Pak Harto

Hari-hari ini berita sakitnya mantan Presiden RI Soeharto memenuhi medai cetak dan elektronik. Sakitnya Soeharto kali ini berbeda dengan sakitnya yang terdahulu. Kondisi Pak Harto dikabarkan sudah kritis dan tinggal menunggu waktu saja. Diluar Kuasa Tuhan, hidup Soeharto saat ini sangat tergantung pada mesin yang selalu mengontrol jantung dan organ dalam lainnya. Pak Harto memang sudah terlalu tua, sudah 84 tahun. Tetapi justru di saat tuanya itu ia dililiti oleh sejumlah persoalan yang tidak selesai sampai sekarang, mulai dari kezalimannya semasa berkuasa, hartanya yang tidak terhitung (yang dianggap sebagai hasil penyalahgunaan jabatan), hingga anak-anaknya yang terlibat dengan masalah hukum (korpsi, manipulasi, dan lagi-lagi soal harta)

Penjabat, mantan pejabat dari masa Orba, artis, orang biasa, hingga alim ulama berdatangan bak air bah mengunjungi Pak Harto di RS Pertamina Jakarta. Mereka datang mendoakan agar Pak Harto lekas sembuh. Tetapi tidak sedikit orang yang berkata sebaiknya Pak Harto diikhlaskan saja agar dia dapat menemu Sang Khalik dengan tenang. Soal kesalahannya dimasa lalu sebaiknya diampuni saja, tetapi kesalahaan anak-anaknya tetap harus diteruskan di pengadilan.

Begitu besar perhatian masyarakat, tokoh politik, hingga Pemerintah kepada Pak Harto menunjukkan bahwa Pak Harto masih berpengaruh. Terang saja, dia adalah Presiden RI yang kedua setelah Bung Karno, dan merupakan presiden yang terlama berkuasa, yaitu 32 tahun. Selama ia berkuasa ia telah begitu dalam mewarnai bangsa ini dengan perjalanan sejarah yang mengharu biru. Di balik kesalahannya yang masih perlu pembuktian di pengadilan, kita harus jujur mengakui bahwa ia telah banyak menorehkan jasa pada bangsa ini.

Sekarang, ketika kehidupan semakin sulit, ketika harga barang-barang naik menggila, ketika banyak kerusuhan dan konflik di sana-sini, banyak orang Indonesia merindukan kembali masa-masa di zaman Pak Harto. Mereka menyatakan lebih baik kehidupan di masa Pak Harto ketimbang zaman sekarang yang penuh ketidapastian. Harus kita akui bahwa Pak Harto berhasil membuat negara Indonesia menjadi negara yang stabil baik secara sosil, politik, dan ekonomi. Hampir-hampir kita tidak pernah mendengar konflik berbau SARA di zaman Pak Harto, seperti bentrok antar suku di Ambon, Poso, dan Kalimantan beberapa tahun belakangan, atau bentrok antar pemeluk agama. Tidak terdengar pula kerusuhan massal, penjarahan, apalagi bentrok pendukung karena persoalan Pilkada (lha iya, di zaman dulu kan gak ada Pilkada, he..he). Kehidupan di daerah-daerah relatif tenang. Nilai rupiah stabil, harga barang-barang juga relatif stabil, kalaupun ada kenaikan maka kenaikan harga tidak separah sekarang. Rakyat masih bisa makan dengan beras yang masih murah. Kelaparan tidak pernah terdengar. Pendidikan juga berjalan baik. Kalau kita bandingkan kondisi zaman sekarang dengan zaman Pak Harto diukur dari stabilitas sosial, politik dan ekonomi, memang harus kita akui lebih baik di zaman Pak Harto.

Hanya satu kekurangan rezim Pak Harto, yaitu tidak dibukanya keran demokrasi. Semua kendali politik ada di tangan Pak Harto. Hijau merah kuningnya negeri ini ditentukan oleh Pak Harto yang didukung oleh militer. Kebebasan mengemukakan pendapat dibatasi. Orang memang boleh berbicara, tetapi tidak boleh menyinggung soal istana dan keluarga Cendana. Bahaya jika omongan menyerempet ke arah sana, bisa-bisa anda dituduh melakukan subpersib, eh subversif. Pers juga dibungkam dan dikendalikan oleh Menteri Penerangannya waktu itu, yaitu Harmoko. Unjuk rasa dilarang apalagi kegiatan demonstrasi tidak pernah ada. Inilah yang membuat Indonesia stabil dan tidak pernah bergejolak. Cengkeraman erat rezim pak Harto begitu dalam. Kondisi Indonesia saat itu persis sama dengan kondisi Malaysia saat ini, tenang tetapi sebenarnya menyimpan bara terpendam.

Ketika Pak Harto jatuh, kebebasan yang lama terpendam akhirnya membuncah keluar.  Energi yang disimpan bertahun-tahun di dalam akhirnya meledak keluar bagaikan gunung api. Orang-orang meluapkan emosinya yang selama ini tersumbat. Orang-orang biacara apa saja, ngomong apa saja, berbuat apa saja. Pemerintah pun tidak lagi suci dan mengalami desaklralisasi. Partai-partai bermunculan bak cendawan di musim hujan. Tetapi, berbarengan dengan kekebasan itu, konflik pun bermunculan antar anak bangsa. Darah bertumpahan di bumi pertiwi. Orang-orang kelaparan, kemiskinan bertambah, perekonoman semakin sulit. Dalam waktu 10 tahun terhitung sejak Pak Harto jatuh, kita sudah berganti 4 kali presiden, yaitu Habibie, Gus Dur, Megawati, dan SBY. Disaat euforia kekebasan yang tidak terkendali, muncul penumpang gelap seperti pornografi, narkoba, paham liberalisme, kapitalisme, hedonisme, dan lain-lain. Inilah harga mahal yang harus dibayar oleh demokrasi.

Kalau kita tanyakan kepada orang-orang kecil, lebih penting mana urusan perut atau demokrasi, pastilah mereka menjawab soal perut. Bagi rakyat kebanyakan yang penting bisa makan 3 kali sehari, minyak tanah mudah didapat, harga barang murah, biaya pendidikan anak murah, dan tidak ada kerusuhan yang bikin hidup susah. Bagi mereka parpol-parpol yang banyak itu tidak perlu sebab parpol hanya berorientasi meraih kekuasaan untuk kepentingan elitnya saja. Rakyat hanya dibutuhkan ketika pemilu saja, setelah pemilu para elit parpol sudah melupakan nasib mereka. Maka tidak heran kalau orang-orang kebanyakan itu merindukan masa-masa di zaman Pak Harto dimana kehidupan berjalan tenang dan ekonomi (baca: urusan perut) terjamin.

Itulah paradoksnya Pak Harto itu, si satu pihak ia dibenci sedemikan rupa, tetapi di pihak lain ia dirindukan.

Tulisan ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

3 Balasan ke Pak Harto

  1. Gak bisa juga Pak membandingkan Pak Harto dengan pemimpin yang sekarang, jamannya juga beda… Andaikan sistem pemerintahan Pak Harto seperti itu diterapkan di jaman sekarang, belum tentu juga “masalah-perut” itu lebih terselesaikan…

    Intinya, ya itu doang sih :P

  2. atmo4th berkata:

    bomnya sudah meledak ya pak,,

    sepertinya kelaparan sudah ada dari dulu, hanya saja informasi belum sederas sekarang..

  3. KnightDNA berkata:

    Kalau kita tanyakan kepada orang-orang kecil, lebih penting mana urusan perut atau demokrasi, pastilah mereka menjawab soal perut.

    Kalo menurut saya simpel aja sih, Pak. Nggak perlu maksain demokrasi kalo rakyat di suatu negara masih miskin dan pendidikan di negara tersebut belum merata.

    Menurut saya juga (nggak tau kalo menurut orang lain, hehehe :P), kesalahan Pak Harto lebih besar daripada jasa yang beliau berikan. Yang paling fatal: pondasi Pembangunan Indonesia yang beliau buat adalah pondasi yang benar2 yang rapuh. Efeknya bisa dilihat saat ini.

    Terakhir, yang saya benar2 sesalkan adalah pemberian izin eksplorasi terhadap perusahaan asing terhadap kekayaan alam Indonesia. Yang paling parah ya di Grasberg, Papua itu, Pak. Tambang emas terbesar di dunia yang dibilang tembaga (Sebagai informasi, Freeport yang lahan eksplorasinya hanya di Papua adalah perusahaan penghasil emas terbesar di dunia). Ckckck… Saya jadi inget sama perkataan Pak Karno, “Kalau memang insinyur2 Indonesia belum bisa melakukan eksplorasi terhadap kekayaan alam Indonesia, biarlah kekayaan itu ada di bumi Indonesia dan tidak dinikmati bangsa lain”, weks…

    Ya, bagaimanapun juga beliau juga manusia. Kita berusaha mengikhlaskan dan memaafkan segala kesalahan beliau saja. Biarlah Allah, SWT. yang memberikan balasan atas segala perbuatan beliau di dunia ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s