Pemilihan walikota Bandung sudah usai dilaksanakan hari Ahad 10 Agustus kemaren. Hasil quick count pun sudah sama-sama kita ketahui baik dari media online maupun dari koran lokal Bandung. Pasangan Dada-Ayi (Pak Dada Rosada calon incumbent sekarang) mendapat suara mutlak sekitar 60 persen lebih, pasangan Taufikurrahman-Abu Syauqi hanya mendapat 22 % sedangkan pasangan calon independen Hudaya-Nurhadi hanya mendapat 9%. Hasil quick qount ini sepertinya tidak akan berubah hingga selesai perhitungan nanti. Pemenangnya sudah bisa dipastikan Pak Dada Rosada.
Kemaren waktu nyoblos saya memilih pasangan Trendi (Pak Taufik dan Abu Syauqi). Alasannya sederhana saja, pertama Pak Taufik adalah sesama rekan kolega dosen di ITB, dan kedua karena partai pengusungnya adalah PKS (he..he, simpatisan nih ceritanya). Di TPS tempat saya memilih di kawasan Antapani, yang menang adalah pasangan Trendi, tetapi ketika jalan-jalan mengecek di TPS lainnya, mayoritas yang menang adalah Pak Dada. Dari beberapa TPS itu saja saya sudah menyimpulkan Pak Taufik bakal kalah. Ternyata prediksi ini terbukti benar setelah hail quick count keluar.
Saya tidak kaget Pak Taufik kalah. Seminggu sebelum hari H saya sudah melihat kemungkinan Pak Taufik tidak mungkin menang. Awalnya sih, kira-kira sebulan sebelum hari H, saya memprediksi Pak Taufik yang akan menang dengan beberapa alasan: (1) pengalaman Pilkada menunjukkan calon incumbent biasaanya selalu kalah dalam berbagai Pilkada di Indonesia, tapi hal itu ternyata tidak berlaku buat Pak Dada, (2) di Bandung jaringan PKS sangat solid, maklum waktu Pemilu 2004 lalu PKS adalah partai pemenang di Bandung, (3) Pak Taufik dan Pak Abu Syauqi adalah pasangan paling muda usia (ini warning buat PKS yang sering melontarkan wacana pemimpin muda, ternyata muda atau tua bukan jaminan bisa terpilih). Ternyata alasan saya ini terbukti salah untuk Pilkada Bandung.
Menjelang hari H beberapa hasil jajak pendapat memenangkan Pak Dada. LSI (Lembaga Survey Indonesia) misalnya, secara mencolok memasang iklan secara sporadis di koran lokal Bandung dan secara “berani” menetapkan pemenangnya adalah Pak Dada (menilik hasil survei selama Juni, Juli dan Agustus). Iklan ini memang mampu mempengaruhi psikologis pemilih atau setidaknya menggiring opini publik bahwa Pak Dada yang paling unggul.
Dari segi program sebenarnya program kerja Pak Taufik-Abu Syauqi lebih berbobot dibandingkan pasangan lain. Debat di televisi juga memperlihatkan kualitas Pak Taufik yang doktor ini terlihat unggul. Tetapi, sebagus apapun programnya, pemilih tetap melihat figur. Pemilih di Indonesia tidak melihat gelar akademis atau program sang calon sebagai referensi memilih. Yang dilihat adalah ketokohan, dikenal apa tidak. Ini pula yang menjadi alasan kenapa Heryawan-Dede Yusuf yang menang waktu PilGub Jabar kemaren. Orang Jabar tidak kenal siapa itu Heryawan, tetapi mereka sangat tahu siapa itu Dede Yusuf, seorang artis yang wajahnya malang melintang di layar kaca. Heryawan bisa menang karena faktor figur Dede Yusuf yang sudah lebih dulu populer khususnya di kalangan kaum ibu.
Nah, berdasarkan beberapa data yang saya terima, maka saya menyimpulkan sedikitnya ada 3 alasan kenapa Pak Taufik kalah dalam Pilwalkot ini:
1. Popularitas. Figur Pak Taufik belum dikenal oleh warga Bandung. Dari ketiga pasangan calon, pak Dada yang tingkat pengenalan oleh warga Bandung paling tinggi. Ya benar juga sih, dia kan wallikota sekarang, nama dan wajahnya sering muncul di media massa. Pak Taufik hanyalah seorang dosen di ITB, belum menjadi siapa-siapa. Meskipun PKS memasang ribuan poster Pak Taufik-Abu Syauqi hampir di semua tembok, dinding, tiang listrik, pagar pembatas, dll, sebagai cara untuk sosialisasi, tetap saja ribuan poster itu tidak mampu mengangkat popularitas Pak Taufik. Saya pikir alasan pertama ini adalah penyebab utama mengapa Pak Taufik gagal meraih dukungan.
2. Pak Dada manjabat sebagai incumbent, maka dia menggunakan posisinya itu untuk merebut simpati warga Bandung dengan berbagai proyek realistis sesuai dengan fungsi dan kewenangannya. Pak Dada lah walikota yang berani menutup lokalisasi Saritem di Bandung. Orang Bandung pasti mahfum dengan Saritem. Makanya tidak heran ormas-ormas Islam seperti MUI, FPI, Muhammadiyah, Persis, NU, dll mendukung Pak Dada sebagai bentuk “terima kasih” karena telah mengabulkan tuntutan mereka agar Saritem ditutup. Trus, seminggu sebelum hari H, Pak Dada pula yang menambal jalan-jalan berlubang di berbagai pelosok kota. Jalan Purwakarta Raya di kawasan Antapani Bandung misalnya, yang selama ini banyak bolong-bolongnya dan sering bikin ngedumel warga perumahan di sana, eh. tiba-tiba diaspal bagian yang berlubang itu sehingga menjadi mulus. Pengaspalan dikerjakan malam-malam, pagi-pagi warga sudah kaget kok jalannya sudah tidak berlubang lagi, sudah mulus. Siapa lagi yang punya kerjaan begitu kalau bukan Pak Dada. Proyek semacam ini jelas tidak bisa dilakukan oleh Pak Taufik dan Pak Hudaya karena tidak punya uang dan wewenang untuk itu.
3. Pasangan Trendi dilanda kampanye hitam. Menurut saya nih PKS “salah” memilih calon wakil walikota. Kalau Pak Taufik sih sudah tepat. Masalahnya ada pada Abu Syauqi. Abu Syauqi yang dicalonkan mendampingi Pak Taufik menurut saya bukan pilihan yang bagus karena rentan dengan cobaan fitnah. Abu Syauqi adalah pengelola Rumah Zakat yang sudah mapan dan cukup besar di Bandung. Dan ternyata dugaan saya benar, selebaran gelap beredar di tengah masyarakat yang melontarkan fitnah bahwa Abu Syauqi menggunakan dana zakat untuk kampanye Pilwalkot. Saya sih tidak percaya, tetapi yang namanya fitnah pasti ada yang termakan. Nampaknya kedepan PKS perlu lebih berhati-hati mencalonkan orang yang punya lembaga amal. Ternyata cobaan belum berakhir. Abu Syauqi dilanda isu poligami. Saya tidak tahu apa benar Abu Syauqi melakukan poligami, tetapi isu poligami sangat sensitif terutama buat kaum ibu dan perempuan yang merupakan kelompok pemilih terbanyak. Di jalan Dago saya lihat spanduk besar yang berisi ajakan jangan memilih pemimpin yang melakukan poligami. Spanduk itu mengatasnamakan kaum perempuan Bandung. Semula saya tidak ngeh siapa yang dimaksudkan, tetapi dari berita di media online isu poligami itu diarahkan kepada Abu Syauqi. Tampaknya PKS tidak belajar dai kasus Aa Gym yang pamornya meredup sejak melakukan poligami. Menurut saya sih poligami dan Pilwalkot adalah dua masalah berbeda. Itu hak sang calon melakukannya, tetapi kita juga tidak bisa menyalahkan orang jika mereka antipati kepada pelaku poligami. Sikap saya tentang poligami sudah jelas: dihalalkan oleh agama tetapi dengan sejumlah syarat yang sangat berat yaitu berlaku adil. Abu Syauqi dan Aa Gym mungkin mampu memenuhi syarat itu, tetapi jika berhadapan dengan opini publik yang masih memandang negatif poligami, mereka akan tersudut. Seberapa besar isu poligami ini mempengaruhi pemilih memang belum ada penelitiannya.
Kalah atau menang biasa dalam demokrasi. PKS saya rasa cukup terhibur dengan raihan 22 % suara, dibandingkan 60% suara Pak Dada yang merupakan koalisi dari 6 partai. 22% adalah modal minimal untuk meraih suara pada Pemilu 2009 nantii.