Bulan November (tanggal 9 hinga 18) ini di kampus ITB akan dilangsungkan acara yang diperkirakan akan meriah, yaitu Kongres Ikatan Alumni (IA) ITB yang ke-7. Salah satu acara penting di dalam kongres tersebut adalah pemilihan ketua ikatan alumni yang baru. Ada 5 calon ketua umum yang akan bersaing memperebutkan suara alumni ITB: 1) Betti Alisjahbana (AR’79) yang menjadi Presdir IBM Indonesia, 2) M. Hatta Rajasa (TM ‘73) yang menjadi Mensesneg-nya Presiden SBY, 3) Boyke Minarno (FT ‘79), tidak dikenal profesinya apa, 4) Triharyo I. Soesilo (TK ‘77), juga tidak dikenal siapa orang ini, 5) Zaid Perdana Nasution (TL ‘96), calon paling muda, tahun 1996 bo! Siapa yang akan diunggulkan ya? Diperkirakan salah satu dari M. Hatta Rajasa dan Bu Betti yang cantik itu yang akan terpilih. Yang lain-lain tampaknya penggembira saja. M. Hatta Rajasa favorit karena dia menteri dan sudah terkenal, sedangkan Bu Betti karena satu-satunya calon perempuan.
Terlepas dari siapa yang akan terpilih menjadi ketua IA-ITB tidaklah penting. Selama ini IA-ITB dikesankan sebagai organisasi yang kurang mengakar di kalangan civitas academica ITB dan alumninya. Ibaratnya, IA-ITB itu sebagai organiasi yang berdiri di sana, sementara ITB berdiri di sini. Terkesan ada jarak antara IA-ITB dengan ITB sendiri. IA-ITB berbeda sekali dengan KAGAMA (Keluarga alumni UGM) atau ILUNI (alumni UI). Saya sering mendengar berita perihal KAGAMA dan ILUNI yang begitu peduli dengan alamamaternya sudah biasa kita dengar. Contohnya ketika ada calon mahasiswa baru UGM yang tidak mampu membayar SPP sehingga hampir saja ybs tidak jadi datang ke Yogya dan mendaftar ulang, maka kita dengar begitu sigapnya KAGAMA di daerah-daerah membantu sehingga si mahasiswa tersebut akhirnya bisa juga kuliah. KAGAMA juga membangun beberapa gedung kuliah di kampus UGM sebagai sumbangan alumni. Antara UGM dan KAGAMA erat sekali hubungannya. Mesra. Hal yang kurang lebih sama dengan ILUNI.
IA-ITB? Wah, saya belum pernah mendengar peran organisasi ini buat ITB sendiri. Apa ya yang pernah menjadi sumbangsih IA -ITB buat ITB sendiri? Lalu, apa ya bantuan IA-ITB buat alumni muda yang masih culun-culun dan masih membutuhkan bimbingan dan dukungan (baik modal maupun manajemen)? Yang saya tahu, IA-ITB baru terdengar gaungnya ketika kongres saja, setelah itu nyaris tidak terdengar lagi suaranya. Masing-masing sibuk dengan bisnisnya masing-masing. Sekali-sekali memang pernah terdengar acara IA-ITB di Jakarta, tetapi itu acara senang-senang, seperti golf, kumpul-kumpul di hotel, karaoke, dan sebagainya. Terdengar pula bisik-bisik kalau menjadi pengurus IA-ITB merupakan batu loncatan untuk menjadi menteri atau pejabat tinggi.
IA-ITB memang tumpul, tetapi ikatan alumni per angkatan lebih kuat dan kegiatannya lebih nyata. Kran air minum yang bertebaran di berbagai pojok di ITB adalah sumbangan alumni ITB angkatan 1975 (maaf kalau salah). Lalu ada lagi ikatan alumni angkatan 1970 memberikan beasiswa secara rutin kepada sejumlah mahasiswa ITB setiap tahun.
Kegiatan kongres IA-ITB ini dapat menjadi barometer apakah memang para alumni ITB masih antusias dengan ikatan alumni itu atau bersikap masa bodoh. Berapa orang yang akan memberikan suara? Berapa orang yang akan datang? Apakah IA-ITB masih diperlukan sebagai wadah pemersatu alumni ITB? Kalau masih perlu, buatlah kegiatan yang membumi. Bantulah ITB yang sekarang terseok-seok (peringkatnya sebagai world top universities terus menurun). Bantulah mahasiswa ITB (masih banyak lho mahasiswa ITB yang kurang mampu secara ekonomi). Bantulah adik-adik calon mahasiswa baru yang tidak punya biaya mendaftar ulang di ITB sejak mahalnya ongkos pendidikan di ITB. Dan masih banyak lagi harapan kami kepada IA-ITB.

kayaknya arogansi ITB bukan hanya jurusan ato himpunan, bahkan ada juga arogansi angkatan …
OOT pak,
mmm … yang bikin angkatan 70 juga pak
setuju pak, sebelumnya tidak pernah terdengar gaunnya IA-ITB.. tiba2 pas pemilihan ketua baru rame,, sama saja sama Kabinet KM ITB..
Triharyo. I Soesilo bukannya ‘bos’nya PT. Rekayasa Industri y pak?
Saya rasa jadi IA-ITB bagi pemerintah dan orang umum adalah representasi alumni, terlepas banyak alumninya sendiri gak pernah merasakan gunanya IA-ITB ini, wong nyoblos pun kayaknya cuman segelintir alumni saja.
Sudah pula jadi rahasia umum, pemerintah cari alumni ITB jalurnya ya cuman ITB atau ikatan alumni ITB itu, gak ada organisasi lain, dan otomatis…. peluang menjadi pejabat menjadi lebih besar dengan mententeng nama besar ITB.
Saya sebenarnya nyari ketua IA-ITB yang mirip2 Ahmadinejad, sosok yang melihat jabatan sebagai tanggung jawab bukan kesempatan, soalnya kalau saya pribadi sudah jadi bos di perusahaan2 besar itu apalagi menteri, masak mau dobel2 kerjaan, cape deh……. gimana nanti tanggung jawabnya
wong cuman 24jam sehari hidup saya ini
oke deh, bapak dulu sebagai alumni ITB sendiri, mau milih sapa?
atau ini dulu, dukung ga IA ITB sendiri?
-IT-
wah malahan aku mendengar lain pak, bahwa alumni ITB itu malah solid ketimbang alumni univ lain.
@Irvan32: Pasti dukung IA-ITB. Soal milih siapa, kayaknya saya gak ikut mencoblos.
@GRaK: alumni ITB pasti solid, tapi organisasi alumninya gak jalan
sungguh sayang tidak memilih ZAID…
-bagja-
jangan-jangan dengan ada dunia IT, IA jadi nggak ngaruh lagi buat kangen-kangenan. Milis IF’87 aja masih rame kok sampai sekarang. Jadi kalau kangen nggak usah ikut IA -kan ?
walah pak…
itu ada loh bangunan bagus di ITB…
asli sumbangan alumni..
TUGU JUANG ALUMNI ‘70
membelah antara prasasti Sukarno dan plaza widya..
arogansi? ya sepakat kalo begitu!
Suatu hari saya mendapat sms berisi:
“ndah kamu ga ikutan milih ketua IA di Jakata?”
terus sy berpikir ‘emang penting ya?’
Kebetulan saya bekerja di Bali, dan untuk bolak-balik Jakrta-Bali sudah menghabiskan biaya 1 juta hanya untuk sebuah pemilihan.
Lalu keesokan harinya karena masih penasaran tentang ” seberapa pentingnya IA-ITB ” akhirnya saya membuka website IA dan menemukan tulisan Bapak ini.
Well, darisini saya mendapatkan “a little surprising” ternyata ini toh website orang-orang yang masih peduli sama almamater. Salut deh buat orang-orang yang punya komitmen dan kepedulian tinggi sama almamaternya.. padahl mereka ( ato kita2) ini sudah punya kewajiban dan kehidupan sendiri2.
KAlo saya disuruh memilih ketua IA-ITB..
saya akan memilih orang yang paling peduli ..bukan sekedar dilihat BY IT’s COVER -in this case “jabatan”-..
yeah well mungkin faktor ini juga penting sih.. karena berkaitan dengan modal dan network yg pastinya oke punya .
Oke deh Pak..postingannya cukup memotivasi saya untuk peduli ke almamater.
Kalau milis alumni T.Informatika ITB ada ga ya ? ^_^
kadang suka kangen, (sedih), sekaligus ngiri nih sama jurusan lain yang punya milis dr jaman angkatan pertama sampai alumni terkini bisa daftar…
Gimana nih pak Rin, sbg yg bahurekso he..he.. atau sbg yg alumni yg eksis di kampus bisa diinisiasi ga pak ?
Pengen juga denger pemikiran2 para sesepuh (pendahulu) di IF, kiprah2 profesional, kiprah sosial, kiprah kemanusiaan, atau kiprah politiknya kumaha nih, biar bisa ditimba ilmunya ^_^
IMHO, IA-ITB cukup sigap, tapi memang masih secara individual bukan organisasi. Saya lihat di milis IA-ITB di yahoogroups, waktu itu ada alumni yang istrinya sakit dan membutuhkan dana besar, dengan cepat langsung diverifikasi dan ditanggapi. Demikian juga dengan laporan mahasiswa baru ITB yang belum punya tempat tinggal. Dari milis ini saya lihat juga banyak yang bergerak di bidang sosial.
Masalah di pemilihan IA-ITB menurut saya cuma satu: tidak ada mekanisme pemilihan online.
Hidup UGM dan UI!