Faras (6), Najib (4), dan Umar( 9 bulan), itu adalah nama tiga bocah kecil yang tewas dibunuh oleh ibu kandungnya sendiri (demikian sementara pengakuan ibu mereka, Anik, seorang alumnus Planologi ITB Angkatan 1993 yang suaminya, Iman, juga alumni Fisika ITB Angkatan 1993) dengan cara dibekap dengan bantal secara beruntun. Inilah kejadian yang menggemparkan masayarakat Bandung pada tanggal 8 dan 9 Juni 2006 yang lalu.
Saya tidak hendak menceritakan peristiwa itu di sini. Sungguh, saya tidak dapat menahan perasaaan yang terguncang setiap kali membaca berita kronologis kejadian pembunuhan ini. Saya sendiri masih berada antara percaya dan tidak percaya dengan kejadian ini. Bayangkan, ibu bapak anak-anak itu tampaknya adalah orang-orang yang shaleh. Sang Bapak adalah pengurus Masjid Salman, sang ibu adalah seorang muslimah shaleh yang seperti dia katakan di koran PR bahwa dia sangat menyayangi anak-anaknya itu. (lihat: AKS Mengaku Membunuh Anak Karena Sayang). Sampai hari ini saya tidak pernah bisa mengerti alasan apa gerangan sehingga Anik tega menghabisi nyawa ketiga anak kandungnya sendiri.??Tiap kali mengingat peritiwa yang mengenaskan ini, saya mau menangis.
Faras, Najib, dan Umar, mungkin kalian saat ini sudah berada di surga. Entahlah, apakah kalian masih teringat dengan ibundamu di dunia yang saat ini dirundung sesal yang mendalam? Atau ayah kalian yang sudah terkuras air matanya karena kepedihan yang dialaminya. Kalian, buah hati ayahanda, yang selalu memberinya semangat hidup setiap hari, pergi dalam waktu hampir bersamaan.
Faras, Najib, dan Umar mengingatkan saya pada anak-anak saya di rumah yang usianya juga hampir sebaya. Anak-anak saya, bocah-bocah laki-laki yang selalu riang, yang setiap sore selalu menunggu ayahnya pulang di depan pintu. Setiap kali mengingat kejadian ini, saya peluk anak saya. Merekalah buah hati yang dititipkan oleh Allah SWT untuk dibesarkan dan dididik dengan kasih sayang. Terkadang, setiap anak saya tidur, saya sering mengamati wajah-wajah mereka yang polos dan tanpa dosa. Allah SWT menganugerahi saya anak-anak dengan kelebihan dan kekurangannya. Anak-anak adalah harta kita yang paling berharga.
Faras, Najib, dan Umar mungkin sedang riang berlari-lari dan bermain di taman surga. Bagi kalian, mungkin cerita sudah selesai. Tapi tidak dengan ibu dan ayah kalian. Semoga Allah SWT memberi kemudahan jalan untuk menerima taubat dari ibunda kalian. Semoga Allah SWT mempertemukan kalian kembali dengan ibunda dan ayahanda kalian di akhirat kelak.
1 response so far ↓
Anak Tersayang Tewas Mengenaskan « Catatanku // 9 September 2008 pada 14:20 |
[...] itu harus menghadap illahi demikian cepat. Dua tahun lalu, ketika seorang ibu (alumni ITB juga) membunuh 3 orang anaknya yang manis-manis dengan cara menyekap wajah anak-anaknya yang sedang tidur dengan bantal, saya [...]