Hari Jumat 8 Juni 2007 kemaren saya absen ke kantor, karena menemani anak ikut jalan-jalan acara perpisahan sekolahnya (TK) ke Dunia Fantasi (Dufan) Ancol. Setiap anak didampingi ibunya, hanya dua orang anak yang ditemani ayahnya, termasuk saya. Risih juga <i>nih</i> bergabung dengan ibu-ibu, tapi gimana lagi, ibunya anak saya tidak bisa menemani karena repot dengan adik bayi yang setiap waktu harus disusui.
Dufan. Siapapun tahu nama itu. Arena kesenangan rakyat Indonesia yang terletak di tepi Pantai Ancol Jakarta. Orang daerah kalau jalan-jalan ke Jakarta tidak lupa datang ke sini. Apalagi kalau yang dibawa itu anak-anak, dijamin pasti merengek.
Saya baru dua kali ke Dufan, termasuk kali ini. Pertunjukan lumba-lumba dan singa laut <i>sih</i> udah biasa, udah “basi” kata anak-anak sekarang. Tapi pada jalan-jalan kali ini ada wahana baru yang sangat menarik, yaitu teater 4 Dimensi (4D). Kalau film-film 3D sudah tidak aneh lagi kan, nah kalau nonton film 4D baru beda.
Bangunan Teater 4D di Dufan bentuknya kotak, tetapi jika kita masuk ke dalamnya, kita melewati lorong yang terus menanjak seperti memasuki sebuah piramida Mesir. Dan memang, di dinding kiri dan kanan lorong yang agak gelap itu terdapat relief-relief yang menggambarkan diorama Mesir kuno. Hmmm… tampaknya sebelum menonton film 4D pengunjung dikondisikan dulu dengan suasana yang mencekam.
Memasuki lantai bioskop, pengunjung diberi kacamata hitam. Untuk menonton film 4D memang diperlukan kacamata khusus. Lampu-lampu di dalam bioskop mulai dimatikan, pertanda film akan segera dimulai. Film yang diputar menampilkan kehidupan beruang di kutub utara, biota laut, dan satwa di hutan tropis. Kacamata khsuus tadi membuat penonton serasa benar-benar berada di dalam film tersebut. Gambar-gambar 3 dimensi yang sebenarnya realitas maya seolah menjadi nyata, buktinya ketika monyet-monyet di hutan melempar buah-buahan para penonton berteriak seakan-akan lemparan buah tadi mengenai kepala penonton. Tiba-tiba seekor ular menjulurkan kepalanya ke arah penonton sehingga banyak penonton berteriak ketakutan seolah-olah ular itu menerkam mereka. Benar-benar bikin “jantungan”. Dan braaaak…, pohon tempat bergelantung monyet rubuh karena ditebang dari bawah. Kitapun merasakan pohon patah karena kursi tempat duduk bergoyang-goyang ke depan dan ke belakang. Waaaahh. Efek nyata lainnya ditampilkan ketika beruang kutub melompat-lompat di gunung es. Hembusan angin pun berhembus di dalam teater, bahkan gerimis hujan pun dijatuhkan dari langit-langit teater seakan-akan penonton merasakan hujan yang ada di dalam film itu.
![]()
Secara umum film 4D memang menawarkan sensasi yang luar biasa. Efek 3 dimensi yang ditampilkan di dalam film ditambah dengan gerimis hujan, hembusan angin, dan kursi yang bergoyang-goyang itulah yang dinamakan film 4D. Sayang, filmnya singkat sekali, hanya 15 menit, sehingga kami kurang puas. Tapi tak apa-apalah, tidak rugi menemani anak ke Dufan, sebab saya bisa menyaksikan film 4D ini.
19 tanggapan so far ↓
edy // 12 Juni 2007 pada 08:29 |
Untung filemnya dokumenter. Coba kalau filem perang macam Tears of The Sun, Band of Brothers, dan Commando, bisa banyak yang pingsan atau jantungan kali ya.
Kalau Matrix boleh lah menikmati desingan pelurunya.
Hmm, kalau Lord of the Ring atau Harry Potter diputar disitu pasti seru nih. Serasa terbang melayang. hehe
peb // 12 Juni 2007 pada 09:15 |
sebenernya bingung juga.. 4D itu maksudnya apa ya pak? ‘D’ ke empat itu …
rinaldimunir // 12 Juni 2007 pada 09:40 |
@Peb: 4D = film 3D + efek semu di dalam ruang teater (hujan, angin, kursi bergoyang2, dll)
Dewi // 13 Juni 2007 pada 02:34 |
hmmm,,,, jadi pengin ke dufan nih Pak,,,
reiSHA // 13 Juni 2007 pada 05:00 |
Ga nyobain Tornado Pak? Wahana yang katanya baru di-launching 10 Juni lalu?
rinaldimunir // 13 Juni 2007 pada 05:23 |
@Reisha: belum, saya ke sana kan tagl 8 Juni, jadi belum ada Tornado.
reiSHA // 14 Juni 2007 pada 04:12 |
Hoho, o iya, 8 Juni ya. Ga merhatiin… Hehe… Katanya lebih ‘parah’ dari pada Kicir-Kicir lho Pak…
ikram // 20 Juni 2007 pada 06:05 |
Pak Rinaldi, teater 4D berada di dalam Gelanggang Samudera, bukan Dunia Fantasi
rinaldimunir // 20 Juni 2007 pada 06:20 |
@Ikram: memang teater 4D itu di dalam Gelanggang Samudera, tetapi publik tahunya itu di Dufan.
ikram // 20 Juni 2007 pada 18:07 |
Oh, oke kalau begitu
Abie // 29 Juni 2007 pada 06:31 |
Waah, kebetulan Pak! Saya dan teman2 IF yang sedang KP di Jakarta mau mencoba ke sana.
Kok tampak seru ya? ^o^
diBond // 2 Juli 2007 pada 09:43 |
Kebayang kalo filmnya ‘Band of Brothers’, efek D ke-4nya difasilitasi dengan menembakkan peluru beneran ke arah penonton. Haha.. Ngomong2 Pak, tiket masuk ke 4D ini berapa ya? Jadi penasaran… >_
GONO // 30 November 2007 pada 05:35 |
KALAU ADA YANG PUNYA FILM 4D/3D SAYA MAU DIKIRIMIN
VIA EMAIL INI
omenlophe // 11 April 2009 pada 15:57 |
punya gambar / foto 4 dimensinya ga..? kalau punya aku kasih ya…..
ke E-m@ailku : omenlophe@yahoo.com
makacih buanget sebelumnya….
ina // 18 Juni 2009 pada 15:42 |
pak rinaldi,
tau nga, klo ke teater 4 d itu , tiket masuk nya dah termasuk apa nga ya?
terus apa hanya boleh 1 x , atau terserah pengunjung?/
pls info ya
rinaldimunir // 18 Juni 2009 pada 15:50 |
@ina: tiketnya terusan, jadi ketika kita masuk Dufan dan membeli tiket, maka semua wahana di sana bisa dinikmati dengan tiket terusan tersebut. Menontonnya habya boleh satu kali, sebab setelah film habis penonton disuruh keluar sampai ruang teater kosong.
ina // 18 Juni 2009 pada 15:52 |
wokay…
jadi nga seperti di DUfan , misal teater 3d nya , yang klo kita mau nonton lagi,. ya antri lagi …
asriyatun dewi // 8 Juli 2009 pada 09:36 |
wah bagus tuh , walaupun gak pernah liat yang di jakarta sih…hehehe
reza // 18 Oktober 2009 pada 12:05 |
pak 4 dimensi munculin di tv di supah anak kecil di padang
gembira