Kenapa Harus Berpuasa?

Bagi sebagian kalangan non-muslim, mungkin mereka tidak pernah habis pikir mengapa orang-orang Islam mau berpuasa dari makan dan minum selama lebih kurang 13 jam lebih dalam seharii (terhitung dari subuh hingga maghrib). Tidak cukup satu hari saja, tetapi dilaksanakan 1 bulan lamanya, dan hal itu terus diulang setiap tahun sepanjang hayat. Puasa itu sebenarnya berat, godaaanya sangat besar. Dengan perut kosong sepanjang hari dan rasa dahaga yang tidak tertahankan, orang yang berpuasa tetap harus bekerja mencari nafkah hidup dan beraktivitas sebagaimana biasa. Malam harinya disambung dengan ibadah shalat tarawih yang bilangan rakaatnya cukup banyak. Mengapa orang Islam mau berpayah-payah berlapar-lapar puasa? Gerangan apa yang menyebabkan mereka mentaati perintah agama ini?

Pertanyaan di atas tidak dapat dijawab secara logika, kecuali hanya dengan iman. Iman artinya percaya. Maka, kalau kalau sudah menyangkut masalah keimanan, banyak hal dalam agama dikembalikan kepada iman masing-masing: percaya atau tidak percaya. Tentang puasa ini, Allah SWT tidak memerintahkan kewajiban berpuasa kepada orang-orang Islam, tetapi kepada orang-orang beriman. Ini artinya kewajiban puasa hanya ditujukan kepada orang yang percaya saja (seperti yang dinyatakan dalam Rukun Iman yang enam itu). Dalam surat Al-Baqarah ayat 183, Tuhan mengatakan yang artinya:

Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu untuk berpuasa

Bunyi ayat di atas BUKAN:

Hai orang-orang Islam, diwajibkan atas kamu untuk berpuasa

Jelaslah kewajiban berpuasa itu hanya ditujukan kepada orang yang beriman saja. Siapapun manusia, tidak peduli agamanya apa, asalkan ia beriman, kepada Allah SWT, malaikat-malaikat-Nya, kitab suci-Nya, Rasul-Nya, hari kiamat, dan takdir, maka ia wajib berpuasa. Dengan ayat ini maklumlah kita kenapa banyak orang yang mengaku Islam tetapi malah tidak berpuasa. Kita saksikan pada siang hari di mal, restoran, warung makan, dsb, ada sebagian orang yang beragama Islam tetapi tetap saja mereka makan dan minum baik sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, padahal mereka tidak ada halangan untuk itu (tidak sakit, tidak berstatus musafir, tidak dalam keadaan haid bagi wanita, dsb). Mereka pasti tahu ada kewajiban berpuasa, tetapi sayang mereka belum mengimaninya saja. Kalau mereka beriman tentu mereka akan melaksanakan puasa.

Banyak penjelasan di dalam fiqih tentang hakikat puasa. Sebagian ulama menulis bahwa puasa melatih kepekaan terhadap sesama, yaitu ikut merasakan penderitaan orang-orang miskin yang menahan lapar karena tidak mampu membeli makanan. Puasa bertujuan menjaga rendah hati selalu, dan sebagainya. Semua pendapat tersebut benar, tetapi saya mempunyai jawaban berbeda. Karena puasa hanya diserukan kepada orang-orang beriman, maka dengan kewajiban puasa Allah SWT ingin melihat apakah kita memang mentaati perintah itu? Allah SWT ingin menguji seberapa taat kita kepada-Nya. Dengan kata lain, apakah memang betul kita beriman. Kalau memang beriman, maka iman itu perlu pembuktian, yaitu dibuktikan dengan mentaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Kalau tidak mau, berarti hamba-Nya itu tidak beriman. Jadi, pertanyaan di akhir paragraf pertama mengapa orang Islam mau berpayah-payah untuk berlapar-lapar puasa terjawab sudah, yaitu sebagai bukti keimanan mereka kepada Allah SWT. Kalau mau, bisa saja mereka menolak berpuasa, tetapi karena masih punya imanlah mereka taat melaksanakannya. Karena iman itu pula maka ibadah yang berat itu terasa ringan.

Dalam konteks yang lebih luas, faktor keimanan pula yang menjadi alasan mengapa orang Islam bersedia menunaikan shalat lima waktu, membayar zakat, berhaji, menyebembelih hewan kurban, dsb. Semuanya karena ketaatan kepada perintah Allah SWT, sebagai bukti bahwa hamba-Nya memang beriman.

Akhirnya, di ujung ayat 183 Surat Al-Baqarah tadi dikatakan:

…mudah-mudahan kamu menjadi orang yang betakwa.

Jadi, puncak dari keimanan itu adalah untuk menjadi orang yang takwa kepada Allah SWT. Tiada tujuan hidup yang lebih mulia selain menjadi orang yang bertakwa kepada Allah SWT.

Mudah-mudahan renungan kecil ini dapat mengingatkan saya dan siapapun yang membacanya untuk selalu ingat tujuan hidup di dunia ini, yaitu menjadi orang yang beriman dan bertakwa.

Tulisan ini dipublikasikan di Renunganku. Tandai permalink.

6 Balasan ke Kenapa Harus Berpuasa?

  1. petra berkata:

    Saya tidak pernah memikirkan tentang bulan puasa seperti itu, sih, Pak.
    Di kepercayaan yang saya anut juga ada praktik puasa kok. Hanya mungkin praktiknya kurang jelas terlihat oleh orang-orang di luar kepercayaan yang saya anut.

    Yang masih saya tidak habis pikir itu sampai sekarang, kenapa tempat-tempat makan umum, perlu ditutup/disembunyikan pada bulan puasa.

    Seperti halnya dulu saya pernah menuliskan bahwa saya agak risih dengan orang-orang yang melayangkan pandangan kepada saya ketika saya belanja di counter makanan “non-halal”, hal yang sama juga kadang terjadi ketika saya makan di tempat makan umum yang terbuka ketika bulan puasa.

  2. rinaldimunir berkata:

    @petra: ya, ya, dalam agama kristiani (Kristen dan Katolik) saya pernah baca tentang puasa. Puasa merupakan salah satu perintah Tuhan yang ditujukan kepada penganut agama samawi (Yahudi, Nasrani, Islam). Dalam surat Al-Baqarah tadi Allah SWT mengatakan bahwa diwajibkan puasa itu sebagaimana diwajibkan kepada ummat terdahulu.

    Tentang penutupan tempat makan selama bulan puasa sebenarnya tidak ada dalam ajaran Islam, itu semua adalah kebijakan masyarakat atau pemerintah daerah setempat terkait norma umum yang berlaku di sana. Di Aceh dan daerah yang kental keislamannya ada larangan berjualan makanan di siang hari, tetapi di Jakarta dmana masyarakatnya lebih heterogen tidak ada aturan itu. Jadi penutupan rumah makan itu memang bergantung norma mana yang dipakai oleh masyakarat.

    Dalam konteks positif, saya berpandangan penutupan itu dimaksudkan agar orang yang berjualan makanan dan orang yang tidak berpuasa turut menghargai orang yang berpuasa. Cara yang lebih santun menurut saya adalah dengan tidak melarang mereka berjualan, tetapi menghimbau agar mereka yang berjualan menutup daganganya dari pandangan sehingga tidak terlalu mencolok. Ini jalan tengah menurut saya, jadi orang yang tidak berpuasa tetap bisa makan dan orang yang berpuasa juga merasa dihargai. Ada banyak pendapat soal ini, jadi kita kembalikan kepada mana yang menurut kita baik.

  3. dwinanto berkata:

    Seringkali kini esensi dan makna dari ibadah puasa mengalami degradasi menjadi sekedar ritual semata,.
    Hal ini tampaknya semakin parah seiring perkembangan zaman dan pergeseran kebudayaan,.
    Di beberapa kampus bahkan suasana Ramadhan hanya sekedar buah bibir semata,.

    Semoga kita bisa menjadikan Ramadhan kita kali ini menjadi Ramadhan yang terbaik,.

  4. meremmelek berkata:

    ▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄
    ▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄
    ▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄
    ▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄

    BERITA BAIK!!!
    Mari kita liat nich blog. keren abiss!

    MARI MENCARI KEBENARAN

    Masuk sini= http://mustahil-kristen-bisa-menjawab.notlong.com/

    ▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄
    ▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄
    ▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄
    ▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄

  5. restya berkata:

    iya… terkadang merasa hampa saat Ramadhan

    seolah nggak ada beda dibandingkan bulan-bulan biasanya :(

  6. sum1 berkata:

    mungkin karna manusia gk bisa cuman ‘beriman’ doank.. manusia kan makhluk pemikir.. kl cuman disuruh ini itu, tanpa ada alasan yg jelas, mrk jadi ragu..
    apalagi jaman sekarang, ketidakadilan merajalela, orang jadi mikir.. Tuhan dimana? apalagi buat kalangan ekonomi ke bawah, atau kalangan kurang berpendidikan..
    gmn cuman beriman, lha wong makan aja susah, banyak masalah, dsb.. dan gk ada yg mau bantu..
    ditambah lagi sikap kaum fundamentalis yg semakin memperkeruh suasana..
    bukannya di quran juga ditekankan utk menjalin hubungan sosial yg kuat (atau gak ya, gak tau gw)..
    orang islam banyakan cmn pgn enaknya aja.. ngambil enaknya aja.. ngelakuin enaknya aja.. sholat, puasa, dsb.. udah, gitu aja.. giliran tolong menolong susah, memiliki akhlak yg baik, males,
    mungkin itulah kalo beragama cmn dgn modal “iman” doank.. gak pernah mengkaji lebih dalam.. udah puas dgn modal sholat+puasa+dsb biar bs masuk surga, jd hal2 lain => “emang gw pikirin”..

    ya tak??

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s