Catatanku

Menyusuri Jalan Gardujati Bandung

16 Mei 2007 · & Komentar

Minggu lalu saya menyusuri Jalan Gardujati dengan sepeda motor. Saya mencari kendi buatan Kasongan yang dijual di sebuah kedai gerabah di sebuah perempatan jalan di sana. Kendi yang lama sudah pecah, padahal saya suka meminum air kendi karena rasa sejuknya yang tidak dapat terganti dengan air kulkas. Kalau anda tidak tahu Jalan Gardujati, maka jalan ini adalah terusan jalan Pasirkaliki, dekat Stasiun Bandung. Jalan Gardujati bersambung dengan Jalan Sudirman. Di belakang toko-toko pecinan di kedua jalan itu terdapat pemukiman penduduk yang sangat padat dan terkesan kumuh.

Saya merasa asing saja berada di Jalan Gardujati. Jalan Gardujati dan Jalan Sudirman adalah potret daerah “lampu merah” di Bandung. Di kawasan ini bertebaran pub, diskotik, tempat karaoke, panti pijat, rumah bilyar, dan yang nggak jauh-jauh dari bisnis maksiat. Apalagi di Jalan Gardujati terdapat tempat yang bikin mesem-mesem orang Bandung kalau ditanya, yaitu kawasan S*r*t*m. Siapa yang tidak kenal dengan Saritem? Lokalisasi prostitusi tertua di Bandung ini (yang katanya sudah ada sejak dibangunnya rel kereta api di Bandung pada zaman Belanda dulu) baru saja ditutup oleh Pemkot Bandung.

Jalan Gardujati (dan Jalan Sudirman) sangat gersang, segersang kehidupan malam dan maksiat di sana. Tidak ada pepohonan yang tumbuh atau ditanam di sepanjang jalan. Deru mobil dan motor berpacu di jalan itu siang dan malam. Para juru parkir tidak henti-hentinya memandu keluar masuk mobil pengunjung tempat-tempat hiburan. Sementara mang-mang becak terlihat menunggu penumpang.

Saya sudah menemukan kendi yang saya cari. Saya tidak ingin berlama-lama di jalan ini, entah kenapa. Mungkin karena suasana di jalan itu tidak cocok dengan kehidupan saya.

Kategori: Seputar Bandung

6 tanggapan so far ↓

Tinggalkan sebuah Komentar