Lebaran 12 Oktober atau 13 Oktober? Jumat atau Sabtu? Demikian pertanyaan beberapa orang kepada saya. Ada kemunngkinan lebaran tahun 2007 ini tejadi perbedaan hari raya antara Muhammadiyah dan NU, dua ormas Islam terbesar di Indonesia. Jauh-jauh hari Muhammadiyah sudah menetapkan 1 Syawal 1428 H jatuh pada hari Jumat 12 Oktober 2007, sedangkan ormas lainnya seperti NU dan Persis kemungkinan besar menetapkan 1 Syawal 1428 H jatuh pada hari Sabtu tanggal 13 Oktober 2007. Versi Pemerintah sendiri sama seperti tanggal merah di kalender, yaitu 13 Oktober juga.
Ini untuk kesekian kalinya orang Islam di Indonesia akan merayakan Idul Fitri pada hari yang berbeda. Tahun lalu juga bergitu, berbeda hari, malah ada yang berbeda hingga 2 hari. Muhammadiyah dan NU menggunakan metode berbeda dalam menentukan awal bulan. Muhammadiyah menggunakan metode hisab, yaitu menghitung dengan rumus-rumus, makanya ormas ini jauh-jauh hari sudah dapat menentukan tanggal-tanggal penting seperti 1 Ramadhan (awal puasa), 1 Syawal (lebaran), dan 10 Zulhijjah (Idul Adha/lebaran haji). Sedangkan NU menggunakan metode rukyat (melihat langsung bulan). Bagi Muhammadiyah, awal bulan baru sudah masuk meskipun ketinggian bulan baru (hasil perhitungan) sekian 0 derajat, meskipun ketinggian bulan itu baru “terlihat” di sebuah wilayah saja di Indonesia. Sedangkan ormas NU baru bisa menentukan awal bulan baru dengan cara melihat awal bulan menggunakan teropong di berbagai wilayah di tanah air. Kita tidak akan mempersoalkan metode kedua ormas ini, sebab keduanya sama-sama memiliki keyakinan yang kuat dan susah dipertemukan (hingga saat ini).
Berbeda hari dalam merayakan lebaran sudah biasa bagi umat Islam Indonesia. Memang tidak pernah terdengar terjadi konflik karena perbedaan ini. Kata-kata “hiburan” yang selalu digunakan untuk meredam kebingungan umat Islam itu adalah “perbedaan itu adalah rahmat”. Tetapi menurut saya, seringnya perbedaan itu tidak lagi menjadi rahmat, tetapi hanya membuat rasa malu saja. Orang Amerika saja sudah menginjakkan kaki di bulan, sementara umat Islam di Indonesia masih saja berkutat dengan permasalahan melihat bulan. Ini menurut saya sangat aneh, padahal sekarang ini ilmu dan teknologi sudah sedemikian canggih, jangankan menentukan awal bulan baru, meneliti dan mengeksplorasi benda-benda langit lain sudah bisa dilakukan oleh IPTEK.
Hanya di Indonesia sering terjadi perbedaan Hari Raya ini. Penyebabnya karena di Indonesia banyak ormas Islam dan setiap ormas menetapkan penanggalan dengan cara mereka sendiri. Lain halnya dengan umat Islam di Malaysia, Brunei, dan Singapura. Di sana (mungkin) tidak ada ormas Islam, dan umat Islam di sana meyerahkan kepada Pemerintah untuk menetapkan tanggal 1 Syawal. Hal yang sama juga berlaku di Arab Saudi, Turki, dan negara Islam lainnya.
Di Indonesia Pemerintah belum diberi kepercayaan oleh ormas-ormas Islam itu untuk menetapkan tanggal Hari Raya. Maunya mungkin versi mereka yang diikuti, kalau tidak sepakat ya sudah, silakan saja yakini versi mana yang benar, lalu diakhiri dengan kutipan dari hadis “perbedaan itu adalah rahmat”, beres, demikian egoisme ormas-ormas Islam itu. Orang Islam di Indonesia dibiarkan berbingung-bingung dan tidak diberikan kepastian. Padahal, ormas-ormas itu sudah dipertemukan oleh Pemerintah duduk satu meja untuk mencari titik temu, eh tetap saja tidak ketemu. Mau apa lagi.
Tentu saja kita merasa malu dengan saudara kita dari umat agama lain. Mungkin mereka menyindir begini: “tuh, lihat umat Islam, menentukan hari raya saja mereka tidak bersatu”. Selain rasa malu, ada satu masalah lain yang tidak kalah penting dan membuat umat Islam di lapangan menjadi serba salah, yaitu persaudaraan. Bagaimana kita mau takbiran di mesjid dekat rumah jika di mesjid sebelah orang-orang masih tarawih. Atau, kita sudah shalat Ied, sementara tetangga kita masih puasa. Maunya kita sama-sama merayakan Idul Fitri, tetapi karena ada masjid yang ikut ormas ini dan mesjid lain ikut ormas itu, akhirnya terpecahlah umat Islam di Indonesia dalam merayakan Hari Raya.
Untunglah umat Islam di Indonesia sudah “dewasa” sehingga perbedaan itu disikapi wajar-wajar saja. Meskipun demikian, tetap saja perbedaan itu menyisakan bekas dan pertanyaan banyak orang. Apakah akan begitu terus di tahun-tahun berikutnya? Kenapa ormas-ormas itu tidak mau menurunkan sedikit egoismenya demi persatuan umat?
Tahun lalu saya ikut penetapan 1 Syawal versi Muhammadiyah, karena saya dan keluarga adalah simpatisan Muhammadiyah (sejak kecil saya disekolahkan di Muhammadiyah, anak saya juga sekolah di Muhammadiyah). Tapi tahun ini saya akan berbeda dengan Muhamadiyah. Kalau benar Pemerintah menetapkan lebaran tanggal 13 Oktober, saya akan ikut versi Pemerintah saja. Saya lebih memilih Pemerintah ketimbang ormas. Pemerintah adalah jalan tengah di antara perbedaan itu. Dalam agama kita diajarkan untuk mengikuti ulil amri, dalam hal ini ulil amri adalah Pemerintah. Selain itu, pengalaman tahun lalu ketika lebaran duluan dengan melaksanakan shalat Ied di kompleks Muhammadiyah Antapani Bandung, ada perasaan tidak enak dengan tetangga yang masih berpuasa pada hari itu sementara saya sudah makan dan minum. Dengan kata lain, prinsip ukhuwah islamiyah lebih saya utamakan daripada keormasan.
Kalau anda bagaimana, lebaran nanti pilih hari apa?
24 tanggapan so far ↓
jono // 2 Oktober 2007 pada 09:30 |
yg rojih adalah mengikuti pemerintah.
bahkan salah satu ciri sebuah pemerintahan adalah menetapkan hari raya.
oh ya, yg hadis perbedaan adalah rahmat adalah hadis doif.
Trims.
reiSHA // 3 Oktober 2007 pada 03:32 |
Ikut pemerintah aja lah… Bener tuh, soal ulil amri…
alris sutan batuah // 3 Oktober 2007 pada 05:10 |
ada rasa gak enak emang kalo kita merayakan hari raya lebaran sementara tetangga masih puasa. seharusnya pemerintah punya sikap tegas untuk memutuskan bahwa yang harus diikuti adalah lebaran versi pemerintah. bukankah pemerintah punya peralatan yang canggih untuk menentukan awal bulan? masa peralatan ormas islam bisa mengalahkan yang pemerintah punya.
aku ikuti ulil amri yang bener.
Herianto // 3 Oktober 2007 pada 08:36 |
Kalo saya milih yang paling banyak diikuti di lokasi saya terdekat, karena menjaga ukhuwah islamiyah lebih penting daripada mengikuti perbedaan hasil ijtihadiyah.
Ndak pulang kampuang rayo ko pak…
Rizli // 3 Oktober 2007 pada 10:09 |
Saya sih Ikut KBRI aja pak
Ikhfa // 3 Oktober 2007 pada 13:49 |
bbrp hari yg lalu saya nonton acara di TV, ada juga yg brtanya tentang ini..
yg ditanya menjawab, “yg namanya ulil amri ada lingkupnya masing2. pemerintah adalah ulil amri. tp ormas pun bisa jadi ulil amri, utk lingkup jama’ahnya..”
Yg jelas tiap ormas pasti niatnya baik kok. mana mungkin ada yg sengaja berniat memecah belah umat Islam? apalagi yg sekaliber NU, Muhammadiyah.. wallahu a’alam..
klo saya ikut orang tua aja, sekalian mudik, soalnya…
masadi // 4 Oktober 2007 pada 04:01 |
assalamu’alaikum
salam kenal Pak
di kampung saya di jogja, ada pengalaman soal beda hari raya ini, dan selalu terjadi. Di masjid, takmir-nya Muhammadiyyah dan Imam-nya NU, kalo persiapan hari raya selalu ngeyel2an dulu soal jadwal Sholat Ied. Ada beberapa solusi yg pernah dilakukan : 1. yg mengikuti Muhammadiyyah, romadhon 29 hari, tp sholat ied ikut yg 30 hr (dah ga dipakai lg, ga syar’i katanya). 2. Sholat Ied dilakukan 2 kali di masjid yg sama. 3. Takmir menyelenggarakan sholat ied di masjid sesuai Muhammdiyyah, Imamnya bikin jama’ah sholat ied di tempat lain (yg msh dipakai 2 th terakhir, mgkn taun ini jg)
Kalo saya selalu ikut pemerintah. Kan saat berpuasa kalo melihat bulan dan berbuka kalo melihat bulan (biarpun bulan dah di atas ufuk, tp kalo ga terlihat => 30 hari), tetapi kalo ada dua hari raya (biarpun yg satu dr hisab), pilih hari yg lbh banyak orang yg merayakan.
Yang aku bingung, kok tiap tahun bedanya cuma sehari terus, ga akumulatif ga sesuai perambatan kesalahan, atau jangan2 bulan kadang2 cepet kadang2 lambat., hehehe…..
popo // 5 Oktober 2007 pada 01:09 |
saya pilih lebaran pas 1 syawal aja :p
Lebaran sebentar lagi .. « KU LETAK KAN KATA DISINI // 5 Oktober 2007 pada 16:42 |
[...] tinggal seminggu lagi lebaran tiba. Masalahnya adalah .. apakah lebaran itu tanggal 12 Oktober atau 13 Oktober? Tentunya, semua kembali pada keyakinan kita masing2 individu. Tapi yang pasti, lebaran [...]
sandy eggi // 6 Oktober 2007 pada 13:14 |
pilih yang cepet pak …
Zakka Fauzan Muhammad // 9 Oktober 2007 pada 04:29 |
Emang baiknya ikut pemerintah aja pak… Jalan tengah
tom // 9 Oktober 2007 pada 05:27 |
indonesia ini kan banyak universitas tinggi yang punya banyak profesor dan doktor yang kuliah di luarnegeri. tapi kok masalh kayak gini ga ada yang ikut nangani. setidaknya dari sedikit ilmu yang dimiliki bisa mencari jalan tengah kapan lebaranya getu loh. ati2 orang pintar kalo ga dipake buat kemaslahatan umat sia-sia..hi…
Khoirul Anam // 10 Oktober 2007 pada 18:06 |
assalamu’alaikum wr wb
kl menurut ana sesuai dengan pemerintah karena sesuadi dengan firman Allah:” wa atii’ullaha wa atii’urrasuula wa ulil amri minkum”
jadi kita taat pada Allah, rosul, dan ulil amri(alias pemerintah). krn pemerintah mementingkan persatuan dan kebersamaan, alias ukhuwah di antara sesama umat islam dengan tanda petik selagi pemerintah itu tidak menyimpang dengan kaidah2 yang ada dalam agama islam
dan menurut penglaman saya sangat indah kl hari raya itu bersama-sama ya nu ya muhammadiyah ya ya yang lainnya krn ada getaran dan rangsangan tersendiri betapa indahnya dihari kemenangan di rayakan bersama-sama, coba kl kita laksanakan acara kemerdakaan berbeda saja gimana rasanya? gimana perasaan kita kl kita merayakan hari raya terus kita melihat yang paling puasa rasanyaa mengutarakan hari raya sepuas-puasnya kurang bisa krn kita harus menghormati saudara2 kitaa
tapi semua perbedaan itu rahmah kl kita tanggapi dengan akal yang sehat, dengan membaca pengetahuan tentang bagaimana ditetapkannnya hari raya tersebut. krn nabi Muhammad S.A.W telah mengisyaratkan bahwasanya bulan itu ada 29 dan 30 begitu pula cara menetapkannya dimulainya bulan ramadhan dan selesainya puasa (hari raya id) . wallahu a’lam bissowab
wassalamu’alaikum wr wb
rika // 11 Oktober 2007 pada 02:07 |
klo saya sich pilih pemerintah aja, karena saya pernah denger waktu 1 syawal itu bisa dilihat dengan metode rukyat (melihat langsung bulan) klo rumus2 saya blom denger.
terus dulu dikampung saya ada aliran ahmadiyah mereka percaya nabi yang paling terakhir bukan muhamad tetapi ada lagi dan setiap hari jumat wanita juga ikut shalat jumat. waktu shalat mereka selalu lebih awal dari masyarakat disekitarnya sehingga kira2 tahun 2003an masyarakat merasa resah dan terganggu dan penganut ahmadiyah tidak diperbolehkan lagi oleh pemerintah, dan sampai sekarang mesjidnya tidak boleh dipake lagi.
hera // 11 Oktober 2007 pada 06:37 |
ikut lebarannya papah sm mamah ajah hhehee
Perlukah Menyatukan Pendapat Umat Islam dalam Masalah Syariah? « M. Shodiq Mustika // 11 Oktober 2007 pada 08:14 |
[...] Islam dalam Masalah Syariah? Ditulis pada 11 Oktober 2007 oleh M Shodiq Mustika Perbedaan berhari-raya, seperti juga perbedaan kita dalam masalah-masalah lainnya di bidang syariah, sudah lama terjadi. [...]
orang aneh // 11 Oktober 2007 pada 12:12 |
huaaa ikut yg cpt aj deh hehehe.soalnya klu ngambil tgl 13 okt, ntar g jd mkn2 di rmh sodara…huehehe…soalnya sodara itu pergi tgl 13..so..musti kebagian makan dong..tp solatnya tetep hr sabtu (lho??)
trian // 11 Oktober 2007 pada 13:41 |
udah deh masalah sholatnya kapan ngga usaha dipermasalahkan, muhamadiyyah ma nu sama2 punya dasar, kapan islam mau maju kalo terus2an sibuk ngurusin hal2 kaya gini. Allah tuh Maha segala-galanya, termasuk Maha tahu kalo manusia itu punya keterbatasan. Jadi mau ngikutin yang manapun asal niatnya ibadah sama Allah, bismillah aja.
cuman pertanyaan saya: sebenernya pemerintah itu ikut hasil ru’yah atau tukang kalender, koq dari dulu ngga ada cerita pemerintah beda ma kalender hehe ini mah just kidding just for laugh ngga usah ditanggepin apalagi dimasalahin….
GolPut // 11 Oktober 2007 pada 13:49 |
hehehehe..klo gw sih mending GolPut bRO… (Golongan Putih)…kwkwkwkwkwkwkwk
SANZO // 12 Oktober 2007 pada 18:12 |
ASSALAMUALAIKUM
SELAMAT IDUL FITRI MINAL AIDIN FALAIDIN
AU REVOIR RAMADHAN,,, akhirnya setelah berpuasa sebulan penuh kita merayakan hari kemenangan, dengan adanya hari kemenangan ini hati kita akan suci layaknya anak bayi yang baru lahir (tapi entah bagi orang yang mampu tapi tidak menjalan kan puasa). Di hari kemenangan ini kita harus bersyukur karena kita-kita ini masih bisa menikmatinya, sedikit melupakan kemenangan, tetapi kita memberikan duka kepada orang-orang yang tidak menikmati hari kemenangan 100% seperti kita. Ternyata masih banyak juga orang-orang yang masih di beri ujian oleh ALLAH SWT di hari kemenangan ini seperti materi yang sudah di cari oleh keringat di rampas oleh orang, meninggalnya saudara kita ketika hendak berkumpul bersama keluarga, tidak tersedianya hidangan khas lebaran di rumah mereka dsb…. (SEMUA YANG DI BERI UJIAN AMBIL HIKMAHNYA). Tak dari itu semua buat teman-teman sekalian, bukan nya saya ingin menceramahi kalian semua tetapi cuma meningatkan, di hari kemenangan ini bukan berarti kita bebas dari segala-galanya, melainkan di hari kemenangan ini kita harus mengintropeksi diri kita masing-masing. Mungkin itu sedikit “CORAT-CORET” dari saya, mohon maaf jika kata-kata saya menyinggung kalian semua,, akhir kata saya ucapkan ASSALAMUALAIKUM WR.WB
NOTE: JANGAN LUPA BAYAR ZAKAT YAAAAA
Zaki // 19 Oktober 2007 pada 10:00 |
Sebenernya pola pikirnya dikembangkan begini saja…
Apakah tujuan metode ruqyah yang dikemukakan nabi dalam hadist yang kurang lebih mengatakan
“berpuasalah kamu dengan melihat bulan dan berhari raya dengan melihat bulan, bila tidak tampak maka genapkan” ????
tujuannya cuma satu….menentukan bulan tersebut berahir kapan….
lalu dilihat dari bulan saat itu,bila mendung atau tertutup awan tidak menutup kemungkinan penentuan bulan satu tempat yang berdekatan karena satu wilayah tertutup awan dan lainnya tidak bisa berbeda, dan saat itu memang tidak ada teknologi selain melihat bulan untuk menentukan penanggalan.
Nah mari kita lihat fenomena sekarang,saat teknologi astronomi meningkat pesat,segala sesuatu bisa dihitung… dengan perhitungan tersebut bukankah hasilnya pasti?…perlu diketahui bahwa revolusi bulan tidak pernah melompat-lompat…jadi dengan perhitungan..pasti (SANGAT PASTI dan PRESISI) bulan baru bisa ditentukan waktunya….
Alih-alih ada yang ngomong bid`ah,marilah kita melihat fenomena yang ada………
Perlu juga dilihat dalam kasus yang serupa tapi tak sama, dalam penentuan sholat, pernahkah kita melakukan metode ruqyah seperti zaman nabi ? ex: ashar :saat bayangan lebih panjang dari nyatanya?…
penentuan masa iddah, 4 bulan 10 hari dengan metode lihat bulan atau hisab?…tentu saja seperti yang sudah dilakukan selama ini
Marilah kita membuka mata dan melihat dengan lebih terbuka….
Islam tentunya tidak menolak teknologi…..Nabi sendiri yang bersabda
“Mengenai urusan dunia kamu (muamalah), kamu lebih tahu”
Kesalahan terutama dari negara kita adalah membolehkan terlalu banyaknya mulut yang punya hak untuk menentukan penentuan mula dan akhir romadhon…kalo hal yang sama terjadi di madinah atau mekkah?…sudah dibalik terali besi tuh orangnya…:p,perlu diperhatikan juga persatuan ummat…dengan tidak mengindahkan kaidah-kaidah agama yang ada…
Wassalam….:)
Zaki // 19 Oktober 2007 pada 10:03 |
Yang atas dihapus aja ada yang salah ngetik…:p
Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh…
Sebenernya pola pikirnya dikembangkan begini saja…
Apakah tujuan metode ruqyah yang dikemukakan nabi dalam hadist yang kurang lebih mengatakan
“berpuasalah kamu dengan melihat bulan dan berhari raya dengan melihat bulan, bila tidak tampak maka genapkan” ????
tujuannya cuma satu….menentukan bulan tersebut berahir kapan….
lalu dilihat dari bulan saat itu,bila mendung atau tertutup awan tidak menutup kemungkinan penentuan bulan satu tempat yang berdekatan karena satu wilayah tertutup awan dan lainnya bisa berbeda, dan saat itu memang tidak ada teknologi selain melihat bulan untuk menentukan penanggalan.
Nah mari kita lihat fenomena sekarang,saat teknologi astronomi meningkat pesat,segala sesuatu bisa dihitung… dengan perhitungan tersebut bukankah hasilnya pasti?…perlu diketahui bahwa revolusi bulan tidak pernah melompat-lompat…jadi dengan perhitungan..pasti (SANGAT PASTI dan PRESISI) bulan baru bisa ditentukan waktunya….
Alih-alih ada yang ngomong bid`ah,marilah kita melihat fenomena yang ada………
Perlu juga dilihat dalam kasus yang serupa tapi tak sama, dalam penentuan sholat, pernahkah kita melakukan metode ruqyah seperti zaman nabi ? ex: ashar :saat bayangan lebih panjang dari nyatanya?…
penentuan masa iddah, 4 bulan 10 hari dengan metode lihat bulan atau hisab?…tentu saja seperti yang sudah dilakukan selama ini
Marilah kita membuka mata dan melihat dengan lebih terbuka….
Islam tentunya tidak menolak teknologi…..Nabi sendiri yang bersabda
“Mengenai urusan dunia kamu (muamalah), kamu lebih tahu”
Kesalahan terutama dari negara kita adalah membolehkan terlalu banyaknya mulut yang punya hak untuk menentukan penentuan mula dan akhir romadhon…kalo hal yang sama terjadi di madinah atau mekkah?…sudah dibalik terali besi tuh orangnya…:p,perlu diperhatikan juga persatuan ummat…dengan tidak mengindahkan kaidah-kaidah agama yang ada…
Wassalam….:)
budiono // 22 Oktober 2007 pada 03:30 |
Memang harusnya kita bisa ikut ulil amri kita yaitu pemerintah, tapi sangat disayangkan, karena ormas-ormas islam mulai dari zaman Prof Hamka sampai dengan sekarang tidak beritu mempercayai pemerintah. Hal ini disebabkan oleh pemerintah sendiri ketika zaman setelah kemerdekaan menolak ideologi islam untuk menjadi dasar negara. Dengan kata lain, pemerintah mengakui adanya banyak agama di Indonesia. Hal ini membuat para pemeluk agama islam merasa perlu ada sebuah organisasi kemasyarakatan yang memang memegang teguh pada kepercayaan agamanya masing-masing. Dari sini muncullah banyak ormas-ormas islam yang tidak patuh pada pemerintah. Bahkan sampai akhirnya waktu itu pemerintah(zaman order baru) menjembataninya dengan mendirikan MUI yang diketuai oleh Prof Hamka. Ditambah lagi ketika pemerintahan order baru, pemerintah menetapkan perayaan natal bersama, jelas-jelas hal ini ditentang oleh Prof Hamka sebagai ummat islam untuk merayakan natal bersama. Dari sinilah banyak yang mulai mempunyai pemikiran untuk memisahkan urusan agama dengan pemerintahan.
Hehe…itu yang saya tahu sedikit…makanya terkadang jadi membingungkan untuk patuh pada pemerintah….ditambah lagi pemerintah itu menjadi fasilitas untuk smua umat beragama di Indonesia, jadi keputusan tentang 1 syawal berupa rekomendasi bukan sesuatu yang harus dipatuhi.
faisal // 26 November 2007 pada 02:16 |
SETUJU!!!!