Kenangan Puasa Masa Kecil di Padang

Setiap kali puasa Ramadhan datang, saya selalu teringat kenangan bulan puasa pada masa kanak-kanak dulu. Bapak dan ibu saya sudah mengajarkan berpuasa kepada kami, tetapi memang tidak harus penuh, boleh buka di siang hari, maklum kami masih kecil. Secara bertahap akhirnya kami bisa juga berpuasa secara penuh dari pagi sampai sore. Saat-saat berbuka puasa adalah saat yang dinanti. Hampir semua tetangga berdiri di depan rumah masing-masing menunggu bunyi sirine tanda berbuka berbunyi. Dulu belum ada televisi, maka waktu imsak dan waktu buka puasa selalu ditandai dengan bunyi sirine yang dipancarkan dari stasiun kereta api di Simpang Haru. Kota Padang dulu belum seluas sekarang sehingga bunyi sirine cukup menjangkau warga kota yang belum banyak pada masa itu. Sirine tersebut adalah peninggalan Belanda dan sampai sekarang masih tetap digunakan untuk menandai waktu imsak dan buka puasa.

Keluarga kami bukanlah keluarga berada sehingga menu buka puasa biasa-biasa saja. Hanya sekali-kali ibu membuat kolak pisang dicampur labu (bahasa minang: kundua). Selebihnya menu buka puasa yang manis-manis hanyalah minuman cincau yang diberi es batu, lain kali berupa teh manis yang juga diberi es batu. Biasanya salah seorang dari kami yang disuruh bapak membeli es batu di pasar raya.

Siang hari di bulan puasa adalah masa yang menyenangkan bagi anak-anak di lingkungan perumahan. Waktu itu di sekitar rumah masih banyak sawah. Maka kami anak-anak menghabiskan waktu siang hari dengan duduk-duduk di pondokan sawah sambil mengusir burung atau menembak burung dengan ketapel. Areal pesawahan dilalui oleh jalur kereta api, sehingga kami anak-anak sering membuat pisau-pisauan dari paku besar yang dilindas dengan roda kereta api yang sering lewat. Tetapi permainan yang menggetarkan adalah membunyikan meriam bambu. Bambu yang cukup besar dilubangi lalu diisi dengan kain yang sudah diberi minyak tanah, lalu api dimasukkan ke lubang bambu sehingga menimbulkan bunyi dentuman yang memekakkan telingga. Setiap kali selesai dentuman, bambu harus ditiup agar asap didalamnya keluar. Teman saya yang suka meniup sampai habis bulu matanya terbakar karena panas. Biasanya setiap kali bermain meriam ini, kami selalu diomeli tetangga karena suara meriam mengganggu ketenangan mereka.

Malam hari di bulan Ramadhan kami anak-anak pergi ramai-ramai ke mesjid untuk shalat tarawih. Di mesjid kami bukannya shalat tetapi malah berlari-lari dan bermain dengan kain sarung sehingga kami sering dimarahi orangtua.??Dari sekian malam Ramdahan, maka malam yang paling ditunggu anak-anak adalah malam ke-27 (malam-malam lailatul qadar). Pada malam tersebut anak-anak di kawasan perumahan menyalakan puluhan batang lilin yang dipasang di atas pagar, di atas pohon, dan di teras rumah. Pemandangan di malam itu sungguh mempesona karena kita dapat melihat deretan lilin yang dipasang pada setiap rumah. Biasanya menjelang malam 27 kami anak-anak selalu bersilang pendapat kapan persisnya malam ke-27 tersebut. Ada yang mengatakan nanti malam, ada lagi yang mengatakan besok malam, sehingga kadang-kadang penyalaan lilin di malam 27 tidak selalu serentak. Untuk mengatasi perbedaan itu, kami anak-anak di kawasan perumahan menyepakati pada malam apa lilin dipasang sehingga kami anak-anak tetangga serentak merayakan malam ke-27.

Seperti anak-anak kecil umumnya, maka hari raya Idul Fitri adalah hari yang ditunggu-tunggu. Ibu biasanya membawa kami ke pasar untuk membeli bahan pakaian, lalu bahan tersebut dijahit sendiri di rumah. Dulu sangat jarang orang membeli baju yang sudah jadi, karena selain mahal belum tentu pas di badan. Seusai shalat Ied, kami anak-anak mulai bergerilya dari satu rumah ke rumah lainnya untuk bertamu. Di setiap rumah yang kami kunjungi bukan kue-kue yang kami harapkan, biasanya kue tersebut kami diamkan saja. Yang kami tunggu adalah pemberian uang receh dari pemilik rumah. Kegiatan ini di Padang dinamakan dengan “menambang”. Pada siang hari kami menghitung uang yang dieproleh dari menambang sambil berlomba? siapa yang mendapat uang tambangan terbanyak. Uang tersebut kami habiskan hari itu juga dengan makan-makan di pasar raya, membeli mainan, atau menonton bioskop.

Begitulah kenangan puasa kami pada masa kecil dahulu. Sekarang anak-anak saya tidak merasakan suasana seperti itu karena lingkungan rumah di Bandung yang berbeda dengan masa kecil dulu di Padang, disamping tradisi di sini yang juga berbeda.

Tulisan ini dipublikasikan di Cerita Ranah Minang. Tandai permalink.

3 Balasan ke Kenangan Puasa Masa Kecil di Padang

  1. yudi kiting berkata:

    waduh.. kenangan yang anda alamin hampir mirip dengan masa kecil saya di kota padang dulu.. jadi indah sekali..

  2. djonson djuli berkata:

    kenangan masa kecil selalu saja sangat indah. ingin kembali mengulang rasanya, tentunya tidak akan mungkin…

  3. Ping balik: KENANGAN BULAN PUASA | UD3d Rajo Bagindo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s