Soal Nilai Kuliah dan IP

Pada umumnya, mahasiswa di program studi kami kuliahnya lancar-lancar saja, artinya tidak banyak yang sampai harus terpaksa mengulang mata kuliah yang tidak lulus. Saya mendapatkan kenyataan bahwa mahasiswa generasi 10 tahun terakhir mempunyai kualitas yang lebih baik dari mahasiswa pada zaman saya di tahun 85-an hingga 90-an. Ini dapat diukur dari IP (Indek Prestasi) mahasiswa yang terus mengalami peningkatan setiap tahun, begitu juga rata-rata masa studi terus mengalami penyingkatan. Sebagai informasi, rata-rata IP mahasiswa S1 ITB pada tahun 2006 adalah 3,08 (padahal targetnya 2,95), rata-rata IP mahasiswa S2 ITB 3,40 (target > 3,00). Masa studi mahasiswa S1 juga mengalami penyingkatan, tahun 2006 rata-rata masa studi wisudawan S1 adalah 4,7 tahun dan mahasiswa S2 adalah 2,2 tahun (Sumber: Laporan Capaian Mutu ITB Tahun 2006). Jadi, kalau banyak mahasiswa sekarang ini mempunyai IP diatas 3,0 itu sudah biasa, tidak istimewa, sudah basi! (meminjam istilah anak muda zaman sekarang). Bahkan yang mempunyai IP = 4,00 selama beberapa semester cukup banyak orangnya.

Di zaman saya kuliah, mahasiswa yang mempunyai IP > 3,0 tergolong istimewa, sebab sangat susah bagi kami mendapat nilai bagus. Rata-rata IP kami pas-pasan saja, berkisar anatra 2 dan 3. Saya sendiri IPK-nya tidak sampai 3,0 (tapi yang pasti masih di atas syarat minimal menjadi PNS, yaitu > 2,75 he..he, kalau nggak tentu tidak bakalan diterima jadi dosen ITB). Saya sih berbaik sangka saja pada dosen-dosen kami di S1 dulu, bahwa IP kecil bukan karena mereka pelit memberi nilai atau tidak ingin melihat mahasiswanya lebih pintar dari dosennnya, tetapi ya emang kualitas kami saja dulu yang tidak sebagus anak sekarang. Gizi kurang, buku dan refrensi kuliah agak sulit dicari, internet belum ada. Bagaimana gizi bisa baik, untuk beli makan siang saja sampai harus mengirit-irit kiriman dari kampung. Teman saya ada yang kalau makan di warung di dekat kosan di Taman Hewan minta nasi setengah (setengah porsi maksudnya), lalu sayurnya cukup kuah sayur sop dan lauknya tempe atau setengah telur ayam. Berapa harganya? Cuma Rp500! Si ibu warung seakan mahfum dengan kondisi anak kos.

Lain dulu lain sekarang. Sekarang ini, saya perhatikan mahasiwa begitu mudah mendapat nilai bagus. Teknologi informasi telah memanjakan mahasiswa zaman sekarang sehingga mencari referensi, bahan-bahan kuliah, program, dan sebagainya sangat mudah dan cepat. Buku-buku bajakan mudah ditemukan di jalan Tamansari. Kalau tidak mau buku bajakan, buku asli dalam edisi mahasiswa (kertas HVS) juga tidak mahal-mahal amat. Dari segi gizi, mahasiswa zaman sekarang rata-rata berasal dari kalangan menengah ke atas, jadi kalau soal makan dan uang tidak terlalu masalah lagi. Gizi bagus, mencari refrensi kuliah mudah, suasana akademik mendukung, ditambah dengan berkurangnya dosen-dosen tua yang dianggap hemat memberi nilai dan masuknya dosen-dosen muda dengan pola pikir lebih maju, kloplah alasan untuk mengatakan mahasiswa ITB zaman sekarang (khususnya yang saya amati di Prodi IF) tidak sukar mendapat nilai kuliah yang bagus (A atau B). Mereka begitu fight untuk mendapat nilai bagus. Begitu berartinya nilai bagus itu untuk mereka, sampai-sampai ada mahasiswa yang datang kepada saya sambil menangis tersedu-sedu karena mendapat nilai C. Duh, segitu amat sedihnya.

Apakah dosen ITB sudah berubah dalam memberi nilai? Apakah mereka sudah begitu royal mengobral nilai A? Memang sih ada himbauan tidak tertulis dari pihak rektorat agar dosen-dosen jangan terlalu pelit memberi nilai. Alasannya, akan sukar bagi lulusan ITB bersaing dengan lulusan PT lain karena sudah gagal di tahap awal kalau dilihat dari segi IP saja. Kalau sekarang mahasiswa tidak terlalu sulit mendapat nilai bagus, saya pikir bukan karena himbauan itu. Saya pikir teman-teman dosen ITB masih tetap obyektif dalam memberi nilai, jadi kalau memang hasil capaian mahasiswa bagus, tentu tidak ada alasan untuk tidak memberi nilai A. Selama kita tetap menjaga mutu akademik, maka nilai-nilai bagus adalah konsekuensi logis dari capaian belajar yang baik. Setuju nggak?

Tulisan ini dipublikasikan di Seputar ITB. Tandai permalink.

18 Balasan ke Soal Nilai Kuliah dan IP

  1. anggriawan berkata:

    Setuju…. ^_^

    btw, ada 3 kalimat yang baru ditambahkan setelah publish yang pertama ya, pak.. hehehe.. :D

  2. Rizli berkata:

    Wah pakkk… zaman saya angkatan 2000, gak ada tuh yang nangis dpt C. Apalagi kalo matakuliah pemrograman. Yang ada bilang nya “Alhamdulillahhh”
    :D
    Rizli

  3. dobelden berkata:

    Ah nilai saya semester ini ada yg C :|

  4. dewi berkata:

    Salamualaikum…

    dulu-sekarang, jelas merupakan dua kata yang berbeda, baik dari jumlah huruf dan maknanya.

    Jadi…zaman dulu ama sekarang tentu udah beda dunk Pak Dosen…. (mEskipun bkn mahasiswa-Na, gpp to saya panggil Pak Dosen? :-) ). Seharusnya, pErbedaan itu adalah kondisi yang lebih baik dari sebelumnya…

    Kalo mahasiswa zaman sekarang gampang dapet nilai bagus, mungkin emang kemampuan mereka sepadan dengan nilai yang diperoleh… :-D :-P ….

    SAlam kenal ya Pak…. :-)

  5. nur berkata:

    pak riiin.. ada yg ngerasa kesindir ni pak.. hehe :-D

  6. rinaldimunir berkata:

    @nur: yang kesindir siapa, Nur? Yang lagiluculucunya itu kah?

  7. Setuju pak!

    BTW, apa iya nilai yang diperoleh mahasiswa sudah merepresentasikan kemampuannya? Untuk kasus saya sendiri, saya tidak berani menjamin untuk semua mata kuliah yang dapat nilai baik, saya cukup bisa mempertanggungjawabkannya…

  8. catra berkata:

    setuju pak…..

    dulu2 nya sih saya denger2 kalau IP 2 koma di ITB sama dengan IP 3 koma di univ lain, tapi di persyaratan pertama kerja IP, makanya dah kalah dluan…

  9. isman berkata:

    Sayangnya, masih belum ada standar pendidikan tinggi untuk kemampuan emosional maupun sosial (agar tidak usah menyebut EQ atau jargon-jargon lainnya).

    Jadi IP tinggi pun tetap belum bisa acuan untuk menjadi rekan kerja yang baik. Minimal sudah tiga kali bertemu rekan kerja yang IP tinggi namun etika kerja maupun logika sederhana dalam kehidupan sosial saja tidak mengerti (atau tidak mau mengerti?)

    Contoh: saat kita bilang sanggup bekerja penuh di suatu perusahaan selama dua bulan, apakah wajar jika dua hari kemudian kita mengundurkan diri dengan alasan diterima di perusahaan lain?

    Saya sudah menemukan kasus itu dua kali. Dua-duanya lulusan ITB dengan IP di atas 3.

    Sejatinya pendidikan tinggi juga memerhatikan kecerdasan sosial maupun emosional. Karena “tinggi” bukan berarti cenderung logis-matematis semata.

  10. anikeren berkata:

    Alhamdullillah, berarti sekarang ada kemajuan ya Pak Rin? Jaman saya dulu (belum terlalu lama, 90an) meskipun di transkrip adanya cuman Rantai Carbon (C-C-C..), senengnya dah minta ampun. yang penting lulus…

    Tapi memang akhirnya kita kalah duluan untuk seleksi awal, gara-gara IP jongkok ke mana-2 ga diterima. Apalgi jadi PNS, nggak pede buat ngelamar. Maklum, ip nya jongkok. Sementara untuk jadi PNS IP gak boleh jongkok to.

    Numpang kenalan blog boleh ya pak di moedjionosadikin@wordpress.com

    Terimakasih

  11. adywicaksono berkata:

    Wah IP bapak diatas 2,75 dibawah 3 tho?
    sama dong pak, hehehehehe….

    tapi ada yang lebih penting pak
    orang pintar kalah sama orang cerdik
    orang cerdik kalah sama orang beruntung

    mangka itu, banyak2 berdoa semoga kita menjadi orang beruntung di dunia dan akhirat

    hehehehe

  12. bas berkata:

    pak rin,

    saya kok jadi mikir.. apa ga sebaiknya bobot materi perkuliahan
    mulai ditingkatkan? apapun alasannya (kualitas mahasiswa
    meningkat, dukungan teknologi, dll), rata2 ipk tinggi mestinya
    jadi sinyal kalo ruang gerak mahasiswa untuk belajar semakin
    sempit. yang paling kasian adalah mereka yang tiap semester
    dapet ip 4.

    (hehe.. mahasiswa pak rin yg baca komentar saya ini pasti
    langsung cemas)

  13. rinaldimunir berkata:

    @ady: betul, seperti yangs aya katakan, zaman saya kuliah IP kami kecil-kecil.

    @anikeren: nilai ranai karbon sudah bagus tuh untuk mhs zaman kamu, ji…

    @bas: gak juga bas, yang IP tinggi itu bahkan 4,00 itu juga aktivis berat lho.

  14. nanungnurzula berkata:

    aku nggak bisa ikut komentar nih
    boro-boro ngomongin ip
    lulus aja kagak

  15. sipahutar berkata:

    oke lah pak boz,,

    tetap semangat ngajarnya

  16. logic berkata:

    oalah, ipku di itb angkatan 89 hanya 2.2….untung masih bisa kerja…..masih bisa pula kadang2 ngajari bule2 hahaha….tapi sedihnya, kalo mau daftar s2 jadi malu euy….gimana pak rinaldi, kalau ip kecil bisa ikutan s2 itg gak ?

  17. rinaldimunir berkata:

    @logic: tdk usah malu pak, ipk S1 tidak menentukan lulus tidaknya di S2, tetapi murni hasil seleksi masuk. Jadi, ya daftar saja pak…

  18. logic berkata:

    terimakasih sarannya pak Rinaldi, saya lagi menimbang2 buat sekolah lagi, tapi komentar bapak benar2 sangat membantu

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s