Membantu Orang Miskin dengan Cara Mudah

Orang-orang miskin dengan pendapatan sangat rendah bertebaran di sekitar kita. Mereka umumnya bekerja di sektor informal seperti mang-mang beca, pedagang asongan, pedagang makanan dengan gerobak dorong, pikulan, atau dijunjung di atas kepala, atau berdagang kaki lima seadanya di pinggir jalan, pedagang jamu gendong, dan lain-lain. Barang yang mereka jajakan tidak seberapa. Pendapatan mereka setiap hari tidak banyak, tetapi uang yang diperoleh dicukup-cukupkan untuk biaya makan sehari-hari. Syukur-syukur kalau ada sisa untuk kebutuhan anak istri di rumah atau di kampung. Mereka adalah orang-orang yang hanya punya sedikit modal. Boro-boro  memperoleh pinjaman modal dari bank karena bank pasti tidak akan mempercayai mereka sebab orang kecil semacam itu tidak punya sesuatu yang bisa dijaminkan ke bank.

Contoh orang miskin adalah mang-mang beca yang mangkal dekat perumahan saya di Antapani. Beca yang mereka bawa bukan milik mereka, tapi milik induk semang. Sehari disewa Rp 2.000. Jika seorang mang baca dapat memperoleh uang dari menarik becanya rata-rata Rp 10.000 per hari (faktanya bisa kurang dari Rp 10.000), maka hanya Rp 8.000 yang mereka bawa pulang (bandingkan dengan penghasilan mahasiswa saya yang jadi asisten pelatihan komputer, per jam mereka dibayar Rp 20.000 hingga Rp 50.000). Biar sedikit yang mereka kumpulkan, tapi setelah seminggu dua minggu uang yang dikumpulkan sedikit-sedikit itu dikirim ke kampung buat anak istri yang menunggu di rumah. Terbayang bagi si mang beca itu betapa berseri-seri wajah anak dan istrinya menerima uang cucuran keringatnya dari menarik beca di Bandung.  Mang-mang beca itu tidak perlu kos di Bandung, mereka tidur di dalam beca berselimutkan malam. Jika mandi di WC umum atau di masjid, jika makan cukuplah di warung pinggir jalan ngutang dulu. Ada ribuan mang-mang beca di Bandung yang seperti itu. Mereka datang dari kantong-kantong minus seperti Garut, Cirebon, Ciamis, Tasikmalaya bahkan dari Jawa Tengah juga ada.

Pedagang makanan keliling atau yang mangkal penghasilannya tidak jauh beda dengan mang beca. Suatu kali saya memperhatikan seorang pedagang kacang rebus. Dari tadi dia duduk saja bermenung, tidak ada orang yang membeli kacangnya. Lalu saya dekati dia   dan saya belilah kacangnya sebungkus. Hanya Rp 1000 rupiah saja. Betapa senangnya dia melayani saja. Mukanya kelihatan berseri-seri dan berulang kali dia mengucupkan matur nuhun (artinya terima kasih), “sejak tadi sepi”, katanya,  “penglarisan“, tambahnya lagi. Uang seribu rupiah tadi sangatlah berarti baginya.

Di kompleks perumahan saya sering lalu lalang ibu-ibu yang berjualan makanan dan masakan seperti awug, donat, bala-bala, comro, pais ikan teri (semacam pepes), surabi, dan kue basahan lainnya.  Dari kejauhan sudah terdengar suaranya, “donaaaat… , donatnya neng“.  Atau “paiiiissss….”. Suara mereka kadang terdengar memilukan, sedari tadi berkeliling-keliling tetapi dagangan masih banyak yang belum laku. Seorang ibu penjual kue yang melewati rumah saya lalu saya panggil. Saya belilah beberapa dagangannya meskipun saya tahu rasanya biasa-biasa saja (average).  Saya tanya mulai jam berapa dia memasak untuk membuat kue, dia bilang sejak jam 2 dinihari. Oalah, jam segitu orang-orang masih lelap tidur, tapi si ibu tadi sudah berhadapan dengan tungku untuk memasak.

Dulu waktu saya mahasiswa dan tinggal di asrama ITB, setiap pagi selalu datang ke asrama seorang ibu pedagang nasi kuning dan nasi uduk yang dibungkus. Harganya Rp 500 per bungkus. Selain itu dia juga menjual gorengan. Bagi anak asrama, nasi murah seharga itu sangat membantu untuk sekadar sarapan. Ketika saya tanya ke si ibu itu mengapa dia menjual begitu murah, mengapa tidak Rp 700 atau Rp 1000 saja per bungkus, sebab lebih sedikit pun pun orang tidak keberatan untuk membelinya. Lagian tentu dia bisa menambah  keuntungan sedikit lebih banyak. Dia menjawab polos begini, “biarlah kecil den, yang penting tetep”.  Maksudnya tetep, biarpun yang dia peroleh setiap hari hanya sedikit, tetapi penghasilannya selalu konstan setiap hari. Tetep yang kedua berarti pelanggannya selalu jumlahnya tetap setiap hari, tidak berkurang kalau harga dinaikkan. Penghasilan segitu sudah cukuplah baginya. Memang sederhana cara berpikir si ibu tadi.

Penghasilan orang-orang kecil tadi tidak ada apa-apanya dibandingkan penghasilan kita sebagai orang terpelajar. Seorang profesional IT misalnya dapat memperoleh uang Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta per jam dari konsultasi IT yang dia berikan. Seorang rekan saya dosen sesama ITB bahkan mematok tarif dlam US $  setiap kali konsultasi IT di kantornya. Di Jakarta  tarif pelatihan materi IT sampai puluhan juta per orang hanya untuk 2 hari. Hitung sendiri berapa penghasilan pengajarnya. Penghasilan ini belum termasuk dari proyek-proyek IT yang dikerjakan oleh kaum profesional tadi. Sangat kontras memang perbedaan penghasilan tukang beca dengan profesional IT.  Profesional IT semakin bekerja keras semakin banyak penghasilannya, semakin kayalah dia. Sementara tukang beca, meskipun ia sudah bekerja keras seharian mencari nafkah, penghasilannya tetap segitu-gitu saja. Ia tetap saja miskin seumur hidupnya. Inilah yang dinamakan dengan kemiskinan struktural. Wajarlah kalau kaum profesional IT muslim yang kaya wajib menyisihkan hartanya untuk diberkan kepada orang miskin, sebab di dalam harta yang dia peroleh itu terdapat hak bagi si miskin (yang kalah dalam semua hal untuk memperoleh rizki). 

Untuk membantu orang kecil (baca: miskin) tadi, kita tidak perlu menggunakan teori yang rumit-rumit. Pemerintah saja dengan segala konsep yang utopia tidak sanggup mengatasi kemiskinan. Kita bisa membantu mereka dengan cara kita sendiri, caranya mudah saja, yaitu belilah dagangan mereka meskipun hanya sedikit, atau meskipun kita tidak terlalu membutuhkannya. Uang Rp 500 atau Rp 1000 yang kita belanjakan sangat berarti bagi mereka. Jika banyak orang berpikir seperti kita, maka dagangan mereka dapat terjual habis, keuntungan yang mereka peroleh sangat penting untuk kelangsungan dagangan mereka (dan itu juga kelangsungan hidup mereka).  Buang saja rasa malu atau gengsi ketika membeli jualan mereka, karena kita membeli secara halal. Atau, sekali-sekali naiklah beca si mang ketika menuju suatu tempat. Perhatikanlah betapa senangnya wajah orang-orang kecil tadi karena kita mau membeli jualan mereka atau menggunakan jasa mereka. Seperti kata AA Gym, gunakan prinsip 3M, yaitu “Mulai dari hal yang kecil, Mulai dari diri sendiri, dan Mulailah hari ini juga”.

Tulisan ini dipublikasikan di Renunganku, Romantika kehidupan. Tandai permalink.

12 Balasan ke Membantu Orang Miskin dengan Cara Mudah

  1. didin berkata:

    ini dpt cerita dr seorang teteh cintaku ^_^

    Ada seorang ibu2 tua, yg hidupnya jg pas2an di pedesaan Cicalengka. Blio suka sekali membeli sesuatu yg kadang jg kurang dibutuhkan, waktu ditanya kenapa emak teh sukabeli-beli.. jawabnya, da karunyak tukang dagangnya neng..

    ibu tua ini hampir2 tak pernah lewat sholat malamnya, bangun jam 2 pagi tahajud kemudian melakukan pekerjaan2nya, sehari rutin bisa 1 juz tilawahnya. Ibu ini.. bisa sangat ringan dan menikmati ibadah2nya…

    Ternyata…kemudahan menunaikan ibadah dan menikmati kedekatan dengan-Nya diawali dari kecintaan hati dan keringanan laku untuk melakukan kebaikan-kebaikan.

  2. rinaldimunir berkata:

    Subhanallah, ya Din…

  3. mursyid hasanbasri berkata:

    Terima kasih bang sudah mengingatkan kita2 bahwa yang kita (saya) dapatkan selama ini sudah jauh dari cukup. Saya juga sering bertanya pada setiap penjual yang saya beli dagangannya. Sungguh luar biasa, penghasilan mereka sangat kecil tapi tidak ada kesan mengeluh atas kekurangannya itu. Beda dengan kita (lagi2 saya) yang selalu mengeluh atas apa yang kita terima, bahkan mungkin ada yang lebih iseng lagi, mengeluh atas apa yang diterima orang lain. Na’udzubillah

  4. M Shodiq Mustika berkata:

    Benar, membantu orang miskin itu mudah.
    Salah satu kiatnya, tidak usah menawar barang yang kita beli dari mereka. Kalau perlu, kita membayarnya dengan “uang besar” tanpa minta kembalian.

  5. Halim berkata:

    Saya merasa iba dan bingung harus berbuat apa untuk membantu mereka Pak,,
    mungkin uang yang saya belanjakan untuk mereka hari ini dapat membuat mereka tersenyum, tapi adakah orang lain yang bisa membuat mereka tersenyum di keesokan harinya.

    Namun ketika melihat fenomena kemiskinan,saya jadi tersadar akan arti keeksistensian mereka untuk kita, diantaranya sebagai alat refleksi kita terhadap nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, dan untuk diri saya pribadi pemacu semangat dalam mengerjakan tugas besar ^^

  6. ari berkata:

    mohon di bantu

  7. diana berkata:

    saya punya kegundahan sama dengan bang halim.. seharusnya kita bisa berikan lebih dari sekedar kegembiraan sesaat buat mereka tapi bagaimana caranya?? bukan berarti memanjakan tapi akan lebih bermanfaat bila ada efek keberlanjutannya…

  8. djonson djuli berkata:

    saya rasa efek keberlanjutan adalah berasal dari fikiran kita (yang nb. sudah mapan). kegembiraan bagi abang-abang becak atau ibu penjaja kue adalah bagaimana dia mendapatkan penumpangnya atau pembeli kuenya pada saat mereka menjajakan jasa/barangnya. jadi mari kita membeli jojo-an/jaja-an mereka ….
    salam hormat untuk pak rinaldi..

  9. dandy berkata:

    wow bagus sekali tuh…insya Allah tak coba.. semoga dapat membantu yaaaa

  10. lady berkata:

    Saya sudah lama menerapkannya, tapi saya sering merasa seorang diri, jarang orang tergugah melakukan ini. Tapi saya berhasil berkampanye kepada ibu dan suami saya (orang terdekat dulu) agar kalo beli barang/jasa dari orang2 lemah itu janganlah menawar (kalo nawar jgn tll rendah), eh umayah berhasil loh…. ternyata hrs digugah dulu ya…. sebenarnya bukan krn pelit krn mereka tdk segan2 menyumbang masjid ato panti tapi kalo soal nawar orang lemah ini…. ternyata harus diingetin dulu…..

  11. subagya berkata:

    Saya sangat terkesan pada beberapa tulisan di atas. Memang banyak orang yang tidak memiliki nasib sebaik kita. Tapi yang terpenting apa yang bisa kita lakukan untuk membantu orang miskin. Saya juga terkesan pada salah satu facebook yang memberikan rumus sederhana ” satu orang kaya/mampu membantu/memberdayakan satu orang miskin. insyaallah dapat membuat lebih baik.
    terima kasih

  12. igo berkata:

    aku sedih sekali melihat banyaknya orang miskin di Indonesia. Tetapi aku tidak setuju dengan pendapat penulis. Walau niat nya baik untuk membantu dengan contoh nya membeli dagangan pedagang kaki lima atau memberi sedekah kepada pengemis tetapi kalau kalau di liat lebih luas consequency nya, itu bukannya malah melestarikan pedagang kaki lima dan pengemis. Disinilah bodohnya kita, dibodohi oleh stereotype pengemis dari orang yang baik2.. padahal mereka ini menganggu dan harus diberantas mulai dari akarnya. Salah satu solusi terbaik itu langsung membantu generasi berikutnya, seperti memberikan bantuan bagi anak2 sekolah yang tidak mampu. Supaya link antar generasi miskin ini bisa di patahkan. Daripada terus memberikan PKL+pengemis uang yang cukup untuk makan sekali atau 2 kali, kenapa tidak memberikan incentive untuk mereka berpikir lebih maju. Ibarat memberikan ikan kepada orang lain daripada memberikan pancingan untuk orang ini menangkap ikannya sendiri. Jadi dalam kasus tukang becak versus konsultan IT itu, kita membina next generation tukang becak untuk menjadi IT consultant.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s