Rezeki Tidak Bakalan Ketukar

Di dekat kompleks perumahan saya di Antapani, Bandung, banyak ditemukan warung kaki lima yang berjualan nasi goreng. Saking banyaknya penjual nasi goreng, jarak antar satu warung nasi goreng dengan warung lainnya nyaris berdekatan, ada yang berjarak 10, 20 meter, hingga 100 meter. Selain penjual nasi goreng, banyak pula ditemukan pedagang martabak dan pedagang baso dengan jarak yang berdekatan. Penjual nasi goreng, martabak, dan baso dilakoni oleh pendatang dari Jawa. Mereka tampaknya berasal dari satu kampung atau satu kecamatan. Pameo yang sering dipakai orang kampung adalah bila seorang warganya berhasil di kota, maka tetangganya yang lain akan ikut mencoba mengadu nasib di kota dengan melakukan usaha yang sama.

Malam-malam yang dingin seperti sekarang ini membeli nasi goreng alangkah nikmatnya. Saya pernah bertanya kepada si mas pedagang nasi goreng, apakah dia tidak khawatir bersaing dengan pedagang nasi goreng lainnya karena memilih berjualan dengan jarak yang saling berdekatan? Kenapa tidak memilih di tempat lain yang belum ada pedagang nasi gorengnya. Jawaban si mas tadi sungguh mengejutkan: “ah, gak usah dikhawatirin Pak, rezeki gak bakalan ketukar”.

Rezeki tidak akan tertukar? Sederhana sekali cara berprinsip pedagang kecil ini. Tetapi faktanya memang demikian. Meski warungnya saling berdekatan, tetapi setiap warung nasi goreng tidak pernah kesepian pembeli. Ada saja orang yang datang untuk membeli, sementara di warung nasi goreng yang tidak jauh darinya juga cukup ramai dengan orang yang memesan nasi goreng untuk dibungkus. Orang-orang yang membeli tadi mungkin adalah pelanggannya yaitu orang yang sudah tahu nasi goreng pedagang mana yang cocok di lidahnya, atau mungkin juga orang-orang yang lagi berjalan-jalan lalu ketika lapar dia singgah ke salah satu penjual nasi goreng yang terdekat. Pasti Tuhanlah yang menuntun si orang yang lapar ini ke pedagang nasi goreng tersebut. Siapa lagi.

Di Bandung banyak kita temukan pemandangan semacam ini. Berderet-deret pedagang resmi atau kaki lima menawarkan dagangan yang nyaris sama. Di daerah Cicadas pinggir Jalan Ahmad Yani berderetpedagang kaki lima yang berjualan buah-buahan yang sama. Ketika musim mangga, hampir semua pedagang kaki lima di sepanjang jalan itu berjualan mangga semua, tetapi tetap saja setiap pedagang ada pembelinya. Begitupun tidak jauh dari sana berderet-deret toko yang menjual barang perabot. Ketika saya selesai membeli lemari di sana, saya tidak mengerti mengapa saya “kesasar” membeli lemari di toko itu, bukan di toko sebelahnya atau yang di seberangnya. Mungkin begitulah cara Tuhan membagi-bagi rezeki, tidak mungkin ada yang terlewat.

Tuhan Allah  SWT memang Maha Adil. Asalkan mau berusaha, maka tidak mungkin ada orang yang kekurangan rezeki-Nya. Tuhan telah menciptakan manusia dengan beraneka ragam selera dan keinginan.  Jika selera semua manusia sama, maka bagaimana manusia bisa hidup? Untuk contoh pedagang nasi goreng misalnya, jika semua selera manusia sama tentu hanya satu orang pedagang nasi goreng yang dikerubuti pembeli, sementara pedagang nasi goreng lainnya sama sekali tidak kebagian rezeki. Tetapi “untunglah” lidah setiap orang berbeda. Nasi goreng pedagang A mungkin enak bagi seseorang, tetapi  kurang pas bagi orang lain sehingga ia lebih menyukai nasi goreng pedagang B.  Ini belum termasuk orang-orang yang “kesasar” mampir di warungnya karena lapar. Pedagang A dan B sama-sama kebagian pembeli.

Sampai di sini kita bisa memahami mengapa para pedagang nasi goreng yang berdekatan jaraknya itu tidak khawatir tidak akan mendapat penghasilan. Rezeki sudah ada yang ngatur, rezeki tidak akan kemana-mana, rezeki tidak akan salah kamar, rezeki tidak bakal ketukar, jadi kenapa harus khawatir?, demikianlah pikiran sederhana sebagian besar rakyat kita.

Prinsip sederhana ini jelas tidak akan cocok dengan  prinsip para ahli pemasaran modern yang selalu mendengungkan diferensiasi usaha dan strategi pemasaran yang tidak termakan oleh orang-orang kecil.  Kata mereka, jika usaha anda ingin berhasil, maka buatlah sesuatu yang beda dari yang sudah ada, jangan meniru yang sudah ada (ini yang disebut dangan diferensiasi).  Untuk menjaring pelanggan atau pembeli sebanyak-banyaknya, lakukan strategi seperti pemilihan lokasi yang strategis (yang berarti ongkos membeli lokasi ini perlu uang banyak), pemberian bonus, diskon, perang tarif, dan lain-lain.

Pada pedagang kecil ini mana mengerti soal begituan? Bagi mereka rezeki tidak perlu diuber-uber. Kalau Tuhan sudah menjanjikan rezeki buat seorang hamba-Nya, rezeki itu tidak akan salah masuk pintu. Pintu rezeki setiap orang berbeda-beda. Sebagian besar rakyat kita meyakini bahwa hidup, mati, jodoh, rezeki, semuanya sudah ada yang mengatur. Dalam bahasa Al-Quran, semua itu sudah tertulis dalam kitab-Nya yang bernama lauh mahfudz.  Ini bukanlah ekspresi kepasrahan kepada nasib atau takdir, tetapi keyakinan bahwa apa yang ada di dunia ini semuanya berasal dari Allah SWT, pusat dari segala kehidupan. Meminjam ungapan orang Jawa, hidup itu di-lakoni saja sebab Gusti Allah sudah mengaturnya.

Demikianlah hidup kita ini. Tidak usah khawatir akan kekurangan, tidak usah takut akan kelaparan, tidak usah resah dan gelisah mengenai jodoh.  Asal tetap selalu berusaha, rezeki kita tidak akan ketukar sama orang lain, jodoh tidak akan kemana-mana. Soal strategi dan metode yang macam-macam, itu hanyalah kakas semata. Selebihnya biarlah Allah SWT yang menentukan.

Tulisan ini dipublikasikan di Renunganku. Tandai permalink.

5 Balasan ke Rezeki Tidak Bakalan Ketukar

  1. emang pak hidup itu dilakoni, dijalani seperti air mengalir. kayak air mengalir bukan berarti kita harus malas-malasan, pasrah dan gak mau berusaha. dalam bahasa agama, mungkin karena ambo indak mandalami, yang penting ikhtiar alias kerja keras & smart sasudah tu kito sarahkan ka nan Kuaso. hasilnyo awak “nrimo”. barangkali nrimo disini adalah tawakkal tu ‘alallah.

  2. Petra Novandi berkata:

    setuju pak,

    dulu pas baru nempatin ini kos, saya tuh heran, kok tukang nasi gorengnya ada dua. Seberang-seberangan persis di pinggir jalan

    tapi cita rasanya memang beda, sama-sama enak, tapi beda. jadinya saya sering mesen di keduanya, tergantung lagi kepengen yang mana ^_^ dan sekarang gak ada masalah memang

    kalau sudah rezeki gak bakal kemana, lah, kata mereka juga

  3. anonim berkata:

    Hidup ini semua seharusnya dinilai dengan duit. kalau tidak begitu maka tidak akan sukses. duit = doa, usaha, ikhtiar dan tawakal. bukan begitu pak dosen …

  4. irvan132 berkata:

    istilah lainnya “rezeki tidak mungkin salah alamat”. kalo jodoh gimana ya ? :D

    -IT-

  5. Ivan berkata:

    Bukannya itu berarti Permintaan pasar masih melebihi penawaran…. Coba kalo penawarannya melebihi permintaan pasar, pasti gulung tikar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s