Halal bil Halal, Tradisi yang Baik

Hari pertama bekerja/sekolah setelah libur panjang lebaran belum terlalu efektif. Anak saya yang di SD, hanya 2 jam sekolah hari ini, setelah salaman massal dengan guru-guru, anak-anak kembali pulang ke rumah. Begitu juga hampir di semua instansi Pemerintah dan swasta, hari pertama bekerja diisi dengan silaturahmi lebaran, salam-salaman dengan seluruh karyawan dan pimpinan, ramah tamah, makan-makan. Untung saja tidak seperti anak sekolah, aktivitas bekerja langsung dimulai setelah acara silaturahmi. Tidak ada alasan untuk santai-santai lagi.

Tadi pagi di ITB juga dilangsungkan acara halal bil halal antara rektor dengan seluruh dosen dan karyawan. Lalu siangnya dilanjutkan dengan acara halal bil halal tingkat fakultas. Padahal hari ini juga dimulai UTS, dan saya kebagian memberi ujian pada hari pertama ini. Untung ada asisten yang mengawas ujian, jadi saya bisa “kabur” ke Aula Timur mengikuti acara dan diakhiri dengan makan-makan enak (hmmm…).

Halal bil halal entah dari mana asal muasalnya dan siapa yang memulainya. Tidak dicontohkan di dalam ajaran Islam “ritual” ini, tetapi yang jelas hal bil halal adalah produk asli Indonesia. Hanya ada di Indonesia. Di negeri asal agama itu sendiri (tanah Arab) tidak dikenal tradisi ini. Halal bil halal kurang lebih artinya saling menghalalkan kesalahan yang pernah dilakukan kepada sesama manusia. Menghalalkan kesalahan artinya memaafkan kesalahan yang pernah kita lakukan kepada orang lain.

Tidak ada keterangan sejak kapan orang Indonesia mengadakan tradisi halal bil halal. Mungkin acara halal bil halal berangkat dari kebiasaan orang Indonesia yang suka saling berkunjung ke rumah-rumah kerabat pada Hari Raya Idul Fitri. Nah, untuk mengunjungi rumah teman, rekan sekerja, dan relasi yang berjauhan letaknya serta banyak jumlahnya jelas tidak mungkin dilakukan karena alasan waktu dan biaya. Lalu orang Indonesia berpikir praktis saja,   pertemuan cukup dilakukan di suatu tempat dan jam yang telah ditentukan, maka acara silaturahmi Idul Fitri untuk semua orang itu tetap bisa terlaksana.

Meskipun tidak pernah dicontohkan Nabi, tetapi halal bil halal ini merupakan tradisi yang baik dan mulia. Intinya adalah silaturahmi, yaitu menyambung kasih sayang antara sesama manusia. Kata ustad yang ceramah di acara tadi, kata silaturahmi berasal dari kata “rahim”. Kata “rahmat”, “rahman”, “arham”, dan sebagainya mempunyai akar kata yang sama, yaitu “rahim”. Rahim ibu adalah tempat yang penuh dengan kasih dan sayang. Menyambung silaturahim artinya menyambung kasih sayang. Ajaran Islam itu intinya ada dua, yaitu beribadah kepada Allah (vertikal) dan menyebarkan kasih sayang sesama manusia (horizontal), tidak peduli agamanya apa. Lebih kurang maknanya adalah Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, yaitu Islam itu sebagai rahmat bagi alam semesta.

Alangkah indah hidup ini kalau kita selalu berkasih sayang kepada semua makhluk hidup, khususnya sesama manusia. Orang yang selalu mengisi hidup dengan kasih sayang biasanya mempunyai umur yang panjang. Kalau anda ingin umur yang panjang, perbanyaklah silaturahmi. Makna umur panjang mungkin tidak selalu berkaitan dengan usia fisik, tetapi juga bisa berarti panjang dalam pengertian masa.  Dikisahkan ada sebuah keluarga yang kedua orangtuanya selalu mempertahankan silatuhami dengan semua orang di kampungnya. Orangtua anak-anak itu mempunyai kebiasaan selalu berkunjung kepada setiap rumah di kampung itu. Kebiasaan itu terus dilakukan tidak hanya pada hari raya, tetapi juga pada hari-hari yang lain. Kalau tidak bertemu di rumah, mungkin bisa bertemu di masjid di atau di pasar. Ketika ada jamaah masjid yang biasanya selalu hadir shalat berjamaah tetapi suatu kali tidak hadir, maka si bapak ibu yang baik itu menjenguk ke rumah yang bersangkutan untuk memastikan apakah jamah itu sakit atau terkena musibah. Setelah kedua orangtua itu meninggal dunia, orang-orang di kampung tetap masih ingat dengan mereka, terkenang dengan kebaikan dan keramahannya kepada semua orang. Meski kedua orangtua itu  telah tiada, nama mereka tetap selalu hidup di hati warga. Itulah makna lain umur panjang, yaitu meskipun kita sudah tidak ada lagi di alam fana ini, namun kebaikan yang kita sebarkan melalui silaturahmi tetap selalu menjadi kenangan.

Tulisan ini dipublikasikan di Agama, Budi Pekerti. Tandai permalink.

7 Balasan ke Halal bil Halal, Tradisi yang Baik

  1. assalamualaikum ww
    selamat hari raya idhul fitri 1428 H. mohon maaf lahir dan batin. tradisi halal bihalal adalah hal yang baik, menurut saya perlu diadakan dan dilestarikan. saling memaafkan yang diadakan sekali setahun itu rasanya kurang ya.

  2. goen berkata:

    Perbuatan yang dianggap ‘baik’ oleh mata kita, tidak selalu baik di mata Islam, ingatkah kita dengan kaidah dasar yang telah ditetapkan oleh para Ulama kita tentang beribadah, yaitu

    “Asal ibadah adalah terlarang hingga datang dalil yang memerintahkan..” ?

    Menurut kita apakah ‘halal bihalal’ itu merupakan suatu bentuk ibadah ataukah muamalah ?

    Semoga artikel ini cukup menjadikan pelajaran buat kita..

    http://www.almanhaj.or.id/content/1149/slash/0

    http://www.almanhaj.or.id/content/1177/slash/0

    http://www.almanhaj.or.id/content/1178/slash/0

    Saya tidak bermaksud untuk memvonis suatu hal apapun, namun jika sudah berbicara tentang agama maka kita harus mengedepankan wahyu dari Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan penafsiran para Ulama yang shahih pula..

    Jazakalloh khair,

    Trims

  3. Enceng Iip Syaripudin,S.Ag berkata:

    Ass,Wr,Wb. Halal bil Halal adalah suatu tradisi yg perlu dikembangkan, apabila sangat banyak manfaatnya, tetapi apabila halal bil halal bernuansa ingin memamerkan kekayaan yg ada pada diri seseorang lebih baik ditangguhkan adanya acara tersebut.

  4. gustie azis berkata:

    halal bilhalal adala hal yang sangat teorpuji walaupun tidak ada hal yang dapat menguatkan bahwa halal bilhalal adalah contoh dari ulama terdahulu . . . mungkin halal bil halah tanpa acuan dari sebuah hadits tp ini adalah sebuah budaya dan tradisi yang terpuji yang patut kita lestarikan.

    • Rudi Rudiat berkata:

      jangan memuja-muja budaya dan tradisi. padahal pekerjaan islam banyak yang harus dikerjakan dan diamalkan. dijamin akan menjadi orang yang super bermanfaat bagi orang lain.

      • Asep Ismail Pamungkas berkata:

        Bismillaahirrohmaanirrohiim
        Assalaamu’alaikum warohmatulloohi wabarokaatuh,
        terasa sempit islam kalau masalah begini saja menjadi wacana perdebatan om,, saya yakinkan halal bihalal hal yang baik,, intinya silaturahim.. om.
        wassalaamu alaikum warohmatulloohi wabarokaatuh.
        walloohu a’lam bisshowab.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s