Tertarik dengan komentar Dwinanto pada tulisan saya sebelum ini yang menyatakan bahwa esensi dan makna ibadah puasa telah bergeser menjadi sekedar ritual semata. Benarkah? Menurut saya, pada sebagian ummat Islam tampaknya iya. Tidak hanya puasa, tetapi juga ibadah lain seperti haji, shalat, dan sebagainya. Sebagian orang menjalani ibadah itu sebagai aspek rutinitas semata, bahasa inteleknya sebagai “ibadah ritual”. Puasa sih puasa, shalat ya shalat, pergi haji sih pergi haji, tetapi dampak ibadah itu dalam kehidupan sehari-hari tidak terlihat. Meskipun seorang pemuda shalat, tetapi ia tetap berciuman dan berpelukan dengan wanita yang bukan muhrimnya. Meskipun seorang wanita berpuasa, tetapi soal bergosip dan menggunjingkan orang tetap saja jalan. Meskipun seorang mahasiswa taat beribadah, tetapi ia tetap nyontek dalam ujian atau membuat tugas.
Inilah Indonesia, negeri yang sering dikatakan sebagai masyarakatnya mengaku paling relijius. Indikasi negara paling relijius dapat dilihat dari kehidupan beragama di Indonesia yang semarak. Mesjid, gereja, pura, dan wihara selalu penuh umat yang beribadah. Jemaah haji ke Mekkah selalu meningkat setiap tahun. Acara Ramadhan ramai di televisi. MTQ diadakan secara periodik dan berlangsung semarak . Jumlah rumah ibadah tidak terhitung lagi banyaknya. Pengajian dan kebaktian banyak di berbagai tempat. Majelis Ta’lim tidak terhitung jumlahnya. Masih banyak lagi indikator kehidupan beragama yang menunjukkan bahwa Indonesa adalah negeri yang masyarakatnya mengaku paling relijius. Tetapi ironisnya, negeri yang disebut paling relijius itu justru menjadi negara paling korup sedunia. Praktek korupsi, pungli, dan manipulasi, sudah mendarah daging mulai dari pejabat, politisi, sampai ke rakyat biasa. Al Amin, contohnya, anggota DPR yang terlibat kasus pemerasan dan korupsi uang pada kasus alih fungsi hutan Pulau Bintan, apa sih yang kurang pada dirinya. Namanya islami sekali, ia berasal dari partai berbasis agama yang kuat, saya haqqul yakin pengetahuan agamanya sangat dalam dan ibadahnya juga tidak kurang, tetapi perilakunya jauh sekali dari makna semua ibadah yang dia kerjakan: dia korupsi uang negara dan main perempuan. Jaksa Urip contoh lainnya, pastilah dia seoarng jemaat yang rajin ke gereja, tetapi dia mau saja disuap oleh seorang perempuan agar kasus BLBI ditutup. Itulah yang sering disiniskan orang: ibadah jalan terus, korupsi jalan terus. Ada ambivalensi di sini. Itu baru tentang perilaku korupsi, msih banyak kebobrokan lainnya banyaknya tempat prostitusi. industri pornografi juga marak, minuman keras mudah diperoleh, dan sebagainya.
Banyak orang terlihat alim dan saleh ketika berada di dekat kitab suci atau tempat ibadah. Mereka terlihat soleh ketika mengerjakan ibadah, tetapi kenapa orang-orang itu bersikap berbeda ketika sudah keluar dari “area suci”? Kemana perginya bacaan yang dia baca ketika shalat? Shalat seolah-oleh menjadi gerakan yang tidak punya jiwa atau ruh sama sekali. Puasa hanya sekadar menahan haus dan lapar. Esensi dari ibadah itu tidak berbekas pada perilaku dirinya dalam kehidupan sehari-hari. Kok bisa ya?
Inilah apa yang dinamakan dengan beragama sekadar tataran ritual saja. Ritual berarti kewajiban yang jika sudah diselesaikan maka ya sudah, pokoknya sudah dikerjakan. Seharusnya esensi ajaran agama itu tercermin dalam tindak tanduk dan perilaku kehidupan penganut agama dalam sehari-hari. Seorang muslim yang mengerjakan shalat misalnya, maka bacaan di dalam shalat seperti agar selalu berada di jalan yang lurus dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari. Seorang muslim yang membaca ayat Alquran yang berbunyi la taqrabu zinna maka dia implementasikan dengan tidak berduaan dengan dengan perempuan yang bukan muhrimnya.
Ritual memang bagian dari ajaran agama. Ritual itu penting dan malah harus. Kita tidak bisa menafikan ritualitas dalam malaksanakan agama. Tetapi ada aspek yang tidak kalah penting yaitu aktualitas. Aktualitas dalam beragama berarti mengejawantahkan nilai-nilai ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Saya ingat buku karangan Jalaluddin Rahmat berjudul Islam Aktual. Di dalam bukunya dia menyoroti apa yang saya ungkapkan di atas. Seorang muslim seharusnya mengaktualsiasikan Islam dalam kehidupan sehari-hari. Ibadah dalam Islam tidak hanya untuk dikerjakan, tetapi juga harus diimplementasikan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari. Kesalehan tidak hanya berupa kesalehan ritual (hubungan mansusia dengan Tuhannya), tetapi juga kesalahan sosial (hubungan manusia sesama manusia dan makhluk hidup lainnya).
Mudah-mudahan renungan yang sederhana ini dapat mengingatkan saya dan pembaca untuk lebih menghayati ajaran agama di tengah kehidupan dunia yang fana ini.
ironis banget, dengan predikat negara muslim terbesar, negara beragama, tapi tak memliki moral, mereka terlalu sibuk ritual tanpa melihat esensi apa yang ada dibaliknya
Wah pencerahan yang luar biasa dan sesuai kenyataan di lapangan…. Saya juga heran Pak, setiap Minggu pulang gereja begitu keluar dari Gereja isinya orang saling menerobot rebutan keluar Parkiran…
Pokoknya semua dibuat rutinitas biar ketika ditanya sudah shalat atau sudah ke gereja belum bisa menjawab “SUUUDDDAAHHH…”.
Kelakuan bisa berubah 180 derajat ketika sudah memegang Kitab Suci, malah pandai ceramah tentang isi kitab suci tapi setelah jauh dari Kitab Suci kelakukan minus…