Sebentar lagi ada hari besar di seluruh dunia, yaitu hari raya Natal. Saudara-saudara kita umat kristiani menyambut Natal dengan sukacita. Nah, saya di rumah juga merayakan hari natal (“n” kecil), tapiii ….natal dalam pengertian hari kelahiran (natal kan artinya kelahiran). Natal hari yang penting dan bersejarah bagi saya, karena anak saya yang pertama lahir pada tanggal 25 Desember, persis di Hari Raya umat Kristiani. Saya masih ingat pada tanggal itu hari libur, saya tergopoh-gopoh di tengah kepanikan mencari taksi di jalan raya karena istri menunjukkan tanda-tanda mau melahirkan. Anak saya lahir tepat pada Hari Natal, jadi ulang tahun anak saya juga dirayakan jutaan orang di seluruh dunia, he..he.
Natal dalam perspektif Kristen adalah hari kelahiran Yesus (atau Isa dalam bahasa Arab). Orang Islam dan Kristen sangat menghormati Isa atau Yesus, hanya cara memandangnya berbeda. Bagi orang Kristen, Yesus adalah Tuhan (sehingga sering disebut juga Tuhan Yesus), sedangkan bagi orang Islam Yesus bukanlah Tuhan, dia hanyalah seorang utusan Allah SWT, seorang nabi dan rasul yang diutus kepada kaumnya. Inilah menurut saya perbedaan mendasar antara ajaran Islam dan Kristen. Beberapa perbedaan lain yang saya catat mengenai pandangan terhadap Isa dalam perspektif Kristen dan Islam adalah:
- dalam ajaran Kristen, Yesus dilahirkan di kandang domba, dalam ajaran Islam Isa dilahirkan di bawah pohon kurma;
- dalam ajaran Kristen, Yesus mati di tiang salib, dalam ajaran Islam yang mati ditiang salib adalah muridnya yang berkhianat yang bernama Judas, yang oleh kuasa Allah SWT wajahnya diserupakan dengan Isa, sedangkan Nabi Isa diselamatkan oleh Allah;
- dalam ajaran Kristen, Yesus adalah anak-Nya yang tunggal, dalam ajaran Islam Allah SWT tidak mempunyai anak dan juga tidak diperanakkan.
Itulah beberapa perbedaan cara memandang Isa atau Yesus dalam ajaran Islam dan Kristen, tetapi saya kira hal ini tidak perlu diperdebatkan atau diperselisihkan, karena masing-masing agama mempunyai keyakinan (akidah) masing-masing. Silakan kita menyakini ajaran agama amsing-masing soal Nabi Isa/yesus. Yang perlu dilakukan oleh umat Islam maupun umat Kristen adalah saling menghormati keyakinan masing-masing mengenai Isa/Yesus. Orang Islam tidak perlu menafsirkan Alkitab sesuai keyakinannya, begitu juga orang Kristen juga tidak patut menafsirkan Alquran sesuai keyakinannya. Tiap agama mempunyai cara menfasirkan kitab sucinya masing-masing. Dalam pandangan Islam, cukuplah bunyi ayat terakhir di dalam surat Alkafirun, yaitu “Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku”. Orang Islam meyakini apa yang tentang Isa Almasih seperti yang tertulis dalam Alquran dan Hadis, sedangkan saudara-saudara kita umat kristiani meyakini apa yang tertulis di dalam Alkitab mengenai Yesus. Dengan cara begini, maka hidup terasa indah karena kita saling menghormati perbedaan.
Saudara-saudara kita umat Kristiani merayakan kelahiran Yesus setiap tanggal 25 Desember. Di dalam Alquran tidak disebutkan kapan persisinya Nabi Isa dilahirkan, tetapi hanya disebutkan pada masa kelahiran itu pohon kurma masih berbuah, domba-domba masih merumput, jadi kira-kira Nabi Isa dilahirkan pada musim semi. Karena tidak ada catatan tanggal yang persis, orang Islam dapat merayakan kelahiran Nabi Isa kapan saja, tidak hanya pada tanggal 25 Desember saja. Setiap malam kita bisa merayakankan kelahiran Isa dengan membaca Surat Maryam.
Bagi saya, surat Maryam (Maria dalam versi Alkitab) di dalam Alquran adalah salah satu surat yang terindah. Maryam adalah salah satu wanita mulia sehingga namanya diabadikan sebagai nama surat di dalam Alquran (surat 19). Di dalam surat ini diceritakan proses kelahiran Nabi Isa dan mu’jizat yang menyertainya diwaktu kecil (bisa berbicara pada saat masih bayi). Begitu indahnya bunyi ayat-ayat di dalam Surat Maryam sehingga saya yang membacanya begitu terkesima ketika membaca terjemahannya. Cobalah baca surat Maryam ini di malam hari dengan khusyu’, lalu bacalah terjemahannya.
Di bawah ini terjemahan sebagian ayat di dalam surat Maryam yang sangat detil menceritakan kelahiran Isa:
[19.16] Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Qur’an, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur,
[19.17] maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.
[19.18] Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa”.
[19.19] Ia (Jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci”.
[19.20] Maryam berkata: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!”
[19.21] Jibril berkata: “Demikianlah. Tuhanmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.”
[19.22] Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh.
[19.23] Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan”.
[19.24] Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.
[19.25] Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.
[19.26] Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang Manusia pun pada hari ini”.
[19.27] Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar.
[19.28] Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina”,
[19.29] maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?”
[19.30] Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi.
[19.31] dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup;
[19.32] dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.
[19.33] Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”.
[19.34] Itulah Isa putra Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya.
[19.35] Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia.
[19.36] Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus
~~~~~~~~~~~~~~~~
Begitulah bunyi sebagian Surat Maryam yang saya sebut sangat indah itu. Membaca surat ini seolah-olah kita dibawa ke masa-masa Maryam melahirkan Isa, lalu Maryam yang diolok-olok kaumnya yang menuduhnya pezina, dan Isa kecil yang mampu berbicara sewaktu masih bayi. Ucapan Isa di bawah ini sangat berkesan bagi saya:
Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi.
Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”. (Q.S.19: 30-33).
Maha benar Allah Yang Maha Agung.
Itulah Isa Almasih putra Maryam, salah seorang Rasul dari 25 orang Rasul yang wajib diimani, yang ditakdirkan lahir tidak mempunyai ayah diperintahkan oleh Allah SWT untuk berbakti kepada ibunya, Maryam. Begitulah cinta Nabi Isa kepada ibunya, seorang wanita yang shalehah lagi mulia.
Isa adalah “milik” kedua agama samawi ini. Kita semua menghormati Isa.