Dua hari sebelum gempa besar melanda Bengkulu dan Sumbar dua minggu lalu, saya pulang ke Padang. Ada urusan keluarga. Tidak lama, hanya semalam saja. Naik pesawat sore dari Jakarta, dan kembali lagi ke Jakarta siang keesokan harinya. Singkat ya, tetapi ini memang bukan untuk urusan bersenang-senang, apalagi Kamis keesokan harinya saya ada kelas mengajar.
Beberapa jam sebelum keberangkatan dari bandara BIM Padang, saya masih sempat “jalan-jalan”. Pertama yang saya kunjungi pagi itu adalah berziarah makam ayah saya di bukit Seberang Padang. Mumpung mau puasa Ramadhan. Di Padang, banyak makam yang berada di atas bukit, maklumlah kota Padang dikelilingi oleh bukit-bukit yang hijau. Warga keturunan cina misalnya, kebanyakan kuburannya berada di bukit sebarang Muaro (dekat “makam” Siti Nurbaya). Di bukit Seberanga Padang (tepatnya di kelurahan Seberang Padang Selatan) ini terdapat pemakaman warga perantau dari daerah Koto Anau, Kabupaten Solok. Orangtua saya memang dari Koto Anau.
Di bawah ini foto Bukit Seberang Padang yang saya jepret dari kamera ponsel. Di bawah bukit terdapat sungai buatan penegndali banjir. Untuk mendaki bukit ini diperlukan kehati-hatian karena lahannya curam. Memakamkan jenazah di bukit ini mengingatkan saya dengan cara pemakaman mayat di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Sama-sama mendaki bukit yang terjal.
Seusai berziarah ke makam ayahanda, saya bergegas ke Pasar Raya Padang. Ini pasar yang sangat ramai tetapi kotor. Di pasar ini saya ingin membeli masakan Padang untuk dibawa ke Bandung. Membawa masakan dari kampung kelahiran ke tanah Jawa adalah kebiasaan saya sejak dulu. Meskipun di Bandung banyak rumah makan Padang, tetapi masakan dari Padang sendiri tentu lebih asli. Saya ingin mencari masakan palai bada, itu lho ikan teri kecil yang sudah dicampur dengan bumbu-bumbu kelapa lalu dibungkus dengan daun pisang dan dipanggang di atas bara api. Bisa batambuah-tambuah makan dengan palai bada ini. Selain bada, ikan laut juga sering di-palai.
Tapi sayang sekali saya sulit menemukan palai bada pagi itu. Kata kakak saya, jualan palai bada baru ada pada siang hari. Akhirnya saya membeli ikan bilih danau Singkarak. Ikan bilih (bilis?) adalah ikan endemik yang hanya ada di dua danau di Sumbar, yaitu Danau Singkarak dan Danau Maninjau. Besarnya seperti ikan teri dan rasanya khas. Meskipun di RM Sederhana di Bandung menyediakan goreng ikan bilih, tetapi saya ingin membelinya sendiri di Padang. Sekilo harganya Rp 100.000. Cukup mahal juga. Yang saya beli adalah ikan bilih yang sudah digoreng, jadi di Bandung saya tinggal membeli sambal cabe hijau (samba lado hijau, bahasa Minangnya) di rumah makan kapau, lalu dicampurkan ke ikan bilih tadi. Di bulan puasa ini makan goreng ikan bilih lado hijau, amboi nikmatnya.
Karena hari sudah mulai siang sementara penerbangan saya adalah pukul 12.30, maka saya diantar kakak bergegas ke pool bis bandara (Tranex) di kawasan Simpang Haru. Simpang Haru dulunya adalah stasiun kereta api. Sekarang kereta api di Sumbar sudah mati. Hanya tersisa kereta api wisata yang berjalan setiap hari Minggu dari Padang ke Pariaman. Di Simpang Haru ini kita masih terdapat dipo lokomotif, loko-loko tua, dan gudang-gudang kereta peninggalan Belanda. Di bawah ini foto-foto Simpang Haru.
Bandara Internasional Minangkabau (BIM) adalah bandara baru yang megah. Hampir semua maskapai penerbangan di Indonesia menyinggahi bandara ini, mulai dari Garuda, Merpati, Mandala, Lion Air, Batavia, Adam Air, Wing, Sriwijaya, dan Air Asia. Benar-benar padat penerbangan dari bandara ini. Pantasan saja kapal laut sudah tidak menyinggahi Padang lagi, begitu pula bus-bus ke Jawa dari Padang sudah menyusut karena orang lebih senang naik pesawat yang tiketnya tidak terlalu mahal.
Foto di bawah ini suasana di dalam bandara BIM:
Di bandara manapun di Indonesia yang saya kunjungi, orang selalu berebut naik pesawat ketika boarding, termasuk di BIM, seperti foto di bawah ini. Orang Indonesia tidak pernah mau antri, padahal budaya antri adalah ciri negara maju. Ini indikasi Indonesia belum menjadi negara maju. Padahal pesawat tidak akan lari. Seluruh penumpang pasti akan naik pesawat juga.
Begitulah pengalaman sebentar di Padang, meski hanya semalam.





17 tanggapan so far ↓
alris sutan batuah // 19 September 2007 pada 11:33 |
assalamualaikum ww
foto stasiun KA simpang haru malepeh taragak ambo jo kota padang, kok ndak ado foto pasa raya pak rin
Rizli // 19 September 2007 pada 19:58 |
Saya juga kalo ke Banjarmasin, pasti bawa makanan dari sana. Biasanya dibeli pagi-pagi sebelum menuju Airport. Favorit keluarga kami nasi itik… Kangen juga dengan kampung
reiSHA // 20 September 2007 pada 01:44 |
- Di SumBar, katanya daerah Pesisir Selatan rada parah karena gempa
- Ikan bilih bukannya hanya ada di Danau Singkarak ya Pak? Kalau di Danau Maninjau itu adanya Rinuak… Duo-duonyo, lamak bana…
- Ikan bilih+samba lado hijau… Huhu… Kangen masakan rumah…
- BIM memang keren, hehe… Tapi saya tidak pernah merasakan bandara Tabing, soalnya waktu pertama kali naik pesawat, SumBar dah memakai BIM.
rinaldimunir // 20 September 2007 pada 06:00 |
@Alris: lupo, Ris, padahal dari rumah sudag diniatkan untuk memotret suasana Pasar Raya adang itu.
@Reisha: trism atas klarifikasinya. Kalau mau ikan bilih lado hijau, di RM Uni Kapau jalan Dipati Ukur sering ada tuh.
@Rizli: nasi itik? wah baru dengar tuh, Riz.., saya belum pernah ke Banjarmasain, nanti kalau ada tugas ke sana saya sempatkan cari nasi itik.
alris sutan batuah // 22 September 2007 pada 08:48 |
kalau pak rin ke banjarmasin, nasi itik yang enak di daerah gambut. kalau dari bandara samsudin noor setelah pasar gambut lebih kurang 50 m tempatnya seberang SPBU, cari yang banyak pengunjungnya. saya tinggal 6 bulan di kalsel, waktu di banjarmasin sering makan nasi itik di daerah gambut.
bagi yang suka ikan darat kalsel adalah gudangnya : haruan (gabus), papuyu (betok), bawung (bawuang orang solok bilang), patin, mujair, dll.
nasi itik, telor gulai, kerupuk melinjo + secangkir teh hangat…hmmmm nyam.nyam..nyam…soto banjar juga enak lho.
rizli, salam kenal ya.
ibrahim // 5 Oktober 2007 pada 00:13 |
Ngomongin nasi itik jadi terbayang kelezatannya.
Salam kenal Rizli. Ulun jua urang banjar tapi lawas di Bandung.
lucky // 3 November 2007 pada 05:58 |
Sebelum makan nasi itik gambut jangan lupa coba dulu makan lontong haur kuning di km. 14.600 bambut
gl0ucester // 5 Desember 2007 pada 06:49 |
salam kenal da..samo2 rang awak
ifai // 14 Desember 2007 pada 16:59 |
pak rin…
sajak bilo pulo ikan bilih ngungsi ka danau maninjau. nan batua ikan bilih di singkarak, rinuak di maninjau.. samo-samo satwa endemik. the one and only di sumbar “RANAH NAN DEN CINTO”
btw lai indak marantau cino pula pak rin… indak talakik membangkik batang tarandam wak lai ko
Farid Nugraha // 6 Februari 2008 pada 17:29 |
Assalamualaikum Pak,
Salam Kenal Pak
Malapeh taragak jo kampuang nan jauah dimato, iseng2 cari berita ttg Koto Anau di Google. Nggak taunya ada nama Bapak jdnya ingin masuk ke beritany. Jd iseng ingin kenalan dgn Bapak.
Kedua org tua saya jg asli Koto Anau. Ibu sy di Simpang Tigo Melayu dan Bapak Saya di Tabek Chaniago. Jd saya asli Koto Anau..
Skrg sy 23 tahun tinggal di daerah Jaktim tepatnya diPdk Bambu..
Demikian salam perkenalan dr saya..
Wasssalam
Farid
rinaldimunir // 7 Februari 2008 pada 02:41 |
@Farid: selamat berkenalan, semoga orang Koto Anau menunjukkan eksistensinya di Indonesia.
catra // 2 Maret 2008 pada 06:20 |
pak, padang memang eksotik.
sebagai 5 daerah tujuan wisata indonesia dalam visit indonesia 2008, berbanggalah kita sebagai orang sumbar.
tapi menurut cerita bpk, culture org padang yg ga mau antri, pasar raya yg kotor, dll. apakah mampu urang awak eksis di dunia paariwisata indonesia pak?
lastname // 22 November 2008 pada 23:17 |
baa kaba da?
Catra // 22 Maret 2009 pada 12:03 |
kuburan nenek saya dan keluarga kakek saya juga di seberang padang pak, namanya Palinggam
rinaldimunir // 24 Maret 2009 pada 15:50 |
@Cat: dayuang lah sampan ka Palinggam, Cat….
natashah // 7 September 2009 pada 14:22 |
saya pun berketurunan orang minang.bapa saya orang sianok ibu pula bukit tinggi.saya tggl di m’sia.haha.saya seronok krana dpt m’gunjunggi kota padang.heheheheheh
herman piliang // 30 September 2009 pada 11:23 |
Ondeh mande,ayo berwisata ke SUMBAR ,bia lapeh taragak jo kampuang.