Enak, Sayang Belum Terjamin Kehalalannya

Sewaktu berjalan-jalan di Istana Plaza Bandung, saya melihat toko roti BreadTalk penuh dengan pengunjung. Yang membeli roti di toko itu tidak hanya anak muda, bapak-bapak dan ibu-ibu berjilbab juga banyak yang ikut antri. Roti BreadTalk ini memang terkenal enak, halus dan lembut di lidah. Saya pernah memakannya dulu, waktu itu dikasih oleh mahasiswa saya. Toko roti ini merupakan waralaba dari pusatnya di Singapura. Di Indonesia pemegang hak waralaba adalah Johny Andrean yang juga dikenal sebagai pemilik salon rambut yang terkenal itu.

Sekarang saya enggan makan roti BreadTalk lagi. Apa pasal? Setelah membaca berita di Okezone dan di situs Era Muslim tentang kehalalan roti ini, saya memilih untuk tidak mengkonsumsinya lagi sampai dapat dipastikan roti ini mendapat sertifikasi halal. Emang sih pemiliknya menjamin roti ini 10% 100% halal, tetapi pernyataan lisan saja belumlah cukup. Kehalalan sebuah produk perlu legitimasi pihak yang punya otoritas, dalam hal ini LPPOM MUI. Menurut MUI, pemilik toko roti tidak memperpanjang sertifikat halal yang sudah berakhir pada tahun 2007. Karena sertifikat hanya berlaku 2 tahun, maka pihak BreadTalk dihimbau memperpanjang namun mereka tidak mengindahkannya. Pemilik BreadTalk Indonesia terlihat ‘menantang’ dengan jawaban begini: “Manajemen merasa ini (legalitas MUI) perlu atau tidak. Karena kan sudah dicek beberapa kali, cukup merepotkan ya. Lagipula kalau dilihat BreadTalk kan juga ada di Arab Saudi dan tidak masalah,” kata Tina Andrean, istri Johny Andrean. “Yang sedang dipermasalahkan MUI ini hanya soal legal kertas, tapi secara komitmen kami jamin kehalalannya,” imbuhnya. (Sumber: Okezone). Oh, beginilah nasib konsumen di Indonesia yang tidak mendapat perlindungan atas hak-haknya mendapat kepastian halal. UU yang mewajibkan pengusaha untuk mengurus sertifikasi halal belum ada, padahal konsumen terbesar di negeri ini adalah muslim.

Soal kehalalan sebuah produk makanan adalah hal yang prinsip di dalam ajaran Islam. Masalah halal dan haram terkait dengan ibadah. Jika seseorang mengkonsumsi makanan yang haram, maka selama 40 hari 40 malam ibadahnya tidak diterima oleh Allah SWT. Sebagian besar orang yang membeli roti di toko ini mungkin tidak mengetahui soal kepastian halal haramnya roti yang dia beli, atau mungkin mereka tidak peduli soal hal ini? Ah, nggak tahulah. Mungkin bagi mereka roti BreadTalk itu enak, itu saja, soal halal atau haram dianggap urusan pribadi. Mereka tidak pernah mempertanyakan apakah toko roti sudah mengantongi sertifikasi halal, takut dianggap pembeli yang rewel. Sewaktu saya membeli ayam goreng di gerai KFC, di dinding dekat loket pemesanan ditempel foto copy sertifikat halal dari MUI beserta masa berlakunya, sehingga saya merasa tenang membeli produk KFC tanpa khawatir berdosa.

Selain BreadTalk, saya juga menghindari membeli makanan ala Jepang di gerai Hokka Hokka Bento dan donat J.Co, karena sepengetahuan saya kedua produk makanan ini belum mengantongi sertifikasi halal dari MUI. Karena hukumnya syubhat (meragukan), maka lebih baik yang meragukan itu dihindari saja daripada mendapat dosa karena memakan produk yang tidak jelas kehalalannya.

Semua produk makanan yang saya tulis di atas memang enak-enak, sayang karena belum terjamin kehalalannya saya belum mau mengkonsumsinya. Rasa takut berdosa kepada Allah SWT mengalahkan rasa enak di lidah. Makanan yang enak-enak itu berakhir di septic tank, tetapi dosa baru berakhir di pengadilan Padang Mahsyar. Moga2 Allah SWT mengampuni kita.

Menikmati Serabi Solo di Bandung

Ini lagi-lagi tentang makanan enak. Mumpung belum mulai puasa nih, jadi bisa membahas soal makanan tanpa khawatir tergoda, he..he. Tapi, kalau kalian membacanya pada siang hari bulan Ramadhan, jangan salahkan saya kalau kepingin ya.

Saya sering lewat Jalan Ahmad Yani, persisnya yang dekat IBCC itu. Di jalan ini ada sebuah toko yang menjual makanan serabi. Serabi? Sudah biasa atuh, di Bandung kan banyak yang menjual serabi di pinggir-pingir jalan pada pagi hari. Tapi, serabi yang ini lain, serabi khas kota Solo. Namanya serabi Notosuman. Aslinya memang ada di kota Solo, tetapi cabangnya juga ada di Bandung. Di Bandung banyak orang Solo rupanyai.

Saya masuk ke toko ini. Di dalam toko tersaji tungku memasak serabi dengan cetakan-cetakan kecilnya yang terbuat dari logam, persis seperti serabi di Bandung.

Lalu kue serabinya mana? Oh, ini dia rupanya di atas nampah. Ternyata serabi kota Solo itu bentuknya lebih tipis, warnanya putih. Memakannya tidak perlu pakai kuah, sebab serabinya sendiri sudah manis. Rasanya? Wah, rasa kelapa mendominasi karena memang campuran santan dan kalapanya lebih dominan. Pokoknya enaklah. Harganya Rp 11.000 untuk paket kotak kecil yang berisi 5 buah serabi. Menurut saya harga segini agak mahal ya.

Menurut yang punya toko, serabi ini dinamakan serabi Notosuman karena nama pemiliknya di Solo adalah Bapak Notosuman. Bagi saya koto Solo punya kenangan tersendiri. Saya jadi terkenang waktu dulu jalan-jalan ke Solo. Terakhir saya ke kota ini pada tahun 1991 usai sidang Tugas Akhir. Beberapa tempat saya kunjungi di kota ini, Pasar Klewer yang terkenal, kraton Surakarta, lalu kampus UNS yang luas itu. Sambil melamun di tepi sungai Bengawan Solo di kampus UNS, saya membayangkan bagaimana Gesang mendapatkan inspirasi dari sungai ini ketika membuat lagu Bengawan Solo yang terkenal itu. Atau, terkenang dengan lagu keroncong Solo di Waktu Malam Hari yang didendangkan oleh Mus Mulyadi dengan irama mendayau-dayu.

Ealahhhh, kok jadi ngelantur dari serabi ke kenangan kota Solo ya…..

Para Politisi Menghambur-hamburkan Uang Untuk Beriklan

Coba lihat layar TV Indonesia hari-hari ini. Para politisi ramai mengobral wajahnya dan melakukan tebar pesona melalui tayangan iklan yang durasinya cukup panjang. Semua politisi itu berebut untuk memikat hati rakyat bahwa mereka adalah calon pemimpin bangsa. Mereka berlomba menayangkan iklan untuk menamankan kesan bahwa dirinya paling peduli dengan rakyat kecil. Digambarkan di dalam iklan itu kedekatan mereka dengan orang miskin yang tinggal di gubuk, nelayan yang menangkap ikan, bocah kecil Irian yang telanjang dada, petani yang menggarap sawah, dan sebagainya. Aneh bin ajaib, pasalnya selama ini politisi tersebut tidak pernah terlihat bersentuhan dengan orang miskin atau rakyat kecil, tidak terdengar sepak terjangnya membantu orang dhuafa, eh tiba-tiba mereka digambarkan begitu akrab dengan kemiskinan sebagian besar rakyat kita. Baca ulasan media tentang politisi pengiklan di sini dan di sini.

Politisi pertama yang memasang iklan secara jor-joran di media adalah Soetrisno Bachir, Ketua Umum PAN. Menurut yang saya baca di media, ratusan milyar rupiah habis dikeluarkan pengusaha ini untuk beriklan dengan slogan “Hidup adalah perbuatan”. Wajahnya menghiasi layar TV setiap hari. Busetnya lagi, iklan Soetrisno Bachir juga memenuhi kepala penonton di bioskop, karena dia juga memasang iklan sebelum pemutaran film.

Iklan Soetrisno belum reda, eh datang lagi iklan Prabowo. Prabowo yang namanya terkenal pada waktu kerusuhan Mei 1998 meramaikan layar TV dengan profil dirinya yang dekat dengan petani. Hebatnya lagi, selain mempromosikan dirinya, ikut numpang juga di iklan itu promosi partai baru yang mengusungnya sebagai calon Presiden, Gerindra.

Politisi lain mulai latah pula beriklan. Rizal Mallarangeng, yang sering disebut sebagai “agen asing” karena kedekatannya dengan LSM luar negeri untuk menghantam gerakan Islam di Indonesia, tak mau ketinggalan menjejali penonton dengan iklan yang mengesankan dirinya sebagai pembela rakyat kecil. Kalau Soetrisno dan Prabowo beriklan jor-joran sih wajar saja karena mereka pengusaha yang banyak duit. Sedangkan Rizal Mallarangeng, duit beriklannya darimana?

Terakhir. SBY pun mulai “genit” dan ikut-ikutan beriklan di televisi memanfaatkan momentum HUT RI ke-63. Mungkin SBY beriklan untuk manikkan pamornya yang menurut hasil survey popularitasnya menurun dan hampir dikejar oleh Mega

Para politisi itu beriklan ya sah-sah saja, tidak ada aturan yang melarangnya. Biaya pembuatan dan panayangan iklan dari uang mereka sendiri. Itu hak mereka. Tetapi, jika kita membaca kisaran uang yang mereka hamburkan untuk beriklan, sungguh sebuah ironi di tengah kemiskinan dan kesusahan hidup sebagian besar rakyat Indonesia. Milyaran rupiah uang hanya untuk membangun citra diri politisi, tidak sebanding dengan penderitaan jutaan rakyat yang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Mereka belum pasti juga dipilih jadi Presiden, partai mereka belum tentu mencapai syarat minimal suara untuk mencalonkan dirinya menjadi capres (kalau nggak salah 15%). Rizal Mallarangeng contohnya, partai mana yang akan mencalonkan dia menjadi capres? Golkar? Harus bersaing dengan Jusuf Kalla. PDIP? Masa mau melangkahi Mega. PD? Berani menantang SBY? Sedangkan Soetrisno Bachir juga sulit kans-nya untuk maju, karena PAN diprediksi mendapat suara yang makin kecil pada Pemilu 2009 nanti.

Jadi, milyaran rupiah uang untuk dana iklan mereka itu tidak memberi manfaat apa-apa buat rakyat Indonesia. Andaikan uang bermilyar-milyar itu digunakan untuk kegiatan yang lebih bermanfaat bagi kepentingan rakyat kecil, coba bayangkan berapa banyak sekolah-sekolah yang hampir rubuh dapat dibangun kembali, atau digunakan untuk memodali pedagang kecil yang terjerat rentenir untuk berusaha, atau untuk beasiswa sekolah buat siswa dari keluarga miskin, dan lain-lain. Pokoknya untuk amal sosial lah. Manfaatnya langsung dirasakan oleh rakyat. Dan yang lebih penting, semua amal sosial itu didasari oleh niat yang iklhas, jadi tidak untuk mengharapkan supaya dipilih menjadi Presiden. Insya Allah, jika niatnya tulus, Allah SWT akan membalasnya dengan pahala yang besar di akhirat.

Ah, tapi itu semua kan menurut saya, bukan menurut politisi itu. Apa mereka pernah terpikir hal beginian nggak sih?

Semester Baru, Semangat Baru

Selasa 19 Agustus 2008 ini adalah awal semester baru di ITB. Tahun
ajaran 2008/2009 segera dimasuki. Semester baru ini juga ditandai
dengan berlakunya kurikulum baru 2008-2013. Sosok-sosok mahasiswa baru
2008 berjalan dengan riang gembira. Mereka mendapat pengalaman pertama
kuliah pada hari ini. Euforia menjadi mahasiswa ITB masih terdapat pada
wajah-wajah mereka yang ceria. Biasalah, kan belum UTS, belum tahu
MA-FI-KI di ITB seperti apa. Memangnya kenapa UTS di tahun pertama di
ITB? Menyeramkan? Tidak juga. Entah kenapa, sejak zaman saya menjadi
mahasiswa dulu, pencapaian nilai di UTS sering dijadikan tolok ukur
keberhasilan awal kuliah. Sang juara di SMA bertemu dengan banyak
“saingan” dari berbagai daerah di ITB. Bagi yang tidak siap menerima
kenyataan bahwa nilai-nilainya anjlok mungkin akan frustasi. Prinsip
“di atas langit masih ada langit” kayaknya perlu dicamkan oleh
mahasiswa baru ITB, supaya mereka tidak sombong dan takabur.

Saya datang agak siangan ke kampus dan mulai merasakan kemacetan di
kawasan Ganesha (yang selama liburan panjang kemaren terasa lapang). Satu hal yang pasti, jalan Ganesha dan sekitarnya penuh dengan “lautan” parkiran mobil mahasiswa, kebanyakan berplat B, sebuah pemandangan yang tidak pernah kiat lihat pada tahun 90-an. Apakah ini pertanda mahasiswa ITB banyak yang berasal dari Jakarta dan sekitarnya? Atau, mungkin karena jarak yang dekat dengan Bandung maka mobil orangtua di Jakarta bisa dibawa nge-kos di Bandung. Atau, mungkin juga mobil baru sebagai hadiah dari orangtua karena berhasil lulus masuk ITB? Yang jelas, lautan mobil di area parkiran itu menunjukkan kelas sosial mahasiswa ITB saat ini. Semoga kesenangan yang diperoleh dari orangtua sebanding dengan capaian kuliah ya, dik….

Awal semester ini saya sudah mulai direpotkan dengan persiapan kuliah. Saya mulai membuat rencana perkuliahan, aturan-aturan, dan sebagainya. Semester ini ada sedikit kelegaan karena jumlah mahasiswa Informatika Angkatan 2007 sudah “berkurang”, sekitar 90-an orang jumlahnya. Lho, kemana yang lain? Bukankah mahasiswa IF biasanya 120 – 130 orang? Tenang, tenang, sebagian mereka sudah “pindah” ke program studi baru yaitu Teknologi dan Sistem Informasi (TSI), masih di lingkungan fakultas STEI juga. Sejak lama saya berharap mengajar pada kelas berukuran menengah seperti zaman Angkatan 90-an dulu, yah sekitar 80 -
100 orang. Menurut saya 90 orang merupakan jumlah ideal mahsiswa IF, tidak crowded seperti 3 angkatan terakhir yang jumlahnya mencapai 120 orang lebih bahkan pernah mencapai 160 orang!.

Awal semester baru memang membawa semangat baru. Asa dirajut di awal
tahun ajaran baru. Hari ini harus lebih baik daripada hari kemaren, dan
hari esok harus lebih baik daripada hari ini.

Menunggu kuliah di ruang kuliah LabTek V:

Diskusi sudah mulai marak di gedung Campus Center:

Berjalan menuju boulevard:

Menjarah Uang lewat Ponsel

Kenapa ya di dunia ini ada saja orang yang mencari rizki dengan cara yang tidak halal? Sebuah SMS di pagi hari masuk ke ponsel saya. Pengirimnya: TELKOMSEL. Isinya begini:

Semarak TELKOMSELpoin 2008/2009 priode ke-4. sim-Card anda mendapat Hadiah Rp25 juta’ utk info hubcust.service; 021-33221222/021-33221555. Terima kasih.

Saya sudah yakin ini pasti penipuan. Dari sintaks EYD saja kalimatnya sudah banyak yang salah ketik. Tapi, untuk lebih meyakinkan lagi saya telpon kantor Telkomsel Bandung. Saya tanyakan apa benar Telkomsel punya program Semarak TELKOMSEpoin. “Benar”, jawab si mbak di seberang sana. Lalu saya jelaskan SMS yang saya terima dan si mbak menanyakan nomot telpon cust. service yang tercantum di pesan itu. “Abaikan saja Pak, sudah banyak orang yang tertipu dengan SMS semacam itu. Telkomsel tidak mungkin memberitahu pemenang lewat SMS, pasti diumumkan lewat iklan di koran dan dihubungi via surat”, jawab si mbak dengan ramah (walah, walah, kok saya malah mengiklankan operator seluler di sini ya?).

Sudah banyak orang yang tertipu dengan SMS semacam itu. Coba deh baca surat pembaca di koran yang menceritakan kasus yang dialami penulis surat. Setelah nomor di dalam pesan dihubungi, orang yang mengaku cust service atau Bapak ini, Ibu itu, dsb, menyuruh si korban datang ke ATM (biasanya ATM BCA, untung saja saya tidak menabung di bank itu). Bapak di seberang sana menjanjikan hadiah akan ditransfer via ATM. Di dalam ruang ATM, si korban tetap berhubungan dengan si Bapak dengan ponsel. Seperti terhipnotis saja, si korban menurut saja arahan si Bapak untuk menjalankan instruksi dengan menekan tombol-tombol di ATM. Hasilnya, hadiah yang dijanjikan bukannya masuk ke rekening si korban, sebaliknya uang di rekening si korban terkuras masuk ke rekening si penipu. Si korban baru sadar setelah pengaruh hipnotis hilang (beneran gitu seperti dihipnotis?), lalu mengecek saldo rekeningnya. Bukannya untung, malah buntung. Uangnya habis dijarah si penipu.

Penipuan semacam ini, dengan aneka variasi, sebenarnya sudah basi, tetapi masih saja sering terjadi. Tetap saja banyak orang yang tergiur dan mau menurut kata-kata si penipu. Siapa yang tidak mau iming-iming hadiah yang besar (biasanya di atas 20 juta) di zaman serba sulit begini.
Penjarahan uang lewat ponsel punya banyak jurus. Cara yang lebih ‘halus’ adalah dengan menguras pulsa si korban. Saya dapat SMS yang isinya begini:

Mau berlibur ke Eropa bersama artis ternama? Ikuti program Spring Tour berhadiah paket liburan dan uang saku untuk berdua. Ketik: REG SPRING nama, kirim ke 1212.

Nah, si calon korban yang tidak ngeh dan tergiur dengan iming-iming hadiah besar mencoba mengikuti program tersebut dengan mengetikkan REG seperti perintah yang dimaksud lalu kirim ke nomor yang dituliskan. Setelah REG ebrhasil, dia akan menerima setiap hari beberapa buah SMS dari operator yang berisi berbagai pertanyaan. Dalam sehari bisa 2 hingga 4 buah pesan SMS yang datang. Setiap pesan SMS yang datang akan mengurangi pulsanya secara otomatis. Celakanya, si korban tidak bisa melakukan UNREG. Meski sudah UNREG beberapa kali, tetap saja dia dibanjiri pesan dari operator setiap hari hingga pulsanya habis. Mau isi pulsa baru? Tetap saja dia dibombardir dengan pesan dari operator. Apa harus ganti nomor segala untuk menghindari sedot pulsa itu?

Bagi si penipu, apa dia tidak takut kalau uang haram yang dia peroleh tidak akan membawa berkah baginya di dunia maupun di akhirat?

Masih SMP Sudah Merokok, Merokok Awal dari Penggunaan Narkoba

Di dekat kompleks perumahan saya di Antapani ada sebuah SMP negeri. Anak-anak SMP kalau mau ke sekolahnya sering melewati jalan di dekat rumah saya, jalan pintas gitu. Saya suka memperhatikan kelakuan anak SMP itu. Pada jam-jam belajar di sekolah saya sering melihat sekolompok anak SMP yang membolos. Mereka bukannya belajar di kelas, tapi malah asik nongkong di pos ronda, sebagian lagi main Play Station di rumah tetangga yang ada warung dan rental PS nya (NB: saya paling tidak setuju ada tetangga yang buka usaha PS, sebab membuat anak-anak jadi sering main PS daripada belajar, tapi gimana ya itu hak orang lain mencari usaha, saya tidak bisa protes). Nah, anak-anak SMP yang mbolos itu terlihat asik merokok. Saya tebak-tebak dari seragamnya yang baru pasti mereka masih kelas 1 SMP, baru 2 bulan meninggalkan bangku SD. Anak-anak itu menikmati sekali rokok itu, sebentar-sebentar asapnya dihembuskan ke atas, persis seperti orang dewasa merokok. Gayanya itu lho, seperti sudah pengalaman merokok saja.

Saya yakin pasti mereka merokok itu karena ada kesempatan bebas dan jauh dari pantauan orangtua dan guru. Di rumah mungkin mereka tidak berani merokok karena pasti dimarahi, tapi begitu dapat kesempatan mereka akan melakukannya. Sebagian besar remaja menjadi perokok karena terpengaruh teman. Awalnya coba-coba atau dipanas-panasi teman. Kalau nggak merokok dibilang nggak keren, kurang macho, ketinggalan zaman, anak ingusan, dan lain-lain. Akhirnya, remaja tanggung yang ingin diakui eksistensi di depan kelompoknya terjerumus juga dengan kebiasaan merokok.

Tentang bahaya merokok kita sudah sama-sama mahfum, jadi tidak perlu dibahaslagi. Menurut penelitian yang saya baca (lupa dimana pernah baca), merokok adalah gerbang menuju penggunaan narkoba. Hampir semua pencandu narkoba adalah perokok. Seorang pencandu narkoba di sebuah panti rehabilitasi pernah mengatakan begini: jangan pernah sekali mencoba merokok, karena awal dari kecanduan narkotika dimulai dari kebiasaan merokok.

Benar juga sih kalau dipikir-pikir. Merokok menimbulkan kenikmatan bagi pengisapnya. Mungkin nikotin di dalamnya yang membuat efek nikmat itu. Nah, lama-lama si perokok mungkin ingin mencoba sensasi nikmat yang lebih lagi, maka di dalam batang rokok disisipkan linting ganja atau sejenisnya. Makin nikmat lagi kalau mengisap dilakukan secara bersama-sama. Akhir cerita kita sudah sama-sama paham, sekali memakai narkoba maka efeknya ketagihan yang tidak berkesudahan.

Narkoba bersaudara kandung dengan minuman keras. Pencandu narkoba umumnya adalah peminum. Di Bandung begitu sering saya melihat anak-anak yang masih belia sudah biasa minum minuman keras yang mudah dibeli di warung-warung dan toko swalayan. Anak-anak muda kita sudah dirusak dengan narkoba dan minuman keras sampai ke desa-desa.

Yang lebih mengerikan lagi, para pemabuk dan pencandu mudah terjerumus ke dalam praktek seks bebas. Perempuan dan laki-laki muda yang sudah terjerumus pada kebiasaan buruk itu sering kumpul-kumpul, bicara ngalor-ngidul di tempat kongkow-kongkow. Yang perempuan mungkin pencandu juga atau dijebak dengan minuman keras yang sudah dicampur obat tidur, lalu terjadilah apa yang seharusnya tidak boleh dilakukan mereka.

Hmmm…saya menyimpulkan, awal dari semua kemaksiatan di atas adalah rokok. Dari rokok –> narkoba–>minuman keras—>seks pra nikah. Memang tidak semua perokok terjerumus lebih dalam seperti arah panah itu, tetapi begitulah yang banyak terjadi.

Karena itu, anak-anak harus kita jauhi dari rokok. Ayah atau ibuya jangan merokok supaya tidak ditiru pula oleh anak (alhamdulillah saya belum pernah merokok sejak dulu kala). Selain itu orangtua juga perlu mengetahui dengan siapa anak-anaknya bergaul, apa kegiatannya, dan lain-lain. Zaman sekarang pengaruh lingkungan sangat dahsyat mempengaruhi anak-anak.

Tiga Alasan Kenapa Pak Taufik Kalah di Pilwalkot Bandung

Pemilihan walikota Bandung sudah usai dilaksanakan hari Ahad 10 Agustus kemaren. Hasil quick count pun sudah sama-sama kita ketahui baik dari media online maupun dari koran lokal Bandung. Pasangan Dada-Ayi (Pak Dada Rosada calon incumbent sekarang) mendapat suara mutlak sekitar 60 persen lebih, pasangan Taufikurrahman-Abu Syauqi hanya mendapat 22 % sedangkan pasangan calon independen Hudaya-Nurhadi hanya mendapat 9%. Hasil quick qount ini sepertinya tidak akan berubah hingga selesai perhitungan nanti. Pemenangnya sudah bisa dipastikan Pak Dada Rosada.

Kemaren waktu nyoblos saya memilih pasangan Trendi (Pak Taufik dan Abu Syauqi). Alasannya sederhana saja, pertama Pak Taufik adalah sesama rekan kolega dosen di ITB, dan kedua karena partai pengusungnya adalah PKS (he..he, simpatisan nih ceritanya). Di TPS tempat saya memilih di kawasan Antapani, yang menang adalah pasangan Trendi, tetapi ketika jalan-jalan mengecek di TPS lainnya, mayoritas yang menang adalah Pak Dada. Dari beberapa TPS itu saja saya sudah menyimpulkan Pak Taufik bakal kalah. Ternyata prediksi ini terbukti benar setelah hail quick count keluar.

Saya tidak kaget Pak Taufik kalah. Seminggu sebelum hari H saya sudah melihat kemungkinan Pak Taufik tidak mungkin menang. Awalnya sih, kira-kira sebulan sebelum hari H, saya memprediksi Pak Taufik yang akan menang dengan beberapa alasan: (1) pengalaman Pilkada menunjukkan calon incumbent biasaanya selalu kalah dalam berbagai Pilkada di Indonesia, tapi hal itu ternyata tidak berlaku buat Pak Dada, (2) di Bandung jaringan PKS sangat solid, maklum waktu Pemilu 2004 lalu PKS adalah partai pemenang di Bandung, (3) Pak Taufik dan Pak Abu Syauqi adalah pasangan paling muda usia (ini warning buat PKS yang sering melontarkan wacana pemimpin muda, ternyata muda atau tua bukan jaminan bisa terpilih). Ternyata alasan saya ini terbukti salah untuk Pilkada Bandung.

Menjelang hari H beberapa hasil jajak pendapat memenangkan Pak Dada. LSI (Lembaga Survey Indonesia) misalnya, secara mencolok memasang iklan secara sporadis di koran lokal Bandung dan secara “berani” menetapkan pemenangnya adalah Pak Dada (menilik hasil survei selama Juni, Juli dan Agustus). Iklan ini memang mampu mempengaruhi psikologis pemilih atau setidaknya menggiring opini publik bahwa Pak Dada yang paling unggul.

Dari segi program sebenarnya program kerja Pak Taufik-Abu Syauqi lebih berbobot dibandingkan pasangan lain. Debat di televisi juga memperlihatkan kualitas Pak Taufik yang doktor ini terlihat unggul. Tetapi, sebagus apapun programnya, pemilih tetap melihat figur. Pemilih di Indonesia tidak melihat gelar akademis atau program sang calon sebagai referensi memilih. Yang dilihat adalah ketokohan, dikenal apa tidak. Ini pula yang menjadi alasan kenapa Heryawan-Dede Yusuf yang menang waktu PilGub Jabar kemaren. Orang Jabar tidak kenal siapa itu Heryawan, tetapi mereka sangat tahu siapa itu Dede Yusuf, seorang artis yang wajahnya malang melintang di layar kaca. Heryawan bisa menang karena faktor figur Dede Yusuf yang sudah lebih dulu populer khususnya di kalangan kaum ibu.

Nah, berdasarkan beberapa data yang saya terima, maka saya menyimpulkan sedikitnya ada 3 alasan kenapa Pak Taufik kalah dalam Pilwalkot ini:
1. Popularitas. Figur Pak Taufik belum dikenal oleh warga Bandung. Dari ketiga pasangan calon, pak Dada yang tingkat pengenalan oleh warga Bandung paling tinggi. Ya benar juga sih, dia kan wallikota sekarang, nama dan wajahnya sering muncul di media massa. Pak Taufik hanyalah seorang dosen di ITB, belum menjadi siapa-siapa. Meskipun PKS memasang ribuan poster Pak Taufik-Abu Syauqi hampir di semua tembok, dinding, tiang listrik, pagar pembatas, dll, sebagai cara untuk sosialisasi, tetap saja ribuan poster itu tidak mampu mengangkat popularitas Pak Taufik. Saya pikir alasan pertama ini adalah penyebab utama mengapa Pak Taufik gagal meraih dukungan.

2. Pak Dada manjabat sebagai incumbent, maka dia menggunakan posisinya itu untuk merebut simpati warga Bandung dengan berbagai proyek realistis sesuai dengan fungsi dan kewenangannya. Pak Dada lah walikota yang berani menutup lokalisasi Saritem di Bandung. Orang Bandung pasti mahfum dengan Saritem. Makanya tidak heran ormas-ormas Islam seperti MUI, FPI, Muhammadiyah, Persis, NU, dll mendukung Pak Dada sebagai bentuk “terima kasih” karena telah mengabulkan tuntutan mereka agar Saritem ditutup. Trus, seminggu sebelum hari H, Pak Dada pula yang menambal jalan-jalan berlubang di berbagai pelosok kota. Jalan Purwakarta Raya di kawasan Antapani Bandung misalnya, yang selama ini banyak bolong-bolongnya dan sering bikin ngedumel warga perumahan di sana, eh. tiba-tiba diaspal bagian yang berlubang itu sehingga menjadi mulus. Pengaspalan dikerjakan malam-malam, pagi-pagi warga sudah kaget kok jalannya sudah tidak berlubang lagi, sudah mulus. Siapa lagi yang punya kerjaan begitu kalau bukan Pak Dada. Proyek semacam ini jelas tidak bisa dilakukan oleh Pak Taufik dan Pak Hudaya karena tidak punya uang dan wewenang untuk itu.

3. Pasangan Trendi dilanda kampanye hitam. Menurut saya nih PKS “salah” memilih calon wakil walikota. Kalau Pak Taufik sih sudah tepat. Masalahnya ada pada Abu Syauqi. Abu Syauqi yang dicalonkan mendampingi Pak Taufik menurut saya bukan pilihan yang bagus karena rentan dengan cobaan fitnah. Abu Syauqi adalah pengelola Rumah Zakat yang sudah mapan dan cukup besar di Bandung. Dan ternyata dugaan saya benar, selebaran gelap beredar di tengah masyarakat yang melontarkan fitnah bahwa Abu Syauqi menggunakan dana zakat untuk kampanye Pilwalkot. Saya sih tidak percaya, tetapi yang namanya fitnah pasti ada yang termakan. Nampaknya kedepan PKS perlu lebih berhati-hati mencalonkan orang yang punya lembaga amal. Ternyata cobaan belum berakhir. Abu Syauqi dilanda isu poligami. Saya tidak tahu apa benar Abu Syauqi melakukan poligami, tetapi isu poligami sangat sensitif terutama buat kaum ibu dan perempuan yang merupakan kelompok pemilih terbanyak. Di jalan Dago saya lihat spanduk besar yang berisi ajakan jangan memilih pemimpin yang melakukan poligami. Spanduk itu mengatasnamakan kaum perempuan Bandung. Semula saya tidak ngeh siapa yang dimaksudkan, tetapi dari berita di media online isu poligami itu diarahkan kepada Abu Syauqi. Tampaknya PKS tidak belajar dai kasus Aa Gym yang pamornya meredup sejak melakukan poligami. Menurut saya sih poligami dan Pilwalkot adalah dua masalah berbeda. Itu hak sang calon melakukannya, tetapi kita juga tidak bisa menyalahkan orang jika mereka antipati kepada pelaku poligami. Sikap saya tentang poligami sudah jelas: dihalalkan oleh agama tetapi dengan sejumlah syarat yang sangat berat yaitu berlaku adil. Abu Syauqi dan Aa Gym mungkin mampu memenuhi syarat itu, tetapi jika berhadapan dengan opini publik yang masih memandang negatif poligami, mereka akan tersudut. Seberapa besar isu poligami ini mempengaruhi pemilih memang belum ada penelitiannya.

Kalah atau menang biasa dalam demokrasi. PKS saya rasa cukup terhibur dengan raihan 22 % suara, dibandingkan 60% suara Pak Dada yang merupakan koalisi dari 6 partai. 22% adalah modal minimal untuk meraih suara pada Pemilu 2009 nantii.

Jangan Sampai Kemiskinan Membuat Putus Kuliah

Setelah pengumuman hasil SNMPTN (duuuh susah bacanya dibanding singkatan yang dulu: SPMB, UMPTN, Sipenmaru) resmi dikeluarkan tanggal 1 Agustus 2008 yang lalu, di koran-koran lokal dan nasional bertebaran cerita-cerita sedih calon mahasiswa yang diterima di PTN tapi tidak punya uang untuk mendaftar. Mereka adalah mutiara-mutiara dari daerah yang mampu bersaing dengan pelajar-pelajar di kota besar memperebutkan bangku PTN. Mereka punya otak encer, tetapi sayang mereka bernasib malang dalam hal ekonomi. Mereka tidak mampu membayar uang pendaftaran yang nilainya sudah bikin minder orang miskin.

Di koran lokal saya baca ada seorang pelajar yang diterima di Fakultas Ekonomi sebuah PTN, tetapi hingga batas 2 hari menjelang daftar ulang uang sebesar 2 juta rupiah belum ada di tangan. Orangtuanya sudah susah payah mencari pinjaman sana sini, tetapi baru terkumpul 200 ribu. Itupun urunan dari kerabat dan tetangga yang juga sama-sama miskin. Darimana mencari 1,8 juta lagi? Orangtuanya hanyalah buruh tani, tidak punya sawah, hanya mengerjakan sawah orang lain mengharap upah. Sehari dapat uang tidak tentu, kadang ada kadang tiada. Makanpun terkadang harus puasa. Nah, untuk makan saja susah, apalagi buat uang sekolah anak.

Di Indonesia banyak orangtua semacam di atas. Orangtua si anak hanyalah buruh pabrik, buruh tani, sopir angkot, tukang ojek, pedagang makanan keliling, mbok jamu, dan lain-lain. Meskipun miskin, Tuhan masih memperlihatkan keadilan-Nya, mereka diberi anak-anak yang punya otak encer. Anak-anak mereka adalah “mutiara terpendam” yang menunjukkan prestasi cemerlang di sekolah. Meski mereka miskin, namun semangat baja untuk menyekolahkan anak ke jenjang lebih tinggi dimiliki orangtua semacam ini. Bagi mereka, hanya pendidikan yang bisa mengubah nasib keluarga. Biarlah orangtuanya saja yang miskin karena tidak pernah sekolah, tetapi jangan sampai kemiskinan itu terulang pada anaknya, anak harus sekolah setinggi mungkin, bagaimanapun caranya akan diupayakan untuk mencari uang biaya sekolah, demikian pikiran orangtua yang pasti akan membuat haru siapapun yang mengetahui kisahnya.

Sekarang ini pendidikan sudah tidak murah lagi. Biaya pendidikan makin lama makin tidak terjangkau saja bagi rakyat miskin. Biaya kuliah di PTN sudah tidak lagi murah. Di ITB misalnya, mahasiswa baru 2008 ini harus membayar SPP Rp 2,5 juta/semester. Biaya ini masih belum termasuk biaya lain-lain untuk pendaftaran mahasiswa baru. Mahasiswa ITB sekarang ini banyak berasal dari keluarga mapan secara ekonomi, tetapi jangan lupa masih banyak juga yang berasal dari keluarga kurang mampu. Mereka punya semangat untuk kuliah, tetapi di sisi lain mereka harus memikirkan bagaimana caranya mencari biaya hidup dan biaya kuliah.

Jangan sampai karena kemiskinan membuat mahasiswa cerdas ini putus kuliah. D.O karena miskin jangan sampai terjadi. Mahasiswa semacam ini sangat perlu didukung oleh semua pihak. Kepedulian terhadap mereka harus lebih ditingkatkan. Mereka perlu dibantu, diberi beasiswa, diberi pekerjaan paruh-waktu, dan lain-lain agar mereka bisa kuliah dengan tenang. Jangan sampai beasiswa jatuh pada orang yang tidak berhak. Teman-teman si mahasiswa jangan hanya memikirkan kesenangan diri semata, tetapi perlu menaruh kepedulian kepada temannya yang kesulitan ekonomi. Dulu saya punya mahasiswa yang punya welas asih pada teman-temannya yang tidak mampu. Dia tidak segan memberikan sebagian uang kirimannya yang besar kepada temannya yang bernasib malang itu. Mudah-mudahan amal shalehnya dicatat dan dibalas oleh Allah SWT dengan rizki yang berlimpah.

Bagi orangtua dengan semangat baja itu, tidak ada kata pantang menyerah untuk urusan sekolah anak. Mereka berharap si mutiara terpendam ini mengangkat harkat hidup keluarga. Kepada si anaklah harapan digantungkan untuk mengentaskan keluarganya dari kemiskinan. Tinggalah nanti bagaimana si anak membalas budi orangtuanya yang telah susah payah menyekolahkannya ke pendidikan tinggi.

Menemukan “Palai Bada” di Bandung

Secara tidak sengaja saya menemukan samba masakan kampuang yang jarang ditemukan di perantauan, yaitu palai bada. Sebuah gerobak warung makan sederhana di dekat tempat ngetem bis DAMRI di Jalan Dipati Ukur (depan Kampus Unpad), menyediakan palai bada itu. Warung makan Mande Kanduang namanya. Tidak setiap hari warung makan itu menyediakan palai. Jarang-jarang ada rumah makan Padang perantauan, termasuk di Padang sendiri, yang menyedian masakan urang kampuang seperti ini. Waktu saya ke warung itu cukup kaget juga melihat ada beberapa palai bada di atas meja.

Palai adala istilah umum untuk masakan Minang yang dibungkus dengan daun pisang kemudian dibakar di atas bara api. Mirip pepes lah kalau di Bandung. Lauk yang biasa dipalai adalah ikan (sehingga namanya palai ikan), meskipun ada juga yang mempalai ayam. Lauk yang akan dipalai dibalur dengan parutan kelapa yang sudah dibumbui dengan aneka bumbu seperti bawang merah, bawang putih, kunyit, lengkuas, dan jahe. Perasan jeruk nipis ditambahkan untuk membuat bumbu-bumbu tadi harum. Ikan yang sudah dicampur dengan parutan kelapa tadi lalu dibungkus dengan daun pisang lalu dikukus. Setelah pengukusan, masakan tadi masih perlu dibakar di atas bara api untuk menciptakan sensasi harum.

Nah, samba palai (bukan sambal lho, samba adalah istilah Minang untuk masakan lauk pauk atau sayuran yang dimakan dengan nasi) yang saya temukan adalah palai bada. Bada adalah sebutan untuk ikan teri, baik teri dari danau maupun teri dari laut. Palai bada ini enak dimakan dengan nasi yang masih panas, ditemani dengan sambal lado (nah ini beneran sambal) dan rebusan daun singkong atau lapap ketimun. Sudah lamaaaa saya tidak makan nasi dengan palai bada ini. Duluuuu waktu masih di Padang, ibu saya cukup sering memasak palai ikan. Kalau sudah makan dengan palai ikan, makan jadi batambuah dibauatnya.

Ini fotonya:

Ini isinya setekah daun pisang dibuka (warna kuning karena bumbu kunyit):

Waduh, jadi lapar nih.

Makan Mangga Gedong Gincu

Ganti topik ah ke soal makanan. Musim mangga sudah mulai menyerbu Bandung. Sebagai seorang penggemar berat buah mangga, saya selalu menunggu musim ini tiba. Buah mangga di Bandung memang menggiurkan selera, apalagi dimakan pada musim kemarau ini. Jawa Barat memang gudangnya buah mangga. Ada sentra produksi mangga yang secara turun temurun menghasilkan buah mangga yang berkualitas, apalagi kalau bukan daerah Indramayu. Indramayu yang sering dikonotasikan negatif dengan hal-hal tentang wanita PSK ternyata memiliki buah primadona, mangga. Mangga indramayu terkenal manis dan besar-besar. Setiap ada orang yang ke Indramayu, saya pasti nitip buah mangga, he..he. Kalau tidak, ya saya beli saja di daerah Cicadas pada saat pulang ke rumah. Mangga yang terkenal dari Indramayu adalah mangga harum manis dan mangga gedong gincu.

Dari semua buah mangga yang saya suka, mangga gedong gincu adalah mangga urutan pertama. Bentuk mangga ini bulat seperti buah apel. Kulitnya berwarna-warni, kombinasi warna hijau, kuning, merah, dan oranye seperti gincu lipstik yang beraneka warna itu, makanya disebut mangga gincu. Dari warna kulitnya saja sudah terbayang kelezatannya. Di bawah ini fotonya (klik foto untuk memperbesar). Sumber foto: commons.wikimedia.org.

Mari kita kupas mangganya. Daging buahnya berwarna oranye. Rasanya? Hmmm…manis dan sama sekali tidak ada rasa asamnya seperti mangga lain, membuat orang yang memakannya pasti ketagihan.

Ada satu jenis varian mangga yang sejenis dengan mangga gedong gincu, yaitu mangga gedong (tanpa embel-embel kata gincu). Mangga ini warna kulitnya seragam, oranye semua. Rasanya kurang begitu manis dibandingkan dengan gedong gincu.

Menurut yang saya baca, mangga ini disebut mangga gedong gincu karena pada zaman Belanda dulu mangga gedong gincu hanya untuk kalangan priyayi, bangsawan, dan londo-londo. Kata “gedong” dalam bahasa Sunda berarti sebutan untuk rumah orang kaya. Ada juga yang mengatakan mangga ini hanya ditanam di rumah-ruma orang kaya di Indramayu sehingga disebut mangga gedong. Sebutan gedong ternyata sesuai benar dengan harganya yang relatif lebih mahal dibandingkan dengan mangga jenis lainnya. Saat ini, ketika belum puncak musim mangga, sekilo mangga gedong gincu harganya Rp20.000, tetapi pada saat produksi buah ini melimpah, harganya jatuh hingga Rp5000/kg, sedangkan mangga harum manis terjun bebas dengan harga Rp3000/kg.

Tahun lalu buah gedong gincu termasuk salah satu buah yang dipesan oleh Gedung Putih, Washington untuk disajikan dalam jamuan makan tamu-tamu di sana. Buah-buah lokal yang primadona semacam ini memang harus dilestarikan, jangan sampai nanti mangga gedong gincu berganti dengan nama mangga bangkok, seperti yangs duah terjadid engan buah durian dan buah jambu.