Catatanku

Isu yang Membuat Paranoid

24 Desember 2007 · 1 Komentar

Meski jauh dari kampung halaman, saya sering memantau perkembangan Padang dan Sumatera Barat dari Bandung ini. Maklumlah keluarga saya masih tinggal di Padang; ibu, kakak-kakak, dan kemenakan saya ada di sana. Berbekal koran daerah yang punya edisi online nya di Interent (Harian Singgalang dan Padang Ekspres) , saya jadi tahu juga apa yang sedang terjadi di kampuang nan jauah dimato.

Tanggal 23 Desember 2007 kemaren merupakan hari yang mencekam bagi warga kota ini, serta warga lain di pesisir barat pulau Sumatera, misalnya Bengkulu. Adalah ramalan yang berasal dari mimpi seorang ilmuwan (paranormal?) asal Brazil, Profesor Jucelino Nobrega da Luz, yang mengatakan akan ada gempa besar diikuti tsunami pada tanggal itu. Sekali lagi, ramalan itu sumbernya dari mimpi lho. Teknologi komunikasi yang cepat seperti SMS membuat isu gempa dan tsunami itu berkembang demikian dahsyat dan membuat jutaan orang dari Lampung hingga Aceh ketakutan. 

Sebenarnya banyak orang yang tidak percaya dengan ramalan itu, karena menurut ilmu pengetahuan, yang namanya gempa bumi tidak dapat diprediksi kapan terjadi, lha ini ada orang yang bisa-bisanya menetapkan tanggal terjadi gempa. Tetapi, tidak sedikit pula yang percaya, apalagi ada berita yang mengatakan kalau sang Profesor ini  pernah meramal gempa besar di Aceh akhir tahun 2004 yang lalu yang akhirnya memang terjadi (saya tidak menyebutnya “terbukti” tetapi “terjadi”, sebab saya pikir itu adalah kebetulan saja. Hanya Allah SWT yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan).

Meski tidak percaya, tetapi banyak orang berpikir kewaspadaan tetap perlu. Tak pelak isu gempa dan tsunami membuat banyak orang mengungsi juga ke luar kota, takut kalau ramalan itu benar-benar terjadi. Saya baca di koran daerah itu kalau pada tanggal 23 Desember kota Padang sangat lengang (lihat foto di bawah), juga warga kabupaten di daerah pesisir pantai seperti Pariaman, Pasaman, dan Pesisir Selatan, semua mengungsi menjauhi pantai. Jalan-jalan lengang, toko-toko tutup, orang-orang bersiaga. Perekonomian lumpuh. Keluarga saya di Padang sama sekali tidak mengkhawatirkan isu ini. Mereka tidak ikutan pula mengungsi. Padahal, kalau tsunami benar-benar terjadi, rumah saya di Padang dipastikan akan tersapu gelombang. Jarak rumah saya ke pantai hanya 2 km saja!

Foto kota Padang yang menjadi kota mati pada tanggal 23 Desember 2007 (Sumber: Padang Ekspres)

Suasana Padang tanggal 23 Desember 2007

Suasana Padang tanggal 23 Desember 2007

Pantai Padang yang menghadap Samudera Hindia (Sumber: zulfadli.wordpress.com):

Pantai Padang

Pantai Padang

Akhirnya, tanggal 23 Desember 2007 berlalu dan ternyata tidak terjadi apa-apa. Tidak ada gempa bumi. Ramalan itu hanya bohong belaka. Tetapi, banyak orang sudah termakan ramalan itu. 

Orang Indonesia, terutama yang berada di pesisir pantai, menjadi paranoid setiap kali ada gempa bumi. Sedikit saja gempa bumi, warga sudah berlari menjauhi daerah pantai. Takut ada tsunami. Sejak gempa bumi yang diikuti tsunami maha dahsyat di Aceh akhir tahun 2004 yang lalu, orang-orang memang jadi akrab dengan istilah tsunami. Ketakutan orang Indonesia ini memang dapat dimengerti sebab Indonesia dikelilingi oleh ring of fire. Gunung api berjajar dari Aceh hingga Maluku. Lalu Indonesia juga menjadi tempat pertemuan lempeng benua yang terus bergerak. Sedikit saja lempeng itu bergeser sudah membuat hentakan hebat.

Tidak semua gempa bumi menyebabkan tsunami, memang. Ada syarat-syaratnya agar terjadi tusnami. Tetapi, orang Indonesia cenderung bersikap ketakutan yang sangat meski gempa itu hanya kecil saja. Panik dulu, akal sehat belakangan. Kepanikan itu disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu untuk mendramatisir suasana. Bukan tidak mungkin isu yang disebarkan lewat SMS bahwa bakal ada tsunami mempunyai motif tertentu, perampokan misalnya. Rumah-rumah yang ditinggal pergi  merupaka sasaran empuk bagi orang-orang yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.

Baik. Sekali lagi kita memetik pelajaran agar tidak peercaya ramalan. Ramalan apapun itu. Apalagi hari-hari ini menjelang pergantian tahun. Biasanya di akhir tahun banyak orang dan media massa seperti televisi meminta peramal menceritakan apa yang akan terjadi pada tahun 2008. Peramal seperti Mama Laurent dan Ki Gendeng sering diburu media. Mempercayai ramalan itu, termasuk ramalan bintang, sama saja dengan mempersekutukan Allah SWT. Itu sudah syirik. Hanya Allah SWT yang boleh kita percaya, bukan peramal. Namun banyak orang yang tidak mempedulikan hukum ini, mereka tetap meminta dan membaca ramalan. Semoga kita dijauhkan allah SWT dari perbuatan syirik.

Kategori: Cerita Ranah Minang

1 response so far ↓

  • alris sutan batuah // 26 Desember 2007 pada 12:13 | Balas

    saya pikir emang profesor dari brazil itu meramal, atau mungkin juga dia lagi mimpi sambil mengigau sehingga timbul ramalan yang sangat keliru.
    rancak bana foto2 nan pak rin tampilkan. lapeh saketek taragak ambo jo padang kota tercinta maliek foto2 tu.

Tinggalkan sebuah Komentar