Agar Semangat Tidak Mati Pucuk

Beberapa waktu lalu saya ketemu salah seorang alumnus IF-ITB, saya tanya dia kerja di mana. Katanya, dia membentuk perusahaan sendiri dengan teman-temannya, yah perusahaan pengembang piranti lunak atau orang sekarang lebih senang menyebutnya perusahaan TI (Teknologi Informasi).

Saya tidak terlalu heran jika banyak mahasiswa atau sarjana segar yang membuka usaha sendiri dengan membentuk perusahaan TI daripada bekerja di perusahaan lain, termasuk di perusahaan mapan. Saya pikir alumni dari PT lain juga banyak yang melakukan hal serupa. Yang menarik adalah, bisnis TI tidak hanya digeluti orang-orang berlatarbelakang Informatika atau Ilmu Komputer, tetapi alumni dari Elektro, Fisika, Teknik Fisika dan Teknik Industri pun  banyak yang ikut-ikutan membuka usaha ini. Hal ini menunjukkan bisnis TI bagaikan gula-gula yang dikerubungi semut. Bisnis ini memang menggiurkan dan terbuka lebar dimasuki siapapun. Selama komputer digunakan orang, maka bisnis TI tidak akan pernah mati.

Biasanya para mahasiswa saya sudah membuat perusahaan TI sejak mereka masih kuliah atau minimal duduk di bangku tingkat akhir. Jadi, setelah lulus mereka tinggal lebih berkonsentrasi saja dengan perusahaan itu. Biasanya mereka membuat perusahaan bersama-sama, istilahnya patungan. Awal mula mendirikan perusahaan mungkin bisa dirunut dari pengalaman mahasiswa semasa kuliah. Mereka yang menemukan kesenangan membuat program aplikasi pada tugas-tugas kuliah (hampir semua kuliah di IF ITB mempunyai tugas membuat program), akhirnya menjajal kemampuannya dengan menerima proyek kecil-kecilan, yah senilai ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Lumayan untuk membeli buku, jajan, beli telepon genggam, hingga beli laptop, atau ditabung buat modal. Mula-mula mengerjakan proyek itu mungkin sendirian saja, tetapi ketika proyek yang diterima agak besar dan tidak bisa ditangani sendiri, mereka mulai mengajak temannya, 1 orang, 2 orang, dan seterusnya. Merasa cocok, lalu kelompok ini bertekad membakukan kegiatan mereka ini menjadi sebuah perusahaan. Jika sudah menjadi perusahaan kan lebih bisa dipercaya klien ketimbang atas nama pribadi. Membuat perusahaan tidak sulit-sulit amat. Cukup datang ke kantor notaris untuk dibuatkan akta perusahaan, sejumlah biaya administrasi, modal awal yang disetor, jadi deh perusahaan. Kalau sudah begitu, bisa membuat kartu nama dengan direkturnya adalah salah seorang dari mereka. Hebat ‘kan? Masih mahasiswa tingkat akhir atau baru lulus sarjana sudah menjadi direktur perusahaan. Untuk iklan, mereka bisa membuat sendiri situs web perusahaan di internet, lengkap dengan informasi jasa konsultan yang mereka tawarkan. Untuk basecamp atau kantor, cukup di kamar kos dulu. He..he. Nanti kalau sudah cukup modal baru mengontrak ruangan atau rumah. Mungkin juga rumah itu ditinggali bersama-sama.

Semangat enterpreneurship  anak-anak muda ini memang patut diacungi jempol. Mereka masih sangat muda tetapi sudah berani membuka usaha sendiri (yang berarti ikut menciptakan lapangan kerja). Bekerja di perusahaan sendiri mungkin lebih menyenangkan daripada bekerja di perusahaan orang lain. Mereka bisa mengatur sendiri perusahaan sesuai keinginan mereka sendiri (kalau bekerja di perusahaan lain kesannya kan di bukan me).  Mereka bisa menentukan kemana arah perusahaan, mencari proyek baru, atau menginovasi produk piranti lunak baru untuk dijual. Jika bekerja di perusahaan lain mungkin tidak bebas menyalurkan ide-ide, maka di perusahaan sendiri mereka bisa merealisasikan ide-ide itu. Bekerja di perusahaan sendiri bisa lebih bebas, begitu istilah yang tepat untuk menggambarkan mengelola perusahaan kolektif  bersama teman-teman. Beberapa perusahaan yang dibentuk olrh alumni IF dapat saya sebutkan beberapa diantaranya di sini, misalnya  http://www.suteki.co.id/ dan www.i-moov.com, www.smartmarkreader.com, Sebenarnya masih banyak lagi, hanya saya lupa namanya.

Tapi sayang, banyak juga perusahaan yang dibentuk oleh anak-anak muda yang progresif itu bertumbangan atau bubar di tengah jalan. Ada yang keluar dan membuat perusahaan baru, ada yang pindah kerja di perusahaan yang lebih mapan, ada juga yang benar-benar bubar total alias tutup. Rata-rata umur perusahaan itu hanya 1 atau 2 tahun, habis itu bubar. Saya tidak tahu penyebabnya apa. Tapi saya duga karena persoalan manajemen. Maklum mereka masih sangat muda jadi mungkin tidak menguasai manajemen perusahaan dengan baik. Karena bareng dengan teman-teman, maka perusahaan dikelola dengan manajemen pertemanan. Misalnya kalau teman salah yang lain agak sungkan ditegur.

Ada juga perusahaan yang bubar karena para pendirinya tidak menemukan kecocokan prinsip lagi, atau karena tuntutan keluarga salah seorang anggota yang mengharuskan anaknya bekerja di perusahaan yang mapan dan bonafid (mungkin orangtua beranggapan bekerja di perusahaan yang besar dan bonafid lebih menjanjikan masa depan daripada perusahaan anaknya yang “gak jelas”).

Jika ada perusahaan anak-anak muda itu yang tetap eksis dan bertahan lebih dari 2 tahun sampai sekarang, maka menurut saya itu adalah anomali. He..he. Tidak banyak perusahaan yang dibuat oleh alumni IF baru lulus yang anomali seperti itu.

Saya pribadi beranggapan, bagi para alumni, mendirikan perusahaan yang serius dan bisa berumur panjang, sebaiknya bersabar beberapa tahun setelah lulus. Bekerjalah terlebih dahulu di perusahaan mapan, baik perusahaan asing, multinasional, maupun perusahaan besar lainnya, minimal selama 5 tahun. Selama bekerja di perusahaan tersebut pelajari manajemen perusahaan tersebut, bagaimana perusahaan tersebut membangun jaringan bisnis, bagaimana perusahaan tesrebut bisa melewati masa krisis, bagaimana perusahaan itu mengelola aset, dan sebagainya.  Selama bekerja anda pasti sudah mengenal banyak klien, nah anda bisa menjadikan klien-klien itu sebagai relasi bisnis kelak jika anda  nanti benar-benar membuat perusahaan sendiri. Sedikit demi sedikit anda sudah mulai membangun jaringan. Membangun jaringan itu penting agar bisnis perusahaan anda kelak tetap bisa bertahan. 

Nah, jika anda sudah siap dan sudah menyerap “ilmu” selama bekerja di perusahaan mapan tersebut, maka setelah lima tahun bekerja, anda bisa resign dan membuat perusahaan sendiri, mungkin bersama teman-teman. 

Ada satu resep lagi agar perusahan TI tetap bertahan: jangan selalu bergantung hanya pada order proyek dari klien. Kebanyakan perusahaan pemula sering melakukan “perburuan”proyek, ikut tender, mencari klien, menawarkan diri melalui iklan, dan sebagainya. Jika hanya mengandalkan hidup dengan mengerjakan proyek TI dari klien, maka ada kemungkinan proyek sedang sepi, lesu, atau tidak dapat proyek sama sekali. Cadangan deposit keuangan akan habis untuk menggaji karyawan dan biaya perawatan perusahaan.  Agar perusahaan TI tetap survive dan eksis, maka perusahaan dapat menginovasi produk-produk baru yang siap dipasarkan.  Beberapa perusahaan TI yang anomali seperti yang saya sebutkan di atas bisa bertahan karena mereka tidak bergantung pada pengerjaan proyek, tetapi mereka mengembangkan  sendiri produk TI  baru dan dijual kepada pihak lain, misalnya program organizer dan games untuk handphone, program corporate portal,  program pemindai lembar isian berbiaya murah, dan sebagainya. Prinsipnya, buatlah produk yang berbeda (unik) dari yang sudah pernah ada.   

Saran ini saya berikan kepada anak-anak muda yang saya kagumi itu (hem.. itu berarti saya sudah mulai tua) yang punya idealisme tinggi untuk membuat perusahaan  bersama rekan-rekannya, baik selagi masih kuliah maupun sesudah lulus. Idealisme saja tidak cukup, tetapi pengalaman juga menentukan. Ini supaya semangat yang tinggi itu tidak mati pucuk. Mati di tengah jalan sebelum berbunga.

Tulisan ini dipublikasikan di Seputar Informatika. Tandai permalink.

14 Balasan ke Agar Semangat Tidak Mati Pucuk

  1. Petra Barus berkata:

    postingannya mengena sekali, Pak…. ^_^

  2. Brahmasta berkata:

    Satu nilai plus dari membangun sebuah perusahaan pak, yaitu membuka lapangan kerja. Biar di Indonesia pengangguran berkurang :D
    Semoga makin banyak anak IF-ITB yang berani ber-entrepreneur..

  3. adywicaksono berkata:

    top semoga semangat wirausaha anak2 itb tetap tinggi

  4. Habib berkata:

    Tambahan Pak Rin: Akhdani Reka Solusi. Perusahaan ini juga termasuk anomali karena sudah berumur lebih dari 3 tahun (meskipun secara formal baru sekitar 1,5 tahun)

  5. bisaku berkata:

    Saya punya pengalaman membuat perusahaan selepas lulus dari ITS. Walau baru 1 tahun dibangun, banyak hal dan project serta uang :-) yang didapatkan. Walaupun hal tersebut berbanding terbalik dengan kesehatan – ini yang rata-rata teman saya seperjuangan rasakan. Cuma sayangnya hal yang paling sukar untuk membangun diawal adalah dana pengembangan usaha. Susah sekali dan benar-benar pusing untuk mencari tambahan dana sekedar untuk menyewa teman-teman yang lain.

    Ah, sutralah. Seperti yang saya baca, ternyata tidak saya saja yang kemudian beralih ke tempat kerja yang lain :-) Tapi semangat harus terus dikorbankan …

  6. Mujiono berkata:

    Sekadar bagi pengalaman aja…
    Kasus pribadi, memang tidak gampang menjaga semangat berpetualang [saya menyebutnya demikian, karena saya kurang PD untuk disebut berwiraswasta apalagi enterpreneur :)]. Masalah paling utama adalah menjaga kesinambungan cash in, apalagi kalau bisnisnya berbasis proyek. Kalau cash in lancar, satu masalah terselesaikan. Kita bisa bayar professional untuk ngurus manajemen internal, kita bisa bayar orang marketing yang punya relasi untuk mendapatkan deal dst.

    Tetapi cash in besar, masalah lain bisa timbul juga. Beberapa waktu yang lalu kami dapat deal lumayan besar, eh yang ada malah berantem rebutan bagian. Perusahaan bubar. Tetapi karena sudah nasib harusjadi pedagang, ya saya harus memulai lagi berpetualang [Maklum, sudah kalah bersaing untuk dapat tempat di perusahaan yang mapan apalagi dapat tempat yang nyaman].

    Ini tip guyon tapi boleh dianggap serius. Kalau mau jadi pengusaha yang cepet besar, dengan usaha minimum, di Indonesia ini. Penuhilah salah satu syarat perlu dan cukup (Perlu komentar P Rin nih mengenai syarat perlu dan cukup nya :) berikut :

    1. Jadilah anaknya “siapa – siapa”.
    2. Kalau nggak no 1 ya jadilah “menantunya siapa – siapa”.

    Ini keluar dari teman relasi saya, alumni ITB yang memanfaatkan benar -secara positif- jadi “menantunya siapa – siapa”.

    Terimakasih
    Mujiono
    Anaknya siapa-2, bukan. Menantunya siapa-2, juga tidak (palig nggak saat ini :P).

  7. Roel berkata:

    doakan kami ya pak mudah2an kami mampu survive (baru mau menuju 1 tahun)

  8. Lastiko berkata:

    Assalamu’alaikum wr wb, pak Rin.

    Artikel yang sangat menarik karena benar – benar mirip dengan proses terjadinya (proyek masing – masing, status yang masih mahasiswa tingkat akhir kecuali satu orang :p, hingga kamar kos yang dijadikan kantor) tim kami yang insyaAllah dalam waktu dekat akan kami legalkan menjadi sebuah PT.

    Jadi ingin memberi sebuah komentar, dari perjalanan tim kami yang saat ini sudah berusia 6 bulan, kami menyadari bahwa enterpreneurship bukanlah sesuatu yang selama ini dibicarakan orang seperti mudahnya mendapat passive income, kerja santai, ataupun hidup tenang. Justru sebaliknya, enterpreneurship mengajarkan kami untuk bekerja lebih keras dibandingkan hanya menjadi seorang karyawan di sebuah perusahaan karena dari awal kita berpikir bagaimana membuat sebuah sistem dan selanjutnya bagaimana me-maintain sistem tersebut agar stabil untuk jangka waktu yang lama, tentu saja ini membutuhkan pengorbanan finansial, pikiran, dan waktu (TA jadi tak terurus T_T). Sebagai trade off-nya kami merasa mendapat pengalaman dan ilmu berharga yang mungkin tidak kami dapatkan apabila kami memilih untuk menjadi karyawan. Negosiasi harga, kebahagiaan mendapat proyek besar, ditipu klien, berantem dengan klien, proyek besar dengan bayaran kecil, kalah tender, konflik internal, dan lain – lain sudah menjadi makanan kami sehari-hari dalam waktu 6 bulan itu dan Alhamdulillah sampai kini tim kami masih eksis dan mulai diakui beberapa enterpreneur IF ITB dan perusahaan TI lain sebagai rekan kerja, sulit digambarkan bagaimana serunya kehidupan kami dari awal sampai saat ini :D.

    Benar sekali pak, dalam prakteknya memang terkadang ketidakcocokan prinsip dalam membangun sistem atau tekanan orangtua selalu menghantui para pendiri perusahaan muda. Namun seperti yang diajarkan mentor bisnis kami, sejak awal yang harus selalu dipupuk adalah komitmen pendirinya. Yaitu berani atau tidak pendirinya mengambil resiko menjalankan bisnis ini, berani atau tidak pendirinya mengorbankan semuanya demi bisnis ini. Apabila komitmen para pendirinya sudah kuat dan bersikap all-out dalam menjalankan bisnis tentu permasalahan prinsip atau tuntutan keluarga bisa diatasi dan sudah pasti para pendiri yang telah memiliki saham (waktu, uang, pikiran) pada perusahaan akan berpikir dua kali untuk memutuskan bubar di tengah jalan.

    Dari pendapat saya sendiri, mendirikan perusahaan setelah bekerja akan jauh lebih berat dibandingkan saat masih kuliah atau setelah lulus. Coba bayangkan setelah Anda bekerja 5 tahun dengan penghasilan yang cukup besar lalu keesokan harinya Anda memutuskan untuk berhenti dari
    pekerjaan itu untuk fokus membangun bisnis baru Anda. Resiko yang mungkin muncul di awal – awal pendirian adalah penghasilan menjadi nol rupiah atau jauh lebih kecil dibanding penghasilan di perusahaan sebelumnya sementara pengeluaran untuk keluarga (mungkin setelah lima tahun sudah beristri dan beranak) terus berjalan ditambah pos pengeluaran baru bisnis Anda, bisa dibayangkan pengujian mental yang berat karena pasti muncul kekhawatiran akan habisnya tabungan yang selama ini dikumpulkan apabila bisnis yang dibangun tidak berjalan dengan lancar. Sangat kontras apabila dibandingkan dengan status yang masih kuliah, beban pengeluaran yang (mungkin) masih ditanggung oleh orangtua. Lagipula apa saat kita bekerja di perusahaan mapan kita akan mendapat kesempatan belajar sistem perusahaan itu ? Bisa jadi kita
    malah terlalu sibuk mengurusi pekerjaan kita atau kita bukan berada di posisi yang memungkinkan untuk memantau keseluruhan sistem perusahaan itu.

    Sebagai tambahan, semangat enterpreneurship yang telah muncul akan sangat sayang sekali bila ditinggalkan dengan alasan mencari pengalaman bekerja dulu untuk mempelajari sistem perusahaan lain karena semangat itu belum tentu muncul apabila seseorang dan teman-temannya sudah
    terlanjur mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan bulanan cukup besar. Sebenarnya ilmu enterpreneurship akan didapat sendirinya seiring dengan berjalannya bisnis yang kita lakukan dengan serius. Untuk meminimalisir resiko, kita dapat mencari mentor bisnis yang gerak perusahaannya sama dengan perusahaan kita yaitu yang memulainya dari nol. Pengalaman bisnis yang telah mentor kita lakukan dapat dijadikan pelajaran bagi perusahaan kita sendiri apabila mendapatkan suatu permasalahan yang pernah dialami oleh mentor.

    Doakan kami pak agar perusahaan kami bisa menjadi perusahaan berikutnya yang menurut bapak “anomali” dan terus eksis untuk diteruskan setelah saya dan kawan-kawan lulus karena kami tidak ingin bekerja untuk membuat perusahaan milik orang lain menjadi kaya, lebih baik bekerja untuk membuat perusahaan sendiri menjadi kaya :D.

    Wassalamu’alaikum wr wb

  9. Roel berkata:

    ko, lo comment ato posting hehe

  10. Si ROy.. berkata:

    Assalamu’alaikum wr. wb.

    terima kasih kepada Pak Rin atas postingannya.mudah-mudahan bisa menambah wawasan bagi kita semua. semoga curhatannya Lastiko di komentar juga bisa menambah wawasan.

    klo menurut saya, pilihan untuk bekerja dahulu atau langsung merintis usaha setelah kuliah, adalah alternatif yang bagus, asalkan visi kewirausahaannya tetap terjaga. tentunya dua pilihan tersebut punya trade off masing2, seperti yg sudah dibahas di postingan & komentar.

    mungkin saya baru bisa nambahin saran bwt temen2 yg mau langsung ngerintis usaha, sebaiknya cari mentor bisnis juga. Dan alhamdulillah bakal calon perusahaan kami, Diodachi(ada lastiko & syahrul) punya beberapa mentor bisnis yang baik hati dan senang berbagi(berbagi ilmu bisnis dunia akhirat, dan tentu saja proyek,hehe).

    beberapa mentor bisnis yang kami appresiasi adalah PT Akhdani Reka Solusi(ownernya kang Zul IF00 dkk, http://www.akhdani.com ), dan PT Ihsan Solusi(perusahaannya kang Ismir IF99, http://www.ihsansolusi.com )

    oya satu lagi deng, PT Intelfast Technology ( http://www.intelfast.com )

    semoga bermanfaat :)

  11. pbasari berkata:

    menarik ya pa
    jika saja ada data yang lebih akurat, bisa kita petakan sebenarnya bagaimana posisi alumni informatika – itb ini :-)
    banyak yang wirausaha, pns, pn swasta, dosen..

    [saya pa saya he he he]

  12. pbasari berkata:

    oh ya,
    koq ga ada yang ngajak saya jadi outsource yaaa? :-D

    [becanda nih pa]

  13. rosa berkata:

    Perkenalkan saya IF ITB 01 Pak. Menurut saya permasalahan yang paling sering dari tumbangnya usaha selain yang diutarakan Pak Rin: kurang sabar (maunya cepat sukses), tidak menghargai ilmu manajemen (betapa pentingnya), kurang mengerti apa yang sedang tren di masyarakat dan tidak mengerti betapa pentingnya marketing bukan hanya produk bagus.
    Mungkin di IF perlu diajari mata kuliah manajemen wirausaha dan marketing :D.

    Kalau untuk yang kurang modal, mesti pake jalan bisnis sabar, pelan-pelan yang penting tetap yakin bahwa usahanya dapat menjadi besar (terinspirasi dari beberapa kisah sukses orang-orang yang mulai dari nol)
    Kalau saya sampe sekarang masih berjuang untuk punya warung bebek, peternakan sapi, tambah gurami, dan perkebunan (semoga terkabul suatu hari nanti, Amin).

  14. Ping balik: Agar Semangat Tidak Mati Pucuk | the remedy for an amnesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s