Ternyata bosan juga libur long week end di rumah saja. Mau kemana ya? Kalau jalan-jalan di dalam kota pasti macet dengan serbuan orang-orang Jakarta. Kebetulan anak saya penggemar berat kereta api. Hari Kamis 17 Mei saya lalu mengajak anak-anak naik kereta api KRD Patas jurusan Bandung-Cicalengka. Ada dua KRD yang dioperasikan PT KA, yang satu KRD Ekonomi dan satu lagi KRD Patas. KRD Ekonomi tarifnya murah meriah, hanya Rp 1000 sekali jalan, sedangkan KR Patas lebih mahal yaitu Rp 4000. Kereta api memang sangat murah bagi masyarakat sub-urban yang pulang pergi ke Bandung setiap hari. Para pelaju (komuter) yang tinggal di pinggiran Bandung seperti Rancaekek, Cicalengka, dan Padalarang sangat terbantu dengan KRD ini. Bayangkan kalau naik angkot dari Bandung ke Cicalengka bisa menghabiskan sekitar Rp 10.000 sekali jalan, sedangkan dengan KRD (Ekonomi) hanya seribu perak. Sudahlah murah, banyak pula yang naik tanpa membayar.
Kami berangkat dari Stasiun Bandung. Stasiun Bandung tidak terlalu ramai saat itu padahal hari ini adalah hari libur. Tidak terlihat kepadatan penumpang yang turun atau pergi ke Jakarta dengan KA Parahyangan atau KA Argo Gede. Tampaknya kereta api sudah mulai ditinggalkan orang yang hendak bepergian ke Jakarta atau sebaliknya sejak dioperasikannya jalan tol Cipularang. Dengan jalan tol hanya butuh 2 jam ke Bandung dari Jakarta, sedangkan dengan kereta api perlu 3 jam. Pantesan saja orang Jakarta tumpah ruah ke Bandung setiap akhir pekan atau pada musim long week end seperti kali ini. Jika kereta terus sepi penumpang maka dipastikan PT KA terus mengalami kerugian. “Ajal” kereta api KA Parahyangan dan KA Argo Gede tampaknya hanya tinggal menunggu waktu saja.
Kembali ke KRD Patas tadi. Kereta mulai berangkat pukul 11.25 siang. Tidak terlalu penuh sih, padahal pada hari-hari kerja kereta selalu padat penumpang sebagaimana KRL Jabotabek. Baik KRD Patas maupun KRD Ekonomi keduanya memang tepat disebut “kereta api rakyat”. Hal itu ditunjukkan dari penampilan penumpang KRD yang umumnya dari kelas bawah. Ciri kereta api rakyat diperjelas lagi dengan kehadiran para pedagang asongan, pengamen, pengemis, dan tidak ketinggalan pencopet. Para pedagang asongan di atas KRD cukup kreatif, mereka menggunakan kereta beroda untuk menarik dan menjajakan daganganya, jadi tidak perlu dijunjung di atas kepala atau dipikul. Macam-macam dagangan yang diasongkan, mulai dari air mineral, tahu sumedang, permen 1000 tiga, tisu, roti, dan sebagainya. Pengamen pun hilir mudik memekakkan telinga penumpang dengan suaranya yang sember dan memakai pengeras suara yang bising.
Tibalah saatnya pemeriksaan karcis. Pak Kondektur memeriksa karcis penumpang yang bentuknya seperti sepotong karton berukuran 2 kali 3 cm (seperti pas foto saja ya). Saya menyodorkan karcis tadi lalu Pak Kondektur tadi melubanginya dengan sebuah alat pembolong kertas. Ternyata tidak semua penumpang menyodorkan karcis. Entah mereka tidak mau membeli karcis atau tidak mampu membelinya. Saya melihat beberapa penumpang cukup menyodorkan uang Rp 1000 dan Pak Kondektur tadi menerimanya tanpa menoleh. Seolah-olah semuanya saling mengerti. Kalau menurut peraturan kereta api, penumpang yang ketahuan tidak memiliki karcis didenda dengan uang senilai dua kali harga karcis atau diturunkan ditengah jalan. Jadi seharusnya penumpang KRD Patas yang tidak memiliki karcis ini membayar 2 x Rp 4000 = Rp 8000. Tetapi aturan tersebut tidak berlaku di atas kereta api rakyat ini. Saya menduga uang Rp 1000 tadi tidak masuk ke kas PT KA tetapi masuk ke kantong Pak Kondektur dan mungkin juga dibagi-bagi dengan masinisnya. Pantesan saja PT KA selalu merugi karena ulah penumpang yang tidak mau membeli karcis dan perilaku Pak Kondektur yang melakukan korupsi kecil-kecilan. Korupsi tidak hanya dilakukan para pejabat saja tetapi juga orang kecil seperti Pak Kondektur tadi. Memang gaji Pak kondektur KA kecil tetapi itu bukan alasan bagi dia untuk tidak mengindahkan peraturan perusahaannya dengan menerima uang salam tempel dari penumpang yang tidak berkarcis.
KRD Patas terus melaju ke arah timur Bandung. Beberapa penumpang terkantuk-kantuk. Kereta hanya berhenti di Rancaekek untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Di Rancaekek terdapat kompleks perumahan yang luas, mulai dari kelas Perumnas sampai kelas real estate. Warga di perumahan ini tertolong benar dengan kehadiran kereta api yang mengantarkan mereka bekerja atau bersekolah di Bandung setiap hari. Jika naik angkot pasti berhadapan dengan kemacetan Bandung yang semakin parah disamping ongkos yang mahal.
Di Cicalengka KRD Patas berhenti. Kami tidak berlama-lama di sana karena jadwal KRD ke Bandung sekitar 40 menit kemudian. Jadilah saya dan anak-anak mutar-mutar saja di stasiun Cicalengka yang kumuh dan tidak terawat. Kesan saya orang-orang di Cicalengka itu tampak sederhana, tidak seperti gaya hidup orang Bandung kota yang seronok.
Saya membeli karcis di stasiun ini untuk kepulangan ke Bandung. Waktu tempuh KRD Patas Bandung-Cicalengka hanya 35 menit saja, relatif sangat cepat dibandingkan naik kendaraan umum yang sering ngetem dan terjebak macet.
Begitulah pengalaman sehari naik KRD Patas, kereta-nya orang-orang kecil yang tinggal di pinggiran Bandung. Dengan naik KRD Patas kita akan melihat sebuah potret kehidupan orang-orang kecil.
15 tanggapan so far ↓
Arif Rahmat // 20 Mei 2007 pada 17:00 |
Saya sendiri belum pernah merasakan naik KRD. Tapi salah satu dari “orang-orang kecil” yang saya kenal sering bercerita bahwa puluhan tahun lalu setiap hari pulang pergi Bandung-Rancaekek dengan KRD saat bersekolah di SMAN 1 Bandung (Jl. Dago). Beliau adalah Iping Supriana, Ketua KK Informatika STEI ITB.
arifromdhoni // 21 Mei 2007 pada 07:41 |
Sebenarnya ingin tanya, KRD itu apa? Tapi cari di google ketemu, Kereta Rel Diesel. Memang, harusnya nasib kereta api lebih diperhatikan. Pegawainya juga harus didisiplinkan. Tapi, mulai dari mana ya? Semoga bapak kepala negara dapat mengatasi hal-hal seperti ini {dengan izin Allah}.
ironendog // 29 Mei 2007 pada 06:04 |
Zaman kuliah dari thn 2001-2004 saya tiap hari pulang pergi menngunakan KRD (Patas) karena saya kuliah di Fisip Dago UNPAD (PAA).Tanpa KRD mungkin saya atau pun teman2 saya bahkan beratus-ratus orang yang tinggal di “pinggiran Bandung” (Cicalengka/Rancaekek) tidak bisa menimba ilmu dan tidak bisa menjadi sekarang. Bagaimanapun juga KRD (PT.KA) yang dikatakan orang sbg alat trans rakyat bawahan,,,,namun berjasa dan membuat saya menjadi “Orang”. Dan menjadikan temen2 saya “tukang Insyinyur”,Guru,IT PT. CALTEX, Pemain IBL,Musisi,Desaign Grafis,IT PT. INDOSAT,pegawai PEMDA,karyawan Bank Mandiri,Bank JABAR,BNI,Niaga,BCA,,,etc,,,,
Berkat KR(Kereta Api Rakyat),,,,,,,,,,,,,,,
ARIES // 8 Juni 2007 pada 07:20 |
JADI INGAT TENTANG KORUPSI KECIL2AN. DIKANTOR SAYA YG NOTABENE KECIL DAN JUMLAH PEGAWAI CUMA 10. JG ADA KORUPSI TUK PEGAWAI YANG GAK BISA KORUPSI UANG AKHIRNYA KORUPSI HELM dEH… PADAHAL Q KALO PULANG BIASA NAIK ANGKOT KL GAK NEBENG TEMAN YANG PAKE MOTOR..TENTUNYA MINJAM HELM THO..TP KARENA HELM KTR YG JUMLAHNYA CUMA 4 ITU PUNYA ILMU MENGHILANGKAN DIRI AKHIRNYA Q GIGIT JARI PLG NAIK ANGKOT.ITULAH KORUPSI KECIL2AN YG TERNYATA BERDAMPAK JG TERHADAP ORANG LAIN (NASIB DECH…)
Fityan Aonillah, MNH-29 // 15 Juli 2007 pada 12:30 |
Saya agak khawatir juga dengan kelangsungan KRD baik ekonomi dan patas, apabila semakin banyak orang yang tidak membeli karcis. Apabila PT. KAI merugi dalam pengoperasian KRD ini, ada kemungkinan akan menutup jenis pelayanan ini. Tapi menimpakan kesalahan kepada penumpang adalah sangat tidak bijaksana. PT. KAI seharusnya lebih tegas dalam penegakan aturan baik terhadap penumpang maupun terhadap kondekturnya sendiri supaya tidak menerima suap dari para penumpang. Semoga PT. KAI tetap jaya !!!
ilul // 10 Februari 2008 pada 14:35 |
Saya baca di pr pernah ada artikel yang bahas krd, kondekturnya bilang katanya uang bayar langsung td tetap disetor ke ptka nya, g dibawa sama dia.
Terlepas dari itu semua, saya sangat berterima kasih sekali kpd ptkai.
Thn 70an dulu ketika om saya kuliah di itb, ia hrs berangkat jam 3 biar g ketinggalan kereta, dulu dikenal dgn sebutan si kuong. Skrg si kuong berganti jd krd, ketika sma 2 thn lalu saya cukup berangkat jam 5 buat ngejar jam masuk sekolah pukul stengah tujuh. Sekarang saya kuliah di itb (t.penerbangan), klo pulang ke rmh pasti naik krd. Daripada naik angkot ya jelas mndingan naik krd. Harga murah plus cepat. Tp sekarang saya nyerah, milih ngekost ahirnya. Capenya itu…. g tahan..
Tp saya salut sama tmen2 saya. Ada yg dari geodesi, fmipa, fitb, ti, ftsl dan smpe sekarang bisa ngejar kuliah pagi jam 7 dengan berangkat naik krd. Smoga mereka memperoleh hasil dari perjuangannya kelak…
siti sarah // 17 Mei 2008 pada 15:37 |
jadi teringat waktu muda dulu.. ^_^
kondisi naik patas itu tidak se miris naik KRD pak..
coba deh bapak kalau berkesempatan main ke gubuk saya, naik kereta ekonomi KRD, pengalamannya akan lebih seru dan mengasyikan
recki... // 30 Mei 2008 pada 22:49 |
ada yg tau jadwal krd cicalengka-pdlarang ngga ya?
soalnya tiap weekend saya pulang ke daerah cimindi dari garut… & mayan lah rada menghemat +/- 7ribuan.
kl bl itung2an sih ya, bgini:
ga pk krd. garut ke lw panjang 15rb… dr lw panjang keu cimindi 4rb total 19 ribu… nah skrg kl pk krd..
garut cicalengka 8ribu, cicalengka – cimindi cm 1500 nah kan beda bgt kan!
selamat mencoba
Fadli // 8 Juli 2008 pada 10:39 |
Bagus.
iye Bina Muda // 4 Juli 2009 pada 17:54 |
duh kayakna ni postingan dah pada lama neeh ya, jadi KRD maseeh ad ya, dgr” skrg keretanya dah baru lagi lo jade lebih seger ( katanya )
jade pengen musdik neeh dah lama gak ke Desa tercinta smbil naik KRD tercinta.
rinaldimunir // 6 Juli 2009 pada 13:46 |
@iye bine muda; KRD yang lama masih ada, KRD patas juga ada, dan yang baru, Barayageulis juga laris…
hasbi amali // 9 Agustus 2009 pada 09:32 |
KRD, gue banget!!!
hsbyxprezma@gmail.com // 7 Oktober 2009 pada 12:23 |
oia, di KRD juga ada “SUSTER NGESOT”
greeone cicalen9ka // 9 Oktober 2009 pada 19:41 |
..huuuft,, uajarr laa,,, konduktorna samma sajjjeuh.
diSye_ophi // 9 Oktober 2009 pada 19:42 |
maccha cii add susterr ngechod ??
Cellleumph atuuu !!!