“…Saya datang ke Institut Teknologi Bandung untuk menghadiri acara wisuda. Hampir 15 dari 30 orang rekan saya yang diwisuda, memutuskan untuk bekerja di negeri orang (Singapura. Red), termasuk orang yang saya kasihi..”, demikian tulis Narenda Wicaksono, salah seorang alumni Informatika ITB angkatan 2002 di dalam blognya (http://wss-id.org/blogs/narenda/archive/2008/04/03/berbuat-sesuatu-demi-bangsa.aspx”). Lanjutannya: “Bagi saya sendiri, tawaran bekerja di luar memang terkadang cukup menggiurkan. Namun kalo kita tilik lagi, ternyata banyak yang bisa kita lakukan di negeri ini. Klo kita pergi, siapa lagi yang akan membangun bangsa ini.”
Tulisan Narenda itu cukup lama mengusik saya. Kami di ITB mendidik mahasiswa-mahasiswa cerdas, lalu setelah mereka lulus eh… mereka “diambil” negeri orang. Apa untung ruginya bekerja di luar negeri bagi bangsa ini?
Ruginya, jelas bangsa kita kehilangan aset sumberdaya manusia yang berharga, sebab mereka bekerja untuk perusahaan di negara lain. Selain itu, dari sisi ekonomi, devisa mereka jelas masuk ke negara tempat bekerja, sebab penghasilan mereka tentu terkena pajak dan pajak itu buat negara yang bersangkutan.
Sebenarnya “kerugian” itu sudah dialami negara kita pada siswa SMA. Banyak siswa-siswa SMA pemenang olimpiade fisika, komputer, dan lain-lain diincar oleh Singapura. Universitas-universitas di Indonesia, termasuk ITB, kurang gesit menggaet mereka. ITB misalnya, terkesan menunggu. Jika siswa pemenang olimpide itu tidak mengajukan permohonan menjadi mahasiswa ITB, ya ITB juga tidak menawari mereka kuliah di sini. Kalaupun sudah diterima di ITB, mereka tidak diberi beasiswa atau fasilitas apapun. Nah, negeri singa tahu kalau Indonesia mempunyai banyak siswa-siswa unggul, sementara di negara mereka jumlah penduduk sedikit sehingga kesulitan mencari mahasiswa berkualitas. Untuk mempertahankan kualitas perguruan tinggi mereka sebagai perguruan tinggi kelas dunia, mau tidak mau mereka harus memiliki bibit unggul. Negeri singa itu tahu betul kalau banyak siswa Indonesia yang cerdas tetapi tidak mampu kuliah karena alasan ekonomi. Nah, mereka “memburu” siswa-siswa pemenang olimpiade. Siswa-siswa itu ditawari beasiswa untuk kuliah di negeri singa (tidak tertutup kemungkinan di beberapa negara lain). Di Singapura kebanyakan mereka ditawari kuliah di Nanyang Technology University (NTU). Uang kuliah gratis bahkan mendapat beasiswa lagi. Setelah lulus dari NTU, banyak dari siswa pemenang olimpiade itu tidak kembali lagi ke tanah air. Mereka ditawari bekerja di Singapura lagi, atau studi lanjutan (Magsiter dan Doktor) di luar negeri (yang jelas bukan di Indonesia). Yang untung ya Singapura sementara Indonesia tinggal gigit jari saja.
Tapi bukan berarti bekerja di luar negeri tidak ada keuntungannya lho. Bagi ITB sendiri, alumninya bekerja di luar negeri berarti sebuah pengakuan dari dunia global terhadap mutu lulusannya. Ini pertanda bahwa mutu lulusan ITB sudah berstandar internasional, buktinya mereka diterima di banyak perusahaan di banyak negara. Menurut pendapat saya, selama mereka bekerja di negara luar untuk menimba pengalaman (sekaligus mengumpukan uang) tentu sah-sah saja. Yang penting mereka nanti kembali pulang untuk membangun dunia TI di Indonesia. Bagaimanapun bangsa ini membutuhkan ketrampilan dan pengalaman mereka untuk memajukan TI di tanah air.
Bagaimana jika mereka tidak mau pulang dan tetap memilih bekerja di luar negeri? (mungkin mereka melihat tidak ada prospek di tanah air). Kalau hal ini yang terjadi jelas disayangkan. Kuncinya terletak pada “panggilan hati”. Jika anda ingin berbuat sesuatu untuk bangsa ini, maka pulanglah dan bekerja untuk memajukan tanah air. Jangan menunggu ada pekerjaan, tetapi buatlah pekerjaan.
Di antara pembaca tulisan saya ini banyak alumni ITB, khususnya Informatika, yang bekerja di luar negeri. Coba ceritakan apa alasanmu mau bekerja di luar negeri, kenapa tidak mau berbasah-basahan bekerja di Indonesia saja. Apakah karena uang atau yang lainnya?
26 tanggapan so far ↓
Habib // 17 Mei 2008 pada 07:07 |
Pak Rin, ada seorang senior saya yang sekarang bekerja di Eropa. Sebetulnya beliau berencana untuk menjadi dosen di Indonesia, namun setelah berdiskusi dengan salah seorang dekan ITB, beliau dianjurkan untuk mengambil tawaran kerja di Eropa, bukan untuk sekedar mencari uang dan pengalaman, tapi untuk membina karir sampai level yang cukup tinggi. Alasannya, setelah berhasil sampai ke posisi yang tinggi, beliau akan punya kesempatan untuk “membawa” pekerjaan tersebut ke Indonesia. Dengan kata lain niatnya adalah untuk “membuka keran” kesempatan kerja dengan level internasional ke Indonesia.
sandy eggi // 17 Mei 2008 pada 14:38 |
Saya mendengar juga lulusan universitas di Indonesia selain ITB juga, yang sangat ingin meniti karir menjadi pengajar di kampusnya tetapi karena sistem yang penerimaan yang sulit akhirnya memilih melanjutkan di negara lain….diambil lah dia oleh kampus negeri orang ….
rinaldimunir // 17 Mei 2008 pada 14:45 |
@Sandy: sebenarnya gak sulit, tetapi persyaratan itu dibuat untuk peningkatan mutu juga. Syarat menjadi dosen di PTN di Indonesia (aturan Dikti) adalah sudah S2. Untuk ITB lebih berat lagi, harus sudah S3. Bagi para alumni IF yang ingin berkarir jadi dosen di sini, kuliah dulu hingga mencapai doktor, lalu lamar menjadi dosen di sini.
@Habib: membina karir kan berarti menimba pengalaman juga kan?
pebbie // 17 Mei 2008 pada 14:59 |
lulusan ITB yang melanjutkan di luar negri apakah juga bukan mengurangi tenaga pendukung riset? padahal katanya ITB mau jadi world class univ.
pebbie // 17 Mei 2008 pada 15:01 |
pak, kalo tinggal di Indonesia dan menerima pekerjaan dari luar negri (freelance ato remote-work) bedanya apa ya pak?
rinaldimunir // 17 Mei 2008 pada 15:14 |
@pebbie: nah itu susahnya menggolongkan yang kamu maksudkan di zaman sekarang Peb. Keberadaan Internet membuat batas-batas negara menjadi kabur. Kita bisa bekerja di mana saja dan kapan saja tanpa terikat ruang dan waktu. Menurut saya, bekerja secara remote tidak bisa dikategorikan di dalam maupun di luar negeri, tetapi bekerja “di mana-mana”. Bingung kan?
sandy eggi // 17 Mei 2008 pada 20:11 |
sulit yang saya maksud bukan masalah kompetensi. tapi relasi
entah kalo di ITB dah tidak pake relasi2an …
adywicaksono // 18 Mei 2008 pada 14:54 |
Sharing saja, motivasi utama saya kerja di luar negeri (Singapura)
karena uang & kenyamanan hidup:
Karena di Indonesia saya pernah kerja di Jakarta & Bandung, saya coba
bandingkan dengan dua kota tersebut saja
Soal Penghasilan bulanan:
– Singapura nomor 1 secara jumlah, disusul Jakarta, dan Bandung
Soal Simpanan dari Salary (Salary dikurangi Living Cost):
– Singapura nomor 1 secara jumlah, disusul Jakarta, dan Bandung
Soal Kriminalitas:
– Jakarta nomor 1 (paling banyak bandit), diikuti Bandung, dan Singapura (sangat rendah)
Soal Biaya Hidup (relatif terhadap Salary):
– Jakarta nomor 1, diikuti Singapura dan Bandung
Soal Kenyamanan Hidup (suasana hidup):
– Bandung nomor 1, diikuti Singapura dan Jakarta
Soal Kebutuhan Transportasi:
– Singapura nomor 1, diikuti Bandung… jakarta mungkin tidak usah ikut rangking
karena transportasi umum jelek
Soal Kemacetan & Polusi:
– Jakarta nomor 1, diikuti Bandung dan Singapura
Soal Kesehatan (Rumah Sakit) dari sisi pelayanan:
– Singapura nomor 1, diikuti Bandung dan Jakarta
di Singapura sejauh mata memandang, pasien di layani dahulu baru ditagih
di Jakarta tidak jarang kita denger, pasien ditanyain uangnya dulu baru dilayani
Soal Kesehatan (Rumah Sakit) dari sisi ongkos:
– Jakarta paling mahal, diikuti Singapura dan Bandung
Soal Layanan Internet dari sisi kecepatan & biaya:
– Singapura nomor 1, diikuti Jakarta dan Bandung
Murah, broadband (cepat aksesnya), unlimited
Soal Mudik:
– Dari Jakarta, Bandung, Singapura ke Magelang … sama saja secara waktu
Dari Singapura:
* Rumah – Changi (30 menit) + 1 Jam menunggu Pesawat + 2,75 jam Sampai Solo – Solo rumah pake mobil sewa
* Rumah – Changi (30 menit) + 1 Jam menunggu pesawat + 1,5 jam sampai Cengkareng + (x jam saya lupa) Cengkareng Yogya
Dari Jakarta/Bandung
bisa batal naik pesawat
* ke bandara musti cepat kalau gak macet
dari bandung juga 2-3 jam sebelumnya, jadi ya sama aja lah…. dari rumah ke Changi hehehe
Soal kemudahan bernisnis:
– Di Singapura bikin Pte Ltd (setara PT di Indonesia), modal minimum disetor 1 SGD saja (6700 rupiah)
di Indonesia modal disetor untuk PT adalah 25% dari modal minimum (20jt) -> 5 juta rupiah
selain itu registrasi legalitas hukum Pte Ltd hanya 300 SGD
di Indonesia sktr 7jt
Ini adalah salah satu kendala berbisnis di Indonesia, biaya setup “nama” saja sudah habis 12jt
di Singapura hanya 301 SGD atau sktr 1,9jt rupiah.
Khusus untuk bisnis IT yang bersifat project, di Indonesia rawan sogok menyogok sehingga tidak maksimal.
Soal SGP vs Indonesia dan Jakarta/Bandung vs Kampung Halaman
– Sebenarnya merantau ke Singapura dari Indonesia tak ubahnya rekan2 merantau
dari desa ke kota (kalau saya dari Magelang ke Bandung ke Jakarta), faktor perbaikan
ekonomi yang dicari, membicarakan tenaga Indonesia di luar negeri balik ke dalam negeri
seperti membicarakan perantau di Jakarta suruh balik ke desanya masing2 (dari sisi ekonomi saja)
Beberapa poin yang saya kurang setuju 100%:
- Klo kita pergi, siapa lagi yang akan membangun bangsa ini
Karena:
———-
Yang membangun Indonesia memang bangsa Indonesia, namun jangan dikira
perantau2 Indonesia di luar negeri tidak ikut membangun, contohnya:
> TKW (Tenaga Kerja Wanita) di luar negeri konon menjadi salah satu
pahlawan devisa negara
> Semakin banyak orang Indonesia di luar negeri, komunitas Indonesia
di negara yang bersangkutan akan besar dan secara natural
bisnis antara orang Indo di luar negeri dan dalam negeri akan meningkat
Lihat saja China & India
– tak usah jauh2 di Glodok sana pedagang mayoritas adalah orang ras Cina,
kenapa Cina karena mereka ditopang oleh negara2 di atasnya Singapura
Taiwan, Hongkong & China Mainland (RRC) secara bisnis…. yang notabene sama2 ras Cina
– India jadi gudang outsource software2 US, kenapa? Karena buanyakkk orang India sukses di
US… dan order2 pun mengalir dari US ke India secara natural
– Sudah rahasia umum,
– Saya bermimpi suatu ketika orang Indonesia sangat banyak di Eropa/US saja, sehingga
order2 bisa dioutsource ke Indonesia
Intinya, bumi ini bumi Allah, bertebaranlah di mana saja tapi tetap berpegang pada jalan Allah
tunaikan sholat & zakat…
rsauqi // 19 Mei 2008 pada 07:20 |
Menurut saya, adalah hak pribadi masing2 untuk menentukan kemana seseorang akan mengaktualisasikan diri-nya (kerja,cari uang,berkeluarga dll). Jadi, g ada hubungannya dengan nasionalisme. Bangsa ini sendiri kok yg g mau maju dengan segala macam masalahnya. Jadi, jangan “menyalahkan” orang yg merasa “g nyaman” terus merantau ke negeri orang lain.
Memang, salah satu kunci “sukses dunia” adalah merantau, jgn melingkar di ketiak ortu (misalnya).
Saya juga perantau, dari Jambi ke Bdg, sudah 10 thn d bdg. 4 th kuliah, sisanya cari makan
Silakan, cari harta halal sebanyak mungkin, cukupkan diri dan keluarga seperlunya, g usah bermewah2 atau mengikuti nafsu, seperlunya saja sesuai kebutuhan dasar, sisanya buat bantu orang lain. Harta yg kita punya g dibawa mati kok, kecuali yg telah diberikan ke jalan Allah.
Masalah negara? Bah, pemimpin g mikirin rakyatnya kok. G usah pusing soal negara.Selamatkan aja diri masing2 dan keluarga, kemudian orang2 yg kita sayangi. Negara? Cuman lembaga perampok rakyat. No offence…kenyataan kok.
Deshinta Arrova Dewi // 19 Mei 2008 pada 11:27 |
Saya pembaca setia blog ini. Dan saya alumni S2 IF ITB angkatan 1998. Kini saya bekerja di Malaysia, menginjak tahun ke-6.
Pulang ke Bandung………???
Hmmmmmmmm…….. mungkin satu hari nanti, bukan sekarang. Gaji, ya, no 2. Ketenangan politik no 3, nonton TV Malaysia berisi pembangunan dan pengetahuan, bukan melulu konflik atau gosip artis.
Kualitas pendidikan yang saya utamakan sbg no 1, karena di Malaysia sini, saya jadi tahu bagaimana caranya mengajar yang baik, membuat soal2 ujian, tugas, kuis dengan baik. Saya pernah menghadiri training, bagaimana caranya membuat soal dengan durasi 1 jam, 2 jam, 3 jam, dst. Ada konsep yang namanya Internal Verifier, External Verifier, untuk menjaga kulitas kita. Ada juga yang namanya second marker, dst.
Juga bagaimana caranya maintain kualitas pendidikan, sistem pendidikan, dan lainnya dengan baik.
Saya belajar banyak sekali di Malaysia, termasuk penggunaan bhs Inggris di kampus.
Ada ketakutan bhw kemampuan berangsur akan hilang, kalau saya pulang ke Indonesia….. *wallahualam*
Deshinta // 19 Mei 2008 pada 11:31 |
Saya pembaca setia blog ini. Dan saya alumni S2 IF ITB angkatan 1998. Kini saya bekerja di Malaysia, menginjak tahun ke-6.
Pulang ke Bandung………???
Hmmmmmmmm…….. mungkin satu hari nanti, bukan sekarang. Gaji, ya, no 2. Ketenangan politik no 3, nonton TV Malaysia berisi pembangunan dan pengetahuan, bukan melulu konflik atau gosip artis.
Kualitas pendidikan yang saya utamakan sbg no 1, karena di Malaysia sini, saya jadi tahu bagaimana caranya mengajar yang baik, membuat soal2 ujian, tugas, kuis dengan baik. Saya pernah menghadiri training, bagaimana caranya membuat soal dengan durasi 1 jam, 2 jam, 3 jam, dst. Ada konsep yang namanya Internal Verifier, External Verifier, untuk menjaga kulitas kita. Ada juga yang namanya second marker, dst.
Juga bagaimana caranya maintain kualitas pendidikan, sistem pendidikan, dan lainnya dengan baik.
Saya belajar banyak sekali di Malaysia, termasuk penggunaan bhs Inggris di kampus.
Ada ketakutan bhw kemampuan berangsur akan hilang, kalau saya pulang ke Indonesia….. *wallahualam*
anikeren // 19 Mei 2008 pada 11:41 |
@Ady:Kasih order ke kita dunk…:)
adywicaksono // 19 Mei 2008 pada 15:57 |
@annikeren.com: Om Moedj aya2 wae, saya kan masih babu di sini, beda sama situ juragan di Jakarte….
edratna // 24 Mei 2008 pada 11:52 |
Untuk menjadi dosen di Indonesia minimal S2, di ITB lebih berat lagi (S3). Dan harus disadari juga beasiswa untuk mendapat S2-S3 sering untuk mereka yang telah bekerja di lembaga tertentu (dosen, peneliti dll).
Menantu saya kuliah di LN dengan cara loan, kemudian bekerja di As…sekarang banyak dari Komputer UI yang mengikuti jejaknya…namun mereka masih ingin idealis, setelah punya modal akan kembali ke Indonesia…maklum untuk memulai wirausaha, perlu modal cukup, dan para lulusan S1 belum punya modal tsb, serta jika mengumpulkan sambil bekerja di Indonesia perlu waktu lama. Disamping itu belajar dan bekerja di LN menambah pengalaman.
Sebulan yang lalu, saya ketemu anak NTU yang kemudian bekerja di Singapura. Saat cuti ke Jakarta, dia bertanya apa yang perlu dipersiapkan jika ingin memulai usaha di Indonesia, kira-kira 5 tahun lagi. Sekarang masalahnya, bagaimana agar ide teman-teman ini bisa terlaksana.
Rahmat Zikri // 25 Mei 2008 pada 16:21 |
setahu saya orang yang dikasihi Naren ada di Batam, bukan Singapura
)
darmawan // 25 Mei 2008 pada 17:15 |
Koreksi Pak: “Di Singapura kebanyakan mereka ditawari kuliah di Nanyang Technology University (NTU). Uang kuliah gratis bahkan mendapat beasiswa lagi.”
Kata adik kelas saya, itu semua tidak gratis Pak, itu diberikan sebagai suatu pinjaman/bond, yang nantinya harus dibayar dengan bekerja di Singapura. Trus saya tanya lagi, kalo kabur aja bisa? Bisa aja sih tapi gak enak. Wah sial ternyata NTU lebih sukses mendidik mental mahasiswanya untuk bayar utang daripada ITB.
Kesimpulannya mending kuliah di ITB dibayari negara(1-2 juta SPP itu mah kacang goreng lah dibanding subsidinya), trus lulus kerja di singapura hahahaha. Double impact !
Let Me Know What U Think About Me - Narenda Wicaksono // 25 Mei 2008 pada 22:11 |
[...] masih bisa berbuat sesuatu untuk bangsa dan mungkin membantu menginspirasi rekan-rekan seperjuangan. Senang sekali rasanya bisa melakukan semua hal [...]
puyuhevil // 26 Mei 2008 pada 19:19 |
saya sih sederhana aj pak, karena ini tempat saya melamar dan diterima pertama kali…orangtua juga mendukung. jadi saya ambil saja.
>-
Pertimbangannya tdk sampai bawa2 urusan negara.
Tapi rasanya aneh juga y, orang yg bekerja di indonesia lantas bangga dengan julukan membangun negara, padahal bekerjanya pada perusahaan luar negeri juga.
Kalau ada apa2, toh yang maju perusahaan itu juga, seperti xxsoft itu. yang kaya ya yang disana jg
–damai….
Pram // 26 Mei 2008 pada 22:53 |
Hmm.., sebenarnya alasan saya juga kurang lebih sama. Ada tawaran kerja di Singapur, coba ikut wawancara, dan lulus, karena saya juga belum dipanggil oleh perusahaan lokal(bukan perusahaan asing yang “buka cabang” di Indonesia) yang lain (salah satunya memang yang saya inginkan).
Awalnya memang meragukan, apakah memilih bekerja di luar sebagai pekerjaan pertama itu untung-ruginya apa. Setelah dipikir-pikir :
Untung :
1. Pengalaman kerja di luar pasti jauh lebih banyak
2. Penghasilan (seperti yang dibilang mas Ady, Gaji – Biaya Hidup lumayan besar)
3. Kenyamanan hidup
4. Keluarga saya yang tinggal di Pekanbaru menjadi lebih dekat daripada saya di jakarta atau bandung.
5. Kesempatan untuk melanjutkan studi di luar negri, yang banyak keuntungannya juga
Rugi :
1. Kultur yang beda
2. Dianggap ngga punya rasa nasionalisme
Sejauh yang saya tahu, keuntungannya lebih banyak. Sedangkan mengenai pandangan orang yang menganggap kerja di luar negri itu merugikan bangsa, saya cuma bisa komentar, belum tentu orang-orang yang bekerja di dalam negri berniat menguntungkan/membangun bangsa.
diana farida // 26 Mei 2008 pada 23:41 |
Lebih enak jadi pengusaha pak, apa yang kita usahakan itu yang kita dapatkan. Klo kerja di perusahaan orang mah, kita kerja capek – capek yang dapet untung terbesar perusahaan tempatnya bekerja (ga peduli itu di dalem ato luar negeri).
Keuntungan jadi pengusaha :
1. Jadi Pinter : Karena tiap hari mikir di level strategis perusahaan bukan di level pekerjaan teknis. Efeknya pasti wawasannya lebih luas.
2. Soleh : Karena masa depannya belum terjamin maka mereka selalu banyak doa n mengharap datangnya rejeki.
3. Kebebasan waktu : ga terikat waktu kerja yang jam 7 sampe jam 5 sore.
4. Baik : pasti mikirin nasib2 karyawannya
5. Membangun bangsa : para pengusaha membuka lapangan pekerjaan, pengangguran turun. Terus pengusaha juga pasti bayar pajak yang jauh lebih besar dari individual., itu juga kontribusi buat negara.
6. Melatih mental : dengan berhidup susah di awal2.
7. Mandiri : ga manja di”suapin” oleh perusahaan.
salut buat anak didik bapak yang banyak jadi pengusaha : suteki, ebdesk, sapua, codena, i-moov, diodachi, akhdani, sangkuriang studio. Mereka lah yang bener2 membangun bangsa.
Dewi // 27 Mei 2008 pada 16:28 |
bismillah, semoga ya saya bicarakan nanti jujur apa adanya
dl saya mengambil keputusan untuk bekerja di gemalto dengan pertimbangan seperti ini:
suatu saat nanti saya pengin menjadi dosen. kenapa pengin jadi dosen? ya jawaban standar lah, karena menurut saya dosen cocok untuk wanita, apalagi kalau sudah berkeluarga. wallahu’alam benar apa salah pendapat saya ini.
menjadi dosen seperti apakah yang saya inginkan? dosen yang menghadirkan suasana kuliah yang menyenangkan, tidak monoton, balance antara teori dan pengalaman di dunia nyata. karena menurut saya, ilmu apalagi kita orang teknik, jelas tidak sekedar teori, tapi kita harus tahu praktiknya di dunia nyata. maka dari itu, semenjak dl saya memang pengin merasakan bekerja kantoran, di perusahaan IT, sebelum saya jadi dosen.
selanjutnya, di singapore ini sangat memungkinkan orang bekerja sambil melanjutkan S2 (kuliah diambil partime pada malam hari). saya sudah tahu hal ini sejak dl, karena teman saya ada yang kuliah sambil bekerja disini. Karena saya pengin jadi dosen nantinya, maka mengambil kuliah s2 dan juga s3 adalah wajib.
disamping itu, perusahaan tempat saya bekerja ini adalah perusahaan pertama yang menerima saya. setelah diterima sebenarnya saya masih mendaftar beberapa lowongan perusahaan swasta di jakarta, tapi gak ada yang lolos. mungkin emang rejeki saya ditakdirkan disini.
menurut saya, kita memang harus mengabdi pada bangsa kita, bahkan lebih dari itu mengabdi kepada dunia (umat manusia seluruhnya)
sepemahaman saya, dalam agama saya (islam) tidak ada larangan untuk tinggal, hidup, mencari rejeki di negara lain.
Tapi, karena dl saya sekolah mendapat subsidi dari pemerintah (which means uangnya dari rakyat indonesia) maka seharusnya saya memberikan sesuatu pada indonesia.
sepakat dengan mas ady wicaksono, dimanapun kita berada di bumi Allah, tidak masalah, Tuhan kita satu, dirikan sholat & tunaikan zakat
.
Hmm,, bukankah dengan sebagian orang indonesia mampu bersaing di luar negri itu menjadi nilai plus buat indonesia?
Dan,, dengan beberapa orang bekerja di luar negri,, berarti memberi kesempatan pekerjaan di indonesia kepada orang lain, bukan? pengangguran di indonesia ini banyak..
* kami tetep cinta indonesia meski kami pergi ke luar negri
Spirituality, Intellectuality, Leadership, Entrepreneurship « …and my name is SHA, not rei… // 11 Juni 2008 pada 14:19 |
[...] para ilmuwan itu yang mungkin lebih memilih tinggal di luar negeri, hmm… aku jadi ingat tulisan Pak Rin yang ini. Dari jawaban Pak Hatta, aku mengerti kenapa ada yang kurang setuju dengan tulisan Pak Rin. Pak [...]
yamta // 17 Juli 2008 pada 07:50 |
Kalau menurut saya sih, dimanapun tempatnya asalkan masih berpijak di “Bumi Allah”, sah-sah saja. Pasti memang ada Nilai Positif dan Negatifnya (Baik di Dalam Negeri maupun Luar Negeri).
Yang penting, bagaimana kita bisa Beradaptasi dan Membawa Diri.
Supriyanto Liwa // 6 September 2008 pada 10:37 |
Mau tanya, saya anak Teknik Pertanian IPB pengen ngelanjutin ke IF (S2) ITB, prosedurnya gimana ya? Thanks.
Rinaldi Munir // 6 September 2008 pada 11:06 |
@Supriyanto: prosedurnya standard saja: daftar. Biasanya pendaftaran program pasca mulai dibuka pada bulan Maret. Informasi pendaftaran dan syarat-syaratnya bisa dililihat dari berita yang diumumkan di http://www.itb.ac.id atau di situs web program pasca di http://www.sps.itb.ac.id/
Ada persyaratan yang harus dimasukkan yaitu nilai TOEFL (min 500) dan niali TPA (test TPA diatur oleh ITB bekerjasama dengan Bappneas). Selain itu ada tes yang diselenggarakan oleh Program Studi yang dituju.
Sewa Projector Murah // 3 September 2009 pada 16:02 |
Malah untung dong Negara kita,udah dapat devisa ,jadi sdm kita memang dibutuhkan