Menjadi Profesor dalam Usia Muda

Teman saya di Progarm Studi Kimia, Ismunandar, meraih gelar Profesor baru-baru ini. Dia menjadi profesor termuda di ITB sebab usianya masih 38 tahun. Saya tidak tahu apakah dia menjadi profesor termuda di Indonesia juga?

Menjadi profesor adalah cita-cita tertinggi seorang dosen. Siapa sih yang tidak ingin menjadi profesor? Untuk meraih gelar ini syaratnya berat. Yang utama adalah kontribusinya dalam karya tulis (makalah) di jurnal-jurnal internasional. Di ITB banyak dosen yang hebat-hebat namun mereka susah naik ke jabatan yang lebih tinggi (jabatan dosen itu ada 4 macam: asisten ahli, lektor, lektor kepala, dan profesor). Penyebabnya adalah karena jarang menulis makalah, baik untuk konferensi nasional/internasional maupun untuk jurnal nasional/internasional. Padahal, kualitas seorang akademisi diukur dari karya tulisnya. Berapa banyak makalah yang telah dia tulis? Berapa banyak makalahnya dikutip (citation) oleh pemakalah lain? (di http://scholar.google.com kita dapat melihat citation ini). Berapa banyak makalahnya dimuat di jurnal internasional? (untuk kalangan akademisi Teknik Elektro dan Informatika, pemuatan makalah di jurnal IEEE merupakan pencapaian tertinggi sebab sangat sulit untuk menembus jurnal tersebut). Kalau seorang akademisi tidak menulis bagaimana kita dapat mengukur kapasitas intelektualnya? Disinilah pentingnya kemampuan menulis itu dilatih sejak menjadi mahasiswa.

Banyak dosen lebih senang mroyek (mengerjakan proyek)daripada menulis sebab mroyek mendatangkan uang (bandingkan dengan menulis makalah yang justru harus keluar uang andaikata makalah kita hendak dimuat di jurnal/proceeding). Tapi jumlah proyek tidak menjadi ukuran kapasitas intelektual seseorang. Mroyek adalah  ‘pengamalan’ ilmu yang dimiliki dosen untuk kepentingan klien. Ujungn-ujungnya uang: proyek selesai, dosen dapat duit. Jadi, mroyek memberikan kemaslahan untuk diri si dosen dan keluarganya saja. Bandingkan dengan menulis makalah, makalah kita berguna untuk kemajuan ilmu pengetahuan yang pada akhirnya bermuara untuk kemaslahatan ummat manusia.

Informatika ITB, meskipun usianya sudah 25 tahun, belum mempunyai seorang profesor pun. Bandingkan dengan Informatika ITS atau Ilmu Komputer UI yang sudah mempunyai profesor. Penyebabnya ya seperti yang saya sebutkan di atas. Mudah-mudahan dalam beberapa tahun ke depan ada rekan kami yang berhasil meraih jabatan profesor itu, yang jelas bukan saya, he..he.

Tulisan ini dipublikasikan di Seputar Informatika, Seputar ITB. Tandai permalink.

35 Balasan ke Menjadi Profesor dalam Usia Muda

  1. rsauqi berkata:

    Lho, harusnya Pak Rin yg mulai usaha jadi prosesor eh profesor :D
    Didoain deh pak

  2. ivan berkata:

    Saya doakan biar bapak bisa… AMIIINNN…. sudah lama gak ada professor nih…. Sayangnya Bu Inge atawa pak Farid Wazdi gak maw jadi prof… menurut saya udah skill banget….

  3. rinaldimunir berkata:

    @rasuqi dan ivan: keinginan itu ada, tetapi bukan tujuan utama. Mengalir sajalah. Yang penting diri ini bisa memberikan manfaat buat mahasiswa dan orang lain.

  4. aRuL berkata:

    tapi kalo dua-duanya sih boleh2 aja…. profesor dan mroyek (asal ngak ninggalin ngajarnya)
    biasanya jadi prof, malah kebanjiran proyek :D
    hehehe

  5. Oemar Bakrie berkata:

    Dulu dalam beberapa acara Dikti kalau ada pembicara profesor wanita dan cantik, kita2 yg dari ITB selalu bercanda “nah ini pasti bukan dari ITB”. Soalnya kalau dari ITB dipastikan sudah tidak ‘cantik’ lagi (karena sudah tua … he he he).

    Kapan giliran Pak Rinaldi ?

    http://grandis.wordpress.com/2008/02/20/kapan-giliran-anda/

  6. Informatika ITB, meskipun usianya sudah 25 tahun, belum mempunyai seorang profesor pun. Bandingkan dengan Informatika ITS atau Ilmu Komputer UI yang sudah mempunyai profesor

    kabarnya untuk mendapatkan gelar professor di itb susah ya pak, selektif dan tidak sembarangan.??

  7. rinaldimunir berkata:

    @Oemar Bakri: oh, gitu ya, Pak? Kalau saya sih masih lama pak, ini S3 saja belum beres-beres.

    @sutanmudo: kalau selektif, pasti itu, tapi kalau susah kayaknya sih nggak, malah untuk kenaikan jabatan di ITB semakin dipermudah. Masalahnya, mau tidak seseorang mengurus kenaikan jabatan dan sudah berapa banyak kontribusinya.

    @aRul: tentu, “core bissnis ITB adalah pendidikan (pengajaran), kewajiban utama tidak boleh lalai karena ada pekerjaan sampingan.

  8. pebbie berkata:

    gelar profesor seharusnya merupakan peran dan tanggung-jawab bukan hanya sekedar keadaan. menjadi seorang profesor merupakan jembatan untuk melakukan hal-hal hebat berikutnya.

    sebaiknya kita bisa melihat, hal-hal hebat apa yang sudah dilakukan orang-orang sekitar kita setelah mendapat gelar profesor?

    atau justru karena birokrasi di negara kita mengenai status ke-profesor-an, mungkin telah banyak orang yang telah melakukan hal-hal hebat tanpa mendahulukan untuk mengurusi/mengejar gelar ini.

    semangat terus S3-nya pak, doakan saya segera menyusul S2 :)

  9. Brahmasta berkata:

    Ayo pak semangat S3-nya :D
    Sambil memberikan manfaat, sambil ngejar profesor Pak. Saya ikut doakan deh Pak.

  10. Dyah berkata:

    Mudah-mudahan dalam beberapa tahun ke depan ada rekan kami yang berhasil meraih jabatan profesor itu, yang jelas bukan saya, he..he.

    Hmmm… Meski bukan tujuan utama, menjadi profesor dalam beberapa tahun ke depan kan masih mungkin, Pak. Jadi, kenapa tidak?! :lol:

  11. iwansulistyo berkata:

    Salam Kenal, Pak Rinaldi.

    “….menjadi profesor termuda di ITB sebab usianya masih 38 tahun. Saya tidak tahu apakah dia menjadi profesor termuda di Indonesia juga?…”

    Ada yg lebih muda kok Pak, yakni Prof. Eko Prasojo (Guru Besar Administrasi FISIP UI).
    Beliau diangkat sebagai Guru Besar Tetap FISIP UI pada usia 35 Tahun 10 bulan. Linknya: http://ekoprasojo.com/

    Tapi aku ga tau apa ada yg lebih muda dari beliau?

    Trims. Salam sukses buat Bapak.

  12. rinaldimunir berkata:

    @Iwan: terima kasih atas infonya, maksud saya saat ini profesor termuda umur berapa? kalau Iwan Prasojo berapa usianya sekarang, apakah 35 tahun?

  13. iwansulistyo berkata:

    Wah, “Iwan Prasojo”?
    Pak Rinaldi berniat mendoakan saya tuk jadi Guru Besar? Amin…. hehehe :)

    Beliau lahir di Kijang, 21 Juli 1970. Berarti, di 2008 ini, Prof. Eko Prasojo berusia 38 thn, Pak.

    Artinya, tidak beda jauh dalam hal usia dengan sejawat Bapak Rinaldi, yakni Prof. Ismunandar.

    Mari kita dukung semua dosen untuk secepat mungkin bergelar guru besar. Saya do’akan Pak Rinaldi juga menyusul dikukuhkan. Amin.

    Semoga pendidikan di negeri kita bisa lebih baik di masa mendatang…. :)

  14. didin berkata:

    dua hari lalu suami (T.Fisika’98) sempat menanyakan, kenapa di IF kok belum punya profesor.. iya juga.. saya ingat-ingat belum ada profesor di IF, kurang lebih saya jawab, mungkin kurang rajin nulis.. wah gawat tuh kalau IF ga punya profesor, begitu celetuknya, karena takaran akademika dari produktifitas meneliti dan menulis, nanti kehilangan filosofi katanya…

    kebetulan lagi jalan-jalan di blog pak rin, kok ada topik yang sama… iya nih pak rin sy jg jadi bertanya2, kenapa di IF ga ada profesor yah…

  15. rinaldimunir berkata:

    @didin: bukan gak ada, tetapi belum. Tunggulah dalam waktu 1 tahun atau 2 tahun ini, bakal ada kejutan.

  16. tata berkata:

    Do’akan saya menjadi profesor kimia termuda selanjutnya setelah pak Ismu,

  17. anya berkata:

    loh bukannya Prof. Saswinadi Sasmojo tuh dari jurusan IF (CMIIW)

  18. Rinaldi Munir berkata:

    @anya: bukan, Pak Saswinadi adalah profesor dari Teknik Kimia

  19. Sholihun berkata:

    Hmmmm……… Saya mengucapkan selamat kepada teman Anda, Prof. Ismunandar….
    Mohon do’anya supaya saya bisa menyusul beliau… amiiin
    Sukses Slalu !

  20. Brian Marshal berkata:

    Pertama-tama saya turut senang dan bangga dengan prestasi Pak Ismunandar. Walau hanya sebentar, saya sempat diajarnya di FMIPA ITB dan saat itu memang sudah ada kabar beliau akan mendapatkan gelar profesor.
    Mengenai STEI sendiri, apakah Ibu Inge dan Pak Rila tidak sedang mengarah ke gelar profesor? Saya sendiri tertarik jika suatu saat dapat kesempatan berkontribusi kepada ITB, semoga saja.
    Terima kasih atas post yang menarik ini.

  21. rinaldimunir berkata:

    @Brian: nanti saya sampaikan salamnya ke Pak Ismu. Untuk STEI, Bu Inge dan Pak Rila belum terdengar gosip-gosip akan menjadi profesor., mungkin masih perlu waktu lebih lama.
    Tertarik jadi dosen di sini? Ayo selesaikan S3 karena syarat jadi dosen ITB harus sudah S3.

  22. mertayasa berkata:

    menurut saya guru besar adalah tiang negara dan untuk menjadi seorang guru besar tidak lah mudah . Hal yang utama yang mesti di lakukan untuk menjadi seorang profesor adalh menjalankan tri Dharma perguruan tinggi.sekian (merta) dari bali untuk indonesia

  23. edratna berkata:

    Harapannya sih…jika dosen bisa mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
    Dari sisi akademis, tentu jabatan Profesor sangat menantang…proyek juga perlu, bukan karena menghasilkan uang, namun jika dosen mengajar, nanti lebih mudah menceritakan aplikasi dilapangan. Bukankah lulusan PTN seperti ITB akan lebih banyak yang langsung terjun ke dunia riil (baik sebagai pengusaha, wirausaha, BUMN, Perusahaan sasta/nasional/asing)…….Dan juga, harapannya, agar masyarakat juga mendapatkan manfaatnya.

    Namun akhir2 ini ada gejala yang lain….beberapa teman/senior (padahal tak harus Doktor kan?), setelah menduduki jabatan tertentu mengambil gelar doktor di PT (PTN cukup terkenal)…dan saat sudah pensiun jadi dosen…lho kok tahu-tahu bisa profesor? Saya agak bingung, karena suami juga dosen, dan saya melihat, untuk meraih gelar profesor untuk yang benar2 berkecimpung di dunia akademi sulit…lha kok ini mudah ya…hanya dalam jangka waktu kurang dari 6 tahun (sejak mulai kuliah S3)….

  24. wahh dari sisi akademis gelar Profesor sangat menggiurkan dan sangat menantang. namun untuk mencapai target tersbut sangat susah sekali di indonesia.
    so mohon doanya buat saya agar bisa tercapai keinginan untuk jadi profesor engineering.

  25. mansyf berkata:

    kayaknya lagi rame nih ngomongin soal profesor.
    saya doain semoga semuanya menyusul jadi profesor.

    namun saya masih belum tau soal pengangkatan menjadi seorang profesor.

    siapa atau lembaga apa yang berwenang mengangkat seseorang jadi propesor?

    terima kasih ya pak atas info yang menarik ini..

    salam kenal.. dan semoga bapak sukses selalu.

  26. tumbuhsubur berkata:

    salam kenal pak ;)

    urun saran pak, kok mata dan kuping saya agak tergelitik dengan beberapa tulisan bapak, mohon maaf sebelumnya hehehehe :D
    Mudah-mudahan dalam beberapa tahun ke depan ada rekan kami yang berhasil meraih jabatan profesor itu, >> amin
    yang jelas bukan saya, he..he. >>jgn berkecil hati pak ^o^ … kemaren dulu saya juga dapat “warning” jangan ‘JARKONI’ alias ‘iso ngajar ga iso ngelakoni’ :p hehehehehehe
    monggo pak, sama2 berjuang, walaupun beda dimensi dan dunia yang dihadapi ;)

    maju terus civitas akademika indonesia ;)

  27. rahmayani_alwi berkata:

    pengen jadi profesor … tp, syaratnya lumayan berat

  28. udin jaro berkata:

    emangnya kalo di perguruan tinggi ada prosesornya eh salah, profesornya apa mahasiswanya jadi pintar semua??????????

  29. Sony Irawan berkata:

    Ooooh….jd gitu ya Pak syarat jd seorang Profesor,hrs jd dosen dulu. Kirain buat jd Profesor,sesorang hrs menciptakan suatu teori baru dan teori itu diakui oleh pihak Akademisi. Wah,berarti saya gk mgkn jd Profesor dong,soalnya saya bkn dosen. Tp gk masalah,sy dah bersyukur skrg bisa melanjutkan studi S2 di Fak.Kesehatan Masyarakat Univ. Airlangga Surabaya. Do’ain saya bisa melanjutkan pendidikan hingga jenjang S3 ya Pak. Dan sayapun berdo’a,smg Bapak bisa segera meraih gelarr S3 dan nantinya bisa mendapatkan jabatan Profesor juga. Amiiiin…..

  30. stevanny ayu greceva berkata:

    enaknya penulis atau professor yah???

  31. estriana46 berkata:

    Jadi sebenarnya profesor itu gelar atau jabatan?
    Lantas, berapa tepatnya jumlah makalah yang harus ditulisnya?
    Nuhun…

  32. dwinisyatulwardah berkata:

    saya ingin menjadi profesor

  33. Rido Pratama berkata:

    weleh2…………………kan lbih baik mencita-citakan professor yang bertakwa….jdi manfaat dunia dan akhirat………slam smua.a….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s