Sesama Ummat Islam Berantem, Siapa yang Diuntungkan?

Pasca insiden Monas yang berakhir dengan penyerbuan anggota FPI (Front Pembela Islam) terhadap demonstran AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan), situasi di tanah air, khususnya umat islam, semakin mengkwatirkan. Para simpatisan NU dan PKB, khususnya di Jawa Timur, yang tidak terima pemimpin agungnya dilecehkan bereaksi keras dengan menyerang balik FPI. Mereka menuntut FPI dibubarkan dan melakukan sweeping terhadap anggota FPI itu.

Sebagai seorang muslim, saya merasa prihatin dan sedih dengan adu domba yang tengah berlangsung. FPI itu muslim, NU dan PKB itu juga muslim, tetapi keduanya sekarang berada dalam kondisi “perang”. Sesama ummat Islam saling berkelahi untuk membela kehormatan. Simpatisan NU dan PKB menyerang balik FPI untuk membela pemimpin agungnya yang “dihina” oleh Habib Riziq, tetapi anehnya mereka tidak bereaksi apa-apa ketika agama mereka dihina dan dilecehkan (baca: dinodai).  Ketika seorang ulama dari NU (yang kebetulan anggota MUI) dilecehkan oleh seorang anggota Watimpres di depan umum, mereka juga tidak bereaksi apa-apa. Bahkan, ketika pemimpin agung mereka dalam wawancara di media Jaringan Islam Liberal (sewaktu panasnya isu RUU APP) menghina Al-Quran dengan mengatakan bahwa Al-Quran adalah kitab suci paling porno, para simpatisan yang jelas-jelas muslim itu juga tidak bereaksi apa-apa. Bagi mereka yang sudah dibutakan hatinya, apa yang dikatakan oleh pemimpin agung itu adalah yang paling benar, sedangkan yang lain adalah salah.

Jelas pihak yang diuntungkan oleh konflik sesama ummat Islam ini adalah pihak yang tidak senang dengan Islam, khususnya kepada ummat Islam yang ingin menegakkan agamanya. Pihak yang diuntungkan itu bisa di dalam negeri, bisa pula di luar negeri. Pihak yang di dalam negeri misalnya kelompok liberal-sekuler yang tidak menginginkan peran agama tampil dalam kehidupan. Selain itu ada kelompok penganut aliran menyimpang seperti Ahmadiyah yang dengan peritiwa ini semakin kuat posisinya di tanah air karena mendapat pembelaan dari kelompok liberal-sekuler. Pihak luar negeri yang senang dengan konflik ini tentu saja kelompok atau negara yang tidak suka dengan peran Islam yang dianggap mengancam kepentingan mereka seperti budaya hedonisme, kapitalisme, dan liberalisme.

Kebebasan beragama dijadikan isu oleh kelompok pembela HAM untuk membela Ahmadiyah. Padahal masalah yang terjadi bukanlah masalah kebebasan beragama, sebab Ahmadiyah bukan sebuah agama. Yang terjadi adalah penodaan agama dengan menambah-nambah ajaran agama yang sudah baku. Penganut Ahmadiyah mengaku Islam tetapi anehnya mereka mempunyai syariat sendiri, seperti mempunyai nabi tambahan sesudah Nabi Muhammad SAW, mempunyai kitab suci lain selain Al-Quran. Selain itu mereka tidak mau bergabung dengan ummat Islam lain dalam hal shalat misalnya, sebab mereka menganggap orang Islam mainstream adalah orang kafir. Mereka juga punya mesjid sendiri. Karena itu salah besar jika mengatakan masalah Ahmadiyah adalah masalah khilafiyah, sebab soal kenabian sesudah Muhammad sudah final dan disepakati oleh ulama dan ummat Islam dimanapun di seluruh dunia. Banyak orang yang tidak mengerti soal fiqih berbicara seolah tahu banyak soal agama, akibatnya komentar-komentar mereka seringkali konyol.

Pelik memang dengan situasi yang tidak enak ini. Akar masalahnya sebenarnya adalah masalah Ahmadiyah itu. Menurut hemat saya, warga Ahmadiyah tetap harus dilindungi haknya untuk hidup seperti warganegara Indonesia lainnya, tetapi tidak untuk ajarannya. Tidak boleh ada kekerasan atau anarkisme terhadap mereka sebab mereka juga bagian dari rakyat Indonesia. Ummat Islam hanya menuntut satu saja: negara membubarkan aliran ini. Jika pembubaran itu tidak mungkin, maka negara cukup menegaskan bahwa Ahmadiyah bukan bagian dari Islam (berarti non-muslim) dengan segala konsekuensinya (misalnya tidak boleh berhaji ke Mekkah). Itulah yang dituntut ummat Islam dengan SKB yang ditunggu-tunggu itu. Dengan pilihan yang terakhir ini, maka eksistensi Ahmadiyah tetap terjamin dan mereka akan hidup berdampingan dengan penganut agama lain di Indonesia. 

 

Tulisan ini dipublikasikan di Agama. Tandai permalink.

8 Balasan ke Sesama Ummat Islam Berantem, Siapa yang Diuntungkan?

  1. Habib berkata:

    Banyak berita di media maupun forum-forum yang saya baca yang bermaksud “mencuci otak” ataupun sebagai upaya pembelokan opini untuk kemudian menjatuhkan FPI dan melupakan masalah yang sebenarnya terjadi (saya tidak bilang kalau saya pro-FPI). Malah ada yang ujung-ujungnya mengecam MUI karena mengeluarkan fatwa tentang Ahmadiyah. Mudah-mudahan tulisan ini banyak dibaca (terutama oleh orang-orang yang sudah termakan opini ngaco) dan memberi pencerahan yang sebesar-besarnya.

  2. Apa adanya berkata:

    Ngomong ngomong Islam itu bukannya sempalan Kristen?Ada Abrahamnya tapi dibilang Ibrahim ada Yesus tapi dibilang Isa.DI Injil sendiri sudah tertulis Yesus adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Akhir, kok tiba tiba muncul Muhammad.Tentu Umat Kristen gak perlulah pake acara kebakaran jenggot sgala untuk menyikapi ini.Kalo istilah anak sekarang..gak level lah kalo harus anarkis anarkisan..

  3. didin berkata:

    sering ngasih komen ttg Ahmadiyah ini, tapi belum bosen kok, tapi biar rada hemat sedikit sama dg komen saya di multiply nya kang bayu, kurang lebih begini:

    hmmm… tindakan kekerasan yang dilakukan FPI memang tidak bisa dibenarkan di negara berdasar hukum, sangat disayangkan jg, justeru menjadi loose canon umat Islam (pinjem istilah kang bayu)

    Tetapi soalan Ahmadiyah juga perlu dipertegas, kalau di Pakistan jamaah Ahmadiyah (Qadiyan ya?) sudah menyatakan keluar dari Islam, maksudnya non muslim, dan hak-hak kewarganegaraan mereka diakui di Pakistan.

    Nah, Ahmadiyah yang di Indo ini bagaimana maunya, mau diakui sebagai umat Islam jelas2 tidak sesuai dengan syahadatain, pilar dasar aqidah Islamiyah. Sebenarnya pilih saja nabinya mau yang mana, kalau bukan Rasulullah SAW sebagai nabi terakhir ya bener toh kalau dikeluarkan dari penganut Islam, mau lebih fair, proklamirkan saja sebagai non muslim, hak-hak kewarganegaraannya bisa seperti penganut aliran kepercayaan yang lain.

    Tidak ada pasal atau perundangan yang menghakimi kepercayaan/keyakinan seseorang, tetapi ada perundangan yang mengatur perihal penistaan agama, nah perbuatan Ahmadiyah masuk kategori penistaan agama, karena menyelenggarakan aktifitasnya secara umum dan di muka umum…

    saya sepakat dengan Yusril Ihza Mahendra, silahkan elaborasi lebih jauh tulisannya di http://yusril.ihzamahendra.com/2008/05/09/skb-tentang-ahmadiyah/

    to Apa adanya : dari mana tuh Islam sempalan Kristen?
    hemm.. lagi agenda hemat energi, daripada terprovokasi dengan tulisan anda saatnya bilang: lakum dinukum waliyadiin.. bagimu agamamu, bagiku agamaku..

  4. adie berkata:

    @apa adanya :
    Islam bukan sempalan Kristen, tp pelengkap/penyempurna ajaran Kristen (ini Kristen yg dulu lho, yg Tuhannya hanya 1, yaitu Allah). Yg injilnya jg yg masih asli, bukan injil2 yg ada sekarang. Dalam Injil terdahulu, nama Muhammad/Ahmad disebutkan. Kl injil skr ga tau ya, lha wong sudah tercemar,
    ga asli lagi.
    Tidak bisa disamakan antara Kristen-Islam dan Islam-ahmadiyah. karena :
    Islam tidak menyatakan bagian dari Kristen sedangkan
    Ahmadiyah msh menyatakan bagian dari Islam.
    Kalo saja Ahmadiyah menyatakan agama sendiri, tentu
    umat Islam akan menghormati, tidak akan terjadi
    kekerasan.
    Jadi, pakailah logika yang benar, jangan asal2an, Kita kan dikaruniai akal untuk dipakai.

  5. Ari berkata:

    Saya sering mendengar orang memuji ttg muslim dan perkembangan Islam di Indonesia. Banyak sisi positifnya dan sifat2 seorang muslim ada dalam sifat2 orang Indonesia. Di luar, kalau ada muslim yang sedikit nyeleh sudah diprotes, ini lah, itu lah.. tapi di Indonesia, semua aliran NU, Muhamadiyah hidup rukun sejak bertahun2 yang lalu.

    Masalahnya adalah para pengusaha, menggunakan agama sebagai kekuatan politik karena dianggap sebagai alat jitu pengumpul massa dan tentu saja ada pihak2 yang mengambil keuntungan. Nah ini yang sangat disayangkan.

    Mengenai Ahmadiyah, walaupun terlambat, sikap pemerintah dengan mengeluarkan SKB cukup bagus, melindungi hak2 warga negara untuk hidup aman tetapi juga menyatakan Ahmadiyah sebagai ajaran di luar Islam. Ini yang sangat terlambat. Pemerintah cepat tanggap dengan kasus “Lia Eden” kenapa Ahmadiyah bertahun2 ??.

    Hendaknya umat Islam di Indonesia bisa menahan diri untuk tidak terprovakasi. Indonesia adalah satu2nya negara mayoritas Muslim yang sampai saat ini, Alhamdulilah masih bersatu.

    @apa adanya :
    Sebelum membandingkan antara Islam dan Kristen, pelajari dulu kedua agama tersebut baik2. Saya kira sudah banyak buku yang beredar ttg perbandingan kedua agama tersebut.

  6. sayapbarat berkata:

    Kalo menurut saya bukan masalah siapa yang diuntungkan tapi siapa yang dirugikan. Saya sangat tidak sepakat oleh aksi vandalisme( yang benar adalah vandalisme, bukan anarkisme karena anarkisme adalah sebuah paham tentang tidak adanya hirarki kekuasaan) yang dilakukan oleh siapapun dan lembaga manapun. Entah itu adalah bentuk pengalihan isu atau bukan, yang pasti akan salah jika kita terprovokasi..

    Untuk masalah Ahmadiyah saya tidak dapat berkomentar banyak. karena kita tidak dapat menghadapi ini dengan Undang-undang saja. Atau jangan-jangan jika tidak dapat dihadapi dengan undang-undang maka ada yang salah dengan undang-undang tersebut?

    Salam kenal Pak Rin

  7. Mories berkata:

    Yang saya lihat kok Mirza Ghulam Ahmad, founding fathernya Ahmadiyah itu dianggap sebagai Imam Mahdi. Dan dalam sejarah banyak Imam-Imam Mahdi (jejadian) bertebaran dari dulu hingga sekarang. Dan Imam Mahdi biasanya dianggap sebagai markernya Hari Kiamat. (Berarti mungkin tahun 1920an-1930an sudah kiamat kalau betul MGA itu Imam Mahdi). Nah ini belum jelas, apakah Ahmadiyah Qadian lah yang memandang nya sbg Imam Mahdi (sebuah kultus individu), yang sehingga harus menelurkan 2 macam versi Ahmadiyah, Qadiyan dan Lahore, while Ahmadiyah Lahore menyebut MGA hanya sbg pemikir pembaharu dalam Islam.
    Beberapa tahun yl kita melihat sepak terjang Pendeta SIbuea di Bandung (masih ingatkan ?) yang menyebuit bahwa kiamat besar akan segera terjadi. Yang terjadi adalah kiamat bagi sektenya yang dibubarkan pemeriontah dan pengikutnya direhab oleh otoritas kristiani di sini. Kelompok Sibuea masih kecil, sdg kelompok Ahmadiyah sudah beranak pinak dan bercucu pula.

  8. catur berkata:

    saya cuma menanggapi ttg anarkisme dlm bentrokan tsb, bukankah islam mengajarkan kebaikan bukan pedang?
    dibalik, apakah ahmadiah itu salah atau tidak, saya tidak berkepentingan krn memank bukan fokus saya.
    pada judul thread = ummat islam berantem , berarti mengindikasikan bahwa krn persoalan ahmadiah menjadikan NU dan FPI sama2 muslim bergumul, bukankah skrg masa modern?masa dimana hati nurani dan pikiran terbuka saling menghargai satu sama lain tercipta?bukan lagi masa jahilliyah dmn yg kuat yg berkuasa?dimana yg keras terhadap yg lain yg disegani?
    saya merasa prihatin dng pertentangan sesama muslim tsb, walau saya bukan muslim.
    bertengkar adalah hal wajar namun hingga sampe sweeping mencari yg satunya, itu udah diluar iman.
    saya tidak tahu apakah dng kekerasan dapat simpati dr masyarakat?apakah mampu menyelesaikan masalah?
    bagi yg intens fanatisme pada kelompok tertentu mungkin iya, namun secara keseluruhan, masyarakat akan menilai lain.
    kemudian yg diuntungkan siapa???tidak ad satupun yg diuntungkan, yg satu (FPI) Bergerak secara keras ingin mendirikan khilafah spt tahun nabi, sedangkan yg satunya (NU) bersifat moderat bahwa perkara ahmadiah musti dibicarakan. kontra maupun pro adanya ahmadiyah adalah hal lain.
    kemudian saya jg bertanya dimanakah peran aktif lembaga keagamaan MUI dlm menengahi hal tersebut?apakah hanya mengurus haram atau tidaknya suatu hal?justru mustinya peran MUI dalam persinggunan FPI dan NU berperan besar.
    namun disini pada tataran kecil sesama muslim sdh bergumul, bayangkan dng negara palestina (maaf sedikit OOT)
    jika sesama umat muslim sendiri saja msh byk tafsiran yg berujung kekerasan sesama muslim, bagaimana dpt berkembang kedepan?
    contoh kecil adalah masalah palestina, negara besar yg muslim tidak dpt berbuat apa2 saat sesama muslim merana,(saya setuju pengiriman bantuan bukan laskar).
    maka cobalah dipupuk rasa kebersamaan dan keindahan menghormati sesama, awalilah menghormati dan memperhatikan yg paling dekat.
    dng pertikaian itu yg diuntungkan adalah nafsu keserakahan popularitas di mata masyarakat.

    maaf mas rinaldi jika saya berkomentar ad yg salah, cuma mengungkapkan apa yg menjadi pemikiran saya terlepas identitas beda dr thread tsb.
    terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s