Secara tidak sengaja saya menemukan samba masakan kampuang yang jarang ditemukan di perantauan, yaitu palai bada. Sebuah gerobak warung makan sederhana di dekat tempat ngetem bis DAMRI di Jalan Dipati Ukur (depan Kampus Unpad), menyediakan palai bada itu. Warung makan Mande Kanduang namanya. Tidak setiap hari warung makan itu menyediakan palai. Jarang-jarang ada rumah makan Padang perantauan, termasuk di Padang sendiri, yang menyedian masakan urang kampuang seperti ini. Waktu saya ke warung itu cukup kaget juga melihat ada beberapa palai bada di atas meja.
Palai adala istilah umum untuk masakan Minang yang dibungkus dengan daun pisang kemudian dibakar di atas bara api. Mirip pepes lah kalau di Bandung. Lauk yang biasa dipalai adalah ikan (sehingga namanya palai ikan), meskipun ada juga yang mempalai ayam. Lauk yang akan dipalai dibalur dengan parutan kelapa yang sudah dibumbui dengan aneka bumbu seperti bawang merah, bawang putih, kunyit, lengkuas, dan jahe. Perasan jeruk nipis ditambahkan untuk membuat bumbu-bumbu tadi harum. Ikan yang sudah dicampur dengan parutan kelapa tadi lalu dibungkus dengan daun pisang lalu dikukus. Setelah pengukusan, masakan tadi masih perlu dibakar di atas bara api untuk menciptakan sensasi harum.
Nah, samba palai (bukan sambal lho, samba adalah istilah Minang untuk masakan lauk pauk atau sayuran yang dimakan dengan nasi) yang saya temukan adalah palai bada. Bada adalah sebutan untuk ikan teri, baik teri dari danau maupun teri dari laut. Palai bada ini enak dimakan dengan nasi yang masih panas, ditemani dengan sambal lado (nah ini beneran sambal) dan rebusan daun singkong atau lapap ketimun. Sudah lamaaaa saya tidak makan nasi dengan palai bada ini. Duluuuu waktu masih di Padang, ibu saya cukup sering memasak palai ikan. Kalau sudah makan dengan palai ikan, makan jadi batambuah dibauatnya.
Ini fotonya:
Ini isinya setekah daun pisang dibuka (warna kuning karena bumbu kunyit):
Waduh, jadi lapar nih.


9 tanggapan so far ↓
Catra // 11 Agustus 2008 pada 11:54 |
warung mande kanduang tuh adalah temtat makan favorit saya pak
rinaldimunir // 13 Agustus 2008 pada 14:43 |
@catra: iya, cat, saya kadang2 membeli lauk buat makan di rumah di warung itu. Kata teman saya, warung itu menghidangkan masakan resep rumah, bukan masakan skala besar seperti di restoran Padang yang lain.
Pemuda Bangsa » Palai Bada // 8 September 2008 pada 11:14 |
[...] tahu sama makanan yang satu ini nggak? makanan ini bisa dibilang langka. DI Bandung jarang banget bisa menemui makanan yang satu ini. Pak Rinaldi bahkan bengong kenapa makanan ini bisa sampai di [...]
alris sutan batuah // 10 September 2008 pada 18:29 |
Saya nggak tau kalo di deket pool Damri Dipati Ukur ada yang jualan palai bada. Padahal duluuu sering naik Damri kalo mau ke Dago dari Leuwipanjang. Ntar kalo ke Bandung disempatkan mampir. Jadi ingek wakatu kost di Ayia Tawa dulu, palai bada makanan favourit ambo. Palai bada…taragak ambo untuak inyo
memi // 20 November 2008 pada 09:25 |
Wah pak Rinaldi orang padang yaa?? aku juga suka palai pak..kebetulan aku orang padang juga loh…jadi pengen makan palai pak gara2 ngeliatin gambarnya heehehehe
Demi Hari Esok Yang Lebih Baik :: Palai Bada :: November :: 2008 // 20 November 2008 pada 10:01 |
[...] pagi2 mampir ke blognya Pak Rinaldi baca postingan palai bada…teringat palai buatan angah ku tersayang, Huaaaa jadi [...]
dmoon.co.cc // 27 Februari 2009 pada 23:46 |
Slm kenal Da..
labiah sanang mangomentari nan ciek ko dari pado postingan baru ..
Soal o urusan lambuang …
Palai Bada « Tong Adiabatik // 8 Maret 2009 pada 11:12 |
[...] tahu sama makanan yang satu ini nggak? makanan ini bisa dibilang langka. DI Bandung jarang banget bisa menemui makanan yang satu ini. Pak Rinaldi bahkan bengong kenapa makanan ini bisa sampai di [...]
Ade // 2 Juni 2009 pada 08:27 |
saya juga udah lama ga makan ini ih pakkkdulu kalau di padang ada ibu2 yang suka jualan keliling, sambil bawa tentengan di atas kepalanya….(dynamic control nya dapat A++ kayaknya )