Etika Puasa Rumah Makan Padang di Bandung

Berpuasa Ramadhan di Bandung tidak sulit-sulit amat, boleh dibilang agak “beruntung” dibanding dengan di kota lain. Suhu kota Bandung yang masih sejuk tidak membuat haus di siang hari. Coba kalau berpuasa di Surabaya, Jakarta, Padang, atau di kota-kota panas lainnya, sungguh besar godaannya. Di pasar-pasar banyak kita temukan penjual minuman yang menggoda dahaga. Di Padang ada air tebu dingin yang tetap dijual secara “menantang” di Pasar Raya. Setiap orang yang lewat bisa tergoda membayangkan nikmatnya air tebu itu di siang hari begini.

Meskipun berpuasa di Bandung tidak terlalu terasa haus, tetapi rasa lapar tetap ada. Bila melihat sekeliling lingkungan tempat kerja, hati kita terasa miris. Meskipun ini bulan puasa, tetapi sebagian warung-warung dan rumah makan tetap saja buka, baik yang ditutupi kain maupun yang terang-terangan. Memang tidak ada larangan berjualan makanan pada siang hari di bulan puasa, karena negara kita bukan negara Islam. Selain itu, tidak semua orang berpuasa, saudara-saudara kita yang beragama lain tentu perlu makan dan minum di siang hari. Pilihannya adalah makan di warung atau di rumah makan yang tetap buka. Tapi, di sinilah masalahnya. Agama mengajarkan kita bertoleransi dan menenggang rasa. Meskipun tidak ada larangan membuka rumah makan di siang hari, tetapi etika harus dikedepankan. Bermu’amalah itu pada prinsipnya adalah menjalankan etika.

Saya sering memperhatikan rumah makan Padang yang banyak terdapat di setiap sudut di kota Bandung. Sebagai orang Minang di Bandung, saya seringkali tidak habis pikir dengan perilaku orang Minang pemilik rumah makan Padang itu. Sebagian dari mereka tetap terang-terangan berjualan di siang hari, melayani pembeli makan dan minum di situ. Seolah tiada hari untuk  mengais rezeki, tidak peduli ini bulan puasa atau bukan. Misalnya di warung nasi padang MK di depan kampus Unpad di Jl. Dipati Ukur. Pemilik rumah makan tetap saja melayani orang-orang makan di sana meskipun waktu buka masih jauh. Terang-terangan lagi tanpa ditutup kain pembatas. Ada banyak rumah makan kecil dan besar yang berperilaku seperti itu. Boleh dibilang pemilik rumah makan itu sudah tanggal keminangannya, yang tersisa hanya “kabau” (kerbau) saja. Mengapa begitu? Orang Minang sejatinya teguh memegang nilai-nilai agama (Islam). Sudah diwariskan secara turun-temurun bahwa filosofi orang Minangkabau adalah adat yang bersendikan kepada syariat agama, dan syariat itu sendinya adalah Kitab Allah (Alquran). Lalu, jika orang Minang sudah tidak mempedulikan lagi ajaran agamanya, maka perilakunya diibaratkan seperti kerbau (“kabau” dalam bahasa Minang). Minangnya hilang, yang tersisa adalah kabau. Di Sumatera Barat, julukan “kabau” diberikan kepada orang-orang yang tidak taat agama. Kerbau adalah hewan yang hanya memikirkan makan dan makan saja, hanya hidup hari ini saja yang diingat, tetapi hidup sesudah mati tidak terpikirkan.

Lalu, bagaimana sebaiknya etika berjualan makanan itu ditegakkan? Dalam hal ini, saya menaruh salut kepada beberapa rumah makan Padang yang tetap berbisnis selama bulan puasa tetapi mengedepankan kesopanan berpuasa. Beberapa rumah makan hanya buka dari jam 16.00 (sore) hingga sahur (dinihari). Sehari sebelum bulan puasa, mereka memasang pengumuman di depan pintu rumah makannya, bunyinya begini: SELAMA BULAN PUASA, RUMAH MAKAN BUKA DARI JAM 16.00 HINGGA WAKTU SAHUR. Jadi, mereka tidak berjualan dari pagi hingga sore hari. Mereka tidak ingin terganggu puasanya, dan juga tidak ingin mengganggu puasa orang lain.  Pembeli makanan yang datang sebelum waktu buka puasa tiba tetap dilayani namun mereka  dilarang makan di tempat, dengan kata lain makanan hanya boleh dibungkus dan dibawa pulang.  Beberapa rumah makan Padang menambahkan tulisan di pengumumannya itu sebagai berikut:

SEBELUM WAKTU BUKA PUASA, TIDAK MELAYANI MAKAN DI TEMPAT, HANYA BISA DIBUNGKUS.  

Puasa

Rumah makan Padang mana yang  santun seperti itu? Ada beberapa yang saya perhatikan, misalnya RM Tiga Putri, RM Sari Bundo, dan RM Kapau Jaya. Menurut saya, pemiliknya insya Allah termasuk orang-orang yang sholeh dan memperhatikan betul ajaran agama. Meskipun sebagian dari mereka tetap berjualan di siang hari, tetapi mereka tahu etika juga. Kalau ada orang yang membeli nasi di rumah makannya, mereka tidak melarang asalkan tidak dimakan di tempat. Silakan makan di tempat lain.  Begitulah cara mencari rezeki yang berkah. Rezeki tidak akan kemana-mana. Rezeki sudah dijanjikan Tuhan, lalu kenapa manusia tetap saja ingkar?          

Tulisan ini dipublikasikan di Cerita Ranah Minang, Pengalamanku, Seputar Bandung. Tandai permalink.

14 Balasan ke Etika Puasa Rumah Makan Padang di Bandung

  1. memang sangat disayangkan rumah makan padang buka siang selama bulan puasa, apalagi jualannya secara mencolok, seperti rumah makan MK yang ada di dipati ukur. mungkin pemiliknya bukan orang minangkabau, kalo orang minangkabau masih ada raso malu untuk buka siang hari. menurut saya belum tentu hasil jualan itu berkah. semoga tulisan pak rin jadi renungan kita, tarutamo urang minang nan mambuka usaho rumah makan. rezeki tidak akan kemana…

  2. wbs berkata:

    Menurut saya di jaman Globalisasi spt ini sudah sulit untuk menyatakan “Orang Minang itu begini”, “Orang Batak itu begitu”, “Orang Bugis ini begono” dst.
    Lingkungan dan wawasan akan mengubah perilaku kita, lambat laun, mau tidak mau dan saya pikir itu tidak perlu dihindari.
    Buat yang warung makannya tetap buka untuk melayani pembeli di waktu puasa tidaklah serta merta menempatkan mereka dalam posisi yang salah.
    Menurut saya, kalo mereka tidak mengijinkan pembeli makanan untuk tidak makan di warung itu, trus mau makan dimana?
    Bagaimana dengan orang yg dalam perjalanan? Non-muslim? Atau yang lain yg dalam posisi tidak berpuasa lainnya (wanita haid dsb)?. Ya kalau mereka dekat rumah, atau di tempat kerja mereka ada tempat makan yang layak, kalo tidak?
    Menurut saya, dengan menyediakan tempat makan yg layak sekaligus bersih buat orang yang makan adalah salah satu perbuatan terpuji – di bulan apapun itu.
    Dengan tetap bersikap sopan, berpakaian rapi (menutup aurat) dan dengan sedikit “assesories” tambahan di Warung yang menunjukkan “identitas” ke-Islaman & Ke-Ramadhanan, menurut saya, akan lebih membuat Islam terasa ke-Rahmatan Lil ‘Alamin-nya.
    Sorry berkepanjangan…..Maaf kalo tidak berkenan. Salam kenal

  3. rsauqi berkata:

    Lho, saya malah merasa aneh dengan jargon “Hormatilah orang2 yg berpuasa”. Sejak kapan kita berpuasa untuk dihormati oleh orang lain?? Justru sebaliknya, menurut saya jargon yg benar adalah: “Hormatilah orang2 yang TIDAK berpuasa”. Kalo kita puasa terus dikondisikan g ada warung makan yg buka, buat apa puasa. Justru malah godaannya berkurang n menurut saya nilai puasa kita kurang. CMIIW

  4. erander berkata:

    Disini ada dua hal yang bisa saya tangkap. Pertama masalah puasa. Yang kedua masalah adat atau kebiasaan.

    Kalo soal puasa, saya cenderung sependapat dengan rsauqi .. saya malah senang “digoda” saat berpuasa dan jika saya berhasil mengalahkan “godaan” tersebut, bukankah saya diganjar pahala? Lagi pula puasa itu semata2 karena Allah, bukan untuk “minta dihormati.

    Kalo soal adat, memang cukup memprihatinkan .. dengan adanya TV, Internet, Globalisasi dll .. perlahan tapi pasti adat istiadat mulai ditinggalkan. Ga hanya menyangkut menghormati orang berpuasa saja, tapi juga hal2 lainnya.

  5. Adi Nugroho berkata:

    nah, terus gimana dengan nasib pedagang makanan pas ramadhan?apa harus tutup seharian baru buka jam 5 sore?

  6. uwiuw berkata:

    “nah, terus gimana dengan nasib pedagang makanan pas ramadhan?apa harus tutup seharian baru buka jam 5 sore?”

    ya…mereka harus tutup! :-D [becanda denk! cukup ditutup biar ngak kelihatan dari luar]..tapi coba pikir apakah analogi yg sama bisa kita berikan ama pelacur ?

  7. rsauqi berkata:

    ANalogi yg sama tidak bisa diterapkan pada pelacur. Kenapa? Karena pelacur jelas dari segi perbuatan adalah salah/haram, jadi memang dari sononya dilarang. Kalo jual makanan, apalagi makanan yang halal, itu bukan perbuatan salah/haram, jadi ya g perlu dilarang. Analoginya nggak apel ke apel, tapi apel ke jeruk :D

  8. rinaldimunir berkata:

    @Sauqi: yang lebih tepat adalah “menghargai” orang yang berpuasa, dengan tidak menunjukkan perilaku makand an minum did epan orang puasa.

    @Adi: silakan buka sepanjang hari, tapi sebaiknya menolak orang makan di tempat, silakan makan di tempat lain saja.

  9. Renan berkata:

    saribundo mungkin bukan rumah makan padang (rumah makan bukittinggi-red)
    karena dari menunya sangat beragam, ada pepes dan lainnya.. saya kira saribundo mungkin adalah rumah makan tok ngga pake padang atau sunda… hehehe

  10. Heinrich Harrer berkata:

    kalau di Padang, pasti sudah kena razia satpol PP, tuh.. :mrgreen:

  11. Heinrich Harrer berkata:

    @renan
    FYI, kalo diluar sumatra, sumatra barat itu sendiri lebih dikenal dengan sebutan Padang..
    jadi, orang2 luar sumatra itu cuma tau Padang. gak tau bukittinggi… :mrgreen:

    @yang punya blog :mrgreen:

  12. Toton Suryotono dr. berkata:

    Puasa adalah kewajiban seorang muslim dan tidak ada hubungannya dengan orang lain. Orang lain ada muslim yang tidak wajib berpuasa (anak-nak, wanita haid, orang sakit, musafir dll) Juga dari agama lain. Orang boleh saja menghargai yang berpuasa, tetapi orang yang berpuasa tidak untuk, bahkan minta dihargai. Adalah wajar biula ada spanduk dari organisasi pemuda kristen yang bertuliskan “Hargailah orang yang berpuasa” Tetapi adalah berlebihan bila, dan saya pernah melihat, spanduk yang dipasang oleh HMI dengan tulisan yang sama. Mahasiswa Islam berpuasa dan minta dihargai puasanya. Atau memangnya orang Islam mau berpuasa dengan syarat tidak melihat orang makan dan lalu menjadi tersinggung atau marah bila ada orang lain yang makan didekatnya ketika berpuasa. Sekali lagi saya muslim dan menghargai orang lain yang makan meskipun saya berpuasa dan insya allah air liur saya tidak emnetes ketika melihat orang lain makan.

    Saya pribadi pernah kerepotan mencari makan untuk anak saya ketika berpergian di bulan puasa.

  13. ardha berkata:

    betuln mas,,kalaupun Allah menutup rizki kita dari jualan makanan di siang hari,tapi akan digantiNya,10x lipat,saya percaya itu,,,karena pintu rizki tidak terbatas

  14. ika berkata:

    sbenarnya tergantung org yg niat puasanya gak harus minang, batak atau lain2 kok. klu suku itu dikedepankan itu munafik. klu ditutup smua, kasihan org yg mencari nafkah, org yg sdg tidak puasa spt penganut agama lainnya atau bagi perempuan yg sdg haid. please dech itu tergantung diri sendiri niat gak puasa, jgn tanya khusu’nya

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s