Kemaren saya ke kota Yogyakarta memenuhi undangan mengisi acara workshop penulisan buku ajar di Jurusan Teknik Informatika Universitas Islam Indonesia (UII). Mungkin karena saya telah menulis beberapa buku maka panitia mengundang saya untuk sharing pengalaman. Saya ke Yogya naik Adam Air. Hah? Adam Air? Iya, itulah pilihan pesawat pagi yang murah. Memang hati ini terasa dag dig dug naik Adam Air mengingat catatan buruk penerbangan Adam Air. Tetapi saya sudah pasrah saja setiap naik pesawat, sebab naik pesawat apa pun tidak ada yang aman, termasuk Garuda sekalipun. Pesawat Adam Air terisi penuh penumpang. Orang Indonesia memang cepat sekali melupakan peristiwa dan tragedi kecelakaan pesawat ya.
Yogya adalah kota yang statik, pembangunan kotanya tidak begitu pesat. Kata orang di sana, Yogya ya begini-begini saja. Saya sudah enam kali ke kota Yogya sehingga bisa menyimpulkan tidak banyak berubah dari kota ini. Jangan salah tulis ya, nama yang benar untuk kota Yogya itu adalah Yogyakarta, bukan Jogjakarta atau Djogjakarta, atau kota Jogja. Itu bisa kita lihat dari nama resmi kerajaan Mataram di daerah itu yang berbunyi “Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningngrat”. Kesultanan ini didirikan oleh Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1755 (Sumber: Wikipedia). Tetapi orang sudah terlanjur salah mengucapkan nama “Jogjakarta” atau “Djogdjakarta” atau “Jogja” saja. Ini semua disebabkan warisan ejaan lama yang menuliskan bunyi “y” sebagai “j” dan bunyi “j” sebagai “dj”.
Jalan-jalan di kota Yogya didominasi pengendara sepeda motor. Saya tidak melihat angkot di Yogya, kecuali bis kota berukuran mini. Yogya dan Bandung memang beda. Jika Bandung semrawut karena angkot yang bejibun, maka di Yogya lalu lintas relatif teratur, maklum tidak ada angkot sih. Tetapi, hidup di Yogya agak sukar kalau kita tidak ada kendaraan, karena mau pergi kemana-mana pasti susah, sementara kendaraan umum seperti bis mini itu tidak banyak jumlahnya dan tidak melalui sebagian besar jalan. Beda dengan Bandung, jalan apapun pasti ada angkot yang lewat. Kita mudah berpergian karena ada rute angkot yang saling sambung bersambung. Malahan beberapa rute angkot beroperasi 24 jam.
Acara workshop dimulai pukul 9 pagi. Oh ya, saya sudah dua kali mengunjungi kampus UII di Condong Catur Sleman. Kampusnya besar, bangunannya megah, mahasiswanya juga banyak. UII termasuk PTS yang masih mendapat porsi mahasiswa yang besar padahal PTS-PTS di Indonesia umumnya dilanda kekurangan mahasiswa karena jatahnya direbut PTN-PTN yang membuka banyak program ekstensi, program diploma, dan jalur ujian seleksi mandiri.
Peserta workshop cukup antusias mendengar sharing pengalaman 3 penulis buku. Selain saya sendiri ada Abdul Kadir yang sudah menulis 80 buah buku dan dosen IF UII Ibu Sri Kusumadewi yang juga aktif menulis buku-buku informatika.
Acara selesai siang hari. Panitia lalu mengajak saya jalan-jalan. Saya diajak lebih dekat melihat Gunung Merapi di Kaliurang. Kami memang tidak menuju puncak gunung, tetapi hanya sampai di Bukit Turgo. Pemandangan di Kaliurang sekitar Merapi cukup menawan. Menuju Kaliurang mengingatkan saya pada daerah Lembang, Bandung. Hawanya sejuk dan sering berkabut. Banyak vila saya temukan di Kaliurang. Bukit Turgo inilah yang menghalangi perjalanan lava dari puncak Merapi sehingga derah Kaliurang tetap aman.
Seusai melihat Merapi di Kaliurang, saya diajak mengunjungi daerah Agrowisata di Turi, sebuah kecamatan di Sleman ke arah Magelang. Apalagi yang ditanam di Agrowisata kalau bukan salak pondoh. Hampir setiap jalan yang saya lewati selalu ada tanaman buah salak, baik di kebun-kebun maupun di halaman rumah penduduk. Dimana-mana pohon salak saja yang tampak. Tidak terlihat sawah yang ditanam padi, karena sawah sudah diganti dengan ladang salak. Pohon-pohon salak itu umumnya terawat dengan baik. Hmmm… padahal menanam pohon salak sama dengan mengundang ular bersarang. Ya, ular memang suka ngumpet dan bersarang di bawah pohon salak. Orang-orang Turi itu sudah biasa berhadapan dengan ular kali ya…
Begitulah sehari di Yogya. Kapan-kapan saya akan datang mengunjungi kota ini lagi.
Wah, ke yogya ya pak
Ya, angkutan di yogya relatif kurang OK, tapi itu tak lepas perkembangan motor juga yang gila2an, jadi pemda-nya udah males update transportasi umum kali yah, karena banyak penumpang memilih menggunakan motor
Yogya dari dulu kota motor
Oleh2nya mana pak?
Oleh-olehnya ya tulisan ini, Di. Pikir-pikir beli salak pondoh di pasar swalayan saja di Bandung
Wah.. abis dari Jogja ya, Pak ..
*
Sayang cuma sehari jadi belum sempat wisata kuliner…
Di Jogja itu makanannya enak-enak dan murah lho, Pak ^_^
*asalkan bukan di lesehan Malioboro aja
Jogja..Kaliurang..salak pondoh..
wa… sy jadi kangen masa kecil… ~_~’
*backsound:*
“Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat,
penuh selaksa makna”
Di Yogya saya sulit makan, maklum lauk pauknya manis-manis. Gudeg seperti kolak nangka saja rasanya, tidak cocok dengan lidah Melayu saya. Malioboro? Sorilah makan lesehan di sana, bisa-bisa diperas isi kantong kita oleh pedagang makanan lesehan itu.
Ke yogya ya pak, kok ngak kasih tahu.Padahal dekat UII tinggalnya lho.
Bagaimana udara di yogya panas ya pak ?
Wah, hebat juga Pak Rin ke yogya…
Iya pak, makanan di yogya enak-enak, tapi memang manis… Biasanya teh manis aja gratis disana… (di warung-warungnya)
Bapak ke Yogya yah? tau gitu saya nitip makanan pak
(becanda kok)
Jadi pengen pulang kesana, karena liburan dipakai buat KP kayanya saya ga jadi pulang. Yogya itu makanannya memang manis-manis pak, tapi ga semuanya manis. Contohnya Ayam Kalasan (jadi inget pengalaman saya makan Ayam Kalasan di Bandung yang rasanya kurang pas sama rasa aslinya). Kalo saya lagi mudik biasanya beli siomay goreng, bukan makanan khas Yogya sih, tapi ga manis.. jadi saya suka :-p
Memang dibandingkan PTS lainnya, UII PTS yang paling diminati oleh calon mahasiswa.. makanya mahasiswa di sana banyak. Jumlah pengendara motor di sana memang jauh lebih banyak daripada angkutan kota, bahkan saking banyaknya sumber kemacetan utama di sana justru motor, bukan mobil -_-;
@zakka: ealah zak, ke Yogya saja kok dibilang hebat.
@dyah: eh, btw, ini dyah nya zakka ya? Iya dyah, emang Yogya itu kota sejuta motor.
Pak, kalau nulis2 tentang perjalanan / tempat kok fotonya suka ngga dipasang?
@Ismail: karena nggak bawa kamera. Kapan-kapan kalau jalan-jalan saya bawa kamera.
Asiiiik, long weekend ini mudik ke Jogja
*sengaja tetep nulis Jogja*
Wong kita-kita yang orang Jogja aja kalo nyebut Jogja = Yogjo..hehehe
contoh..[tanya] Be..mulih Yogjo ra libur iki? [jawab]lha iyo no..
*UII ke atas dikit = kampungku..kampunge wong ndheso*
“UII ke atas dikit = kampungku” ???
Kampungnya di udara ya?
GAK SEMUA MAKANAN MANIS KOQ,KL GAK SUKA MANIS YA JANGAN MILIH GUDEG THO..YG LAINNYA KHAN ADA MIS: OSENG2MERCON.
bAPAK SIH JALAN2NYA DISEKITAR UII EMANG ADANYA ANGKOT KECIL, COBA KEKOTA KETEMU TUH BIS ANGKOT DARI JALUR 1 AMPE JALUR 15, YG KALAU JALANNYA AGAK NYELENEH ITU JALUR 12 REBUTAN PENUMPANG MALAH BISA DISEREMPET.
Senang rasanya… ada yang menulis tentang keindahan alam lereng selatan g. merapi.
Di sekitar turgo/turi tahun 90-an tanaman salak mendomonasi areal pertanian masyarakat, tapi kini katanya areal tersebut berubah jadi perumahan/real estate milik orang kota.
Tapi kenanganku tentang lereng merapi masih indah dan menawan seperti dulu saat aku study di intan-yogya.