Catatanku

Memberi nilai A, B+, C-, dll, Mungkinkah?

6 Juni 2007 · & Komentar

Setelah ujian akhir selesai, perkerjaan dosen adalah memberi nilai akhir. Nilai akhir mata kuliah sudah lazim hanya 5 kemungkinan saja, yaitu A, B, C, D, dan E. Nilai E sudah pasti tidak lulus, nilai D bisa lulus bisa tidak (di ITB, untuk S1, nilai-nilai tahap sarjana tidak boleh D, dengan kata lain D = tidak lulus). Nilai huruf ini biasanya diekivalenkan dengan nilai numerik sehingga kita dapat menghitung indeks prestasi (IP dan IPK) mahasiswa. Dengan sistem A = 4, maka nilai numerik setiap indeks tersebut adalah:
A = 4
B = 3
C = 2
D = 1
E = 0

Saya termasuk tipe dosen yang selalu mengumumkan seluruh komponen nilai setiap mahasiswa(UTS, UAS, tugas, dll), tidak hanya indeks nilai akhir berupa A, B, C, D, dan E saja. Rumus nilai akhir juga saya umumkan agar mahasiswa bisa menghitung sendiri nilai akhirnya. Sejak beberapa tahun yang lalu saya tidak lagi mengumumkan batas-batas nilai akhir untuk memperoleh nilai indeks. Pengalaman saya, jika batas-batas nilai akhir diumumkan, maka selalu saja ada mahasiswa dengan nilai-nilai di “perbatasan” datang menghadap untuk memohon “kebijaksanaan” agar diberi tugas khusus supaya nilainya bisa naik. Tetapi, semua permintaan itu saya tolak, sebab tidak memenuhi rasa keadilan. Temannya yang lain yang juga mempunyai nilai di perbatasan tentu harus diberi perlakuan yang sama. Jika hal ini diteruskan maka timbullah kerancuan sampai sejauh mana sebuah nilai disebut terletak di perbatasan? Akhirnya, yang namanya perbatasan itu menjadi fuzzy.

Misalnya begini, umpamakan saya membuat aturan bahwa mahasiswa mendapat nilai B jika nilai akhirnya antara 71 sampai 81. Nah, seorang mahasiswa dengan nilai 70,9 – yang tentu saja mendapat C dengan aturan ini – datang menemui saya meminta bagaimana caranya agar nilainya bisa dinaikkan 0.1 lagi supaya bisa memperoleh B, misalnya diberi tugas tambahan dan sebagainya. Jika permohonannya saya kabulkan, maka mahasiswa lain dengan nilai 70,6 misalnya juga menuntut agar diberi tugas tambahan supaya nilainya bisa naik menjadi B. Akhirnya hal ini merembet ke mahasiswa-mahaisswa lain yang mempunyai nilai akhir di bawah 70,6, sehingga nilai perbatasan itu menjadi kabur karena tidak jelas hingga sejauh berapa disebut perbatasan.

Bagaimana solusinya? Saya punya usul agar indeks nilai akhir dibuat lebih variatif untuk mengakomodasi kasus-kasus di atas. Maksud saya, variasi indeks nilai akhir tidak hanya 5 macam, tetapi bisa lebih. Misalnya sistem 7-nilai sebagai berikut (berikut ekivalensi nilai numeriknya):
A = 4
B+ = 3,5
B- = 3,0
C+ = 2,5
C- = 2,0
D = 1
E = 0

Jadi, dalam menentukan nilai akhir kita dapat membuat ketentuan nilai sebagai berikut:
Nilai akhir > 81 ==> indeks nilai = A
Nilai akhir: 75,5 s/d 81 ==> indeks nilai = B+
Nilai akhir: 71 s/d 75,5 ==> indeks nilai = B-
Nilai akhir: 65,5 s/d 71 ==> indeks nilai = C+
Nilai akhir: 55,5 s/d 65,5 ==> indeks nilai = C-
Nilai akhir: 45,5 s/d 55,5 ==> indeks nilai = D
Nilai akhir kurang dari 45,5 ==> indeks nilai = E

(dahulu, nilai B+ sering dijuluki “B gemuk”, B- dengan “B kurus”, dan seterusnya)

Tentu saja solusi itu tidak seluruhnya menjawab persoalan, sebab masih menyisakan masalah bagi nilai-nilai di perbatasan, tetapi setidaknya solusi ini masih lebih baik ketimbang hanya 5 jenis indeks nilai seperti sebelumnya. Tentu saja sistem 7-nilai di atas tidak dimaksudkan hanya untuk mengatasi nilai-nilai di perbatasan, tetapi untuk mempersempit jarak satu nilai dengan nilai lainnya sehingga bisa memetakan nilai mahasiswa secara lebih proporsional.

Setahu saya, Program Pasca Sarjana di UGM dan beberapa universitas di Malaysia sudah lama menggunakan sistem 7-nilai ini. Apakah ITB mau menerapkan sistem nilai seperti ini? Tentu harus dipertimbangkan dulu baik dan buruknya sebelum menggantikan sistem 5-nilai yang sudah biasa digunakan selama ini.

Kamu setuju dengan sistem nilai yang baru ini?

Kategori: Seputar ITB

19 tanggapan so far ↓

  • budiono // 6 Juni 2007 pada 10:01 | Balas

    Saya sangat setuju pak, namun ada hal lebih dahulu yang harus dilakukan untuk permasalahan nilai ini, yaitu mengenai standarisasi yang jelas terhadap penilaian dari semua dosen. Saya sering mengalami ada beberapa dosen di IF yang masih kurang adil dalam menentukan kebijakan nilai, seperti yang tiba-tiba mengambil nilai Tugas sebagai komponen utama sehingga menjadi porsi yang lebih besar daripada UTS, ataupun UAS. Dan ini menurut saya lebih memperihatinkan keadaannya. Banyak anak-anak IF sering berdiskusi dengan saya tentang permasalahan ini, dan sepertinya prodi IF belum mengadakan evaluasi. Mungkin Pak Rinaldi bisa membantu…

  • Brahmasta // 6 Juni 2007 pada 10:35 | Balas

    Hm, saya setuju pak. Lebih adil. Btw, saya boleh dibilang sering mendapatkan keuntungan nilai-nilai kurus, beberapa kali A kurus, kadang-kadang B kurus, C kurus juga pernah. Dan itu saya ngerasa kadang-kadang nggak enak sama teman yang kerjanya jauh lebih keras tapi dapetnya sama seperti saya.

  • riki // 6 Juni 2007 pada 16:37 | Balas

    Menurut saya, di balik simbol/nilai2 tersebut, yang jauh lebih penting adalah: ILMUNYA DAPAT TIDAK? Percuma dapet nilai A tapi kalo ditanya g tau/ilmunya kosong. Kecuali kalau niatnya cuman dapet kertas transkrip bertaburan nilai A buat ambil S2/S3, ato cari kerja yg syaratnya IPK > 3,5. Nilai itu penting, tapi ketahuilah, di dunia luar/nyata, ilmu dan penerapannya (jam terbang) yang jauh lebih penting.
    Oya, kalau teman2 mahasiswa IF ITB calon sajrana niatnya pengen S2/S3, silakan cari nilai A sebanyak mungkin. Atau kalau pengen masuk perusahaan BUMN/Swasta bonafid yg mensyaratkan IPK tinggi, silakan juga cari nilai A banyak2. Tapi setahu saya, perusahaan2 IT g terlalu lihat IPK, yang mereka lihat adalah skill dan kemampuan kerja. Apalagi kalau mau wiraswasta, Anda g butuh transkrip :D .
    Sekali lagi, nilai bagus harus ditunjang juga dengan ilmunya, kalo nggak sama saja Anda menipu diri sendiri.

  • Ridwan // 6 Juni 2007 pada 17:00 | Balas

    Sistem 7 nilai? Setuju Pak. Di RWTH-Aachen, malah bukan hanya 7 nilai tapi berbagai nilai ^^, yaitu 1.0, 1.3, 1.7, 2.0, 2.3, 2.7, 3.0, 3.3, 3.7, 4.0, 4.3, dan 5.0 (tidak lulus). Dan dengan variasi nilai yang lebih banyak, kalau anak ITB mau kuliah di sini, IPK yang diakui oleh RWTH-Aachen mungkin bisa naik dan kemungkinan diterima jadi mahasiswanya jauh lebih besar.

    @budiono: Hmm…soal kebijakan nilai yang berbeda-beda, itu memang bisa dimengerti. Ada kuliah yang lebih baik jika nilai diambil dari nilai tugas, ada yang dari ujian (terutama jika ujian akhir). Namun, jika nilai akhir diambil tanpa kejelasan bagaimana perhitungannya itu yang runyam dan perlu dipersoalkan..

  • Nanda Firdausi // 6 Juni 2007 pada 21:06 | Balas

    Kenapa tidak semua nilai jadi basis-100 saja. Nanti yang 0-20 -> tidak lulus, 20-40 -> pas … 80-100 -> sangat baik, eh… jadi balik ke A B C D E yah :P

  • rinaldimunir // 7 Juni 2007 pada 04:14 | Balas

    @Budiono: tidak ada (atau belum ada) standardisasi penilaian di kalangan dosen IF, suka-suka saja, karena dosen diberi otoritas terhadap mata kuliah yang diampunya (meluluskan, tidak meluluskan, menentukan rumus penilaian, dll). Coba kalau IF nanti mau ikut standard ABET, pasti gak boleh begitu. Sekarang di STEI giliran EL dulu yang dinilai oleh komisi ABET.

  • reiSHA // 7 Juni 2007 pada 06:16 | Balas

    Kalau di UI, bukannya lebih banyak lagi ya variasinya? Kalo ga salah ada A, A-, B+, B, B-, C+, C, dst… 4, 3.7, 3.3, 3, 2.7, 2.3, 2, dst… Kalo ga salah…

  • Edy // 7 Juni 2007 pada 07:28 | Balas

    DI UNDIP variasi nilainya mirip dengan usulan Pak Rin. A, AB, B, BC, C, D, E.
    Mungkin lebih mudah bagi mahasiswa dalam mendapat nilai ‘bagus’. Akan tetapi pertimbangan pemberian nilai jadi lebih rumit. Saya sempat mengalami kesulitan dalam membedakan nilai untuk mahasiswa yang sangat mahir (A ataukah AB), mahasiswa mahir (AB ataukah B), mahasiswa yang agak mahir (B ataukah BC), dengan mahasiswa biasa (C).

    OOT, Saya teringat dulu di ITB pernah dapat 79,9 (B yang sangat gemuk) di kuliah Pak OS dan saya pasrah. hehe

  • saiful // 7 Juni 2007 pada 07:39 | Balas

    Pak Rinaldi, pengindeksan nilai di sini (JKU Linz, Austria) mirip dengan di ITB, tapi pakai angka: 1 (sangat baik) – 5 (sangat buruk). Cara mengindeks nilai dari 0-100 ke 5-1 kelihatannya bervariasi tergantung dosennya.
    Dulu saat di ITB saya menggabung antara pengindeksan dengan batas yang tegas dengan selisih nilai-nilai yang ada. Diusahakan agar selisih nilai, misalnya antara A kurus dan B gemuk sebesar mungkin. Misalnya kita patok dasar >81 untuk nilai A. Ternyata kita temukan nilai-nilai (terturut)… 78 80 80.5 81 81…. Jadinya saya ambil >80 sebagai nilai A. Tapi penurunan/penaikan standar nilai tsb juga diusahakan tdk terlalu ekstrim.
    BTW, saya jadi terpikir mengapa tidak menggunakan standard clustering algortihm. Bisa jadi salah satu topik TA, tuh. :)

  • rinaldimunir // 7 Juni 2007 pada 07:45 | Balas

    @Saiful: salam buat keluarga di sana. Saya juga memakai cara yang sama denganmu, urutkan nilai dari besar ke kecil, lalu cari dimana terjadi gap nilai yang besar, itulah batas untuk sebuah nilai.

  • iqbal // 7 Juni 2007 pada 07:51 | Balas

    sebenarnya saya kurang setuju pak dengan pemetaan ke a, b, c dst karena menurut saya tidak adil terhadap mahasiswa yang berusaha lebih baik. contoh, saya pernah mendapat nilai a untuk fisika dasar dengan nilai akhir hanya 76 saja, kan tidak adil dengan teman saya yang mendapat nilai akhir 98. sebenarnya, apa sih pak tujuan nilai dipetakan menjadi a, b, c ini?

  • arul // 7 Juni 2007 pada 13:24 | Balas

    ITS juga…
    ada
    A
    AB
    B
    BC
    C
    D
    E

    aneh juga tapi ideal… :)

  • raden // 7 Juni 2007 pada 17:02 | Balas

    Amat sangat setuju.

  • Zakka Fauzan Muhammad // 11 Juni 2007 pada 06:07 | Balas

    Setuju ama qbel!!!

    Iyah, harusnya nilai itu apa adanya…

    Jadi ya kalo nilainya 90, tulis aja 90, kalo 87, yah 87…

    Kalo ke-IPK-in-nya, mungkin gak begitu susah juga…

    Misal, bagi dengan 25 (jadi yang 100 dapet IPK 4)… Misal sih…

  • Ibrahim F Burhan // 12 Juni 2007 pada 07:38 | Balas

    Saya setuju dengan perubahan tersebut.

    Seharusnya sih nilai apa adanya seperti yang disebut @Zakka. Karena variasi nilai cuma ada 5 sehingga ketika dipecah dari nilai sebenarnya jadi tidak mencerminkan kualitas aslinya. Analoginya sama seperti sampling (digitize) lagu dengan 8kHz dengan 16kHz akan berbeda kualitas –> Maaf Pak jadi OOT.

  • Ady Wicaksono // 13 Juni 2007 pada 05:48 | Balas

    Pengennya nilainya kayak jaman SD aja: ada 10,9,8,6,7,5,4,3,2,1,0

  • eecho // 13 Juni 2007 pada 11:55 | Balas

    Setuju..secara logika dengan sistem itu makin banyak kecil rentang nilai dalam suatu frekuensi nilai
    Jangkauan Nilai = 100 (0-100)
    Klo sistem ABCDE (cuman lima kelas), perbedaan antara tertinggi dan terendah bisa jauh banget
    Dengan sistem (tujuh kelas), nilai rentangan tiap kelas nilai makin kecil
    maka makin banyak frekuensi kelas, makin banyak yang terakomodasi kepentingannya, sedangkan masalah konversi ke IPK nggak akan ada masalah dengan berapa banyak kelas nilai yang terbentuk.

    Masalahnya apakah hal ini dapat diterapkan? penentuan sistem ini mau tidak mau harus dalam skup universitas (ITB) karena mata kuliah suatu prodi dapat diikuti oleh mahasiswa prodi lainnya.

  • Rizli // 13 Juni 2007 pada 23:16 | Balas

    pak kayak jaman SD aja 1-10. Persis kayak di TU Delft… heheh jadi berasa kalo dpt jelek :p

  • Agi // 16 Januari 2008 pada 02:29 | Balas

    Saya cenderung setuju dengan penilaian dari 0-10 (atau 0-100). Rentang itu lebih apa adanya. Toh, nilai yang didapat mahasiswa cuma sebagai pemanis tambahan dalam menghadapi dunia kerja. Saya sendiri berpandangan, jika saya berada pada posisi pemberi nilai, saya akan lebih menitik beratkan pada tugas (tugas dalam hal karya nyata). Karena karya nyata lebih mengena daripada teori.

Tinggalkan sebuah Komentar