Catatanku

Nonton Film di Teater 4 Dimensi Dufan

12 Juni 2007 · & Komentar

Hari Jumat 8 Juni 2007 kemaren saya absen ke kantor, karena menemani anak ikut jalan-jalan acara perpisahan sekolahnya (TK) ke Dunia Fantasi (Dufan) Ancol. Setiap anak didampingi ibunya, hanya dua orang anak yang ditemani ayahnya, termasuk saya. Risih juga <i>nih</i> bergabung dengan ibu-ibu, tapi gimana lagi, ibunya anak saya tidak bisa menemani karena repot dengan adik bayi yang setiap waktu harus disusui.

Dufan. Siapapun tahu nama itu. Arena kesenangan rakyat Indonesia yang terletak di tepi Pantai Ancol Jakarta. Orang daerah kalau jalan-jalan ke Jakarta tidak lupa datang ke sini. Apalagi kalau yang dibawa itu anak-anak, dijamin pasti merengek.

Saya baru dua kali ke Dufan, termasuk kali ini. Pertunjukan lumba-lumba dan singa laut <i>sih</i> udah biasa, udah “basi” kata anak-anak sekarang.  Tapi pada jalan-jalan kali ini ada wahana baru yang sangat menarik, yaitu teater 4 Dimensi (4D). Kalau film-film 3D sudah tidak aneh lagi kan, nah kalau nonton film 4D baru beda. 

Bangunan Teater 4D di Dufan bentuknya kotak, tetapi jika kita masuk ke dalamnya, kita melewati lorong yang terus menanjak seperti memasuki sebuah piramida Mesir. Dan memang, di dinding kiri dan kanan lorong yang agak gelap itu terdapat relief-relief yang menggambarkan diorama Mesir kuno. Hmmm… tampaknya sebelum menonton film 4D pengunjung dikondisikan dulu dengan suasana yang mencekam. 

Memasuki lantai bioskop, pengunjung diberi kacamata hitam. Untuk menonton film 4D memang diperlukan kacamata khusus. Lampu-lampu di dalam bioskop mulai dimatikan, pertanda film akan segera dimulai. Film yang diputar menampilkan kehidupan beruang di kutub utara, biota laut, dan satwa di hutan tropis. Kacamata khsuus tadi membuat penonton serasa benar-benar berada di dalam film tersebut. Gambar-gambar 3 dimensi yang sebenarnya realitas maya seolah menjadi nyata, buktinya ketika monyet-monyet di hutan melempar buah-buahan para penonton berteriak seakan-akan lemparan buah tadi mengenai kepala penonton. Tiba-tiba seekor ular menjulurkan kepalanya ke arah penonton sehingga banyak penonton berteriak ketakutan seolah-olah ular itu menerkam mereka. Benar-benar bikin “jantungan”. Dan braaaak…, pohon tempat bergelantung monyet rubuh karena ditebang dari bawah. Kitapun merasakan pohon patah karena kursi tempat duduk bergoyang-goyang ke depan dan ke belakang. Waaaahh. Efek nyata lainnya ditampilkan ketika beruang kutub melompat-lompat di gunung es. Hembusan angin pun berhembus di dalam teater, bahkan gerimis hujan pun dijatuhkan dari langit-langit teater seakan-akan penonton merasakan hujan yang ada di dalam film itu.

Film 4D
Secara umum film 4D memang menawarkan sensasi yang luar biasa. Efek 3 dimensi yang ditampilkan di dalam film ditambah dengan gerimis hujan, hembusan angin, dan kursi yang bergoyang-goyang itulah yang dinamakan film 4D.  Sayang, filmnya singkat sekali, hanya 15 menit, sehingga kami kurang puas. Tapi tak apa-apalah,  tidak rugi menemani anak ke Dufan, sebab saya bisa menyaksikan film 4D ini.

Kategori: Cerita perjalanan

19 tanggapan so far ↓

Tinggalkan sebuah Komentar