Ada seorang insinyur yang bekerja di perusahaan eksplorasi minyak lepas pantai. Sehari-hari dia bekerja di tengah laut karena memang penambangan minyak dilakukan di dasar laut. Di perusahaan minyak itu ada aturan kerja yang berlaku untuk semua karyawan: tiga bulan di laut dan dua minggu di darat, artinya bekerja terus menerus selama tiga bulan di laut, lalu mendapat jatah libur dua minggu di darat. Begitu seterusnya. Gaji yang diperolehnya sangat besar. Dia sudah punya istri dan dua orang anak. Dengan gajinya yang besar dia dapat membangun rumah dan memenuhi kebutuhan anak istrinya di darat.
Tetapi dia merasa kurang bahagia.
Ketika ditanya kenapa, dia menjawab bahwa dia merasa kesepian di tengah lautan, apalagi kalau malam sudah menjelang. Memang gajinya besar, tapi dirinya jauh dari keluarga. Perasaan rindu kepada keluarga terpaksa ditahannya selama berbulan-bulan sebelum dia mendapat jatah libur dua minggu.
Nun di tempat lain yang jauh, ada seorang kuli angkat pelabuhan. Hidupnya sederhana saja. Setiap hari kerjanya mengangkat barang dari kapal ke gudang pelabuhan atau sebaliknya dengan menggunakan bahunya yang kekar. Jam kerjanya dari pagi sampai sore. Upah yang dia dapatkan tidak besar, kadang tidak cukup dan kadang dicukup-cukupkan untuk menafkahi keluarganya yang terdiri dari seorang istri dan lima orang anak. Memiliki rumah sendiri baginya masih sebatas mimpi, karena itu dia masih mengontrak sebuah rumah sempit di dekat pelabuhan.
Tetapi dia merasa cukup bahagia.
Ketika ditanya kenapa, dia menjawab bahwa meskipun hidupnya pas-pasan, tetapi setiap hari dia dapat berkumpul dengan anak dan istrinya. Malam hari seusai shalat dan makan malam, anak istrinya bergantian memijati badannya yang pegal-pegal. Anak-anaknya bercerita tentang pengalaman tadi siang, istrinya bercerita tentang kedatangan tukang kredit peralatan dapur. Baginya sudah cukup perhatian keluarganya sebelum dia mulai bekerja lagi esok pagi.
Cerita di atas memang terasa kontras, mungkin anda lebih setuju dengan model hidup yang mana, model hidup Pak Insinyur di tengah lautan itu atau model hidup Bapak kuli angkat pelabuhan itu? Tiap orang mungkin punya jawaban dan kriteria yang berbeda-beda dalam mengukur rasa bahagia itu.
Bagi kebanyakan orang Indonesia, berkumpul dengan keluarga setelah bekerja seharian adalah kebahagiaan yang tidak bisa dinilai dengan uang. Kesedihan akan muncul jika dirinya berada di seberang jarak yang jauh dari keluarga. Pria Indonesia setelah menikah adalah tipe rumahan. Jika pulang bekerja, maka dia langsung pulang ke rumah, tidak mampir-mampir dulu ke tempat lain. Sore hari jalanan macet oleh para pekerja yang ingin segera sampai ke rumah untuk berkumpul dengan anak dan istrinya. Di Jepang dan di banyak negara maju yang terjadi sebaliknya. Setelah pulang dari kantor, kebanyakan pekerja menghabiskan waktunya dengan pergi ke kafe atau klab malam, minum-minum, lalu pulang ke rumah dalam keadaan mabuk. Rasanya hidup itu terasa hampa.
Yang harus kita ingat-ingat adalah ada hak untuk diri sendiri dan ada hak untuk anak dan istri. Hak untuk diri sendiri sudah kita peroleh dengan bekerja bebas di luar rumah, pergi ke mana-mana seharian, makan-makan dengan teman sekantor, dan lain-lain. Maka, setelah pulang ke rumah waktu kita adalah hak untuk anak dan istri (bagi laki-laki) atau suami (bagi perenpuan). Saya bisa mengerti kenapa ada orang yang tidak suka pada akhir pekan dia diganggu dengan urusan kerja atau urusan lain yang menyita waktunya, karena dia ingin menunaikan haknya untuk keluarganya. Zaman sekarang orang-orang sangat sibuk, sehingga waktu berkumpul dengan keluarga sangat kurang. Waktu akhir pekan yang sedikit itu mereka manfaatkan untuk berkumpul dengan keluarganya.
Orang Indonesia memang tipe yang setia dengan keluarganya. Bersyukurlah kita masih hidup dalam lingkungan yang seperti ini.
12 tanggapan so far ↓
Zakka Fauzan Muhammad // 8 November 2008 pada 17:07 |
Hmmm, kalo jadi pekerja tipe 1, mungkin kerjanya diabisin sebelum nikah… Ntar kan uangnya dah banyak… Kalo udah nikah, uang itu dijadiin modal bikin usaha yang lain…
OB // 9 November 2008 pada 21:52 |
Kalo saya milih kerja gajinya besar, tapi deket ama keluarga.. He..he..he..
rinaldimunir // 10 November 2008 pada 11:12 |
@Zakka: boleh juga idenya tuh. Ada rencana ke arah demikian, zak?
@OB: saya yakin semua orang menginginkan hal itu, tapi sayang ada saja pekerjaan yang mengharsukan kita berpisah dengan keluarga seperti pengalaman insinyur di atas.
dwinanto // 10 November 2008 pada 15:38 |
Memang arti kata ‘bahagia’ itu berbeda untuk setiap orang, akan tetapi semoga apa pun itu, kita dapat selalu menjadi orang yang bersyukur atas segala nikmat-NYA,.
hamka // 10 November 2008 pada 21:34 |
Benar juga ya pak, tipe orang indonesia adalah setia, ternyata satu lagi kekayaan negeri kita.
Catra Prathama // 11 November 2008 pada 11:02 |
Selalu ada plus minus nya ya pak, ga ada yg plus melulu.
walau yang pekerja 1 hidup dengan gaji yang banyak, tapi tetap saja kebahagiaan untuk bertemu isterinya jarang.
kalau saya kelak nantinya (cita-cita), kerja di perusahaan minyak lepas pantai, saya gak akan nikah dulu.
Dalmuji // 11 November 2008 pada 11:23 |
Bener, saya juga cinta sama keluarga, klo dah waktunya pulang pengen cepet sampe rumah, kangen ama istri & anak2, biarpun lagi bokek..he..he.he..
petra // 11 November 2008 pada 12:59 |
yah, manusia memang susah lepas dari orang lain, terutama keluarganya.
tapi beberapa ada kok yang menikmati pekerjaan seperti itu. biasanya memang orangnya masih lajang.
Bioregulator // 11 November 2008 pada 18:20 |
Rupiah versus cinta. Mana yang kau pilih?
Pintar-pintar kita aja agar bisa bahagia. Tidak selamanya orang kaya bahagia, dan tidak selamanya orang miskin bahagia. Semuanya bergantung kepada cara kita mensyukuri hidup ini.
yunita // 13 November 2008 pada 18:57 |
Ah pak Rin ini….
jd makin kangen anakku nih
berhubung kudu bertugas 1 bulan ke negeri jiran…
pulang tugas…pasti ada hari yg g masuk kantor, menebus hari2 tdk bisa bersama anakku
chrisnaaditya // 15 November 2008 pada 09:36 |
Kebahagiaan tu gak tergantung pada tataran fisik atau apa yang kita miliki pak..Tapi lebih kepada perasaan bersyukur apa yang kita punyai.. Kalo pengemis dikasih uang 100rb tentu jauh lebih bahagia daripada direktur perusahaan tertentu yang dikasih uang dengan nominal yang sama, artinya kebahagiaan itu lebih kepada rasa syukur yang kita miliki..Namun sayangnya pak mayoritas mahasiswa terjebak dalam alur materialisme.. Kadang impian mereka sendiri yang mereka damba-dambakan tergadaikan gara-gara duit,, padahal ya,,duit gak bisa membeli kebahagiaan…
pebruari // 25 April 2009 pada 07:17 |
sayang sekali,nasib saya tidak sprti salah 1 dr mereka.
saya hanya seorang kuli,brpenghasilan pas-pasan. tp jg tdk bisa brkumpul dgn kluarga stiap hari.