Meminta-minta Sumbangan untuk Acara 17 Agustus

Duh, prihatin. Begitu komentar saya melihat beberapa remaja sudah mulai meminta sumbangan di pinggir-pinggir jalan untuk perayaan 17 Agustus di RT mereka. Untuk acara mereka sendiri, mereka minta orang lain yang membayarinya. Di Jalan Terusan Jakarta di depan Borma Antapani misalnya, pada ABG sudah mulai bergerilya di jalan-jalan sejak bukan Juni. Bukan Juni saudara-saudara, masih jauh jaraknya dengan bulan Agustus. Diperkirakan menjelang Agustus nanti akan semakin banyak panitia 17 Agustus memenuhi pinggir jalan untuk meminta sumbangan dari pengendara mobil maupun motor. Supaya tidak terkesan mengemis, mereka kadang menawarkan air mineral kemasan dan berharap pengendara menukarnya dengan uang lebih.

Kehadiran para remaja panitia 17-an yang mencari dana untuk perayaan HUT Kemerdekaan RI itu menurut saya sangat mengganggu. Pertama, mereka membuat laju kendaraan jadi tersendat bahkan macet. Kedua, penampilan mereka, terutama para wanitanya, kurang elok dipandang karena memakai pakaian yang ketat, mereka seakan-akan memanfaatkan momen ini untuk mejeng. Ketiga, meminta sumbangan untuk kepentingan acara mereka menyiratkan kemalasan.  Mengapa mereka tidak mencari dana dengan cara yang lain? Misalnya patungan para warga, jualan kue-kue, mencari sponsor, dan lain-lain.

Tetapi, pertanyaan yang lebih penting dari masalah di atas adalah, apakah perlu 17 Agustus harus dirayakan dengan cara hura-hura dengan menampilkan panggung gembira yang berisi orkes dangdut? Mengapa tidak membuat perayaan 17 Agustus dengan cara yang lebih mendidik, misalnya membersihkan lingkungan, perbaikan masjid, pengajian, penggalangan dana untuk membantu warga yang tidak mampu atau memberi sumbangan untuk mang-mang beca yang setia nongkrong di mulut gang, dan sebagainya.  Lebih berkesan dan bermanfaat ketimbang acara hura-hura. Ingat, di negara kita masih banyak orang yang hidup sengsara. Hidup setiap hari semakin sulit.

Di beberapa kampung di Bandung, ada cara perayaan 17 Agustus yang unik. Warga yang berada di gang-gang selebar mobil mengadakan acara makan bersama di sepanjang jalan gang. Mereka membentangkan tikar-tikar dan menyediakan makanan besar secara swadaya, mulai dari nasi tumpeng, nasi timbel, lengkap dengan lauk-pauk dan sambalnya.  Tidak lupa teh panas dan bajigur untuk menghangatkan suasana. Untuk semua keperluan acara makan bersama ini, mereka tidak perlu meminta sumbangan ini itu, sebab setiap rumah berpartisipasi dengan menyediakan makanan. Setelah Maghrib, para warga berkumpul di sepanjang gang. Mereka duduk dengan tertib. Setelah berbagai acara pendahuluan seperti siraman rohani, sambutan-sambutan, dan sebagainya, mereka beramai-ramai menyantap hidangan sepanjang gang itu. Anak-anak, tua muda, semuanya berbaur menjadi satu dalam kebersamaan yaitu makan malam bersama di bawah atap langit. Acara seperti ini sangat berguna untuk membuat hubungan antara warga menjadi guyub, akrab, dan dekat satu sama lain. Tidak bisa disangkal bahwa budaya goting royong dan kekeluargaan sudah mulai hilang di kompleks perumahan real estate. Setiap warga hidup masing-masing, mereka kadang tidak kenal tetangga sebelahnya. Tetapi di pemukiman padat seperti di gang-gang kecil hubungan antara warga sangat kuat; budaya kekeluargaan masih terpelihara baik.

Moral dari cerita ini, mengapa tidak menjadikan perayaan 17 Agustus-an sebagai wahana untuk mengingatkan kembali nilai-nilai kemanusiaan yang sudah hilang?

Tulisan ini dipublikasikan di Indonesiaku, Seputar Bandung. Tandai permalink.

12 Balasan ke Meminta-minta Sumbangan untuk Acara 17 Agustus

  1. rivafauziah berkata:

    Sumbangan Agustusan… Sudah Menjadi Tradisi Tuh.. Mau Gimana Lagi wong Proposalnya Lengkap dan Komplit, seakan sudah menjadi kwajiban buat nyumbang dan demi ikut memeriahkan dan berpartisipasi – gotong royong wajib dilaksanakan.

    Eh.. Ngomong2 Agustusan sekarang Jatuh Pada Tanggal Berapa ya..?

  2. rizal berkata:

    kreatif untuk mendapatkan dana, jgnlah dihujat or dihina , krn mereka ingin memeriahkan HUT kemerdekaan kita , sudah sepatutnya kita sebagai warga negara turut partisipasi untuk merayakan hut negara cinta kita ini , menghargai para pahlawannya . bangsa yg besar adalh bangsa yang mghargai pahlawannya btul gak, mereka para pahlawan berjuang berkorban merelakan nyawanya untuk merebut kemerdekaan , kita cuma mngisi kemerdekaan dituntut jg pengorbanannnya hanya dengan memberikan bantuan dana nya aja pelit, ironis sekali….tks

  3. rinaldimunir berkata:

    @Rizal: bukannya pelit mas, tetapi caranya tidak mendidik. Sudah banyak protes soal ini di media massa.

  4. di RT dan RW tempat saya tinggal juga di adakan acara tujuh belasan. kami, para warga, setelah melalui rapat memutuskan biaya tujuh belasan ditanggung warga. besar sumbangan tidak ditentukan, tapi warga diwajibkan untuk menyumbang. dan alhamdulillah tidak ada yang protes. melalui rapat diputuskan untuk tidak mengemis ke pengendara kendaraan yang lewat alias tidak boleh meminta sumbangan di pinggir pinggir jalan, dan syukur juga tidak ada warga yang protes.
    memang kalau kita cermati meminta minta dipinggir jalan sambil menengadahkan tangan atau kotak kardus kosong sama sekali buka cara yang kreatif, mengganggu lalu lintas sudah pasti. dari cara meminta sumbangan (meminta di pinggir jalan) sudah menunjukkan kemalasan. sering kita temui kalo mereka gak dikasih sumbangan duit acap kali keluar kata kata kasar dan sumpah serapah. saya pikir pahlawan yang berjuang merebut kemerdekaan pasti tidak mengajurkan untuk jadi bangsa pengemis, kan kemerdekan RI bukan sumbangan belanda. jayalah Indonesia……

  5. MAYA berkata:

    menurutku minta sumbangan untuk perayaan 17-an itu bukan hal yg memalukan….mungkin itu bentuk apresiasi muda-mudinya untuk menumbuhkan kebersamaan mereka…dan dana yang diminta sebagai sumbangan juga kan sesuai proposal mreka…so what gitu…kalo maw nyumbang yg ikhlas…kalo gak mau nyumbang jgn dihujat dung…mungkin yang perlu diperbaiki caranya saja…tp kalo meminta sumbangannya di jln yah emang gitu caranya…masa’ iya demi kesopanan, kita harus nyetop kendaraan untuk nyumbang…paling gak sambil brentilah…bukankah dirimu si penulis juga belum tentu sekreatif mreka untuk menurunkan sedikit ego demi menyatukan kebersamaan…meminta sumbangan dipinggir jln dirimu pun pasti gak mau…dan itu juga bukan termasuk malas..karena minta sumbangan dipinggir jln juga perlu perjuangan tau…panas, riskan kecelakaan, dan di pandang sebelah mata sepeti yg sedang anda lakukan sekarang…jd yah bagi peminta sumbangan tetep semangat ajah, tp caranya tetep yg tertip yah…jgn hiraukan org2 yg sewot dengan kalian…MERDEKA….

  6. joe berkata:

    blagu loe
    ga prnah ngerasa muda yah……………………..

  7. joe berkata:

    blagu loe
    blm prnah ngerasa muda yah….

  8. Android game berkata:

    Untuk Kemajuan bangsa broo

  9. ases berkata:

    bego tuh,,,bkn ngemis lah,,,,bkn orang indonesia lu y???

  10. noer shalim berkata:

    kita itu tinggal d bangsa indonesia!!!!jangan saling mencela satu sama lainya!!!itu bukan cra debat yang baik!!!ayo lah aspirasikan xpresi kita dengang masuka”yang terarah untuk hari depan yang lebih baik dan bermanfaat untuk generasi penerus kita!!!

  11. ah berisik lo semua !!!

  12. AAPL berkata:

    Hello there, just became aware of your blog through Google, and found that
    it is truly informative. I’m gonna watch out for brussels. I’ll
    be grateful if you continue this in future. Numerous people will be benefited from your
    writing. Cheers!

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s