Hari Selasa minggu lalu saya diundang ke Semarang oleh Jurusan Teknik Informatika, Universitas Dian Nuswantoro (Udinus). Saya belum pernah ke Semarang, jadi ini adalah kesempatan pertama saya mengunjungi kota yang hanya sering saya dengar namanya saja. Berhubung tidak ada penerbangan langsung dari Bandung ke Semarang, saya terpaksa naik pesawat dari Jakarta (kenapa ya Bandara Husein Sastranegara di Bandung sepi rute pesawat?).
Kesan pertama saya tentang kota Semarang adalah: panaaasss…. He..he, maklum saya ini orang gunung (Bandung kan di atas gunung), maka kalau pergi ke kota pantai ya jelas terasa gerah. Saya sempat diajak jalan-jalan mengelilingi kota Semarang oleh rekan dosen di Udinus. Ternyata kota Semarang itu tampak teratur, rapi, dan yang paling penting jarang ada kemacetan. Tidak seperti Bandung yang …halah, muaaacett dan padat. Semarang juga padat sih, tapi menurut saya kota Bandung jauh lebih crowded.
Saya diajak melihat landmark kota Semarang yang terkenal itu, yaitu gedung Lawang Sewu. Berhubung mobil terus melaju, saya tidak sempat memotret Lawang Sewu, jadi fotonya saya ambil dari internet saja ya (lupa tadi di situs web mana ya mengunduhnya):
Lawang Sewu atau gedung seribu pintu menurut saya cantik dan artistik. Sayang, gedung peninggalan kolonial Belanda ini tampak tidak terawat, dinding luarnya terlihat kusam dan berjamur. Kenapa ya Pemda Kota Semarang tidak membenahi gedung kebanggaan warga kotanya? Menurut kabar-kabari berbau mistik, jumlah pintu di gedung itu sebenarnya tidak 1000, tetapi banyak. Namun tidak seorangpun yang berhasil menghitung secara persis berapa jumlah pintu itu semuanya. Selalu ada perbedaan menghitung antara satu orang dengan orang lainnya. Benarkah? Selain itu, di ruang bawah tanah juga terdapat cerita-cerita mistik tentang suara-suara aneh dari bekas penghuninya. Ruang bawah tanah itu dulunya penjara dan ruang penyiksaan.
Seperti biasa kita juga melewati Simpang Lima yang terkenal itu, yah seperti lapangan Gasibu-nya Bandung lah. Tapi, kok saya tidak melihat rumah makan padang di Simpang Lima ini ya? Setahu ya, rumah makan padang ada di setiap simpang, baik itu simpang tiga, simpang empat, maupun simpang lima. He…he.
Oleh-oleh Semarang yang terkenal apalagi kalau bukan wingko babat dan ikan bandeng presto Juwana. Banyak sekali toko yang menjual oleh-oleh ini, tapi untunglah tuan rumah memilihkan toko oleh-oleh yang paling terkenal di jalan Pandanaran. Kalau ingat ikan bandeng presto, saya jadi kasihan sama kucing. Tidak ada yang bersisa lagi buat kucing, sebab sampai ke duri-duri ikan terasa renyah dan enak dimakan.
Tentang Udinus, saya punya kesan tersendiri. Udinus sejak tahun lalu menjalin kerjasama dengan ITB dengan nama Twinning Program. Program ini memungkinkan mahasiswa Informatika Udinus kuliah di ITB setelah menjalani seleksi ketat dari ITB tentunya. Sayang, belum ada seorang pun mahasiswa Udinus yang lolos seleksi masuk Informatika ITB tahun lalu. Mungkin perlu banyak belajar lagi ya agar berhasil lolos masuk ITB tahun ini. Setahu saya, untuk twinning program ini, baru ada dua orang maahsiswa PTS yang berhasil masuk Informatika ITB, yaitu dari Universitas Al-Azhar Jakarta. Namun, dosen-dosen Informatika di sana sangat antusias dengan program kerjasama ini. Mereka ingin sekali menimba ilmu dari ITB. Kami di ITB tentu dengan senang hati membantu teman-teman di PTS/PTN daerah. Adalah kewajiban ITB untuk meningkatkan mutu perguruan tinggi di tanah air. Dalam rangka itulah saya datang ke Semarang.
Udinus ini menurut dosen di sana adalah PTS nomor satu di Semarang. Kampusnya besar dan mahasiswanya banyak. Hebatnya lagi, Udinus mempunyai stasiun TV sendiri bernama TV-KU. Stasiun TV Stasiun TV ini menjadi salah satu TV lokal komersil di Semarang. Pengelola TV ini adalah staf pengajar di Fakultas Ilmu Komputer Udinus dan operatornya adalah mahasiswa mereka sendiri. Menariknya, di Udinus ini Fakultas Ilmu Komputer mempunyai program studi yang beraneka ragam dan tidak berhubungan langsung dengan Ilmu Komputer. Selain Jurusan Teknik Informatika dan Sistem Informasi, di fakultas ini juga ada program studi Fotografi (D3), dan Multimedia (D3). Ketika saya tanyakan, kenapa kedua program studi D3 itu ‘nekat’ dikelompokkan ke dalam Fakultas Ilmu Komputer, mereka mengatakan tidak ada aturan Dikti yang melarang hal itu, bukan? Ada benarnya juga sih, saya jadi ingat ITB saja mempunyai SBM (Sekolah Bisnis dan Manajemen) yang secara rumpun keilmuan sangat jauh beda dengan “sekolah sebelahnya” yang menggeluti sains dan teknik (ups.. hampir lupa, ada lagi Fakultas Seni Rupa dan Desain di ITB yang dianggap merupakan “keberanian” ITB menggabungkan seni ke dalam institut teknologi). Menurut saya, modal nekat dan keberanian itu memang diperlukan di dalam sebuah institusi. Memang awal-awalnya ada suara sumbang dan dicerca, tetapi setelah inovasi itu memperlihatkan performanya, barulah orang berbalik kagum.
Itulah oleh-oleh dari Semarang.

Kalau Semarang saya ingatnya lumpia dan soto Bangkong Pak…
@Habib: benar bib, lumpia juga salah satu oleh-oleh khas Semarang. Tapi menurit saya lebih terasa harumnya lumpiah yang dijual si mang-mang di gerobak di Jalan Ganesha itu.
abis dari Udinus toh pak..
sy kira dalam rangka jadi juri festival game?
adakah peran kopertis dalam hal ini pak?karena kalo saya lihat selama ini kok ya kayak gitu-gitu aja perannya..keren nih “twinning program” nya pak..semoga bertahan pak..kalo bisa, Yale yang nerima George Bush jadi mahasiswa mereka jangan dicontoh…
@anggriawan: bukan, anggri, kalau untuk festival Game itu memang di Udinus tempatnya, tapi waktunya seminggu setelah saya datang, dan saya bukan jurinya.
@Ingki: Kopertis memang perlu direformasi.
Wah, gak bilang2 kalau mau ke Semarang. Rumah orangtua saya dekat simpanglima Pak.
Mungkin gambarnya ngambil dari sini pak:
http://achmadi.blogsome.com/2005/10/30/sedikit-tentang-lawang-sewu/
@Budi Silistyo: lupa mau bilang, Bud, habis gak tahu kalau kamu tu wong Semarang.
@Dyah: terima kasih infonya, kayaknya emangd ari situs web tsb.
Pak Rin…
Mulai 15 April 2008 saya berdomisili di Semarang Pak…
Ngekosnya di samping kampus Udinus malah…
Wah, kalau tau Pak Rin kesana kan bisa saya sambut, hehe…
@Aulia: memangnya kamu kerja di mana Aulia, kok sekarang ujug-ujug ada di Semarang?
@ Pak Rin
Di Telkomsel semarang pak.. Ngantornya di samping lawang sewu itu Pak… hehe…
Titip salam untuk Bapak dan Ibu dosen IRK Pak…
Waduh pak, tanggal segitu saya kan di Semarang juga (ditugasin di Bank Jateng Jalan Pemuda). Tau gitu saya ajakin pak Rinaldi makan siang ato malem.
@Monang: wah tawaran menarik tuh Nang, di Bandung saja deh
cuman mau mengupdate pak..
transfer dari udinus sekarang sudah ada 2 orang pelopornya tahun ini… hehe..
saya sendiri transfer dari Al Azhar tahun ini,, jadi dari Al Azhar sudah 3… hehe… cuman sayang saya ga pernah berkesempatan ketemu bapak…
@dilla: iya, tahun ini ada 2 orang dari Udinus, 1 orang dari Al Azhar, dan 2 orang dari Pi Del. Kalau ketemu kan gak harus pas kuliah, datang aja atuh ke ruangan saya.
[...] Sebelumnya saya sudah pernah ke Semarang masih dalam rangka kerjasama dengan Udinus juga (baca tulisan terdahulu). Kali ini saya memberikan pelatihan sebuah mata kuliah bagi dosen-dosen di [...]