Kemaren saya mendapat berita ada mahasiswa saya dipukuli oleh seorang mahasiswa di sebuah Himpunan mahasiswa, karena dia menulis di blog-nya bahwa Himpunan mahasiswa tersebut ditunggangi komunis (baca kronologisnya di sini ). Tidak terima dengan tuduhan itu, si mahasiswa tersebut diadili oleh Himpunan tadi. Mahasiswa saya tadi sudah meminta maaf dan sudah mencabut tulisan yang bermasalah itu di blognya. Tetapi, salah seorang anggota Himpunan tadi karena terlalu emosi sempat membogem hidungnya sehingga penyok.
Kita tentu menyayangkan ketidaksenangan terhadap sebuah tulisan dibalas dengan kekerasan, apalagi kekerasan fisik tersebut dilakukan oleh calon intelektual. Sesama ITB lagi. Memalukan, memang. Seharusnya ada hak jawab yang perlu disampaikan oleh pihak yang merasa dirugikan. Tapi, ya begitulah, bangsa kita ini masih primitif, langsung main hantam saja. Saya tidak tahu bagaimana kelanjutan masalah ini.
Saya tidak bermaksud membela mahasiswa saya tadi, tetapi juga tidak membenarkan perilaku oknum mahasiswa yang memukul hidungnya. Keduanya sama-sama salah.
Apa pelajaran penting yang dapat ditarik dari kejadian ini? Tulisan sama tajamnya dengan pedang. Kata orang, mulutmu harimaumu, akan menerkam dirimu sendiri. Jika tidak berhati-hati dalam menulis, maka darah bisa tertumpah. Menulis opini yang menyangkut hal-hal yang sensitif seperti SARA (termasuk menuduh komunis) bisa berdampak luas, apalagi jika hanya berdasarkan intuisi semata, tafsiran-tafsiran, dan praduga-praduga yang tidak disertai bukti. Apalagi jika identitas orang atau kelompok yang disebut di dalam tulisan tersebut ditulis dengan jelas. Akibatnya fatal, seperti yang terjadi pada mahasiswa saya di atas. Di negeri ini, siapa orang yang mau dituduh komunis? Stigma komunis menimbulkan trauma yang mendalam dan bisa merusak masa depan seseorang atau kelompok orang.
Ada sebuah pepatah Arab yang mengatakan bahwa apa yang sudah kita ucapkan (termasuk tulisan) akan menjadi milik umum. Sekali anda berucap, maka perkataan anda tadi sudah terlanjur masuk ke telinga orang, anda tidak bisa menariknya kembali. Meskipun anda sudah meminta maaf seribu kali, orang tidak bisa lupa dengan apa yang anda ucapkan. Luka melalui ucapan sama perihnya dengan luka fisik. Biar seribu kali maaf dan penyesalan, luka itu akan tetap tinggal. Kita mungkin masih ingat kasus-kasus dimana orang-orang saling membunuh hanya karena fitnah yang disebarkan melalui lisan maupu tulisan. Benarlah Firman Allah SWT di dalam suar Al-Baqarah yang berbunyi alfitnathu asyaddu minal qatli (mohon maaf kalau salah menulis ayatnya) yang artinya: fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.
Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dalam membuat tulisan, termasuk tulisan di dalam blog. Blog di internet adalah ruang publik, siapapun bisa menulis dan membacanya. Sekali kita menulis, maka tulisan itu dibaca banyak orang. Hindarilah tulisan yang cenderung menuduh, menjelek-jelekkan, dan menghantam orang atau kelompok. Hindari penyebutan nama orang atau nama kelompok secara terang-terangan. Mudah-mudahan kita tidak terjebak dalam fitnah dan pergunjingan yang dilarang oelh Allah SWT.
17 tanggapan so far ↓
Ivan Sugi // 5 Juli 2007 pada 06:22 |
Harusnya pak, keyboard lebih mematikan dari senapan….. Karena saya gak tulis.
Tapi, dari sini saya belajar banyak dan memahami kekuatan dari Internet, Pikiran dan model Masyarakat Terbuka.
Ady Wicaksono // 5 Juli 2007 pada 06:54 |
Wah, turut prihatin. Sekedar berbagi info dengan pembaca, di singapore, melakukan untuk melakukan kekerasan fisik, memukul mereka akan berpikir ribuan kali. Kenapa? hukumannya tidak ringan, selain penjara pasti dapat, denda besar juga mungkin sekali, narapidana tidak akan dapat tempat di masyarakat Singapore. Ya, ini salah satu kelebihan di Singapore, very low crime.
Pernah ada orang berantem, tidak ada diantaranya yang maju tangannya, cuman adu mulut aja, mungkin di Indonesia udah tangan dan pisau yang maju
Apalagi saya baca di blognya, apabila bang “anu” bla bla bla bisa ada pembunuhan, wah…. di sini berpikirnya akan jutaan kali, membunuh = hukuman mati dan dijamin gak lama deh ketangkepnya karena pasti langsung diuber sama aparat 1 negara ini
, dan disini tidak kenal kelamaan menunda eksekusi untuk eksekusi hukuman mati kalau sudah melewati pengadilan, nah lho, mending hidup normal taati aturan dan jangan cari masalah.
Kadang2 jadi heran, Indonesia yang terkenal banyak Muslim banyak kriminal di mana2, karena mereka tidak peduli hukum sehingga emosinya tidak ada yang menahan
Patut disayangkan…
rinaldimunir // 5 Juli 2007 pada 07:15 |
@Adi: dalam beberapa hal, orang Singapura sudah menerapkan prinsip2 islami, ketimbang orang Indonesia yang muslim.
rezaantonius // 5 Juli 2007 pada 22:28 |
amin… tapi kebebasan berpendapat bro? orang boleh nulis macem2, dari yang sopan ampe yang ga..
kalo ga setuju… ya diemin aja.. atau balas dengan tulisan lainnya, kan jadi pertempuran tulisan…
itu lebih beradab dari pada maen tangan… gua setuju amat pendapat bung tentang hal ini
arul // 6 Juli 2007 pada 02:12 |
wah.. wah…. kekerasan tidak hanya fisik tapi tulisan…..
cikalmaniz // 6 Juli 2007 pada 04:03 |
ya gitu dech, dunia maya ada sisi baiknya juga buruknya…tergantung manusianya,bagi saya pengalaman seperti tulisan diatas akan saya ambil hikmahnya dimasa depan,,,,
hafiz // 6 Juli 2007 pada 06:59 |
Turut prihatin bacanya, seorang teman di ITS juga pernah bermasalah dengan dosennya karena tulisan dia di blog. Menurut saya selain berhati-hati menulis juga berhati-hati membaca ya, pak. Lebih elegan kalo memang ada tulisan yang tidak sesuai dengan pendapat kita, ya dibalas dengan tulisan juga ‘kan?
Wong sama-sama orang ngintelek lo, ITB je
the23wind // 6 Juli 2007 pada 07:06 |
amin. moga pada nyadar, apalagi sesama blogger yang udah saling nyerang dengan menyinggung hal2 yang sangat sensitif untuk di bahas.
rinaldimunir // 6 Juli 2007 pada 07:26 |
@Hafiz: setuju, kita kan makhluk beradab. Otak ya harus dibalas dengan otak, darah dengan darah, nyawa dengan nyawa. Hiii…
nanung // 7 Juli 2007 pada 08:42 |
kata-kata sama tajamnya dengan pedang
jadi boleh dong dibogem
abis kan yang ngebogem dah kena pedang duluan
padahal adilnya pedang yaaaa dibalas pedang
tapi di itb emang gitu kok
suka bogem-in kata-kata
di if juga ada lho
sawung // 7 Juli 2007 pada 13:37 |
tulisan ivan itu tanggal 17 maret. baru diangkat tanggal 28 juli, gileee lama betul. hehehe jawaban himafi lebih wise kalo menurut saya “oo sekarang komunisnya meningkat dibanding atheis” :p. hehehehe.
)).
)
Jadi inget dulu seorang temen dituduh secara langsung kalo die kristen/atheis. Die menyikapinya dengan solat di salman, biasa ga solat disitu. (gara-gara itu anak2 suka becanda solatnya solat politik
bang itu bisa marah betul karena kenal banget sama yang mukul ivan dan die emang terkenal berangasan (jatuh dari lt 4 ga mati boi! awak aja ngeri dengernya) tapi sejauh ini temen-temennya masih bisa ngeredam si bang itu. Tenang pak kalo soal ini.Si pelaku juga tau betapa kejamnya abang itu, kemaren die sempet tanya si itu tau atau engga.
Kalo soal indikasi ditunggangi. hehehe, no komen, it’s purely politic, ga etis dibicarain didepan umum pergerakan politik dikampus itb. Yah parpol-parpol pada masuk diem-diem neh. Indikasi aja seh, klo ditulis entar malah ditonjok
sawung // 7 Juli 2007 pada 13:57 |
ups alah liat bulan pak, yang di atas 28 juni bukan juli.
bangaiptop // 7 Juli 2007 pada 18:39 |
quote ady wicaksone:
“Kadang2 jadi heran, Indonesia yang terkenal banyak Muslim banyak kriminal di mana2″
Agak aneh, ketika identitas agama dikaitkan dengan aksi kriminalitas. Pendapat saya pribadi, kenapa juga harus dikaitkan ama agama?
Di Miami, perkosaan terjadi setiap 30 detik sekali (data: Miami Dade County Police 2006). Miami adalah sebuah kota dengan keragaman kultur yang didominasi oleh masyarakat etnis hispanic. Hampir seluruh masyarakat etnis hispanic adalah mayoritas penganut agama tertentu. Dapatkah kita maen pukul rata, bicara “semua miami hispanic yang terkenal banyak beragama anu, kok ternyata tukang perkosa yaa?”
Sori, OOT. Tapi generalisasi kadang juga berbahaya. Sama berbahayanya dengan menganggap karya (seni) adalah ungkapan ideologi terlarang. Sama berbahayanya, dengan ngegebukin orang, hanya karena tulisan.
Saya jadi ingat, beberapa tahun lalu. Di Depok, segerembolan orang berjubah putih yang menganggap dirnya FPI, meggerebek toko-toko buku. Mereka mencari buku-bukunya Pram, serta buku yang dianggap ‘aliran kiri’ lainnya. Buku itu dirampas. Direbut secara paksa. Dikumpulkan jadi satu. Hanya untuk dibakar.
Tiba-tiba, postingan ini mengingatkan saya akan kejadian yang sudah usang dan basi tersebut. Dan mata saya dibuka, ternyata fasisme masih ada dimana-mana. Bahkan pada beberapa mahasiswa perguruan tinggi yang belajar di sekolah mantan presiden pertama.
Ahhh…
(*terimakasih, saya jadi belajar memahami peta gerakan mahasiswa pasca reformasi. hehe*)
Ady Wicaksono // 8 Juli 2007 pada 10:48 |
Mohon maaf kalau tidak sependapat, itu hanya pendapat pribadi aja mas
, memang sih negara kita ini menurut saya pribadi negara sekuler, jadi ya urusan agama memang tidak bisa dikait2kan dengan urusan2 keseharian. Tapi bagi saya pribadi (lagi2 ini pendapat pribadi), apa yang terjadi di Indonesia tak bisa lepas dari elemen terkecilnya yakni manusia2nya. Nah manusia Indonesia konon tak bisa lepas dari elemen religi/agama yang mereka anut. Itu kenapa kemudian saya bilang, kalau masy. Indonesia banyak yang Muslim dimana bagi saya mengajarkan untuk menjauhi hal2 macam itu, kenapa terjadi hal negatif dng volume yang banyak. Mana yang salah dan harus diperbaiki? Bagi saya pribadi (lagi2 pendapat pribadi), hal itu memang akan terkait dengan sendirinya mas, tanpa perlu mengait2kan (Senyawa tidak akan pernah bisa lepas dengan kaitannya dengan proton/neutron dan elektron sebagai unsur2 pembentuknya).
Ridwan // 8 Juli 2007 pada 19:03 |
Hmm…komentar jadi diskusi. Menarik juga ^^
rinaldimunir // 10 Juli 2007 pada 09:58 |
@Ridwan: menarik ‘kan Ridwan? Di sinilah kita dapat mengukur pendapat kita dibandingkan pendapat orang lain. Toh, masalah2 sosial tidak punya jawaban yang eksak, selalu saja ralatif. Hanya Hukum Tuhan yang eksak.
rinaldimunir // 10 Juli 2007 pada 10:00 |
@Ssawung: kampus ITB terbuka terhadap semua pemikiran, asalkan semua disampaikan dengan cara yang santun, tidak arogan, tidak saling menghujat, dan disertai dengan rasa tanggung jawab. Semua pendapat harus dihargai. Kita hidup di kampus yang tidak semua orang mempunyai cara hidup seperti kita.