Setiap kali saya ke Jakarta dengan kereta api, saya selalu melihat orang itu lagi di stasiun kelas 2, Jatinegara. Dia pedangan pedagang kaki lima yang mangkal di emperan stasiun kereta api. Dagangannya hanyalah sebuah kardus kecil yang berisi beberapa bungkus tisu, dua atau tiga buah gelas air mineral, beberapa bungkus rokok, permen polo, dan minuman suplemen. Tampaknya setiap hari dia menunggui dagangan tidak seberapa itu sembari berharap ada satu dua orang yang lewat untuk membelinya. Tidak jauh dari dirinya ada pedagang yang menjual buah salak di dalam kardus kecil. Mereka inilah yang setiap kali saya temui ketika KA Parahyangan berhenti sejenak di Jatinegara sebelum melanjutkan kembali ke stasiun Gambir. Entah sudah berapa tahun saya selalu melihat mereka di stasiun tersebut. Kalau dihitung-hitung berapalah keuntungan berjualan barang-barang semacam itu, mungkin tidak akan cukup untuk biaya hidup di Jakarta. Belum lagi jika ada anak istri yang harus dihidupi.
Pemandangan serupa kita lihat sehari-hari, rakyat kecil yang bekerja keras membanting tulang mencari kehidupan. Mulai dari pedagang kaki lima, pedagang asongan, pedagang keliling, buruh-buruh di pabrik, sampai petani dan nelayan. Di depan rumah saya setiap hari ada saja orang yang lalu lalang berjalan kaki menawarkan jasa reparasi jam, dari satu kampung ke kampung lain dia berjalan dibawah sengatan matahari menawarkan jasa. Tentu tidak setiap hari jam tangan orang rusak, tentu tidak setiap hari pula dia beruntung. Ada pula pedagang yang memanggul beberapa buah tangga dari bambu menawarkan dagagangannya. Tidak terbayang sakitnya bahu dia yang memikul beberapa buah tangga yang berat-berat berkeliling kampung.
Mereka telah bekerja keras dengan cucur keringat untuk mendapatkan uang. Tiap hari mereka bekerja seperti itu, dari tahun ke tahun. Sekeras apapun mereka berusaha, uang yang didapat hanya segitu-gitu saja. Mereka tetap saja miskin. Inilah yang dinamakan dengan kemiskinan struktural. Mereka miskin bukan karena mereka malas, tetapi mereka tidak berdaya untuk mengubah nasib. Peluang tidak ada, kesempatan tidak punya. Jargon yang pernah populer adalah “jangan berikan ikan, tapi berikan kailnya”. Masalahnya, jikapun ada kail tetapi kolamnya tidak ada bagaimana bisa memancing? Sistemlah yang membuat mereka tetap miskin. Sistem yang tidak adil. Mau pinjam modal di bank sangat sulit, lagipula tidak ada barang yang bisa dijadikan agunan. Sementara di sisi lain para pengusaha dan konglomerat begitu mudah memperoleh pinjaman di bank dengan persyaratan yang mudah (meskipun banyak dari kredit mereka yang seret, malah Pemerintah malah melakukan pemutihan). Para nelayan seharusnya bisa kaya karena laut negara kita berlimpah dengan ikan, gratis lagi. Tetapi mereka kalah dengan tengkulak yang membeli ikan mereka dengan murah, sementara di sisi lain mereka dijerat utang oleh para rentenir. Kapal mereka kalah pula dengan pukat harimau yang mampu meraup ikan dalam jumlah banyak.
Selama sistem keadilan tidak berubah, mereka – para orang kecil itu – akan tetap miskin sepanjang masa. Parahnya lagi Pemerintah negara ini tampaknya tidak berpihak pada rakyat kecil. Kemiskinan tampaknya terus dipelihara karena isu kemiskinan dapat dijadikan komoditas politik untuk meraih simpati massa yang akhirnya menjadi modal untuk meraih kekuasaan (ingat jargon “wong cilik” untuk meraih simpati massa memilih PDIP).
Kereta api meninggalkan stasiun Jatinegara menuju stasiun Gambir. Pedagang tisu di emperan stasiun itu tidak terlihat lagi. Mungkin beberapa tahun lagi kalau saya lewat di sana masih bertemu mereka yang duduk melamun menunggui seonggok dagangannya yang belum laku-laku juga.
0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.