Mengerikan dan mencekam, demikian perasaan saya ketika membaca dan melihat di televisi tragedi terbakar dan meledaknya pesawat Garuda Indonesia dengan kode penerbangan GA200 di bandara Adisucipto, Yogyakarta, 7 Maret 2007 pukul 7.00 pagi kemaren. Gimana nggak menggetarkan dada, pesawat itulah yang saya naiki minggu lalu ke Yogyakarta guna memberikan kuliah umum di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Sengaja saya memilih naik pesawat Garuda jam 6.00 pagi dari Cengkareng karena saya pikir naik Garuda lebih aman ketimbang naik pesawat yang lain. Memang mahal naik Garuda ini (tiket promo saja Rp 354.000), padahal untuk penerbangan pagi ke Yogya ada alternatif pesawat lain yaitu Adam Air (jam 6.30) dengan harga tiket hanya Rp 150.000. Tetapi karena saya masih trauma dengan Adam Air, maka saya pilih Garuda saja. Tidak apa-apa lebih mahal yang penting aman, begitu pikiran saya. Alhamdulilah memang tidak terjadi apa-apa. Tetapi, ketika pulang kembali ke Bandung via Jakarta saya diberi tiket pesawat Adam Air (memang hanya pesawat itu yang terbang sore sesuai permintaan saya) yang membuat saya deg-degan dan berpasrah diri kepada Allah SWT saja. Alhamdulillah juga tidak terjadi apa-apa. Baik pesawat Garuda pagi maupun Adam Air sore keduanya terisi penuh, pertanda bahwa rute Jakarta – Yogyakarta pp tergolong jalur gemuk.
Sebagian kita orang Indonesia yang sering menggunakan jasa penerbangan memang menjadi parno (paranoid) sejak tragedi kecelakaapesawat yang bertubi-tubi sejak awal tahun 2007 ini. Dimulai dengan jatuhnya pesawat Adam Air di selat Makassar tanggal 1 Januari 2007 yang lalu (yang hingga kini lokasi jatuhnya masih misteri dan belum ditemukan korbannya satu orangpun), lalu patahnya bodi Adam Air (lagi) ketika mendarat di Bandara Juanda Surabaya bulan Februari yang lalu. Jika dirunut ke belakang masih masih banyak peristiwa crash yang menimpa pesawat bertarif murah, seperti jatuh saat take off (Mandala di Medan), tergelincir (Batavia Air), salah mendarat di kota yang salah (lagi-lagi Adam Air), ban pesawat yang tidak membuka (Lion Air), dan lain-lain.
Semua ini makin menguatkan kesan bahwa manajemen transportasi di negara kita masih buruk. Tidak hanya pesawat, bahkan kapal lautpun berturut-tutur tenggelam dan terbakar dalam dua bulan terakhir (KM Senopati Nusantara yang tenggelam di laut Jawa, KM Levina I yang terbakar dan tenggelam di Teluk Jakarta). Belum lagi tak terhitung kecelakaan kereta api yang beruntun sepanjang tahun 2006 dan awal 2007. Semua tragedi kecelakaan transportasi ini, khususnya pesawat, membuat banyak orang terhenyak. Mau naik apa lagi kalau bepergian? Hampir semua pesawat boleh dikatakan tidak aman lagi dinaki. Garuda yang diidentikkan dengan pesawat nyaman dan aman ternyata sama saja dengan pesawat swasta lain yang bertarif lebih murah. Tetapi kalau bepergian jarak jauh dan membutuhkan kehadiran yang cepat, kita tidak punya pilihan selain pesawat.
Namun, sebagai orang beragama, akhirnya kita hanya bisa berpasrah saja kepada Allah semata. Dia lah yang memegang nyawa kita. Maut dapat datang di mana saja, naik pesawat apa saja, naik kendaraan apapun. Bahkan tidak kemana-manapun, di dalam rumah saja, mati bisa datang dengan tiba-tiba. Semua ini mengingatkan kita bahwa hidup dan mati sudah ditentukan oleh Allah SWT. Betapa tipis batas antara hidup dan mati. Hanya kepada Allah lah kita kembali. Karena itu, setiap naik kendaraan apa pun, janganlah lupa untuk selalu berdoa: bismillahi tawakkaltu ’alallaahi la hawla wa laa quwwata illa billah. Dengan nama Allah aku berserah diri, tiada daya dan upaya melainkan semua kekuatan adalah dari Allah.
Setuju pak….memang harus berserah diri..tapi klau saya pengennya berserah diri setelah tenang memilih maskapai penerbangan yang aman. Jadi selama terbang tetep bisa tidur, stres mikirin bakal jatuh ^^
Mujur tidak dapat diraih, maut tdiak dapat ditolak
pasrahkan diri saja sama Allah SWT, karena Dia yang Maha menggenggam hidup kita. walaupun naik kendaraan tercanggih sekalipun, kalau sudah takdir tak bisa di tolak.