Menjadi Profesor dalam Usia Muda
Mei 7, 2008 oleh rinaldimunir
Teman saya di Progarm Studi Kimia, Ismunandar, meraih gelar Profesor baru-baru ini. Dia menjadi profesor termuda di ITB sebab usianya masih 38 tahun. Saya tidak tahu apakah dia menjadi profesor termuda di Indonesia juga?
Menjadi profesor adalah cita-cita tertinggi seorang dosen. Siapa sih yang tidak ingin menjadi profesor? Untuk meraih gelar ini syaratnya berat. Yang utama adalah jumlah karya tulis (makalah) di jurnal-jurnal internasional. Di ITB banyak dosen yang hebat-hebat namun mereka susah naik ke jabatan yang lebih tinggi (jabatan dosen itu ada 4 macam: asisten ahli, lektor, lektor kepala, dan profesor). Penyebabnya adalah karena jarang menulis makalah, baik untuk konferensi nasional/internasional maupun untuk jurnal nasional/internasional. Padahal, kualitas seorang akademisi diukur dari karya tulisnya: Berapa banyak makalah yang telah dia tulis? Berapa banyak makalahnya dikutip (citation) oleh pemakalah lain? (di http://scholar.google.com kita dapat melihat citation ini). Berapa banyak makalahnya dimuat di jurnal internasional? (untuk kalangan akademisi Teknik Elektro dan Informatika, pemuatan makalah di jurnal IEEE merupakan pencapaian tertinggi sebab sangat sulit untuk menembus jurnal tersebut). Kalau seorang akademisi tidak menulis bagaimana kita dapat mengukur kapasitas intelektualnya? Disinilah pentingnya kemampuan menulis itu dilatih sejak menjadi mahasiswa.
Banyak dosen lebih senang mroyek (mengerjakan proyek)daripada menulis sebab mroyek mendatangkan uang (bandingkan dengan menulis makalah yang justru harus keluar uang andaikata makalah kita hendak dimuat di jurnal/proceeding). Tapi jumlah proyek tidak menjadi ukuran kapasitas intelektual seseorang. Mroyek tidak lebih dari ‘pengamalan’ ilmu yang dimiliki untuk kepentingan klien. Proyek selesai, dosen dapat uang. Jadi, mroyek itu memberikan kemaslahan untuk diri si dosen dan keluarganya saja. Bandingkan dengan menulis makalah, makalah kita berguna untuk kemajuan ilmu pengetahuan yang pada akhirnya bermuara untuk kemaslahatan ummat manusia.
Informatika ITB, meskipun usianya sudah 25 tahun, belum mempunyai seorang profesor pun. Bandingkan dengan Informatika ITS atau Ilmu Komputer UI yang sudah mempunyai profesor. Penyebabnya ya seperti yang saya sebutkan di atas. Mudah-mudahan dalam beberapa tahun ke depan ada rekan kami yang berhasil meraih jabatan profesor itu, yang jelas bukan saya, he..he.
Lho, harusnya Pak Rin yg mulai usaha jadi prosesor eh profesor
Didoain deh pak
Saya doakan biar bapak bisa… AMIIINNN…. sudah lama gak ada professor nih…. Sayangnya Bu Inge atawa pak Farid Wazdi gak maw jadi prof… menurut saya udah skill banget….
@rasuqi dan ivan: keinginan itu ada, tetapi bukan tujuan utama. Mengalir sajalah. Yang penting diri ini bisa memberikan manfaat buat mahasiswa dan orang lain.
tapi kalo dua-duanya sih boleh2 aja…. profesor dan mroyek (asal ngak ninggalin ngajarnya)
biasanya jadi prof, malah kebanjiran proyek
hehehe
Dulu dalam beberapa acara Dikti kalau ada pembicara profesor wanita dan cantik, kita2 yg dari ITB selalu bercanda “nah ini pasti bukan dari ITB”. Soalnya kalau dari ITB dipastikan sudah tidak ‘cantik’ lagi (karena sudah tua … he he he).
Kapan giliran Pak Rinaldi ?
http://grandis.wordpress.com/2008/02/20/kapan-giliran-anda/
Informatika ITB, meskipun usianya sudah 25 tahun, belum mempunyai seorang profesor pun. Bandingkan dengan Informatika ITS atau Ilmu Komputer UI yang sudah mempunyai profesor
kabarnya untuk mendapatkan gelar professor di itb susah ya pak, selektif dan tidak sembarangan.??
@Oemar Bakri: oh, gitu ya, Pak? Kalau saya sih masih lama pak, ini S3 saja belum beres-beres.
@sutanmudo: kalau selektif, pasti itu, tapi kalau susah kayaknya sih nggak, malah untuk kenaikan jabatan di ITB semakin dipermudah. Masalahnya, mau tidak seseorang mengurus kenaikan jabatan dan sudah berapa banyak kontribusinya.
@aRul: tentu, “core bissnis ITB adalah pendidikan (pengajaran), kewajiban utama tidak boleh lalai karena ada pekerjaan sampingan.
gelar profesor seharusnya merupakan peran dan tanggung-jawab bukan hanya sekedar keadaan. menjadi seorang profesor merupakan jembatan untuk melakukan hal-hal hebat berikutnya.
sebaiknya kita bisa melihat, hal-hal hebat apa yang sudah dilakukan orang-orang sekitar kita setelah mendapat gelar profesor?
atau justru karena birokrasi di negara kita mengenai status ke-profesor-an, mungkin telah banyak orang yang telah melakukan hal-hal hebat tanpa mendahulukan untuk mengurusi/mengejar gelar ini.
semangat terus S3-nya pak, doakan saya segera menyusul S2
Ayo pak semangat S3-nya
Sambil memberikan manfaat, sambil ngejar profesor Pak. Saya ikut doakan deh Pak.
Hmmm… Meski bukan tujuan utama, menjadi profesor dalam beberapa tahun ke depan kan masih mungkin, Pak. Jadi, kenapa tidak?!
Salam Kenal, Pak Rinaldi.
“….menjadi profesor termuda di ITB sebab usianya masih 38 tahun. Saya tidak tahu apakah dia menjadi profesor termuda di Indonesia juga?…”
Ada yg lebih muda kok Pak, yakni Prof. Eko Prasojo (Guru Besar Administrasi FISIP UI).
Beliau diangkat sebagai Guru Besar Tetap FISIP UI pada usia 35 Tahun 10 bulan. Linknya: http://ekoprasojo.com/
Tapi aku ga tau apa ada yg lebih muda dari beliau?
Trims. Salam sukses buat Bapak.
@Iwan: terima kasih atas infonya, maksud saya saat ini profesor termuda umur berapa? kalau Iwan Prasojo berapa usianya sekarang, apakah 35 tahun?
Wah, “Iwan Prasojo”?
Pak Rinaldi berniat mendoakan saya tuk jadi Guru Besar? Amin…. hehehe
Beliau lahir di Kijang, 21 Juli 1970. Berarti, di 2008 ini, Prof. Eko Prasojo berusia 38 thn, Pak.
Artinya, tidak beda jauh dalam hal usia dengan sejawat Bapak Rinaldi, yakni Prof. Ismunandar.
Mari kita dukung semua dosen untuk secepat mungkin bergelar guru besar. Saya do’akan Pak Rinaldi juga menyusul dikukuhkan. Amin.
Semoga pendidikan di negeri kita bisa lebih baik di masa mendatang….
dua hari lalu suami (T.Fisika’9
sempat menanyakan, kenapa di IF kok belum punya profesor.. iya juga.. saya ingat-ingat belum ada profesor di IF, kurang lebih saya jawab, mungkin kurang rajin nulis.. wah gawat tuh kalau IF ga punya profesor, begitu celetuknya, karena takaran akademika dari produktifitas meneliti dan menulis, nanti kehilangan filosofi katanya…
kebetulan lagi jalan-jalan di blog pak rin, kok ada topik yang sama… iya nih pak rin sy jg jadi bertanya2, kenapa di IF ga ada profesor yah…
@didin: bukan gak ada, tetapi belum. Tunggulah dalam waktu 1 tahun atau 2 tahun ini, bakal ada kejutan.
Do’akan saya menjadi profesor kimia termuda selanjutnya setelah pak Ismu,
loh bukannya Prof. Saswinadi Sasmojo tuh dari jurusan IF (CMIIW)
@anya: bukan, Pak Saswinadi adalah profesor dari Teknik Kimia