Manado dan Sulawesi Utara ormas terbesarnya adalah GMIM (Gereja Masehi Injili di Minahasa).