Sulit Mencari Gas Elpiji
Mei 13, 2008 oleh rinaldimunir
Di Bandung barang apa yang langka saat ini? Jawabannya adalah gas elpiji. Sungguh cape mencari gas elpiji kemana-mana. Saya tanya ke agen-agen selalu jawabannya: kosong. Kalau pun ada, harganya melambung tinggi: 100.000 rupiah mas.. (ukuran tabung 12 kg). Biasanya sih hanya Rp 51.000 saja. Beberapa orang mang-mang saya lihat menjajakan gas epiji dengan mengunakan beca, mereka masuk kampung keluar kampung. Harga yang mereka tawarkan 2 kali lipat harga nomal. Banyak juga orang yang membelinya, habis butuh sih, harga berapapun akan dibeli.
Saya baca di koran lokal, antrian orang di Jalan Emong Bandung (agen resmi gas elpiji di Bandung) tidak pernah berakhir selama satu bulan ini. Ada yang antri mulai jam 2 pagi hanya untuk mendapatkan 2 unit tabung gas elpiji. Panjang antrian sudah mencapai ratusan meter. Sekarang yang antri adalah para calo antri, sementara pembeli sesungguhnya menunggu di luar antrian. Setiap calo antri mendapat upah Rp 5000 untuk setiap tabung. Berita “mengerikan” datang kemaren, bahwa pabrik gas elpiji di Balongan Indramayu rusak dan berhenti beroperasi. Pasokan gas ke Bandung otomatis terhenti. Gas semakin sulit didapat. Sejak saat itu pengantri di jalan Emong hanya boleh membeli satu tabung gas saja.
Tetangga saya sudah 5 hari tidak bisa memasak karena tidak ada gas. Sementara di rumah kami persediaan gas semakin menipis. Untunglah kami tidak biasa memasak sehingga persediaan gas bisa dihemat. Kompor gas hanya digunakan untuk memasak air mandi untuk anak, menghangatkan makanan, dan memasak sayur. Kalau nasi dimasak dengan penanak nasi listrik (rice cooker). Kalau lauk pauk cukup membeli di rumah makan atau di warung. Air minum pakai air kemasan galon saja. Praktis persediaan gas di rumah bisa dihemat. Tapi kalau hingga akhir pekan ini gas tetap langka di pasaran, saya mulai akan bingung karena dalam pekan ini persediaan gas di rumah akan habis. Saya belum berminat ikut antri di jalan Emong.
Mau ganti ke kompor minyak tanah? Ini alternatif yang saya pikirkan, tetapi kata orang minyak tanah juga sulit diperoleh. Minyak tanah sama langkanya dengan gas elpiji. Program konversi minyak tanah ke gas elpiji menyebabkan pasokan minyak tanah berkurang.
Kalau minyak tanah juga sulit didapat, apa pakai kayu bakar saja lagi ya? Kembali ke zaman dulu, kalau begitu.
Saya tidak habis pikir kenapa gas elpiji sulit diperoleh? Apakah ada yang menimbunnya guna mencari keuntungan besar menjelang kenaikan harga BBM dalam waktu dekat ini? Ataukah pelaku usaha (restoran, industri, dll) yang biasanya menggunakan tabung gas ukuran 50 kg beralih ke tabung gas 12 kg sehingga mereka memborong gas elpiji ukuran 12 kg?
Yang jelas, hidup sekarang ini makin susah saja. Kasihan rakyat kecil, tentu mereka makin menderita kalau harga BBM benar-benar mau dinaikkan Pemerintah. Meski harga BBM belum resmi naik, tetapi harga-harga barang dan jasa sudah berebut naik duluan (lebih tepat disebut “ganti harga”). Kenaikan harga BBM berefek domino. Jika harga BBM naik, maka ongkos transportasi ikut naik. Karena barang kebutuhan diangkut dengan alat transpotasi, maka jika ongkos transportasi naik, maka harga barang kebutuhan pasti ikut naik. Jika harga barang kebutuhan naik, maka tarif barang dan jasa yang menggunakan barang kebutuhan tidak mau kalah ikut naik. Pokoknya semuanya berlomba-lomba naik.
Tetapi ada satu yang tidak naik, yaitu harga diri.
kasihan pak, ada yang rela ngantri minyak tanah dan hanya membeli 1-2 liter karena mampunya cuma segitu. dibandingkan orang lain yang ngantri beli minimal 5 liter.
mosok, masih disuruh pake gas?
kadang, saya heran orang-orang kok banyak yang senang ‘merasa miskin’ sehingga yang sebetulnya berhak (yang memang benar-benar miskin) menjadi terabaikan haknya.
@pebbie: begitulah, Peb, banyak kepura-puraan disekitar kita.
Ada lagi yang tidak naik pak, bahkan selalu turun
Air hujan…..
Alhamdulillah ini rejeki hujan gak habis2 diturunkan dari atas
Ya harga BBM naik karena pemerintahnya bego banget dan gak berani bertindak membela rakyat, mau pake alasan apapun, faktanya Indonesia adalah anggota OPEC (alias pengeksport minyak) walau rencananya mau keluar….
Artinya Indonesia kalau sudah bisa export minyak berarti kebutuhan dalam negeri terpenuhi dong, ah ternyata yang dieksport minyak mentah… dan import kembali bensin, solar, minyak tanah….
basi dan capek mengomentari ini pak, 65 tahun merdeka bikin minyak mentah jadi bensin aja kagak mampu atau kagak mau? 220jt jiwa manusia Indonesia gak mungkin bego semua, kalau mau belajar pasti bisa produksi sendiri bensin, minyak tanah, solar, dan lain2…
Panas juga denger komentar JK, harga minyak di Indonesia tergolong murah dibanding negara2 ASEAN, aduh ini wapres dasar sejak lahir sudah tajir……. jadi susah disuruh mikir jadi orang kere…. moga2 aje dia ngerasain kere lah sekali2 biar tau rasanya kere…
OK di Singapura skrg 1 liter premium emang 2 dolar alias 13 ribu rupiah, tp bandingin juga dong daya beli masy. Singapura yang tinggi dengan daya beli masy. Indonesia yang rendah, jangan bandingin dengan sama kantong lu pak JK, aduh pak bapak ini wapres apa gorila sih….
Sudah gitu Singapura apa2 import, jadi wajar mahal, lah Indonesia… aduh… cape deh………
Apalagi denger BLT (Bantuan Langsung Tunai) asli… pemerintah arghhhhhhhhhhhhhhhh KALIAN PEMERINTAH HARUS NGERASAIN jadi orang KEREEEEE yang ANTRI BLT deh….. biar gak asal ngoceh
Kalau APBN harus diselamatkan karena BBM tinggi solusinya
1. Turunkan gaji pejabat
2. Hukum mati koruptor dan sita kekayaannya
3. Nasionalisasi industri energi dan sumber daya Indonesia
4. Jangan export minyak kalau masih import minyak
gimana caranya cari tau ubah minyak mentah jadi minyak
mateng. Penuhi kebutuhan dalam negeri baru sisanya
diexport
5. Pikirin tuh rupiah, rupiah itu aneh kok ya dipakeeeeeeeeeee terus, dolar naik, rupiah melemah, dolar turun terhadap mata uang lain (EURO dan lain2 menguat terhadap dolar), ealah rupiah tetap aja menurun terhadap dolar…………
Apa pemerintah gak punya ahli ekonomi yang bisa ngurusin rupiah, kenapa rupiah dibiarkan menggila inflasinya….
ganti aja kalau perlu dah.
dulu saya makan cuman 500 perak, 5 tahun kemudian 3500, skrg tau deh… tambah BBM naik lagi, kata orang jawa, duit tambah ora mbejaji….
Apalagi inget ITB skrg mahal banget….. arghhhhh cape cape cape.. c spasi d, cape deh
Maaf pak emosi saya, maklum rakyat jelata, bisanya protes…. hehehe
Om ady, sabar oom. Inget anaak
Tapi iya lah, pemimpin zaman sekarang bukan pemimpin ideal, jauuuh sekali…
Dicari:
Pemimpin yg tidak mau jadi pemimpin, kenyang terakhir setelah rakyatnya…
Kalo back to nature, gimana pak? masak di dapur pake Hawu (anglo) konsekuensinya banyak pohon kehilangan nyawa.
setau saya, kilang balongan sedang ada yang rusak, jadi pasokan elpiji menurun
@Ady: sabar, Dy, sabar… . Sekarang kamu bukan rakyat jelata lagi ‘kan? Sudah jadi “orang” nih di negeri Singa
@kawahyu: yup, ada yang dikorbankan kalau pakai kayu bakar.
@maxbreaker: sebelum kilang Balongan rusak, pasokan gas di bandung juga sudah bermasalah satu bulan ini.
Mau urun rembug, 2 kali entri komentar, gak nongol-2. Belum diapprove sama P Rin ya Pak ?
anikeren: masuk kok, Muji, coba lihat semua komentar yang kamu kirim dulu2, semua ada.
Pak Jam-nya wordpress dibetulin dong
masak komentarnya bapak no. 9
“di/pada Mei 14, 2008 pada 6:21 am”
skrg kan jam 3 sorean
hehehehe
Betul pak sabar, terima kasih, saya di sini juga sama saja jadi babu… bedanya hidupnya lebih teratur, gak macet, gak polutif, naik angkutan umum nyaman, kriminalitas rendah….
Waduh pak hidup di Jkt dulu, kemana2 naik metromini/kopaja, udah panas, polusi, depan belakang copet, umpel2an… kalau bapak pernah hidup di jkt kayak saya (4 tahun) pasti kerasa banget deh susahnya hidup di Jakarta
itu kenapa orang2 di Jkt berlomba2… beli mobil, karena walau macet di dalem mobil tetep adem ayem…
nah si JK ini (jarwo kuat lho pak), lagi2 berdalih subsidi BBM dinikmati orang mampu (orang yang pake mobil) …waduhhhhhhhhhhh kelamaan di jkt sih pak JK… cape deh……… dia gak tau di daerah gimana, harusnya istana wapres itu di gunungkidul yang air aja susah, nah lho baru deh menghargai sama yang cari air seember aja susah…..
Untuk urusan BBM dan Gas Bumi ini kita salah disain dari awal. Terlalu lama kita menikmati harga bersubsidi, repotnya dana yang digunakan untuk subsidi sebagian besar berasal dari hutang. Celakanya lagi sebagian hutang - hutang itu dikemplang oknum juga. Sekarang harga di pasar dunia semakin melonjak dan hutang tidak ada lagi, maka mau tidak mau harga rakyat harus naik, karena Pemerintah tidak (mau) menemukan solusi untuk mempertahankan subsidi.
Memang masalah BBM dan Gas konsumsi rakyat ini komplek, carut marut dan campur aduk antara -paling tidak - aspek ekonomi dan politis (mohon maaf, sisi sosial kemasyarakatan tidak dihitung di sini). Dari aspek ekonomi
paling tidak ada DEPKEU, BAPPENAS, DEPDAG, DEPERIND, dan ESDM. Mereka terlibat dengan porsi masing masing dan kepentingam masing - masing. Masalah jadi tambah runyam karena koordinasi antar mereka jauh dari optimal. Suasana
diperkeruh dengan banyaknya orang punya modal duwit maupun kekuasaan yang bermain. BBM dan Gas subsidi untuk rakyat dibelokkan baik ke luar negeri maupun dijual ke industri untuk menangguk untung besar - besaran.
Aspek politik ? Hemmms, terlalu rumit untuk diurai…: Hiks
Sebenarnya, solusinya ada. Thailand sebagai salah satu contoh, sudah membuktikan mereka bisa menyelesaikan masalah ini. Mereka tidak punya ladang migas berlimpah seperti kita, tetapi tidak pernah terdengar kelangkaan
energi migas yang membuat rakyat kecil menderita. Bahkan mereka bisa ekspor BBM meskipun harus impor minyak mentah.
http://moedjionosadikin.wordpress.com/2008/03/04/kegiatan-hilir-minyak-gas-b
umi-di-thailand/
Ini sebaliknya dengan kita, produksi BBM kita sehari = 1.3 juta barel, maka kita harus impor. Itulah kenapa, secara defacto sebenarnya kita bukan kategori OPEC lagi.
Sebenarnya selain menaikkan harga bbm ada solusi lain yang bisa dilakukan untuk tetap menyediakan dana subsidi.Sekedar gambaran saja, produksi minyak mentah kita kl 900ribu barel minyak mentah / hari, harga minyak mintah rata - rata 120 USD / barel sekarang. Sementara cost produksi antar USD 9-12 dollar/barel (rasanya ini diluar biaya eksplorasi nya) Kalau saja cost produksi yang ditanggung pemerintah (istilahnya cost recovery) dapat
diturunkan sampai dengan 1 USD / barel saja, kta akan bisa saving 900 ribu USD per hari, artinya kl 8.5M sehari kita bisa hemat. Setahun sekitar 3.5 T.
Lumayan, banyak orang miskin bisa dibantu dengan dana ini. Dan harusnya efisiensi 1 USD/Barel ini bisa. Malaysia dan negara-2 di North Sea produsen minyak mentah, cost produksi mereka jauh dibawah kita (antara 3.6 - 6 USD
per barel). Selain itu saya yakin ada solusi - solusi lain yang kreatif dan inovatif. Para ahli MIGAS (hulu maupun hilir) pasti lebih cerdik dalam hal ini. Oh ya, kemarin P Drajad Wibowo bicara di Metrotv mengenai efisiensi PERTAMINA yang sebenarnya bisa ditingkatkan juga.Data - data yang saya paparkan di sini mungkin tidak tepat karena saya memang bukan ahli di sini, tetapi bahwa efisiensi sangat mungkin dilakukan -tidak hanya di sektor migas - rasanya kita semua sepakat bukan?
Memang saat ini kita dalam kondisi susah dan sulit, tetapi jangan sampai membuat kita mutung, putus asa.
http://moedjionosadikin.wordpress.com/2008/03/28/pak-cool-yang-orang-swedia-
saja-optimis-mengapa-kita-tidak/
Salam
Mujiono Sadikin
http://moedjionosadikin.wordpress.com
PT. Suar Amarta Solusindo
a Services & Advanced Solution Company
Wisma Bumiputera 9th floor
Jl. Sudirman Kav 15
Jakarta 12190
Ph +62 21 5224581
Fax + 62 21 5224582
http://www.suaramarta.co.id
081510109832
Sorry Pak Rin, koreksi alinea ke 3…
Seharusnya “Ini kebalikan dengan kita, produksi BBM kita tidak sampai 1 juta barel / hari tetapi kebutuhan kita 1.3 juta barel per hari, maka kita harus impor. Itulah kenapa secara defacto sebenarnya kita bukan kategori OPEC lagi”
Terimakasih..