Resesi global, resesi global, resesi global.
Itu kata-kata yang banyak dibincangkan orang di media massa hari-hari ini. Gara-gara kebangkrutan perusahaan2 besar di Amerika (seperti Lehman itu), ekonomi Amerika jadi gonjang-ganjing. Harga-harga saham di bursa saham seluruh dunia, termasuk Indonesia, ikut-ikutan jatuh. Bahkan BEI di Jakarta sempat tutup karena terus merosotnya indeks harga saham gabungan (IHSG).
Yang mengherankan saya, yang bangkrut dan hancur itu kan ekonomi Amerika, nilai dolar mereka pasti anjlok dong, tapi di Indonesia malah terjadi sebaliknya. Di negeri ini nilai dolar AS malah naik, sedangkan nilai tukar rupiah terhadap dolar turun, sampai-sampai menembus Rp10.000 untuk satu dolar AS pada akhir pekan lalu.
Sepintas aneh juga, lha wong yang kena masalah Amerika, tetapi yang jeblok malah rupiah Indonesia.
Setelah ditilik-tilik penyebab anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, akhirnya saya mengerti juga. Saya berargumen begini. Orang-orang dan perusahaan Indonesia masih bergantung sekali kepada dolar Amerika. Mendengar kabar resesi di Amerika, orang-orang dan perusahaan di Idnonesia sangat khawatir, takut nanti ada apa-apa dengan dolar. Mereka memburu dolar-dolar ini di bank dan tempat penukaran uang. Uang rupiah mereka ramai-ramai ditukarkan dengan dolar. Karena persediaan dolar di Indonesia terbatas, maka berlakulah hukum ekonomi: karena permintaan melebihi persediaan, maka barang yang dicari melangit harganya. Nilai dolar naik harganya, otomatis nilai rupiah jeblok, blok, blok. Benar nggak nih argumen saya ini?
Di tengah kepanikan yang melanda nlai tukar rupiah itu, pasti ada sebagian orang yang mencari keuntungan di tengah kesempitan. Tempat-tempat penukaran uang penuh dengan orang yang antri menukarkan dolarnya dengan rupiah. Mereka memanfaatkan nilai tukar rupiah yang merosot drastis untuk meraup keuntungan besar. Sebagian lagi menukarkan rupiahnya dengan dolar dan berharap dolar naik terus harganya supaya nanti bisa dijual lagi dengan harga tinggi. Makin jeblok nilai rupiah makin banyak keuntungan mereka. Bagi mereka yang terakhir ini tentu senag kalau nilai rupiah selalu merosot terus.
Menurut saya, sungguh tidak elok perilaku seperti ini: menjual uang dengan uang lagi di tengah kesempitan dan kesusahan bangsa ini. Memanfaatkan kesusahan bangsa ini untuk mendapatkan keuntungan diri sendiri. Sungguh sebuah ironi.
Alhamdulillah saya tidak punya tabungan dalam dolar dan tidak berniat atau berminat untuk ikut-ikutan transaksi valuta asing. Ditabung di bank syariah lagi supaya merasa aman lahir batin dan terhindar dari riba.
Saya pikir, kenapa orang-orang dan perusahaan di Indonesia tidak beralih ke mata uang dinar saja ya ketimbang dolar Amerika? Uang dinar terbuat dari emas dan nilainya selalu stabil. Malaysia sudah mempelopori pengggunaan dinar dalam transaksi dan saya dengar ekonomi Malaysia tetap adem-adem ayem saja di tengah gonjang-gonjaing resesi global ini
Mungkin orang dan perusahaan Indonesia enggan beralih ke dinar karena alasan psikologis. Apakah karena mata uang dinar “berbau arab” sehingga terkesan kurang bergengsi (baca: kampungan) dibandingkan dolar? Entahlah.
Yang jelas bagi saya, krisis keuangan global saat ini pertanda gagalnya sistem keuangan berbasis riba (bunga berbunga)? Apakah hal ini juga pertanda bangkitnya sistem keuangan syariah yang berbasis bagi-hasil? Wallahu alam bissawab.
Sekedar info Pak, minggu kemarin dan minggu ini terjadi “rush” terhadap Dinar. Orang2 kelihatan takut sekali hartanya berkurang gara2 nilai uang kertas turun (geleng2). Padahal kami sudah “teriak2″ sejak beberapa tahun yg lalu mengenai krisis ini. Memang kebanyakan orang baru percaya kalau sesuatu sudah kelihatan di depan mata.
Bapak sudah beralih ke Dinar?
susah untuk beralih ke Dinar.
masalahnya ya itu, kita terlalu banyak bergantung pada pemegang dollar, sih, Pak….
mereka mana mau dibayar pake Dinar…
Manusia memang cenderung memikirkan diri masing-masing sebelum hal lainnya,.
Jika dipandang bahwa dengan menukarkan uang mereka dengan dolar dapat memberikan keuntungan bagi mereka, maka itulah yang akan dilakukan,.
@nanto :
Sebenernya bukan memberi keuntungan, tapi biar gak repot aja.
Secara praktis, coba bayar tukang nasi goreng pake dollar (untuk nilai yang sama). mau gak mereka?
Kalau kita bayar dengan dollar, otomatis mereka harus mengeluarkan effort untuk menukarkan dollar untuk membeli barang dari pedagang-pedagang lain, dan seterusnya.
Gak mau susah, itu aja.
mungkin indonesia sudah menjadi negara bagiannya amerika pak, dalam beberapa hal kan kita sudah disetir mereka.
wah soal dinar, baik sepertinya, tapi aku belum tahu ding….
Pak guru, gak usah takut walau nilai tukar rupiah thd dollar tinggi, selama kita tetap beli/jual apapun itu dengan rupiah kan gak masalah hehe..mungkin situasi ini justru memicu kita untuk tetap cinta produk dalam negeri, lebih meningkatkan kualitas produk dalam negeri sehingga kita orang indonesia hanya beli (jual) dengan kita sendiri..kan klo gitu kita bisa fine2 aja to..
yang penting lagi ni disini mau dollar naik berapapun thd rupiah kayaknya orang masih banyak lah yg bisa makan, minimal nasi jagung, nasi tiwul masih bisa kita makan hehe..lha klo di europe..wahh 1 euro (13 000 rupiah) rasanya sudah gak bisa buat beli makan..
@fans: halo Yudha, kapan pulang ke Indo?
inilah bangsa latah, dari dulu kan ya gitu, giliran kurs USD menguat terhadap negara negara lain rupiah juga melemah, giliran kurs USD melemah dan mata uang negara lain menguat terhadap USD rupiah juga melemah (tetap aja) . kita lebih Amerika dari Amerika
indonesia masih bergantung ke amerika..
padahal mestinya amerika yang bergantung sama indonesia .. kitakan pasar mereka dengan jumlah pembeli 200jt jiwa ..
Keknya orang lebih suka dolar karena lebih global dan standar. Banyak sekali negara pakai dolar untuk menghitung nilai ekspor impor. Mungkin……
amerika gonjang ganjing, indonesia kena imbas, itulah Indonesia, di bilangin jangan kerja sama ma asing..”ngeyel”. malah kerjasama dgn perusahaan asing diperpanjang kontraknya sampai 90th.. umur kita ajah mungkin gak sampe segitu (insyaAlLoh)
yg jelas uang dinar (emas loh ya bukan nama dinar) lebih stabil,.. harga kambing jaman dulu waktu pke dinar, kalo di hargai pake dinar lagi di jaman sekarang tetep sama loh…
Saya sepakat dg No.9!
Sebenernya ada banyak efek samping selain nilai tukar uang ya. Contoh gampang: orang Amrik beli kaos sebulan 5 kali, setelah krisis, mereka hanya beli 2 kali. Dan kaos itu, diimpor dari Indonesia!
Jadi, impor kaos Amerika dari Indonesia yang sebelumnya 1juta/bulan, setelah krisis hanya 400rb/bulan. Indonesia mau membuang yang 600rb lagi kmana?
Ayo, jangan hanya berhubungan ekonomi dg US! Cari negara lain!
setujuuu…yook diumumkan transaksi pake dinar.
negara biang kerok jangan dijadikan teman. Indonesiaku tinggalkan US maka kitakan maju…
Kami di Malaysia tengah menikmati turunnya harga bensin…di perkirakan bulan2 mendatang harga bensin akan turun lagi…:-))
bukan masalah dolar apa dinarnya. maslahnya karena system dinegeri kita yaa emang bobrok banget. jangan bandingkan dengan malaysia sekarang kita terlalu jauh. arab bisa kuat dan dinar punya power, karena negeri itu emang kaya banget dan cadangan devisanya juga kuat. Kita harusnya kaya seperti mereka, jika saja birokrasi kita mau jujur dan transparan, disini yang kenceng kan korupsinya. Wajar aja bursa dikita samapi tutup, wong sahamnya digoreng mulu seh, dengan adanya krisis kan ketauan dan kedoknya terbuka banget. Secara performance perusahaan kita pada ancur2an koq dalamnya. contohnya saja BUMI, dia bertahan hanya karena owner nya aja punya power, makanya dilindungi. nah perbankan kita itu kucuran dananya digerogotin ama perusahaan2 begini. Giliran ada kucuran dana buat UMKM (SME), semua pada ribut dan yang gak tau malunya sampai orang birokrasinya semua minta bagian kadang orang bank pun dengan kagak malu2nya jadi calo. Ini yang harus diberesin dulu. Jangan nuding orang nuker dolar lantas tidak nasionalis, emang kalo mereka investasinya ancur siapa yang mau jamin. Dinegi ini kan kalau keuntungan terbatas tapi kalau yang namanya kerugian tanpa batas. Saya kebalikan dengan anda saya lebih suka berinvestasi di valas, atau mungkin forex trading, keliatannya lebih fair daripada main saham di BEJ. High Risk memang benar karena yang namanya berinvestasi finance emang high risk. Terbukti mungkin selembar saham dikita juga harganya ada yang lebih rendah dari 1 permen karet, padahal saat perdananya selangit tuh. Sama aja kan gak aman yaa mendingan main forex yang udah jelas marketnya global, objective, gak pake tepu2 kayak sahamnya di negeri kita….:-)
Aku pengen tau tuh, mana kala rugi dalam berusaha dan berinvestasi dengan pola bagi hasil apa bank syariah mau tanggung, semua?. Aku yakin kagak bakalan ujung2nya pasti berkilah terhadap suku bunga bank juga kan?, wong ujung2nya duit BI juga koq.
Yang nikmat lahir bathin itu, kita berkarya dan berikhtiar lalu dapat imbalan yang baik dan setimpal secara materi. Uang atau materi itu penting koq, kita beribadahpun kadang ada yang harus pake uang koq. kalau kita kere ada kemungkinan kita bakalan khufur karena kadang nyalahin diri sendiri dan yang paling berat nyalahin sang khaliq.
Yang berperilaku kurang baik iru adalah orang2 pemimpin negeri ini atau siapa saja yang menganggap dirinya punya power dan power itu dipake ngakalin rakyat kecil. Makanya aku setuju banget para koruptor itu dihukum yang seberat2nya. Dinegeri kita kadang lucu banget koeruptor2 pada saat krisis begini, sok2an ngomong atas nama rakyat kecil dan seolah membela rakyat kecil, naif banget
)
Heheheh………..kepanjangan juga aku nulis neh, jangan2 lebih panjang dari penulis artikelnya. Summarrynya sih gini aja: “Jangan usil ama orang buat anda syariah yang terbaik, please. Tapi buat orang lain termasuk saya forex trading yang terbaik, yaa boleh2 aja dong. Wong orang main forex dan valas juga ada ilmunya dan penuh resiko”. Intinya jangan nuding gak baik dan jangan ngomong hal negative kalo emang kagak tau dan belum turun langsung…..heheheh…………salam