Catatanku

Cita-cita yang Belum Terwujud Jua

21 Mei 2007 · & Komentar

Cita-cita saya dalam hidup ini bukanlah ingin menjadi orang kaya yang banyak uang dan harta, bergelimang kemewahan, dan glamor kehidupan duniawi yang nisbi. Sebenarnya bisa saja saya dapatkan semua itu dengan kemampuan yang saya miliki, tetapi saya tidak tertarik. Saya sudah merasa cukup dengan apa yang saya miliki, dan setiap kali bersyukur dengan apa yang saya peroleh. Harta duniawi tidak abadi, ia tidak bisa dibawa mati. Semua harta yang kita peroleh adalah titipan Allah SWT semata, Dia sewaktu-waktu bisa mengambil titipan-Nya itu kembali kapan saja Dia mau.

Cita-cita saya juga tidak ingin menjadi orang terkenal. Kepopuleran dapat membawa kita mabuk pujian, tinggi hati, dan lupa diri. Banyak orang terkenal akhirnya jatuh setelah kepopulerannya sirna, dia akhirnya dilupakan orang karena ada pendatang baru yang merebut posisinya.

Harta dan populariats laksana fatamorgana, dia tampak berkilau dari kejauhan, namun kilauan itu dapat hilang dalam sekejap ketika waktu terus berputar. Tidak ada yang abadi di dunia ini.

Lalu apa yang saya cita-citakan dalam hidup ini? Saya ingin menjadi orang yang arif. Itulah cita-cita saya yang belum terwujud hingga saat ini. Arif dalam memandang segala sesuatu dalam hidup ini, arif dalam menimbang keputusan, dan bijaksana dalam menilai segala sesuatu.

Kata orang, kearifan itu datang dengan bertambahnya usia. Usia saya sekarang sudah tidak muda lagi, sudah 40 tahun lebih, tetapi menunggu lebih tua untuk menjadi orang yang arif tampaknya terlalu lama. Oleh karena itu, saya mencoba belajar kearifan dari banyak orang, dari banyak peristiwa yang saya alami dan saya lihat, dari banyak tulisan yang menyentuh, dan sebagainya. Bisakah? Mudah-mudahan bisa. Seorang guru saya berkata, ambillah yang baik-baik dari diri setiap orang yang kita temui dalam hidup ini. Itu artinya puncak-puncak pada setiap orang kita kumpulkan untuk kita jadikan teladan hidup. Karena, dalam hidup kita bergaul dengan banyak orang. Banyak bertemu dan berinteraksi dengan orang membuat kita banyak belajar sifat-sifat baik dan sifat buruk orang. Yang baik kita ambil, yang buruk kita buang. Di lingkungan pekerjaan saya bertemu kolega dengan macam-macam kelakuan, saya berjumpa dengan banyak mahasiswa yang selalu berganti setiap tahun, setiap mereka datang dengan masalah dan sifat yang berbeda. Barangkali dari mereka saya banyak menemukan kearifan hidup.

Dulu, semasa masih “muda”, emosi berperan banyak dalam kehidupan. Kadangkala kata yang terucapkan dipengaruhi oleh emosi sesaat, tidak berpikir jernih, selalu memandang segala sesuatu dalam konteks diri sendiri, tidak mempertimbangkan konsekuensi ke depan atas setiap kata dan keputusan. Tetapi dengan bertambahnya usia, saya merasa ada yang berubah dalam diri ini. Saya jadi lebih banyak merenung. Mudah-mudahan itulah awal kearifan hidup yang saya dambakan.

Doakan saya agar menjadi orang yang lebih arif.

Kategori: Renunganku

9 tanggapan so far ↓

  • Jaka Setiono // 21 Mei 2007 pada 09:06 | Balas

    Menurut saya, tidak bisa kearifan itu didapat kecuali jika kita memperdalam belajar agama Islam. Semoga pak Rinaldi tidak hanya bisa arif saja, tapi juga bisa bercahaya memberikan cahaya bagi sekelilingnya (munir kan artinya yang bercahaya). Iya, local wisdom kadang bisa membuat orang lebih arif tapi tentu tidak bisa searif god’s wisdom.

    Salam dari semarang, central java. saya baca bukunya yang Algoritma Pemrograman loch…..

  • arifromdhoni // 21 Mei 2007 pada 18:30 | Balas

    Semoga Allah menjadikan Pak Rin menjadi orang yang lebih arif. Ämiyn.

    Bärakallähu lakum.

  • riki // 23 Mei 2007 pada 00:31 | Balas

    Cita2nya bagus tapi abstrak, jadi g bisa diukur oleh orang lain. Hanya P Rin yg tahu apakah cita2 sudah tercapai atau belom. Soal cita2 duniawi… kalo saya pengen buat lembaga keuangan yang bisa minjemin uang tanpa bunga/riba, habis kalo ngeliat orang beli kredit, bunga-nya luar biasa mencekik leher…Bahkan bunga yg sedikit saja dilarang, apalagi yg mencekik leher. Bisakah kita hidup tanpa riba? Bissaaaa.
    Btw, P Rin ud 40 tahun ya? Tampang Bapak seperti masih baru 30… awet muda yah…***Terpana***

  • rinaldimunir // 23 Mei 2007 pada 03:40 | Balas

    Terima kasih, Ramdhoni, atas doanya

  • rinaldimunir // 23 Mei 2007 pada 03:41 | Balas

    Buat Ricky, memang benar, cita2 saya ini abstrak. Tetapi apakah saya memang sudah arif apa tidak hanya orang lain yang bisa menilai. Wajah saya seperti umur 30-an? wah, terima kasih.

  • Zakka Fauzan Muhammad // 24 Mei 2007 pada 14:26 | Balas

    Iyah… Pak Rin gak keliatan udah 40 tahun loh pak… Kirain maksimal sekitar 35 tahun :)

  • reiSHA // 25 Mei 2007 pada 03:36 | Balas

    Setuju sama Zakka…

  • rinaldimunir // 25 Mei 2007 pada 04:14 | Balas

    Buat Zakka dan Reisha, alhamdulillah kalau dibilang masih muda. Mungkin karena sehari-harinya bergaul dengan anak muda (mahasiswa) sehingga tetap muda ya…

  • biru langit // 23 September 2007 pada 16:54 | Balas

    amin

Tinggalkan sebuah Komentar