Catatanku

Bahasa Gaul Sampai ke dalam Kelas

11 November 2008 · & Komentar

Mengamati mahasiswa dan anak muda zaman sekarang berkomunikasi membuat kita senyum-senyum sekaligus miris. Saat ini hampir jarang kita mendengar mahasiswa berbicara dengan kata “saya” dan “kamu”, mereka lebih sering menggunakan “lu” dan “gue”, atau dalam beberapa variasi seperti “elo”, “lo”, “gua”, atau “gw”. Mungkin penggunaan kata “saya” dan “kamu” dirasakan mereka terlalu formal ‘kali ya atau terlalu kaku. Oh iya, penggunaan kata “lo” dan “gua” bercampur baur dengan dialek betawi. Misalnya seperti di bawah ini:

Eh, gue mau pinjem catetan kuliah probstat lo dong?”
“Boleh, nih, entar lo balikin nanti malem ya, gua belon bikin tugasnya nih?”
“Tugas apaan? Kok gue enggak tahu?”
Makenye lo jangan sering bolos dong

He..he..he, itulah bahasa gaul anak muda di Bandung masa kini, khususnya di kalangan mahasiswa (utamanya lagi di ITB). Yang mengucapkannya bukan hanya mahasiswa dari Jakarta dan sekitarnya, tetapi mahasiswa yang berasal dari daerah-daerah bukan Jakarta juga enjoy saja berbicara dengan teman-temannya menggunakan bahasa gaul ini. Jakarta minded. Jadi jangan heran kalau kita mendengar logat medok Jawa dalam ucapan seperti di atas, atau dialek Sunda yang khas, atau logat Minang/Melayu yang kental dalam mengucapkannya. Kadang-kadang salah lagi dalam pengucapannya. Itulah yang membuat saya tersenyum geli mendengarnya. Misalnya begini:

Gua nggak bisaan euy ujiannya” (Sunda banget ya)

Di Bandung yang pengaruh Jakarta begitu kental karena dekatnya jarak kedua kota ini, penggunaan bahasa gaul sudah menjadi hal yang biasa, tidak hanya di kalangan mahasiswa tetapi juga siswa-siswi SMA/SMP. Coba sekali jalan-jalan ke Jl. Belitung dekat SMA 3 dan 5, dengarkan bagaimana siswa-siswa SMA itu bercanda dan bercakap-cakap. Anda akan menemukan fenomena yang sama seperti di kampus-kampus lain di Bandung.

Sepanjang bahasa gaul itu untuk memperlancar komunikasi dan membuat lebih akrab tentu sah-sah saja digunakan. Bahasa memang bertujuan untuk berkomunikasi, bukan?

Namun yang membuat miris adalah ketika bahasa gaul itu masuk ke area formal seperti kelas kuliah, seminar, diskusi, dan bahasa tulis. Ketika saya memimpin sebuah diskusi di dalam kelas, seorang mahasiswi tidak sadar menggunakan kata seperti: “Kalau kata gue sih … “, atau ucapan seperti: “pendapat lo gak salah..”. Nah, bingung ‘kan kita kenapa bahasa mahasiswa kita jadi kacau begini ya?

Dalam seminar Tugas Akhir yang dihadiri oleh dosen dan mahasiswa, si mahasiswa TA tanpa sadar menanggapi pertanyaan dari temannya dengan bahasa gaul seperti “menurut gua…dst”. Seisi kelas tersenyum geli mendengarnya. Lupa ya mas ini di dalam kelas seminar? Yang paling sering adalah pengucapan kata-kata informal seperti “ukuran datanya lumayan gede“, atau “waktu eksekusinya lama banget“. Kata-kata slank yang mengandung akhiran “in” tidak terhitung terlontar dari mulut si mahasiswa TA, seperti “dimasukin”, “ditambahin”, “digabungin”, “dihilangin”, dan sebagainya. Tambah parah saja, bukan?

Itulah pentingnya belajar berbahasa yang benar, bukan sekadar belajar Bahasa Indonesia, tetapi belajar menggunakannya secara baik dan benar serta tahu tempat dan situasinya.

Kategori: Seputar Bandung · Seputar ITB

13 tanggapan so far ↓

  • reiSHA // 11 November 2008 pada 12:25 | Balas

    Wah, setuju nih Pak. Saya juga suka mengamati hal ini. Tapi tampaknya susah membenahinya, hehe…

    Kalau bahasa gaul yang dicampur sama bahasa Minang juga banyak saya temukan Pak. Anak2 UKM sekarang aja banyak yang kaya gitu. Contohnya saja, percakapan yang Bapak tulis di atas jadinya seperti ini.

    “Eh, gue pinjam lah catatan kuliah probstat lu?”
    “Buliah, ko ha, tapi baliak-an beko malam yo, gue alun buek tugasnyo lai”
    “Tugas apo? Kok gue ndak tau?”
    “Makonyo lu tu jan acok-acok juo bolos”

    Di Padang malah fenomenanya lebih lucu lagi Pak. Bahasa Indonesia digunakan, tapi masih becampur sama beberapa kosakata Minang. Contohnya saja,

    “Bagaimana lagi ni ha? Ga ngerti aku do”

    Campur-campur aja semua. Dulu mungkin istilahnya masih ’sakarek ula sakarek baluik’, kalau sekarang? Ntahlah, hehe…

    (ini komen juga bahasanya campur-campur :) )

  • petra // 11 November 2008 pada 12:56 | Balas

    saya sendiri karena sering berbicara dengan orang yang jauh lebih tua sering memakai kata ganti “saya”.
    kadang-kadang kalau saya pakai kata “saya” dengan teman-teman, mereka sering merasa saya agak aneh. hehe.
    tidak biasa memang mendengar kata “saya” dalam percakapan sehari-hari

  • indz // 11 November 2008 pada 13:01 | Balas

    Ya pak, kami di forum TA SI dulu-pun demikian. Alhamdulillah pak Husni selaku pembimbing kami tidak bosan-bosan mengingatkan mahasiswanya ketika berdiskusi walaupun itu sudah terjadi berulang-ULANG kali. hehe.

  • rinaldimunir // 11 November 2008 pada 13:33 | Balas

    @reiSHA: mode tu kini anak-anak UKM sha? Batua tu, sakarek ula sakarek baluik.

    @petra: kalau untuk percakapan sehari-hari dengan teman sebaya tentu tidak apa-apa, Pet, tapi kalau dibawa ke forum resmi tentu tidak pada tempatnya.

    @indz: kebiasaan memang sukar diubah ya indz, tapi kalau mau berusaha tentu lama-lama bsia.

  • Oemar Bakrie // 11 November 2008 pada 14:32 | Balas

    Belum lagi kalau campur dengan bahasa/istilah Inggris yg diberi awalan dan akhiran bahasa Indonesia, seperti:

    inputannya adalah … , merunningnya perlu waktu lama … , dst.

    weleh-weleh …

    Yg juga disayangkan, meskipun isi dan bahasa blog itu terserah kita masing-masing, saya belum melihat ada mahasiswa yg memanfaatkan blog mereka untuk belajar berbahasa tulis yg baik. Jadi meskipun isinya berusaha menceritakan bidang keilmuan mereka secara ringan, tetap saja bahasanya ya bahasa gaul mereka … ampun !

  • dwinanto // 11 November 2008 pada 16:34 | Balas

    Mungkin perlu pembatasan ruang untuk penggunaan bahasa gauL itu sendiri ya, baik secara deklaratif/tulisan maupun ucapan/lisan,.

  • Mihael "D.B." Ellinsworth // 11 November 2008 pada 19:16 | Balas

    Ahem. Mungkin benar aku sudah terkontaminasi dengan bahasa gaul, tetapi itu hanya terimplementasi di lingkungan belajar (kelas) yang mengharuskan begitu. Selebihnya aku mencintai bahasa ibu, dan menanamkan cara berbahasa yang baik di dalam blog. :P

  • Zakka Fauzan Muhammad // 11 November 2008 pada 21:37 | Balas

    Hmmm, setidaknya saya bukan pengguna kata-kata “gue” dan “lo”… Tapi memang saya sudah terlalu terbiasa dengan akhiran -in, keluarin, tambahin, dan lain-lain (“lain-lain” tidak termasuk kata yang mendapat akhiran -in ya, pak :D )

    Susah memang berbicara formal, membiasakannya pun susah… Karena dimana kita mau membiasakan berbicara formal? Di kampus pun, saat kuliah saya rasa dosen dan mahasiswa sudah terbiasa menggunakan bahasa non-formal saat di kelas.. Jadi saya rasa agak wajar jika susah untuk membiasakan diri menggunakan bahasa formal…

    Untuk menulis paragraf di atas saja, lumayan sering jari tangan ini menekan backspace :D

  • Latu // 15 November 2008 pada 18:16 | Balas

    Menurut gua sih.. (ups :p), menurut saya mungkin karena:
    1. Si mahasiswa gugup saat presentasi tersebut, jadi dia tidak sempat berpikir jernih ketika melontarkan jawaban dari si penanya
    2. (menurut keterangan pelaku), si mahasiswa ‘terbawa’ oleh ‘pengaruh’ si penanya (Penanya adalah sobat karib sehari-hari si mahasiswa)

    Jadi inget topik di milis tentang ‘Tersinggunglah’. Sangat sulit memang untuk tidak berbicara dalam bahasa gaul yang memang sudah menjadi kebiasaan sehari-hari.

    Perlu latihan sesering mungkin. Mungkin untuk kasus ini, si mahasiswa di gagalkan dulu presentasinya, presentasi kemaren dijadikan bahan latihan saja agar seminarnya tidak terjadi kejadian serupa. Hehe.. becanda pak

  • Widya Perwira Utama // 18 November 2008 pada 16:55 | Balas

    Setuju pak :D

    bahasa gaul memang terkadang merusak suasana dalam berdiskusi, apalagi diskusi formal seperti yang bapak sampaikan diatas :D

    yang penting dalam menggunakan bahasa itu kita senantiasa mengetahui situasi dan kondisi dimana kita berada, itu tidak menjadi masalah :D

    untungnya sampai sekarang saya masih peka terhadap lingkungan kapan berada di lingkungan formal dan tidak :D

  • puspallia // 24 November 2008 pada 11:32 | Balas

    jadi inget..(saia pake bahasa non formal aneh2 aja yyaa..)

    dulu sering bgt ditegur,

    “Uni puspa…..jangan pake lu-gue dong ngomongnya..”

    “Waduhh trus pake apa dong??”

    dalem hati nggrutu2, gw udh pake ini bahasa dari sd, dan d tmpat asal gw ini bukan bahasa kasar..kalo dipake di percakapan antar tman sehari2. Lagian kelian lbih muda dari gw smua..

    Kalo pake kata ’saya’ rasanya formal bgt, susah akrab.

    Klo pake kata ‘aku’…erggghh..rasanya itu bukan buat ‘tmn biasa’.

    Klo pake nama bwt nyebut diri sndiri..serasa jadi yg lbih muda dari lawan bicara..biasa dipake bwt prcakapan dgn org tua..

    jadinya suka kagok2 klo mau ngomong sm kbanyakan ank ukm 05, yanngg..ga biasa pake ‘lu-gue’ semasa skolahnyanya ihihihi..kalo saia lupa dan nyebut ‘lu/gue’ ada aja yg kaget2 dengernya.

    itu masa awal ppab ukm, seterusnya saia masih suka ditegur sampai selesai pagelaran dies 31 ukm..

    trus g smpei bbrp bulan kmudian mreka sndri yg pake lu-gue..dicampur2 bhsa sm logat minang, hahaha..

    -selingan, eh, hanya selingan-

  • Roy Thaniago // 26 November 2008 pada 00:40 | Balas

    Saya punya pendapat lain: bahasa gaul justru memperkaya bahasa Indonesia, dan ini harus terus dilestarikan bahkahn dikembangkan.

    Jangan masuk pada lembaga pemerintah (sy lupa namanya) yg mengatur berbahasa dgn patut, padahal ini adalah pengkerdilan dan pembinasaan bahasa Indoensia.

    Yg harus dijauhi adalah sikap menclak-menclek menggunakan bahasa Indoenglish, sikap tanpa kepribadian sebagai bangsa, sikap menghamba pada barat.

  • Lux // 15 Juli 2009 pada 08:06 | Balas

    Pakai bahasa Inggris “nggak” apa-apa, bahasa daerah juga “nggak” apa-apa, yang “ngaco” itu kalau punya pendapat “berbahasa itu tidak usah diatur”. Tata bahasa itu ada aturannya, sintaksis sebuah bahasa itu pasti berupa aturan. Jadi, kalau tidak boleh diatur bagaimana? Bahasanya akan seperti apa? dan pasti akan lebih sukar dipelajari karena setiap orang mengaturnya sendiri-sendiri. Memang bahasa adalah “konsensus”, tapi konsensus yang macam apa? konsensus di pasar, tidak bisa digunakan untuk di istana presiden. Cara pencatatan hutang tukang bakul, tidak bisa digunakan untuk mencatat hutang luar negeri kita di APBN. Artinya, kalau bahasa kita ingin baik dalam lingkungan formal silakan ikuti pedoman dari pusat bahasa, kalau bahasa kita ingin dianggap akrab oleh teman-teman satu “geng”, silakan gunakan kebiasaan yang ada di “geng” itu.

Tinggalkan sebuah Komentar