Pemenang Lomba Pendidikan Masih Dihargai Rendah
April 28, 2008 oleh rinaldimunir
Sewaktu melewati Aula Barat ITB, saya membaca sebuah spanduk seperti di bawah ini:
PT Rekayasa Industri akan memberikan dana penelitian sebesar 4 hingga 6 juta rupiah bagi mahasiswa pemenang lomba karya ilmiah di bidang energi. Akhir-akhir ini minat mahasiswa ITB untuk melakukan penelitian sangat tinggi, sayangnya banyak penelitian itu terkendala oleh dana yang minim atau malah tdiak ada penyandang dana sama sekali. Nah, sekarang ada perusahaan swasta yang bersedia mengucurkan dananya untuk membantu penelitian mahasiswa tersebut. Gayungpun bersambut.
Di satu sisi, perhatian swasta terhadap dunia pendidkan perlu kita syukuri. Ini bentuk sebuah kepedulian sosial atau yang sekarang populer diistilahkan sebagai CSR (Corporate Social Responsibility). Tetapi, di sisi lain, penghargaan itu menimbulkan keprihatinan bagi sebagian kolega saya. Prihatin karena dinegara kita penelitian masih dihargai dengan rendah. Rekan saya yang membaca spanduk itu berkomentar begini: dikiranya meneliti itu murah sehingga dana penelitian hanya disediakan 4-6 juta. Masih begini kok berani mimpi jadi world class university, begitu pendapatnya. Maksud rekan saya itu, bagaimana kita bisa menghasilan penelitian bermutu dengan dana yang minim? Tetapi rekan dosen yang lain menimpali begini: apakah dengan biaya penelitian kecil pasti tidak bisa menghasilkan penelitian yang bermanfaat (bagi bangsa ini khususnya) dan tidak dapat menginduksi penelitian lain yang lebih bermanfaat? Dan apakah dengan penyediaan biaya besar dijamin menghasilkan penelitian bermanfaat?
Hmm… pro dan kontra tentang dana penelitian yang minim tidak bisa dielakkan. Sah-sah saja tergantung melihatnya dari sudut mana. Kalau bagi saya pribadi sih, alhamdulillah saja masih ada perusahaan yang peduli dengan penelitian di kalangan mahasiswa, terlepas besar kecilnya penghargaan yang mereka berikan. Saya hanya menyoroti ada ketidakadilan dalam penghargaan di bidang pendidikan dibandingkan dengan bidang hiburan (entertainment). Coba bandingkan, bangsa kita lebih menghargai mana, artis atau ilmuwan? Lomba-lomba menyanyi di TV seperti AFI, Idol, KDI, dan lain-lain menawarkan hadiah besar yang menurut saya tidak sebanding dengan usaha mereka. Hanya dengan modal wajah, tubuh, dan suara yang tidak bagus-bagus amat, pemenang lomba semacam ini mendapat hadiah mobil sampai rumah. Pihak sponsor berlomba-lomba menawarkan hadiah. Mereka rela mengeluarkan uangnya ratusan juta untuk lomba-lomba semacam itu, dengan harapan produk mereka ikut terangkat dan mendapat untung besar.
Coba bandingkan dengan pemenang lomba di bidang pendidikan seperti olimpiade IPA, lomba karya ilmiah remaja (LKIR), lomba karya ilmiah mahasiswa, dan yang semacam itu. Berapa hadiah yang mereka dapat, paling-paling hanya jutaan rupaih saja (kayaknya belum ada deh pemenang olimpiade fisika yang mendapat medali emas di tingkat internasional memperoleh hadiah sebuah mobil, baik dari pihak swasta maupun dari pemerintah). Selain itu, publikasi terhadap mereka juga kurang. Banyak orang Indonesia tidak tahu kalau saudara sebangsanya meraih penghargaan di tingkat nasional dan internasional karena memenangkan lomba di bidang penelitian maupun pendidikan. Bandingkan dengan publikasi pemenang lomba hiburan, waaah… bisa menyita perhatian media massa, sementara pemenang lomba olimpiade IPA tidak diberitakan sebagai sebuah berita besar. Biasa-biasa saja.
Yah, peneliti memang tidak sama dengan selebriti. Mereka meneliti tidak bertujuan menjadi orang terkenal. Mereka meneliti karena ingin hasil penelitian mereka dapat memberikan manfaat bagi bangsa, untuk hajat hidup orang banyak. Sayangnya, masih banyak pihak yang belum memberikan penghargaan yang pantas untuk peneliti. Jika pemenang lomba penelitian atau pendidikan diberikan penghargaan yang pantas, maka hal ini akan merangsang orang untuk makin bersemangat memajukan pendidikan dan penelitian di Indonesia. Tapi, kapan ya?

Kalau reward meneliti nya murah, nanti yang muncul adalah peneliti-peneliti MJS (murah njaluk selamet)
Ya jangan harap macam-macam lah, kalau reward nya cuma segitu. Masih untung mau dibantu meneliti… Syukur-syukur nggak ditinggal mroyek 
Tulisan artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Salam Blogger!
http://www.infogue.com/
http://pendidikan.infogue.com/pemenang_lomba_pendidikan_masih_dihargai_rendah
Memang seperti itulah negara kita Pak. Pendidikan tidak mendapat porsi yang layak. Janji 20% dana pendidikan dari APBN saja tidak pernah terwujud. Padahal (menurut saya) pendidikan inilah satu-satunya cara untuk melepaskan diri dari keterpurukan.
seringkali paparan media justru salah. Hal yang dipaparkan justru subjek atau pelakunya bukan perjuangan dan usahanya sehingga bukannya menjadi inspirasi malah menjadi antipati.