Ketika Anak Menyanyi

Suatu sore, ketika asik bermain dengan mainan yang dibelinya di sekolah, anak saya secara tidak sadar menggumamkan sebait lagu Ayat-ayat Cinta yang lagi populer:

Maafkan bila ku tak sempurna,
Cinta tak mungkin terhapus saja…

Olala, anak umur 6 tahun menyanyikan lagu cinta? Saya tidak habis pikir dia dapat darimana lagu itu. Tetapi, itu belum “parah”, suatu kali dia menyanyikan sepenggal lagu yang saya tidak hapal judul dan penyanyinya, tapi ada kata-katanya seperti ini:

kaulah makhluk Tuhan yang paling seksi, la .. la..

Ups. Sungguh kaget saya mendengar gumaman lagu itu. Cepat-cepat saya ingatkan dia bahwa lagu itu tidak pantas buatnya. Jangankan untuk anak saya, lagu itu juga tidak pantas pula buat saya sendiri, sebab syair lagu tersebut menyiratkan bahwa seolah-olah wanita itu hanya dipandang sebagai obyek seks semata.

Darimana anak saya mendengar lagu itu ya? Di rumah anak saya nonton TV hanya film kartun saja yang dia senangi. Acara-acara TV seperti video klip atau film hampir tidak pernah dia tonton. Lagipula saya membatasi anak menonton TV. Radio juga tidak pernah nyala. Lalu darimana?

Setelah berpikir cukup lama, barulah saya ngeh. Bukankah anak saya bermain dan bergaul dengan banyak anak lain, baik di rumah atau di sekolah. Mungkin saja dari pergaulan itu dia mendengar anak-anak lain menyanyikan lagu-lagu orang dewasa, lalu dia pun ikut-ikutan menirukannya di rumah.

Punya anak itu susah-susah gampang mendidiknya. Kita ingin anak kita menjadi anak sholeh, yang mendoakan ibu-bapaknya kala kita sudah tiada di dunia ini. Di rumah anak-anak sudah kita tanamkan nilai-nilai agama dan budi pekerti, kita didik shalat, berdoa, dan mengaji, tetapi kita tentu tidak bisa mengontrol perilakunya di luar selama 24 jam. Dia bergaul dengan anak-anak lain yang mungkin berbeda prinsip dan nilai-nilai. Apalagi anak-anak umumnya suka meniru apa yang dia lihat dan dia dengar. Mereka merasa senang jika bisa menirukan sesuatu. Terkadang di rumah anak saya mengucapkan kata-kata dalam Bahasa Sunda yang maknanya kata orang Sunda kasar, tapi dia tidak tahu bahwa kata tersebut kasar, dia hanya mendengar temannya berkata begitu, maka di rumah kepada si bibi dia juga mengucapkannya sambil tertawa-tawa seolah-olah kata tersebut lucu baginya.

Kembali ke soal lagu tadi. Perhatikan acara kontes menyanyi anak-anak, baik di TV, mal, atau di perlombaan nyanyi anak-anak. Hampir semua peserta menyanyikan lagu orang dewasa yang lagi ngetop. Pernah dalam sebuah lomba menyanyi anak-anak di Taman Lalu-lintas Bandung, seorang anak memilih menyanyikan lagu Kucing Garong sambil bergoyang seperti penyanyi dangdut di TV. Pakaian dan dandanan anak itu seperti orang dewasa. Tidak terlihat lagi kepolosan anak-anak di wajahnya yang berbalut bedak dan lispstik. Orang-orang yang menyaksikannya mungkin tertawa karena ulah si anak yang dianggap lucu dan meggemaskan, tetapi siapa yang sadar bahwa perilaku anak tersebut sudah mengkhawatirkan. Entah bagaimana perasaan kita kalau lagu yang dinyanyikan anak-anak adalah lagu cabul seperti Belah Duren, Cucak Rowo, dan sebagainya.

Anak-anak saat ini tampaknya sudah kehilangan identitas anak-anaknya. Penyebabnya adalah orang-orang dewasa tidak mempedulikan masalah budi pekerti anak-anak. Anak-anak dimanfaatkan untuk kepentingan bisnis semata. Artis-artis kita, terutama para pemusik, punya andil kesalahan karena mereka melahirkan karya seni yang tidak mendidik. Mereka mengarang lagu-lagu yang mempunyai konotasi cabul semata-mata untuk meraih popularitas dalam waktu singkat dengan memanfaatkan dalih kebebasan berekspresi. Meskipun lagu-lagu itu dikatakan untuk orang dewasa, kita yang orang dewasa saja merasa jengah mendengarnya, apalagi anak-anak.Para artis tidak sadar bahwa lagu mereka dapat membawa pengaruh buruk kepada budi pekerti anak-anak.

Kunci pendidikan memang ada di rumah-rumah. Masyarakat yang baik berawal dari keluarga yang baik. Tetapi, sebaik apapun kita mendidik anak di rumah, anak-anak nantinya pasti ke luar rumah juga. Mereka harus bersosialisasi dengan lingkungan. Lingkungan yang buruk dapat membuyarkan didikan baik yang sudah kita tanamkan. Di zaman yang banyak kemaksiatan dimana-mana, yang perlu kita siapkan adalah bekal agama dan moral buat anak kita. Kehidupan di luar rumah ada yang baik dan ada yang buruk. Di luar rumah anak-anak bertarung dengan nilai-nilai kehidupan. Jika nilai baik yang kita tanamkan sangat kokoh, maka dia aman, tetapi jika tidak maka siap-siap saja kita merasa khawatir. Makanya saya katakan di awal bahwa mendidik anak itu susah-susah gampang, tidak semudah orangtua zaman dulu dimana pengaruh buruk lingkungan tidak sebanyak seperti sekarang.

Tulisan ini dipublikasikan di Budi Pekerti. Tandai permalink.

16 Balasan ke Ketika Anak Menyanyi

  1. petra berkata:

    haha, baru saya mau nulis perkara ini

    saya sedang di warnet.

    di sebelah bilik sebelah saya ada dua anak-anak. satu umur sekitar 6 tahun dan adiknya.
    dua-duanya dengan serasi menyanyikan lagu dewasa sambil memain-mainkan komputer.
    semoga yang dibuka bukan situs dewasa ^_^

  2. petra berkata:

    errr, tambahan….
    ternyata di bilik depannya ada sang ayah dan ada juga ibu mereka sedang duduk di dekat pintu masuk.

  3. Habib berkata:

    Sepertinya sulit membesarkan anak di jaman sekarang…

  4. adywicaksono berkata:

    Akibat kebebasan pers yang kebablasan, konten dewasa tidak difilter pemerintah dengan dalih kebebasan pers dan media :)

  5. anikeren berkata:

    Pak Rin, Bapak akan lebih terkejut dan nelangsa lagi kalau yang menyanyikan anak sendiri. Anak saya (5 tahun waktu itu) sudah seperti itu. Kalau sudah jadi orang tua, salah satu pekerjaan yang sangat sulit adalah memproteksi pikiran jernih anak – anak kita dari “anasir-2 jahat”. Tidak perlu dari luar, unsur di dalam rumah kita sudah cukup membuat pikiran bening anak-anak tercemar sebelum waktunya. Sering kita tidak kuasa mencegahnya. Itulah yang kami alami

    http://moedjionosadikin.wordpress.com/2008/07/11/sekolah-anak/

    Wassalam

  6. Yunita berkata:

    Ah..pak Rinaldi tau saja, ini masalah yg semakin mjd pokok persoalan di rumah tangga.
    Jgn salahkan, kl sekarang ini makin byk perempuan bersekolah setinggi mungkin, tetapi pd akhirnya menjadi Full Time Mother atau Working At Home Mother. Siapa lg yg akan mengajarkan nilai2 moral pertama kl bukan Ibu?
    Bgmn menanamkan pendidikan moral, budi pekerti, dll yg penting bgt dlm membesarkan anak, sblm anak dilepaskan ke dunia luar. Bgt jg dng makin maraknya penganut paham Homeschooling..
    Hehehe…jd curhat deehh

  7. yaniwid berkata:

    Sayang sekali ya… sekarang tidak banyak lagu anak yang enak dinyanyikan…

  8. agung prasetyo berkata:

    Ya Pak, lagian lagu yang memang buat anak2 gak ada yang ngetop, apa mungkin lagu anak tidak menguntungkan untuk industri musik? Penyanyi cilik juga udah jarang. Masih ingat, kalo gak salah lagu anak terakhir yang cukup ‘cerdas’ yang dinyanyikan Tasya “Jangan Takut Gelap” karya Erros Sheila On 7…

  9. budi sulis berkata:

    Karena pertimbangan2 tentang dampaknya, utk sementara saya sengaja tidak membeli TV. Kalaupun akhirnya beli, saya hanya akan memperbolehkan channel2 tertentu saja utk ditonton.

  10. jendalsepit berkata:

    kasus serupa pak. Di depan kos saya malah ada anak kecil yang teriak2: “Wo o .. kamu ketahuan … pacaran lagi”…

    Itulan cerminan budaya kita saat ini pak. Miris. Benar apa yg dikatakan Rasulullah yang intinya, “Kalau ingin melihat kualitas agama seseorang, lihatlah agama sahabatnya”.

  11. ibrahim berkata:

    Betul Pak Rin, kita harus bisa memberikan “imunisasi” pada mental anak kita. Kita bekali kemampuan untuk mengukur mana yang baik dan mana yang buruk.

    “Sterilisasi” (menutup diri dari dunia luar) bukan solusi untuk jaman sekarang dimana arus informasi membanjiri setiap sisi kehidupan.

    Sebagai ortu kita harus tetap sekuat tenaga “menjaga” keluarga dari keburukan. Tapi jangan lupa juga mohon perlindungan pada-Nya, karena kita tak kuasa 24 jam terhadap keluarga kita.

  12. rinaldimunir berkata:

    @Habib: tapi jangan sampai gak minat punya anak ya Bib.

  13. Dimas Sasongko berkata:

    Kalo yang makhluk Tuhan paling sexy itu, yang dikatakan sexy adalah yang cowoknya pak.

    jadi bagaimana dengan komodifikasi seks pada cowok pak, pantas atau tidak? :D

  14. defindal berkata:

    home schooling ?

  15. iche :) berkata:

    uukkhhh….
    g cuma suka nanyi lagu2 yg bukan makanannya aja…
    anak2 sekarang jg sering bertindak sebagai “orang dewasa”
    yang ngeres lagi… etika, sopan santun, tatakrama… tidak lagi mereka kenal…
    kalo dalam bahasa jawa itu ada bahasa kromo (krama) untuk menghormati orang yang lebih tua, sekarang perlahan – lahan sudah mulai dihapus dari kurikulum pendidikan… bahasa jawa hanya dijadikan sebagai muatan lokal aja….
    :((

  16. norak berkata:

    tauk nih anak2 sekarang pada kaya kesurupan setan aja…pada pinter kayak orang gede…..heran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s