Sewaktu makan seusai rapat siang di kantor, saya tertegun melihat rekan senior saya membawa makanan khusus dari rumah. Makanannya adalah kentang rebus, wortel yang dikukus, dan beberapa jenis sayuran yang semuanya serba dikukus/rebus. Makannya juga tidak pakai nasi. Setelah saya bertanya, ternyata rekan saya itu menderita penyakit tertentu yang mengharuskannya menjalani diet makanan. Saya lupa nama penyakitnya, tapi gak jauh-jauh dari masalah kolesterol, asam urat, dan sebagainya.
Saya cukup kasihan dengan rekan saya itu. Alangkah malangnya dia. Bagaimana tidak, dia sebenarnya sangat berkecukupan, uangnya banyak, tetapi dia tidak dapat menikmati hasil jerih payahnya, sekadar untuk makan saja. Makan harus diatur secara ketat jumlah kalorinya, itupun juga harus makanan yang serba direbus atau dikukus. Tidak boleh mengandung minyak. Tidak boleh pakai garam. Apa ya rasa makanan seperti itu? Hambar dan tidak membangkitkan selera. Gimana lagi, kalau mau tetap sehat tentu harus kontrol makanan dengan ketat. Semua makanan yang enak-enak harus disingkirkan dari ingatan.
Beberapa waktu yang lalu rekan saya yang lain terpaksa masuk rumah sakit karena serangan stroke. Stroke dan jantung adalah dua penyakit yang paling mematikan. Keduanya saling berhubungan dan banyak menimpa orang-orang sibuk di zaman modern ini. Rekan saya ini pernah bercerita bahwa sejak beberapa tahun terakhir dia harus mengontrol makanan. Kolesterolnya sudah tinggi, maklum sejak muda doyan makan makanan yang mengandong kolesterol tinggi seperti daging, sate kambing, jeroan, durian, dan lain-lain. Tapi yang namanya manusia kan sering lupa, makanan enak bisa membuat orang tergoda dan pantangan makanan itu diabaikan. Akhirnya, ya masuk rumah sakit sebab kolesterol yang menumpuk di pembuluh darah yang menuju otak mengakibatkan serangan stroke.
Sehat itu ternyata mahal harganya (kata orang sakit).
Dari semua peristiwa itu terkandung ibrah yaitu pelajaran berharga. Kebanyakan penyakit zaman sekarang berawal dari pola makanan. Pola makanan yang tidak sehat dan berlebihan bisa menimbulkan penyakit. Hidup sehat dapat diperoleh jika kita menyesuaikan pola makan yang sehat sejak masih muda. Saya pribadi tidak terlalu suka makan daging, hanya sekali-sekali saja. Saya lebih senang mengkonsumsi ikan. Ikan bagi sebagain orang dianggap makanan yang tidak elit, tetapi ketahuilah ikan itu tidak mengandung kolesterol, jadi sangat sehat untuk dikonsumsi. Ketika saya berkunjung ke daerah, ikanlah yang saya pilih sebagai teman nasi, bukan daging. Entah kenapa sejak beberapa tahun terakhir ini kalau saya melihat makanan dari daging sapi maka yang terbayang adalah daging itu masih hidup. Jadi nek gitu melihatnya.
Tips sehat lainnya adalah rajinlah makan buah-buahan dan berolahraga. Tentang ini sudah saya bahas di dalam tulisan Jika Ingin Tetap Sehat , silakan baca lagi.
Agama sudah mengajarkan kita agar jangan hidup berlebih-lebihan, termasuk soal makan. Yang berlebih-lebihan itu adalah penyakit. Makan daging tentu boleh, asal tidak berlebihan. Makan ikan juga begitu, jangan berlebihan. Perut kita sudah dirancang sedemikian rupa oleh Allah SWT untuk menampung makanan secukupnya. Bisakah kita menerapkan teladan Rasulullah tentang makan sebagai berikut: “makan sebelum lapar, berhenti sebelum kenyang”?
Beruntunglah orang yang diberi kesehatan oleh Allah SWT. Menurut saya kesehatan adalah nikmat Allah yang paling besar. Hanya kalau tubuh sehatlah kita bisa berkarya, belajar, dan melakukan aktivitas. Oleh karean itu, patutlah kita menysukuri nikmat sehat itu.
9 tanggapan so far ↓
Zakka Fauzan Muhammad // 12 Maret 2008 pada 11:09 |
Jantung bukan penyakit pak… Yang penyakit itu Penyakit jantung… Hehehehe…
Terus, ikan itu makanan elit loh pak… Contoh nyatanya: ikan salmon, itu elit banget…
Petra Barus // 12 Maret 2008 pada 13:04 |
Sedikit curahan hati pasca rawat inap kemarin.
)
Lumayan ganti suasana jadi mesti makan sayuran terus
udah bosen juga makan daging terus, hehehe.
Selain gejala tipes, saya mengeluh bagian liver saya agak sedikit sakit. Lalu dokter internistnya nyuruh saya periksa di USG. Melalui hasil USG, sang dokter memvonis bahwa terdapat penumpukan lemak di liver.
Alhasil di umur 20 ini saya mesti makan makanan yang disebutkan di paragraf pertama. (meski gak sampai selamanya, sih
Ironi sih enggak. Nyesel juga gak guna. Enjoy aja sih
Di samping itu, saya mengucapkan terima kasih untuk Bapak karena sudi menjenguk saya sewaktu saya dirawat inap.
Ali Akbar // 13 Maret 2008 pada 05:07 |
Tentang hadis itu, ada yang menyatakan:
“tidak makan sebelum lapar, berhenti sebelum kenyang” (artinya: makan kalau lapar, berhenti sebelum kenyang)
tapi juga, seperti yang Pak Rin tulis di atas,
“makan sebelum lapar, berhenti sebelum kenyang”
.. yang mana yang benar ya?
Brahmasta // 13 Maret 2008 pada 06:13 |
Sepakat pak kalau sehat itu mahal.
Udah dua kali ngerasain dirawat di rumah sakit. Kapok.
Dan saya gak akan pernah tahu kalo gak pernah sakit
rsauqi // 13 Maret 2008 pada 14:59 |
Sehat memang mahal. Tapi sakit lebih mahal lagi. Jadi menurut saya gpp sih ngluarin biaya lebih supaya hidup lebih sehat. Daripada tahu2 sakit biaya jauh lebih mahal lagi. Apalagi pemerintah negara ini masih tidak terlalu peduli dengan kesehatan masyarakatnya. Oya, ada tips buat mencegah penyakit: perbanyak sedekah…
rinaldimunir // 14 Maret 2008 pada 08:06 |
#rsauqi: maksudnya, untuk menjadi sehat (dari kondisi sakit) itulah yang mahal. Trims tipsnya.
sandy eggi // 17 Maret 2008 pada 01:59 |
ngukur kalori kok kasian pak? di sini semua makanan diitung kalorinya. di kantin pun nasi juga ditimbang.
Kang Sikma // 18 Desember 2008 pada 22:01 |
CARA HIDUP SEHAT dengan cara yang biasa tapi manfaatnya LUAR BIASA DAHSYATNYA, hanya dengan minum teh hitam ou tea setiap hari, Insya Allah dapat mengatasi beragam masalah kesehatan yang anda hadapi.
Silahkan coba untuk membuktikannya.
Singgih // 5 Januari 2010 pada 18:01 |
(Bisakah kita menerapkan teladan Rasulullah tentang makan sebagai berikut: “makan sebelum lapar, berhenti sebelum kenyang”?)
boleh saya tahu hadist ini riwayat siapa?
hadist ini yang saya tahu gak ada asal usulnya?
yang saya tahu manusia itu kalau makan past berhenti kalau sudah kenyang, yang dilarang itu yang berlebihan.