Catatanku

Kisah Pak Samin yang Malang

27 Mei 2008 · & Komentar

Cerita di bawah ini saya baca di buku cerita anak-anak waktu saya masih kecil dulu. Saya sangat suka cerita ini, karena sarat dengan pesan moral. Cerita berkisah tentang Pak Samin, seorang warga desa yang polos dan lugu. Di belakang rumah pak Samin terdapat sebatang durian yang sudah tumbuh besar. Selama ini pohon durian itu belum pernah berbuah, tetapi tahun ini pohon durian itu sudah mulai berbunga. Hal itu  pertanda tidak lama lagi pohon itu akan berbuah.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, akhirnya buah durian di pohon semakin lama semakin besar. Sampailah pada suatu malam terdengar bunyi “dum.. dum…dum”. Oh, itu bunyi buah durian yang sudah matang jatuh ke tanah. Durian memang tidak dipetik, tetapi ditunggu jatuh ke tanah pertanda ia sudah matang dan siap dimakan.

Pagi-pagi Pak Samin bangun dan melihat ke pohon duriannya. Beberapa buah durian yang sudah ranum berjatuhan semalam. Ada kira-kira sekeranjang buah durian yang berhasil dikumpulkan Pak Samin. Pak Samin berniat menjual buah durian itu di pasar kota kecamatan nanti siang. Kebetulan hari ini jatuh pada hari pasar (dahulu pasar di kota-kota kecil hanya berlangsung sekali dalam sepekan, sedangkan pada hari-hari lainnya pasar lengang). Untuk mencapai ke sana Pak Samin harus berjalan membawa durian itu dengan bantuan sebuah gerobak dorong. Pasar cukup jauh juga jaraknya, kira-kira 4 jam perjalanan. Selepas adzan Dhuhur Pak Samin segera meninggalkan rumahnya menuju pasar di kota kecamatan.

Sepanjang jalan banyak orang tergiur meilihat buah durian Pak Samin yang ranum. Beberapa orang mencoba menawar untuk membelinya.

“Amboi, harum benar durian bapak ini. Dari jauh sudah tercium baunya. Berapa harganya, Pak?”, tanya penduduk yang ia temui di jalan. 

“Maaf, Pak, durian ini ini mau saya jual di pasar”, jawab Pak Samin. Pikir Pak Samin, kalau dijual di pasar tentu harganya lebih tinggi daripada di jual ke orang kampung. Sudah terbayang di kepala Pak Samin uang banyak yang akan ia peroleh dari penjualan di pasar. Orang-orang di kota kecamatan lebih kaya daripada penduduk di kampung, tentu mereka mau membeli durian ranum itu dengan harga yang mahal.

Begitulah, sepanjang jalan menuju kota kecamatan banyak orang yang menawar durian Pak Samin, tetapi Pak Samin selalu menolaknya. Jika dihitung-hitung ada 10 orang lebih yang menawar durian itu, bahkan ada yang mau membeli dengan harga sedikit lebih mahal, tetapi Pak Samin tetap tidak bergeming.

Dia terus berjalan, terus dan terus, akhirnya sampailah ia di pasar di kota kecamatan. Tetapi apa yang dia temui di pasar? Ternyata pasar sudah sepi, maklum pasar di kota kecamatan hanya berlangsung beberapa jam saja.  Selepas Dhuhur para pedagang sudah berkemas-kemas dan pada pukul 3 siang boleh dikatakan pasar sudah tutup. Tidak ada seorang pun dipasar, baik pedagang maupun pembeli. 

Hari sudah sore, tinggallah Pas Samin sendiri di tengah pasar yang sudah sunyi. Sambil mengelap keringat yang bercucuran, Pak Samin menyesali sikap pongahnya tadi. Bayangan mendapat uang banyak segera terbang, yang tersisa hanya penyesalan. Andaikata dia datang lebih pagi tentu pasar masih buka. Andaikata tadi di jalan dia mau menerima tawaran pembeli, tentu duriannya sudah terjual habis dan dia tidak perlu kepayahan berjalan ke kota kecamatan.  Ibarat kata peribahasa, harapkan guntur di langit, air di tempayan ditumpahkan. Berharap mendapat rezeki banyak, rezeki sedikit diabaikan.

Pak Samin berjalan kembali membawa pulang dagangannya yang masih utuh. Dia berharap bertemu kembali dengan orang-orang yang tadi menawar duriannya di jalan. Tetapi hari sudah berangsur gelap, sebentar lagi malam segera menyelimuti bumi. Orang-orang sudah berada di rumahnya masing-masing, tidak ada seorangpun yang ditemui Pak Samin dan tidak ada lagi yang menawar buah duriannya. Pak Samin pulang ke rumah dengan tangan hampa dan rasa sesal yang tidak putus-putusnya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Begitulah dalam hidup ini, kita sering mengabaikan banyak kesempatan. Kesempatan tidak datang dua kali dan tidak datang setiap hari. Di dalam amal shaleh juga begitu, betapa sering kita menyepelekan pahala sedikit karena berharap pahala yang banyak. Menebarkan senyum kepada orang di jalan, memberi sedikit uang kepada pengemis, menyisihkan sedikit receh untuk kotak sumbangan, dan sebagainya sering kita abaikan karena menganggap pahalanya kecil, sementara pahala besar tidak pula berhasil kita raih. Alangkah malangnya orang seperti itu. Mudah-mudahan kita tidak termasuk orang yang demikian.

 

Kategori: Romantika kehidupan

2 tanggapan so far ↓

  • Robby Permata // 29 Mei 2008 pada 10:20 | Balas

    pesan moralnya : jadilah orang yang memiliki strategi dalam berbisnis / bekerja.. :D hehehe…

    - jika P Samin mau mikir sedikit aja, dia akan bisa mengestimasi sejak awal : jika butuh perjalanan 4 jam, maka berangkat abis Zuhur adalah tindakan yg tolol.. (kecuali dia baru kali ini ke pasar.. hehehe..)

    - harusnya P Samin mencari tau dulu berapa harga pasaran durian d pasar kecamatan.. jika pembeli d jalan menawar harga jauh lebih murah, ya ngapain dijual.. kalau beda2 tipis, ya itung2 selisihnya untuk ongkos perjalanan lah, kalau lebih mahal ya sikat bleh.. hehe..

    - kadang2 dalam berbisnis/bekerja kita memang musti fokus ke tujuan jangka panjang yg lebih besar.. beberapa orang memang suka memilih target yg kecil dan gampang dicapai dg alasan : “saya mah, gini2 aja lah.. gak usah muluk2…”. Ada juga yang tidak puas dengan hal yang ‘biasa-biasa saja’ menetapkan tujuan besar dan fokus terus dengan tujuannya itu alias tidak mau tergoda dengan target kecil2an yg bisa merusak konsentrasi.. untuk itulah perlu strategi..

    bener gak Pak? hehehe.. :)

  • rinaldimunir // 29 Mei 2008 pada 12:53 | Balas

    @Robby: orang seperti Pak Samin banyak kita temukan sehari-hari, dengan jalan pikiran yang sederhana. Tentang bisnis, memang perlu strategi yang matang, sayangnya saya bukan pebisnis, jadi tidak tahu tentang bisnis. Saya hanya seorang guru biasa saja.

Tinggalkan sebuah Komentar