Hari minggu sore anak saya merengek ingin melihat kereta api di Stasiun KA Kiaracondonng, Bandung. Sejak kecil dia memang sangat terpesona dengan kereta api. Kebetulan rumah saya di Antapani memang relatif dekat dengan stasiun ini. Dengan sepeda motor, melalui jalan pintas menembus Jalan Babakan Sari, sampailah kami di stasiun kereta api Kiaracondong. Foto-foto di bawah ini hasil bidikan kamera ponsel saya pada tanggal 2 September 2007 kemaren.
Sore itu stasiun cukup ramai. Ada kereta api yang baru datang, yaitu kereta api diesel (KRD) yang akan menuju daerah Cibatu, Garut. Calon penumpang sudah menunggu sejak tadi. Di dalam kereta penumpang sudah sangat padat, mungkin mereka naik dari Padalarang atau stasiun Bandung. Calon penumpang di luar kereta tetap memaksakan diri naik. Sebagian dari mereka menaiki lokomotif dan… atap kereta. Sungguh berbahaya. Diantara penumpang ada bobotoh Persib Bandung yang baru pulang dari stadion Siliwangi (membawa bendera Persib). Bobotoh Persib memang pendukung sepakbola yang fanatik . Mereka rela melakukan apa saja demi Persib. Orang Bandung pun mahfum, jika Persib bertanding di kandang, maka hindari jalan-jalan yang dilalui bobotoh ketika bubaran pertandingan. Syukur-syukur jika Persib menang, tetapi jika kalah maka salah-salah mobil anda jadi korban keberingasan massa.
Kereta api memang primadona rakyat kecil sejak dulu. Ongkosnya murah, hanya Rp 1000 ke Cicalengka. Sudah murah, banyak yang tidak bayar lagi. Kondisi kereta terlihat kumuh, gelap, dan tidak nyaman. Dengan ongkos murah segitu pantesan saja KA rakyat semacam ini kurang “diurusi” PT KAI karena kehadiran kereta ekonomi bukan untuk bisnis tetapi ada kepentingan sosialnya.


11 tanggapan so far ↓
irvan132 // 5 September 2007 pada 12:36 |
istilah “sosial” di perkereta apian indonesia identik dengan jorok, kumuh, dan tidak nyaman. ironis.
-IT-
yanuarEL05 // 9 September 2007 pada 03:15 |
Wah kalo saya sudah kenyang naik kereta api ekonomi kayak gitu, ongkosnya murah 40ribu utk kediri-bandung, sama aja kayak naik bis jakarta-bandung
Inka // 10 September 2007 pada 20:00 |
Kamu sendiri pernah bayar nggak?
INKA
uwiuw // 16 September 2007 pada 18:29 |
wah ada foto bandung…rasanya deket di hati. kayak nostalgia aja, ya?
soal persib, ada enak-ngak enak apalagi sy kerja di warnet dekat stasiun siliwangi [tamabhan: satu-satunya kampak di tengah bobotoh
peace, friends!" kalau bubaran pasti konpoy...macet! dan bila berflat B [alias jakarta alias berbau the jak] 99% di lemparin, terutama oleh bobotoh daerah
armadina // 29 Februari 2008 pada 04:49 |
taiiiiikkkkkkkk
viking asli // 22 April 2008 pada 11:33 |
persib nu aing !!
viking asli // 22 April 2008 pada 11:38 |
rek kieu – rek kitu..
I LOVE PERSIB MAKEMANAH !!
hadisetyono // 9 November 2008 pada 21:09 |
Saya sudah lama tidak ke stasiun kiaracondong, kalau dari Jakarta, selalu turunnya di stasiun Bandung. Begitu pula kalau saya berangkat ke Jakarta. Tapi sekarang saya banyakan di Bandung, jadi sudah lama tidak ke stasiun Kereta. Yang saya inget kalau behubungan dengan stasiun KA kiaracondong ini adalah kereta api ekonomi, karena paman saya kalau pulang kejawa, selalu diantar ke stasiun KA kiaracondong ini menggunakan kereta api ekonomi pulang ke Jawa timur
awan biru // 25 Desember 2008 pada 09:59 |
Ya begitulah kondisi perkereta api an di negri kita ini…,,
harap maklum lah..!!!
nya inti namah hidup PERSIB we lah…!!!!
By :
VIKING BANBAR’T
The Jak // 22 Mei 2009 pada 13:28 |
1000 rupiah msh ga bayar!!
pantes aja PT KAI kurang memberikan perhatian untuk armada kereta di sana……
The jak cinta sportifitas –
vikink jakarta // 17 Juni 2009 pada 11:42 |
maju yerus persib……..
bobotoh mendukunk mu sampe mati……….
anti anjink jakarta or thejak….vikink cool bgt