Puasa dalam Suasana Kuliah dan Bekerja

Hari ini adalah hari kedua puasa Ramadhan. Hari pertama kemaren puasa jatuh pada hari ahad sehingga puasa dijalankan di rumah saja tanpa masalah. Kemaren pagi sampai siang suasana jalan di kompleks perumahan Antapani terlihat lengang. Tetapi, ketika hari beranjak petang suasana jalan terlihat sangat ramai, padat kendaraan, dan macet tentunya, terutama pada titik-titik penjualan makanan seperti Toserba Griya, penjual es buah, kolak, dan sebagainya. Suasana bulan Ramadhan memang melahirkan kekhasan tersendiri yang tidak ditemukan pada hari-hari biasa.

Berpuasa pada hari-hari dimana kita tetap bekerja dan kuliah di kampus mempunyai keuntungan tersendiri. Saya tidak perlu repot-repot lagi memikirkan harus makan siang apa, di mana, dan sebagainya (maklum, kantor tidak menyediakan makan siang, jadi kita harus cari makanan sendiri). Waktu rehat makan siang dapat diisi dengan kegiatan lain sehingga produktivitas kerja sebenarnya? lebih meningkat dibanding hari biasa. Saya mengajar dan bekerja di depan komputer, jadi saya punya waktu lebih banyak untuk menyelesaikan pekerjaan. Pada hari biasa di luar Ramadhan praktis waktu 1 jam itu dipakai untuk makan, santai-santai, sholat, dan sebagainya.

Suasana lain yang kita temui pada saat puasa di kampus adalah suasana yang tenang. Entah kenapa masing-masing orang seperti menahan diri untuk berteriak, tertawa keras, atau aktivitas yang menguras energi seperti olahraga di lapangan basket. Mungkin ini salah satu hikmah puasa Ramadhan, yaitu suasana yang damai.

Di bulan puasa, saya tidak begitu suka berjalan-jalan di tempat keramaian seperti mal dan plaza. Pasalnya, saya kurang sreg suka melihat begitu “kasat mata” orang-orang makan dan minum di restoran, kafe rumah makan, atau food court, yang ada di mal tersebut. Memang tidak semua orang berpuasa, saudara kita yang non-muslim tentu tetap melaksanakan aktivitas keseharian seperti makan dan minum. Kesalahan ada pada pengelola rumah makan dan restoran, mereka tidak menutup dengan sempurna kaca-kaca restoran mereka sehingga pemandangan orang yang makan dan minum dapat kita lihat dengan jelas dari luar. Kesannya seolah-olah bukan bulan puasa saja. Oleh karena itu, daripada melihat pemandangan “tidak nyaman” seperti itu lebih baik saya menghindar saja mengunjungi tempat keramaian di siang hari. Hitung-hitung menguatkan diri agar tidak tergoda.

Tulisan ini dipublikasikan di Agama. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s