Asah Gunting, Asah Pisau

“Aasah guntiiiing, aasah pisoooo”
Demikian terikan lelaki yang lewat di depan rumah saya dengan irama yang khas. Dia, penjual jasa untuk mengasah gunting atau pisau, menjajakan jasanya dengan cara berkeliling keluar masuk kampung dan kompleks perumahan. Modalnya hanyalah sebuah batu gerinda yang berbentuk roda yang diputar dengan sebuah engkol. Dengan memutar engkol, roda gerinda tadi berputar lalu mata pisau atau gunting diarahkan ke gerinda yang berputar tadi. Percikan bunga api menyembur dari pertemuan batu gerinda tadi dengan logam. Hasilnya, pisau dan gunting menjadi tajam kembali.

Saya mengamati lelaki tadi. Wajahnya yang penuh cucuran keringat membuat saya kagum dengan perjuangannya. Daripada menganggur atau mencuri, lebih baik bekerja keras menjajakan jasa apa saja, yang penting halal, mungkin demikian kira-kira prinsip orang ini. Tangannya terus memegang pisau dan memutar batu gerinda. Setelah lima menit, pekerjaanya selesai.

Saya tanya berapa ongkosnya, hanya 1000 perak untuk sebuah pisau. Murah sekali. Kalau dipikir-pikir, berapa ya penghasilannya sehari. Belum tentu setiap hari ada orang yang minta diasahkan pisau atau gunting. Pisau atau gunting kan bukan barang habis sekali pakai, paling-paling dalam sebulan barulah kita perlu mengasah pisau yang telah tumpul.

Biasanya penjaja jasa seperti ini berasal dari satu kampung di Jawa Barat atau jawa Tengah. Satu orang yang sukses, maka warga kampung lainnya ikut pula mengadu nasib dengan menjajakan barang atau jasa yang sama. Mereka tinggal di Bandung secara berkelompok dengan mengontrak kamar atau rumah ramai-ramai. Rasa senasib dan satu daerah membuat mereka guyub, akrab, dan solidaritas yang tinggi. Di Bandung, kalau ada yang berjualan mi tek-tek atau nasi goreng, maka dipastikan orang itu dari Brebes. Kalau yang jualan sapu, ember, dan alat rumah tangga, maka dipastikan mereka dari Tasik. Yang jualan kupat tahu umumnya dari Singaparna, pedagang sayur keliling dari Talaga, Garut, dan sebagainya.

Mereka inilah pekerja sektor informal yang mempunyai semangat juang yang tinggi mengadu nasib di kota besar seperti Bandung ini. Hasil kerja mereka itu riil, sebab mereka langsung mendapat uang atau upah dari barang atau jasa yang ditawarkannya. Tidak seperti kita pekerja kantoran, baru terima gaji di awal bulan berikutnya. Mereka berhemat-hemat hidup di Bandung, kontrak kamar ramai-ramai (satu kamar diisi 4 sampai 6 orang), makan cukup di warung murah. Tujuannya tidak lain agar uang yang dikirim ke kampung bisa lebih banyak, buat anak dan istri yang mereka tinggalkan. Peluh dan cucur keringat adalah bukti keuletan mereka. Dari sudut pandang agama, apa yang mereka lakukan itu adalah sebuah jihad. Ya, jihad kan tidak harus berarti berperang melawan musuh, bekerja keras mencari nafkah pun adalah sebuah jihad.

Tulisan ini dipublikasikan di Romantika kehidupan. Tandai permalink.

8 Balasan ke Asah Gunting, Asah Pisau

  1. riki berkata:

    Setuju Pak.
    Kalo di mata saya (sebagai manusia biasa), mereka ini jauh lebih saya hargai daripada:

    – Bankir yang lebih suka naruh uang di SBI, daripada disalurkan ke sektor riil, dan pemakan-pemakan riba lainnya
    – Pengemis yang minta2 tanpa mau kerja, dan turunannya (minta sumbangan g jelas dll)

    Harusnya kita2 ini yg kasih mereka modal kerja, minimal pakai jasa mereka.
    Hidup sektor riil (!) :D

  2. Jaka Setiono berkata:

    Ya, itu sudah upaya optimal yang mereka bisa. Inilah, indonesia, kebanyakan yang jadi pengusaha itu malah yg pendidikannya rendah, sehingga hasilnya tidak optimal.
    Mereka yang pendidikannya tinggi, malah sukanya jadi pegawai negeri.

  3. Suluh berkata:

    Wah baru ngerti kalau jasa mengasah pisau juga bisa menghidupi seseorang… Walaupun tentunya karena keterpaksaan… mungkin… Salam kenal…

  4. Dyah berkata:

    Setuju dengan riki, saya juga jauh lebih menghargai orang yang mengandalkan usahanya untuk mencari makan atau penghidupan yang lebih layak daripada orang yang menggantungkan penghidupannya pada orang lain atau sesuatu tanpa usaha yang berarti. Cara menghargainya tentunya bisa kita lakukan dari hal-hal yang kecil, misalnya membeli walaupun ga seberapa mahal seperti yang pernah bapak post di blog bapak. Dengan pendidikan yang tidak mencukupi, bisa dibayangkan berapa besar kesempatan mereka untuk mencari pekerjaan yang lebih layak, selain membuka usaha secara mandiri tentunya. Kalo pedagang-pedagang kecil seperti ini saja tidak kita hargai, apa lagi yang tersisa dari mereka? Mereka juga butuh makan seperti layaknya kita :-)

    Gerinda itu batu apa yah pak? baru denger saya..

  5. arul berkata:

    okeh… :)

  6. rodgurt berkata:

    Di dunia ini,manusia memang memiliki takdir yagnberbeda-beda,saat kita di taksdirkan kaya bukan berarti Allah menyayangi kita,membenci apalagi,Allah Maha Pengasih dan Penyayang.Kita sebagai manusia hanya diwajibkan beribadah,Allah tidak menuntut lebih.Ini juga bukan berarti kita hidup di dunia tanpa usaha,justru Allah menilai seseorang bukan dari apa yang diperoleh tapi yang diusahakan.Jika kit asudah berusaha sekears mungkin,tapi ujung2nya hasil tidak sesuai yang diharapkan,kita tidak boleh berputus asa,berusaha memberian terbaik apapun posisi kita.Manusia memang memiliki struktur berbeda-beda,adsa yang kaya dan miskin.Dari hal itu justru Allah ingin memperkenalkan diriNya.Agar kita saling berukhuwah.Jika Allah menghendaki kita menjadi tukang koran atau apa pun,jadilah manusia yang optimal pada posisi yang Allah berikan pada kita.Saya juga bersyukur,sebaik2nya saya menjadi anak seoran gtukang pijat refleksi.Yang penting,apa yang bisa kita lakukan maka lakukan sesuai apa yang Allah firmankan….;)

  7. Andi Bastio berkata:

    Tegar dan terus berjuang…. itulah kehidupan,yg di rumah sangat mengharapkannya…. demi satu kata ” tanggungjawab” keren….

  8. raynald berkata:

    Orang seperti mereka sebenarx pahlawan bagi keluargax, mereka ogah untuk mengemis kerna mereka memiliki harga diri, dgn bermodalkan keahlian tersebut mereka mampu menghasilkan uang walaupun tak seberapa.
    tpi sebenarnya mereka itu adalah orang2 pilihan Tuhan untuk menjadi pelajaran bagi kita yang berputus asa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s