Dendang Lagu Pengantar Tidur

Beberapa bulan yang lalu, tepatnya Desember 2006, saya mendapat anugerah dari Allah SWT berupa kelahiran anak yang ketiga. Namanya Fajar, karena dia lahir pada waktu menjelang subuh. Mendapat anak dari Allah SWT adalah rizki yang tidak terkira nilainya, tidak dapat diukur dengan harta sekalipun.

Seperti pada anak-anak saya yang lain, saya selalu menidurkan bayi dengan menyanyikan beberapa lagu pengantar tidur. Kalau dia rewel dan tidak mau tidur, atau ibunya sudah lelah mengasuhnya, saya gendong dia dalam dekapan. Sambil digendong dengan kedua tangan, dibuai-buai dengan cara mengayun perlahan, mulailah saya bernyanyi. Lagu pengantar tidur yang paling saya sukai adalah lagu klasik Melayu yang berjudul “Timang-Timang”. Syair lagu ini  dikarang oleh almarhum Said Efendi, seorang komponis yang terkenal di era tahun 60-an. Begini bunyi syair lagu yang saya dendangkan itu:

Timang-timang anakku sayang
Kasih hati ayahnda seorang
Jangan nangis dan jangan merajuk sayang
Tenanglah tenang dalam buaian

Betapakah hati tak kan riang
Bila kau bergurau dan tertawa
S’mogalah jauh dari marabahaya
Riang gembira sepanjang masa

Ref:
Setiap waktu ku berdoa
K’pada Tuhan yang Maha Kuasa
Jika kau sudah dewasa
Hidupmu bahagia selamanya

Timang-timang anakku sayang
Kasih hati permata ibunda
Tidurlah tidur pejamkan mata sayang
Esok hari bermain kembali

Klik video di Youtube di bawah ini untuk mendengarkan lagu tersebut:

Ajaib, anak saya seolah terhanyut dengan lagu tadi. Dia mulai terlelap di dalam dekapan ayahnya. Wajah bayi yang damai ketika dia tidur membuat hati menjadi tenang. Segera saya pindahkan dia ke dalam box-nya.

Setiap kali bayi mau tidur, saya selalu dendangkan lagu itu. Saya begitu terkesan dengan lagu ini karena ketika saya kecil, tetangga saya yang punya bayi mendendangkan bayinya sampai tertidur. Bayi diletakkan di dalam ayunan kain yang digantung di langit-langit rumah. Sambil mengayun-ayun buaian, si ibu mulai menyanyi. Menyentuh sekali. Meskipun beberapa kalangan di dalam Islam mengharamkan nyanyian, saya termasuk orang yang tidak selalu setuju dengan pandangan ini. Bernyanyi adalah ungkapan hati seorang manusia yang paling dasar, tentu saja selama nyanyian itu tidak mengandung syair maksiat atau membuat kita lalai kepada Allah SWT.

Kembali pada lagu pengantar tidur tadi. Kadang-kadang satu lagu saja tidak cukup membuat anak tertidur. Ada beberapa lagu Melayu lagi yang cukup syahdu  yang saya dendangkan, antara lain “Dodoi si Dodoi” dan “Tidurlah Intan”:

1. Dodoi si Dodoi

Buah hatiku, hubungan jiwa (2x)
Tidurlah tidur hai anak, Pejamkan mata ya sayang (2x)
Dodoi si dodoi, aaaa…, dodoi si dodoi

Janganlah anak resah gelisah (2x)
Ayahmu jauh ya anak, di rantau orang ya sayang )2x)
Dodoi si dodoi, aaaa…, dodoi si dodoi

2. Tidurlah Intan

Tidurlah Intan
Tidurlah kekasih hati
Hari sudah malam
Picingkanlah mata
(2x)

Lihatlah ayah asyik bernyanyi-nyanyi
Agar kau bahagia di kala jauh hari

(kembali ke awal)

Jika kehabisan stok lagu Melayu dan bayi belum juga tertidur, saya coba dengan lagu Minang yang melankolis, yang menceritakan kerinduan kepada tanah kelahiran atau tentang orang yang dikasihi yang ditinggalkan di seberang lautan. Bahkan, saya tidak segan-segan mendendangkan tembang Jawa yang terkenal itu, yaitu “Yen Ing tawang Ono Lintang”:

Yen ing tawang ono lintang, cah bagus    (catatan: kalau anak perempuan, cah ayu)
aku ngenteni tekamu
marang mego ing angkoso, ingsun takokke pawartamu

Janji-janji aku eling, cah bagus
sumedhot rasane ati
lintang-lintang ngiwi-iwi, nimas
tresnoku sundhul wiyati

Dhek semono janjiku disekseni mego kartiko
kairing roso tresno asih

Yen ing tawang ana lintang, cah bagus
rungokno tangising ati
binarung swarane ratri, nimas
ngenteni mbulan ndadari

Dhek semono janjiku disekseni mego kartiko
kairing rasa tresna asih

Yen ing tawang ana lintang, cah bagus
rungokna tangising ati
binarung swaraning ratri
ngenteni mbulan ndadari

Di malam hari menyanyikan lagu-lagu itu memang menghanyutkan. Meskipun suara saya tidak terlalu bagus, tetapi seorang anak akan dekat dengan suara orangtuanya. Terasa lelah, memang, menggendong bayi sambil berdendang, tetapi hati menjadi bahagia melihat anak terlelap tidur. Sampai anak berumur 2 tahun saya masih meninabobokannya dengan lagu-lagu itu.

Tulisan ini dipublikasikan di Lagu yang berkesan, Pengalamanku. Tandai permalink.

18 Balasan ke Dendang Lagu Pengantar Tidur

  1. Cahyoga berkata:

    Baru tahu kalo Pak Rin biasa nembang Yen Ing tawang Ono Lintang juga :D.
    Kalo pengalaman pribadi yang pernah: nyanyi lagu “Lir-ilir”, meski diulang-ulang terus,akhirnya anak mau tidur juga ;)

  2. hasan berkata:

    wah, saya kagum kalo Pak Rin masih hafal lagu lagu untuk menidurkan bayi. Saya jadi becermin, bagaimana nanti kalau sy sudah punya bayi mau dinyanyikan lagu apa. Mungkin saya akan menyanyikan lagu peterpan yang lagi tenar itu. hehe.. …

  3. rinaldimunir berkata:

    @Hasan: nggak, ah, saya tetap lebih menyukai lagu-lagu lama, sarat makna dan mengandung nilai-nilai yang baik.

  4. sandy eggi berkata:

    wah selamat pak … seperti nya telat ya …eh tapi kalo lahirnya desember 2006 berarti sekarang dah mulai belajar ngobrol ato jalan .. pasti lucu ..

  5. rinaldimunir berkata:

    @sandy: terima kasih. Masih belajar duduk. Lucu dan menggemaskan.

  6. Fadli berkata:

    Pak Rinaldi, Lagu “Tidurlah Intan” itu bukannya Lagu Keroncong (terakhir dipopulerkan Soendari Soekotjo).
    Oya, ada juga lagu pengantar tidur yang cukup populer di Ranah Minang, judulnya “Rambahlah Paku”

    cuplikannya :

    kok upiak pai kaladang
    baok rotan ka tali timbo
    kok upiak jikoklah gadang
    adaik sopan nan ka dijago

    upiak rambahlah pakut
    tarang jalan ka parak
    upiak rubahlah laku
    sayang rang bakeh awaw

  7. Fadli berkata:

    Pak Rinaldi, Lagu “Tidurlah Intan” itu bukannya Lagu Keroncong (terakhir dipopulerkan Soendari Soekotjo).
    Oya, ada juga lagu pengantar tidur yang cukup populer di Ranah Minang, judulnya “Rambahlah Paku”

    cuplikannya :

    kok upiak pai kaladang
    baok rotan ka tali timbo
    kok upiak jikoklah gadang
    adaik sopan nan ka dijago

    upiak rambahlah pakut
    tarang jalan ka parak
    upiak rubahlah laku
    sayang rang bakeh awak

  8. rinaldimunir berkata:

    @Fadli: terima kasih atas infornya, emskipun keroncong, tetapi saya merasakan nuansa Melayu di dalam lagu itu

  9. Didin berkata:

    Aslm. Baru tau juga klo momongan pak Rin dah tiga, barokalloh ^_^
    sekalian ngabarin jg Alhamdulillah sy dah punya momongan juga 16 juli 07 lalu, Mutiara Madinah ^_^

  10. leagy berkata:

    Salam kenal pak Rinaldi…akhirnya bisa ketemu bapak lewat blog, bukan hanya lewat buku hehe….

    Mengenai lagu nina bobok, saya punya pengalaman unik. Lagu favorit saya adalah Timang-timang.
    Untuk anak pertama dan kedua sya reaksinya memang sperti yang kita harapkan, tidur pulas dengan senyum tersungging di bibir mungil mereka.
    Tetapi waktu saya nyanyikan kepada anak ketiga yang baru berumur beberapa hari, dia nangis sepuasnya. Suara tangisanpun menyayat hati, sepertinya sediiiih sekali. Saya pikir itu cuma reaksi sesaat, namun believe it or not, sampai sekarang (19 November 2007 nanti umur 4 tahun)..setiap saya nina bobokkan dengan lagu itu dia akan tetap menangis, tanpa malu2. Dan suara tangisannya tetap menunjukkan kesedihan.
    Pernah saya tanya ‘Yoga kenapa sih nak, setiap mama nyanyi lagu itu Yoga nangis ? Sedih ya ?’. Dia cuma jawab dengan anggukan berkali2.
    Gak tau ya, mungkin iramanya yang mendayu2 atau liriknya yang menyentuh hati.

    btw, pak Rinaldi..saya izin nge-link blog bapak ya ?

  11. rinaldimunir berkata:

    @Didin: selamat ya Din, sudah punay tempat berbagi kasih sayang.

    @Leagy: Silakan mbak Leagy. Mengenai anak yang gak suka lagu tertentu, karena di memorinya sejak bayi ingat terus bahwa dia gak suka lagu itu, malah sudah agak besar tetap trauma dengan lagu itu.

  12. oktovan berkata:

    Pak Rinaldi,
    Apa kabar?
    Masih inget saya pak? Pastilah. :).
    Saya nemu blog ini ketika lagi nyari mp3 lagu timang-timang. Waktu saya kecil, orang tua saya selalu nyanyiin lagu kalo nidurin saya. Sekarang pun kalo nidurin anak saya pakek lagu ini. Walaupun syairnya masih salah-salah. Untung sekali sekarang saya dapat liriknya.
    Pernah di suatu acara renungan pelatihan, diputar lagu ini. Biasanya saya susah nangis, tapi ketika diputar lagu ini, baru beberapa detik aja langsung nangis, dan gak berhenti sampe lagu selesai. cengeng ya. :).
    oh ya saya link blog bapak di blog saya ya.
    Terima kasih

  13. rinaldimunir berkata:

    @Oktovan: halo Oktovan Rezman, si imut-imut IF’92 yang pinter. Tetap ingat kamu lah. Soal lagu Timang-timang itu, kalau lagi mood saya menyanyikannya sampai basah nih mata. Teringat alm Bapak dan ibu yang sudah tua di Padang yang dulu mengasuh dan membesarkan saya dengan lagu itu.

  14. arick berkata:

    pak Rinaldi, salam kenal.
    saya lagi nyari nasyid yang dulu sering dinyanyikan ibu saya, untuk mengantarkan adik tidur,…. dimana ya bisa mendapatkan mp3 nya,…
    syairnya begini, …

    tidurlah anakku sayang
    ibu mau sembahyang
    ayahmu pergi berjuang
    menyahut panggilan Tuhan
    belum tentu ia pulang,….

  15. wulandari berkata:

    ass..wah salut ya sama para ortu..
    aplg bpk2…tnyt gemati jg..
    semoga suami sy kelak jg gemati ky pak rin,amin

  16. suryahrhesra berkata:

    salam,
    wah.. saya tersesat datang kemari dan betapa senangnya..:)

    mengomentari lagu timang-timang di awall..
    ayah saya selalu menyanyikan itu ketika menimang saya, lantas adik saya yang pertama, hingga adik terakhir yang berjaraj usia 14 tahun dengan saya..
    terakhir, ayah mendendangkan lagu ini pula untuk cucunya..:)

    lagu ini memang ajaib..
    sedang saya menulis ini, saya dan anak saya yang berumur 3 tahun sedang menyanyikannya bersama..:)

    salam,
    hesra

  17. Ping balik: Rindu Tanah Air « Catatanku

  18. Ping balik: Terkenang Lagu “Timang-Timang” Said Effendi « Catatanku

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s