Sebuah statsiun TV swasta menyiarkan secara langsung acara Super Mama, sebuah acara pencarian bakat yang sedang naik daun, mengekor kesuksesan program pendahulunya, Mammamia. Program ini melibatkan ratusan penonton yang hadir di studio sebagai juri, pembawa acara (host), dan 3 orang juri yang semuanya selebriti. Tidak ada yang istimewa dengan acara ini. Acara dipenuhi dengan guyonan para juri dengan pembawa acara dan peserta (calon seleb dan mamanya), penampilan performance show si calon seleb dengan ibunya, dan banyolan-banyolan splastick yang kadang-kadang yaahhh… memuakkan sebab tidak jauh-jauh dari pelecehan fisik dan kata-kata yang tidak pantas didengar (mengarah ke porno). Saya jarang sekali menonton acara ini, hanya melihat sekali-sekali ketika kebetulan pindah ke saluran TV ini karena ada tayangan iklan di saluran lain.
Yang menjadi perhatian saya adalah acara ini disiarkan secara langsung mulai pukul 6 sore hingga tengah malam terus menerus (nonstop). Pas waktu masuk shalat maghrib acara dihentikan sejenak guna mengumandangkan adzan Maghrib. Setelah itu, acara dilanjutkan kembali. Saya perhatikan para penonton di dalam studio apakah ada di antara mereka yang beranjak untuk shalat. Ternyata tidak. Mereka tetap duduk di tempatnya masing-masing. Diantara penonton itu terlihat ibu-ibu dan wanita yang memakai busana muslimah. Dengan asumsi bahwa penonton di studio mayoritas muslim, saya bertanya-tanya kapankah mereka menunaikan shalat maghrib? Ketika orang-orang di masjid, di rumah, dan di mushala menunaikan shalat maghrib, para juri dan penonton di studio tetap terkekeh-kekeh tertawa di studio.
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian.
Waktu shalat Maghrib telah berlalu dan waktu shalat Isya pun datang. Sekali lagi saya amati posisi duduk penonton di studio, ternyata tetap tidak berubah. Mereka tetap asik terpingkal-pingkal menikmati guyonan dewan juri dan aksi panggung calon seleb. Hal ini terus berlangsung hingga tengah malam. Saya mengasumsikan para penonton di studio itu memang tidak melakukan shalat karena berbagai alasan, dugaan saya adalah: (1) dilarang produser untuk meninggalkan tempat duduk untuk menunaikan shalat karena dapat merusak acara, (2) merasa malu melakukan shalat karena hampir sebagian besar penonton lain tidak ada yang shalat, (3) tidak tersedia tempat shalat di dekat studio, (4) memang tidak pernah atau jarang melakukan shalat. Kecuali kalau ada penonton wanita sedang datang bulan memang tidak ada kewajiban shalat bagi mereka.
Begitulah, banyak orang (muslim) yang dengan mudah melalaikan kewajiban shalat karena terlena dengan gemerlap dunia. Untuk menemui Tuhan mereka saja yang hanya butuh waktu 10 menit mereka tidak mau. Fenomena seperti ini banyak kita temukan pada acara-acara TV yang melewati waktu shalat Maghrib, atau pada pertandingan sepakbola yang dimulai sebelum waktu Ashar dan selesai ketika adzan Maghrib berkumandang, acara kunjungan yang memakan waktu, jalan-jalan ke tempat rekreasi, dan sebagainya. Banyak orang yang merasa enggan menunaikan shalat pada situasi seperti itu karena mungkin merasa repot, sungkan, malu, dan sebagainya. Jika ada satu dua orang yang tetap menunaikan shalat di tempat umum pada situasi dan kondisi seperti itu, saya pikir itu luar biasa sebab dia menjadi orang yang tidak biasa di tengah orang-orang lain yang enggan atau tidak menunaikan shalat.
Imam Al-Ghazali, seorang ulama Islam terkenal, pernah membuat sebuah teka-teki kepada murid-muridnya, yang salah satunya adalah: apa yang paling ringan di dunia ini. Murid-muridnya ada yang menjawab kapaslah yang paling ringan, sebagian lagi menjawab debu, sebagian lagi menjawab angin. Jawab Imam Ghazali, semua jawaban itu benar adanya, tetapi yang paling ringan sekali didunia ini adalah MENINGGALKAN SHALAT. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita dengan gampang meninggalkan shalat.
Dalam sebuah rapat di kampus saya pernah sangat gelisah karena rapat yang dimulai pukul 16.00 belum juga selesai hingga waktu maghrib sudah berllau beberapa puluh menit. Tidak ada keinginan si pemimpin rapat menghentikan (break) sejenak untuk memberikan kesempatan pada peserta rapat untuk shalat. Pemimpin rapat dan peserta lain asik saja melanjutkan diskusi. Saya yang duduk di dalam ruangan itu sudah tidak tahan lagi dan tidak berminat mendengarkan mereka. Pikiran saya sudah tidak konsentrasi lagi dan ingin segera lari keluar karena waktu shalat maghrib hampir habis. Duh.
Betapa merugi orang-orang yang melalaikan kewjaiban shalat. Amalan pertama yang dihisab oleh Allah SWT dihari akhir adalah shalat. Shalat adalah tiang agama. Kalau shalat selalu ditegakkan 5 kali dalam sehari semalam, maka insya Allah hal yang lain-lainnya juga baik, dengan catatan shalatnya dikerjakan dengan benar. Setiap bacaan di dalam shalat mulai dari doa iftitah hingga tahyat adalah doa pengharapan kepada Allah SWT agar selalu berada pada jalan yang lurus. Dengan shalat berarti kita selalu mengingat Allah SWT sehingga kita terhindar dari berbuat dosa (maksiat misalnya). Shalat juga mendidik kita kedisiplinan waktu, sedangkan shalat berjamaah mengajarkan kita selalu merapatkan barisan untuk bersatu. Banyaklah manfaat shalat pada diri seseorang, namun banyak manusia tidak mau mendapat manfaat itu. Dunia yang fana ini memang sudah melenakan banyak orang.
11 tanggapan so far ↓
mars // 26 Januari 2008 pada 06:56 |
sebelumnya salam kenal Pak,
saya mahasiswa IF STT Telkom,
benar, apa kata Bapak di atas,
orang sekarang cenderung hanya memikirkan dunia saja,
mereka tidak memikirkan kelak nasib mereka setelah mati,
seharusnya kita harus dapat mengimbangi antara untuk kehidupan dunia dan akhirat kelak,
hakikatnya dunia itu adalah segala sesuatu hal yang menghalangi diri kita untuk selalu dekat dengan-Nya,
dalam tulisan Bapak di atas, saya sangat sejutu dengan isinya,
acara-acara tersebut di atas tidak hanya telah menghipnotis para penonton di studio saja, tetapi para penonton di rimah pun terkena imbasnya,
ya Allah ampuni dosa-dosa hamba-Mu ini,
semoga Allah selalu membimbing kita ke jalan-Nya yang lurus..
Fakhrurrozy // 26 Januari 2008 pada 15:14 |
Itulah sekarang. Sistem dalam perusahaan kan manusia yg membuatnya. Kenapa orang tidak terpikir utk menyesuaikannya dgn waktu ibadah, sesuai dg apa yg Allah SWT kehendaki. Malahan saat ini terlihat, manusia itu malah memperbudak dirinya dengan sistem yg ia buat sendiri. Entah dikemanakan posisi Tuhan dalam kehidupan saat ini
. Padahal manusia itu insya Allah akan bahagia, bukan hanya dunia, tapi akhirat, jika bersedia merelakan dirinya dan mengikut dg sistem yg telah Allah SWT dan Rasul-Nya atur…
Tetra // 14 Februari 2008 pada 08:22 |
Sewaktu saya ke Melbourne minggu lalu, saya berjumpa dengan 3 orang Indonesia di tram. Setelah berkenalan, mereka rupanya lulusan baru akmil yg sedang mengikuti training. Aku ingat namanya Wahyu dari AL, Ridwan dari AD, dan Rizki dari AU. Mereka sedang jalan-jalan di kota dan bingung mencari tempat sholat karena memang di situ jarang sekali masjid. Yg saya tahu juga cuma satu tempat dan itu pun sebenernya rumah yg dijadikan tempat sholat umum. Setelah saya tunjukkan tempat nya kami berpisah, tidak lupa saling bertukar nomor Hp.
Saya salut sama mereka, ternyata di jaman skrg yg banyak orang dengan gampang melalaikan sholat nya, tetap masih ada orang2 yg sangat antusias untuk berusaha menjalankan sholat dimana pun dia berada.
Apalagi mereka dari kalangan lulusan taruna TNI yg nantinya mereka akan menjadi teladan buat para anak buahnya.
budi sulis // 7 April 2008 pada 09:17 |
Tulisannya bagus Pak! Semoga kita termasuk orang2 yg sabar dan sholat
dwi // 12 Juni 2008 pada 11:33 |
kalo menurut saya, biasanya orang2 dalam keadaan seperti itu malas sholat karena tidak ada teman. asalkan ada satu saja yang mengajak, biasanya ajakan itu akan diterima, atau minimal ga enak karena sudah diajak untuk solat.
btw, memang acara yang di indosiar itu aneh banget, masa dari sore sampe tengah malam, dan besoknya acaranya jalan lagi. saya ga habis pikir aja, gimana para peserta dan penontonnya, tiap hari, pulang lewat tengah malam, dan besoknya mesti datang lagi. apa ga kekurangan istirahat mereka?
Darmawan // 10 September 2008 pada 17:06 |
terlalu mudah dan menganggap gampang masalah sholat ini, sehingga kita sering dengan mudah meninggalkan sholat 5 waktu
R. A. Fadhallah // 3 November 2008 pada 14:29 |
di dunia kampus juga banyak peraturan yang membuat civitas akademis kampus melalaikan kewajiban sholat. minsal jam belajar-mengajar yang berlanggsung pada saat sholat zuhur, asyar. Dosen dan mahasiswa sibuk dengan perkuliahan mereka, mereka lebih takut dengan peraturan atasan, takut repot, takut proses menuntu ilmu tergangu ketimbang takut tidak melaksanakan pangillan ketaatan dijalan Allah untuk sholat tepat waktu. wahai dosen-dosen berilah mahasiswa kita toladan sholat tepat waktu, guncangkan dalam hati untuk memenuhi pangilan Allah sholat tepat waktu. beri contoh dan kalau banyak yang tidak setuju doakan mereka supaya mendapat hidayah dari Allah. Dan yang sangat memalukan pada saat rapat pangilan sholat telah berkumandang tapi dosen-dosen tetap saja santai melanjutkan rapatnya. Apa yang kurang dengan dosen dosen kita?
larasati // 7 Januari 2009 pada 10:58 |
Assalamu’alaikum semuanya,
Saya benar2 terkesan dengan perbincangan saudara2 sekalian tentana masalah ini.
Karna jujur saja sangat menusuk hati dan nurani saya. Ohya saya sekarang di Taiwan bekerja sebagai seorang tkw, dulu saya sangat rajin sholat walau dilarang. Saya melakukan sholat dengan keadaan yang sangat memprihatinkan, karna mencuri2 kesempatan. Sebagai muslimah saya yang seharusnya memakai mukena, kadang asal memakai celana dan kaos panjang ditambah kaos kaki dan penutup kepala, dengan alas koran atau handuk kecil, saya melakukan sholat dengan penuh rasa rindu kepadaNya.
Namun entah mengapa, sekarang saya sering dengan mudahnya meninggalkan sholat dengan banyak alasan2 ringan. Karna terkena cipratan kuah babilah, karna dinginlah jd malas wudhu, krna dilarang majikanlah, dan masih banyak lain.
Saudara2 muslim semuanya, bisakah bantu saya mengatasi penyakit jiwa ini? Saya benar2 tidak ingin terus2an seperti ini. Tolong beritahu saya apa yang seharusnya saya lakukan agar saya tidak terus2an seperti ini.
Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan banyak terima kasih.
Wasalamu’alaikum wb wb. . .
rinaldimunir // 7 Januari 2009 pada 11:35 |
@larasati: malas mengerjakan shalat karena dipengaruhi bujuk rayu setan yang membisikkan untuk menunda-nunda atau tidak usah mengerjakan. Segera beristighfar dan memohon ampun kepada Allah SWT karena telah melalaikan kewajiban shalat, lalu mulailah kembali melakukan shalat meski dalam keadaan sulit sekalipun.
Mengapa Mudah Melalaikan Kewajiban Shalat? « Serbagratisbuku’s Blog // 20 Juni 2009 pada 16:50 |
[...] sumber http://rinaldimunir.wordpress.com/20…ajiban-shalat/ [...]
Sulfiandi Anshar // 21 Desember 2009 pada 13:43 |
apa emang orang2 kota begitu ya…
lalai akan sholat yang hanya mementingkan duniawi saja…